Hj Ernawati, Saham Rasulullah dan Mimpi Besar untuk Jambi

WIB
ist

Oleh: Muawwin, S.Pd., M.M.

“Tawakal dulu. Baru ikhtiar.”

Saya sempat terdiam mendengar kalimat itu.

Bukankah selama ini kita lebih sering mendengar yang sebaliknya?

Ikhtiar dulu.

Berusaha.

Bekerja keras.

Setelah mentok, barulah bertawakal kepada Allah SWT.

Hj Ernawati berbeda.

Tawakal dulu. Baru ikhtiar.

Awalnya terasa terbalik.

Semakin sering saya berdiskusi dengannya, saya mulai memahami maksudnya.

Baginya tawakal bukan tempat manusia berlari ketika semua jalan sudah tertutup.

Tawakal justru titik berangkat.

Serahkan semuanya kepada Allah SWT terlebih dahulu.

Setelah itu?

Bergerak sekuat-kuatnya.

Mencari jalan.

Mengetuk pintu.

Membangun usaha.

Membuka jaringan.

Lalu ketika rezeki datang, jangan lupa ada bagian orang lain di dalamnya.


Saya cukup sering berdiskusi langsung dengan Hj Ernawati setiap kali ia berada di Jambi.

Tidak selalu di ruang pertemuan.

Justru percakapan yang menurut saya paling menarik sering terjadi di perjalanan.

Di dalam mobil.

Dari rumah seorang kiai menuju rumah tokoh berikutnya.

Dari kediaman pejabat menuju pondok pesantren.

Kadang hari sudah malam.

Tubuh sudah lelah.

Ernawati masih berbicara.

Tentang Jambi.

Tentang umat.

Tentang anak yatim.

Masjid.

Pesantren.

Rumah tahfidz.

UMKM.

Sampai bagaimana produk Jambi bisa masuk pasar Arab Saudi.

Saya beberapa kali mendampinginya menemui kiai, ulama, pejabat, pengusaha dan tokoh masyarakat.

Di situlah saya perlahan melihat sisi lain dirinya.

Pidato bisa disiapkan.

Sambutan bisa ditulis staf.

Foto media sosial bisa dipilih yang paling bagus.

Tetapi percakapan panjang di dalam mobil sulit direkayasa.


Ada satu istilah Ernawati yang terus terngiang di kepala saya.

“Saham Rasulullah.”

Lima puluh persen.

Bukan lima.

Bukan sepuluh.

50 persen hasil usahanya ia niatkan untuk umat.

Saya semula mengira itu gagasan untuk masa depan.

Ternyata saya keliru.

Jalannya sudah dimulai dan sedang berjalan.

Bentuknya bermacam-macam.

Ada anak yatim.

Ada dhuafa.

Ada pesantren.

Ada rumah tahfidz.

Ada masjid.

Ada orang-orang yang dibantu agar bisa melihat Ka'bah dengan mata kepala sendiri.

Dan jumlah mereka bukan satu-dua.

Saya mengetahui bahwa sudah banyak orang yang ia bantu berangkat umrah. Saya pun sudah diumrohkan olehnya.

Bahkan sekarang daftar itu terus bertambah.


Saya melihat salah satu contohnya pada Lomba Shalawat Tingkat Provinsi Jambi yang digelar BKMT bersama ISMI di Asrama Haji Jambi, 12 Agustus lalu.

Ada 17 grup BKMT dari kabupaten dan kota se-Jambi yang datang.

Ibu-ibu bershalawat.

Berlomba.

Bersilaturahmi.

Hadiah utamanya istimewa.

Umrah.

Hadiah itu disiapkan Hj Ernawati.

Bukan hanya untuk juara utama.

Pemenangnya juga diberikan satu pendamping untuk ikut umrah.

Setelah lomba selesai, Ernawati bahkan meminta urusan keberangkatannya segera dipersiapkan.

Paspor.

Jadwal.

Keberangkatan ke Tanah Suci.

Semua mulai diurus.

Saya membayangkan ibu yang memenangkan lomba itu.

Mungkin sebelumnya ia datang ke Asrama Haji hanya untuk bershalawat.

Membawa kostum.

Latihan bersama kelompoknya.

Berharap tampil baik.

Lalu pulang membawa sesuatu yang jauh lebih besar dari sebuah piala jalan menuju Baitullah.


Bagi Ernawati, umrah seperti itu bukan sekadar hadiah.

Ada benang merahnya.

Rasulullah SAW.

Ia sangat mencintai Rasulullah.

Dan dari banyak pembicaraan dengannya, saya menangkap bahwa kecintaannya kepada Nabi tidak ingin berhenti sebagai ucapan.

Rasulullah mencintai umatnya.

Ernawati ingin meniru bagian itu.

Mencintai umat.

Tentu dalam kemampuan manusia biasa.

Membantu yang bisa dibantu.

Memberi yang bisa diberikan.

Meringankan yang bisa diringankan.

Hesnidar Haris bahkan secara terbuka pernah menyebut Ernawati sebagai salah satu sosok yang menginspirasinya dalam mengembangkan Gerakan Jambi Bershalawat.

Mungkin itu pula alasan Ernawati memilih istilah yang tidak lazim tadi.

Bukan dana sosial.

Bukan CSR.

Bukan dana filantropi.

Saham Rasulullah.


Jejaknya bisa dilihat.

Menjelang pelantikan ISMI Jambi Juni lalu, bantuan yang bersumber dari Ernawati disalurkan ke delapan panti asuhan.

Jumlah penerimanya tercatat 230 anak yatim dan dhuafa.

Ada 121 anak laki-laki.

Ada 109 anak perempuan.

Yang dibawa bukan teori pemberdayaan.

Ada beras.

Kebutuhan sehari-hari.

Perlengkapan anak-anak panti.

Beberapa waktu kemudian saya kembali melihatnya berada di tengah anak yatim.

Sekitar 150 anak diajak menonton film Anak-Anak Bambu secara gratis di XXI WTC Jambi.

Ernawati hadir bersama Hj Hesnidar Haris dan Elma Theana.

Bagi kita mungkin hanya menonton bioskop.

Bagi seorang anak yatim yang jarang mendapatkan kesempatan seperti itu, ceritanya bisa berbeda.

Kadang kebahagiaan anak memang sesederhana popcorn, kursi bioskop dan layar besar.


Belum lagi bantuan untuk pembangunan masjid.

Pesantren.

Rumah tahfidz.

Kaum dhuafa.

Orang-orang yang diberangkatkan umrah.

Ada pula rencana keberangkatan tiga orang dari lingkungan Payo Sigadung pada September ini: termasuk seorang ustaz yang pernah menjadi guru mengaji dan imam musala.

Di tempat itu Ernawati juga membantu pembangunan masjid sebanyak 1.000 sak semen.

Seribu.

Saya sampai menghitung ulang angkanya ketika pertama mendengar.

Barangkali bagi orang yang hanya melihat nominal, semua itu selesai pada kalkulator.

Bagi Ernawati rupanya tidak.

Ada keyakinan yang bekerja di belakang angka-angka tersebut.


Saya pernah bertanya dalam hati, Mengapa harus 50 persen?

Sepuluh persen saja bukankah sudah besar?

Bayangkan kalau keuntungan sebuah usaha Rp1 miliar.

Separuhnya Rp500 juta.

Kalau Rp10 miliar?

Rp5 miliar.

Kalau suatu hari keuntungan usahanya Rp100 miliar?

Jangan tanya saya.

Hitung sendiri.

Di situlah konsep “saham Rasulullah” menjadi menarik.

Berbagi ketika jumlahnya masih kecil memang baik.

Tetapi mempertahankan persentase ketika angka semakin besar adalah ujian yang sama sekali berbeda.

Ernawati sudah memulainya.

Waktu yang akan menguji konsistensinya.


Saya tidak ingin menulis Ernawati seperti malaikat.

Tidak.

Ia manusia biasa.

Bisa salah.

Bisa lelah.

Bisa mengambil keputusan yang keliru.

Saya wartawan.

Pekerjaan ini membuat saya tidak mudah percaya begitu saja kepada kalimat-kalimat indah.

Kalau ada orang berbicara tentang pengabdian, saya ingin melihat apa yang dikerjakannya.

Kalau bicara anak yatim, berapa anak yang disentuh kehidupannya?

Kalau bicara umat, apa manfaat yang sampai?

Kalau bicara sedekah, apakah hanya ketika kamera menyala?

Karena itulah bagi saya angka-angka tadi penting.

Delapan panti.

230 anak yatim dan dhuafa.

150 anak diajak bergembira.

Hadiah umrah untuk ibu-ibu BKMT.

Masjid.

Pesantren.

Rumah tahfidz.

Seribu sak semen.

Dan orang-orang lain yang telah dibantu menuju Tanah Suci.

Mereka membuat kata “kepedulian” memiliki bentuk.


Yang lebih menarik lagi adalah cara Ernawati melihat Jambi.

Ia tidak hanya ingin memberi santunan.

Baginya masyarakat jangan selamanya berada di posisi menerima.

Ekonominya juga harus diperkuat.

Kopi Kerinci harus menemukan pasar.

Teh harus naik kelas.

Kayu manis jangan terus berhenti sebagai komoditas mentah.

UMKM harus dibukakan akses.

Pesantren juga bisa menjadi kekuatan ekonomi.

Kalau ada pasar di Arab Saudi, mengapa produk Jambi tidak masuk ke sana?

Kalau pintunya belum terbuka:

ketuk.

Kalau belum punya jaringan:

bangun.

Kalau belum kenal orangnya:

temui.

Sederhana.

Mungkin itulah ikhtiar.

Tawakalnya sudah dilakukan di depan.


Saya sering melihat sisi berbeda ketika mendampinginya menemui kiai dan ulama.

Ernawati justru lebih banyak mendengar.

Meminta nasihat.

Tentang istiqamah.

Tentang organisasi.

Tentang amanah.

Tentang bagaimana menjalani kehidupan.

Ini menarik bagi saya.

Dunia kita sekarang dipenuhi orang yang ingin didengar.

Sedikit yang masih mau duduk dan mendengar.

Apalagi setelah merasa berhasil.

Mungkin Ernawati mengerti satu hal:

Bisnis bisa mengajarkan manusia bagaimana memperoleh dunia.

Tetapi tidak selalu mengajarkan untuk apa dunia itu diperoleh.


Saya akhirnya kembali kepada kalimat pertama tadi.

Tawakal dulu. Baru ikhtiar.

Sekarang saya lebih memahami jalan pikirannya.

Ia ingin menyerahkan hidup kepada Allah SWT terlebih dahulu.

Lalu bekerja sekeras mungkin.

Dan ketika hasilnya datang, ia tidak menganggap semua itu mutlak miliknya.

Ada hak anak yatim.

Ada bagian dhuafa.

Ada bagian pesantren.

Ada rumah tahfidz.

Ada masjid.

Ada bagian seorang ibu yang bertahun-tahun memendam rindu melihat Ka'bah.

Ada bagian umat Rasulullah SAW.

Lima puluh persen.

Saham Rasulullah.

Saya sudah lama menjadi wartawan.

Sudah bertemu banyak orang.

Orang kaya, banyak.

Orang pintar, banyak.

Orang berpangkat, lebih banyak lagi.

Tetapi orang yang ketika rezekinya bertambah justru semakin sibuk memikirkan berapa banyak yang bisa diberikan kepada orang lain—memang sulit mencarinya.

*Penulis adalah jurnalis tinggal di Jambi

BeritaSatu Network