ASEAN di Usia ke-59: Indonesia Besar, tetapi Sudahkah Menjadi yang Terdepan?
Prof. Dr. H. Haryadi, S.E., M.M.S.
Guru Besar Ekonomi / Ketua Program Doktor Ilmu Ekonomi Universitas Jambi
Setiap 8 Agustus, negara-negara Asia Tenggara memperingati kelahiran ASEAN. Tahun 2026 menjadi momentum 59 tahun perjalanan organisasi kawasan yang didirikan pada 1967 tersebut. Bagi Indonesia, peringatan ini seharusnya tidak berhenti pada romantisme sejarah atau keberhasilan menjaga stabilitas kawasan. Ada pertanyaan ekonomi yang jauh lebih penting untuk diajukan: sebagai ekonomi terbesar di ASEAN, apakah Indonesia juga sudah menjadi ekonomi yang paling kompetitif?
Pertanyaan tersebut penting karena besar belum tentu kuat, dan tumbuh belum tentu produktif. Besarnya populasi membuat Indonesia memiliki pasar domestik yang luar biasa. Kekayaan sumber daya alam memberikan keunggulan yang tidak dimiliki banyak negara tetangga. Posisi geografis Indonesia juga sangat strategis dalam jalur perdagangan dunia. Namun, dalam persaingan ekonomi modern, ukuran pasar dan kekayaan sumber daya hanyalah modal awal. Produktivitas, inovasi, kualitas sumber daya manusia, teknologi, dan efektivitas institusilah yang pada akhirnya menentukan siapa yang memenangkan persaingan.
Perbandingan pertumbuhan ekonomi ASEAN memberikan gambaran menarik. Asian Development Bank (ADB) dalam Asian Development Outlook Juli 2026 memperkirakan ekonomi negara-negara berkembang Asia Tenggara tumbuh sekitar 4,6 persen pada 2026. Di antara ekonomi utama kawasan, Vietnam diproyeksikan tumbuh 7,2 persen, Indonesia 5,2 persen, Malaysia 4,6 persen, Filipina 3,8 persen, dan Thailand 1,8 persen. Vietnam dengan demikian masih menjadi salah satu ekonomi dengan pertumbuhan tercepat di kawasan.
Kinerja aktual Indonesia bahkan memberikan optimisme tersendiri. Badan Pusat Statistik pada 5 Agustus 2026 mengumumkan bahwa ekonomi Indonesia tumbuh 5,29 persen secara tahunan pada Triwulan II-2026, setelah pada Triwulan I tumbuh 5,61 persen. Capaian tersebut menunjukkan ketahanan ekonomi Indonesia ketika perekonomian kawasan menghadapi tekanan kenaikan biaya energi, gangguan rantai pasok, dan ketidakpastian perdagangan dunia.
Namun, membandingkan negara hanya berdasarkan pertumbuhan ekonomi juga dapat menyesatkan. Negara dengan basis ekonomi lebih kecil relatif lebih mudah mencatat pertumbuhan tinggi dibandingkan negara dengan ukuran ekonomi sangat besar. Karena itu, pertanyaan yang lebih relevan bukanlah siapa yang tumbuh paling cepat pada satu atau dua triwulan, melainkan siapa yang paling mampu mengubah pertumbuhan menjadi produktivitas, investasi berkualitas, ekspor bernilai tambah, dan peningkatan kesejahteraan masyarakat.
Di sinilah Indonesia menghadapi tantangan.
Selama beberapa dekade, salah satu keunggulan terbesar Indonesia adalah pasar domestiknya. Lebih dari 280 juta penduduk menciptakan permintaan yang besar sehingga konsumsi rumah tangga menjadi jangkar perekonomian. Ketika perdagangan global melemah, pasar domestik sering menjadi bantalan yang menjaga ekonomi Indonesia tetap tumbuh. Keunggulan tersebut sangat berharga, tetapi sekaligus dapat menciptakan zona nyaman.
Indonesia tidak boleh puas hanya menjadi pasar terbesar ASEAN. Indonesia harus bergerak menjadi pusat produksi, inovasi, investasi, dan penciptaan nilai tambah ASEAN.
Vietnam memberikan pelajaran menarik. Pertumbuhan tinggi negara tersebut dalam beberapa tahun terakhir tidak dapat dilepaskan dari kemampuan menarik investasi manufaktur, memperkuat orientasi ekspor, serta semakin terintegrasi ke dalam rantai pasok global. Malaysia memiliki basis manufaktur dan elektronik yang relatif kuat. Singapura, meskipun memiliki wilayah dan penduduk jauh lebih kecil, membangun keunggulan melalui produktivitas, teknologi, jasa keuangan, logistik, dan kualitas institusi. Thailand selama beberapa dekade membangun basis industri otomotif dan pariwisata yang kuat.
Indonesia mempunyai modal untuk melakukan lebih besar daripada itu. Persoalannya adalah bagaimana mengubah modal tersebut menjadi produktivitas.
Ukuran ekonomi menentukan besarnya pasar, tetapi produktivitas menentukan siapa yang memenangkan persaingan.
Inilah tantangan sesungguhnya bagi Indonesia setelah 59 tahun ASEAN.
Teori pertumbuhan modern telah lama menunjukkan bahwa dalam jangka panjang kemajuan suatu negara tidak cukup ditopang oleh penambahan modal dan tenaga kerja. Robert Solow menunjukkan pentingnya produktivitas dan kemajuan teknologi sebagai sumber pertumbuhan jangka panjang. Negara yang mampu menghasilkan output lebih besar dari sumber daya yang sama akan bergerak lebih cepat menuju kemakmuran.
Karena itu, agenda ekonomi Indonesia tidak boleh berhenti pada menarik sebanyak mungkin investasi. Pertanyaan berikutnya harus lebih kritis: investasi seperti apa?
Investasi yang dibutuhkan adalah investasi yang menciptakan transfer teknologi, memperbesar kapasitas industri, menyerap tenaga kerja berkualitas, memperkuat keterkaitan dengan industri domestik, dan meningkatkan ekspor bernilai tambah. Investasi yang besar tetapi memiliki keterkaitan lemah dengan perekonomian domestik akan menghasilkan dampak pembangunan yang jauh lebih kecil.
Hilirisasi sumber daya alam karena itu merupakan langkah strategis, tetapi hilirisasi juga harus terus dinaikkan kelasnya. Indonesia tidak boleh berhenti pada pengolahan mineral atau komoditas menjadi produk antara. Tahap berikutnya adalah membangun industri yang semakin dekat dengan produk akhir, teknologi, desain, riset, dan merek. Nilai terbesar dalam rantai ekonomi sering kali tidak berada pada siapa yang memiliki bahan baku, tetapi pada siapa yang menguasai teknologi dan pasar.
Persaingan ASEAN ke depan juga akan semakin ditentukan oleh sumber daya manusia dan ekonomi digital. Indonesia memiliki jumlah pengguna internet dan konsumen digital yang sangat besar. Perkembangan QRIS, BI-FAST, e-commerce, teknologi finansial, dan ekonomi berbasis platform menunjukkan besarnya potensi tersebut. Namun, sekali lagi, menjadi pengguna teknologi berbeda dengan menjadi pencipta teknologi. Tantangan berikutnya adalah bagaimana Indonesia melahirkan lebih banyak inovasi, paten, teknologi industri, perusahaan berbasis pengetahuan, dan tenaga kerja dengan keterampilan tinggi.
Dalam konteks inilah ASEAN harus dilihat bukan hanya sebagai arena persaingan, tetapi juga sebagai ruang kolaborasi. Integrasi ekonomi ASEAN membuka peluang pembentukan rantai nilai regional. Indonesia tidak harus memproduksi semuanya sendiri. Yang lebih penting adalah memastikan bahwa Indonesia menempati bagian rantai nilai yang menghasilkan nilai tambah tinggi.
Ketidakpastian global semakin memperkuat urgensi tersebut. ADB pada Juli 2026 menurunkan proyeksi pertumbuhan negara berkembang Asia dan Pasifik menjadi 4,9 persen, dari pertumbuhan 5,5 persen pada 2025. Gangguan pasar energi, konflik geopolitik, meningkatnya biaya produksi, serta ketidakpastian perdagangan menjadi risiko utama. Dalam situasi seperti itu, ASEAN membutuhkan sumber pertumbuhan yang semakin berasal dari dalam kawasan.
Indonesia mempunyai kesempatan besar untuk menjadi jangkar pertumbuhan tersebut.
Namun, kepemimpinan ekonomi tidak diberikan karena jumlah penduduk atau luas wilayah. Kepemimpinan harus dibangun melalui produktivitas, kualitas institusi, inovasi, pendidikan, infrastruktur, dan kemampuan menciptakan nilai tambah.
Setelah 59 tahun ASEAN, Indonesia karena itu perlu bergerak dari size advantage menuju productivity advantage; dari keunggulan karena besar menuju keunggulan karena produktif. Sumber daya alam harus ditransformasikan menjadi industri. Bonus demografi harus ditransformasikan menjadi tenaga kerja berkualitas. Pasar domestik harus ditransformasikan menjadi basis produksi. Digitalisasi harus ditransformasikan dari konsumsi teknologi menjadi penciptaan teknologi.
Pada akhirnya, Indonesia tidak cukup hanya menjadi ekonomi terbesar di ASEAN. Tantangan yang jauh lebih besar adalah menjadi ekonomi yang paling produktif, inovatif, dan mampu menciptakan nilai tambah.
Besarnya pasar membuat Indonesia penting bagi ASEAN. Namun, produktivitaslah yang akan menentukan apakah Indonesia hanya menjadi pasar terbesar, atau benar-benar menjadi kekuatan ekonomi utama ASEAN.-