JAMBI - Tenda itu akhirnya berdiri tegak.
Rabu (26/8/2026) siang, sebuah posko berlogo Karang Taruna mulai terlihat di depan Universitas Muhammadiyah Jambi.
Bukan posko untuk seremoni.
Bukan pula tempat sekadar memasang spanduk.
Dari tenda itulah belasan relawan Satgas Karhutla Karang Taruna Provinsi Jambi mulai bergerak membantu masyarakat yang terdampak kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Ada masker.
Ada vitamin.
Ada relawan.
Ada pembagian tugas.
Ada pula satu pesan yang ingin disampaikan kepengurusan Karang Taruna Provinsi Jambi di bawah komando Rocky Candra, Karang Taruna tak mau hanya menonton.
Meski kepengurusan baru masih mempersiapkan pelantikan, organisasi kepemudaan itu memilih lebih dulu turun ke jalan.

Tenda Berdiri, Relawan Mulai Berkumpul
Sejak siang, aktivitas mulai terlihat di sekitar lokasi posko.
Perlengkapan satu per satu disiapkan.
Tenda dipastikan berdiri sempurna.
Kardus-kardus berisi logistik kesehatan mulai disusun.
Masker medis disiapkan.
Masker khusus anak juga dipisahkan agar mudah dibagikan.
Vitamin ditata.
Belasan relawan mengenakan rompi bertuliskan:
"Satuan Tugas Karang Taruna Provinsi Jambi."
Mereka tidak langsung bergerak.
Di dalam tenda, terlebih dahulu dilakukan briefing bersama Komandan Satgas.
Peta gerakan dibahas.
Titik-titik pembagian masker dipetakan.
Pembagian personel diatur.
Area lalu lintas padat menjadi salah satu sasaran.
Tujuannya sederhana: bantuan jangan hanya menumpuk di posko.
Harus sampai ke masyarakat.

PNKT Serahkan Bantuan Tenda
Pada hari yang sama dilakukan pula serah terima bantuan tenda dari Pengurus Nasional Karang Taruna (PNKT) kepada Satgas Karang Taruna Provinsi Jambi.
Dukungan tersebut menjadi bagian dari penguatan operasional posko selama kegiatan kemanusiaan berlangsung.
Gerakan sosial ini juga mendapat dukungan pihak swasta melalui tenda posko Barito Pacific.
Posko kemudian difungsikan sebagai pusat koordinasi.
Dari sanalah logistik dikumpulkan.
Relawan bergerak.
Informasi lapangan dihimpun.
Bantuan kesehatan disalurkan.
Sekretaris Karang Taruna Provinsi Jambi Arif Hermanto mengatakan keberadaan posko sengaja dibuat bukan sekadar simbol kehadiran organisasi.
Posko harus hidup.
Harus ada aktivitas.
Dan yang paling penting, harus memberikan manfaat.
"Posko ini kami bangun sebagai pusat gerakan kemanusiaan Karang Taruna dalam membantu pemerintah dan masyarakat menghadapi dampak karhutla. Kita ingin semuanya terkoordinasi, mulai dari relawan, distribusi masker, vitamin sampai kebutuhan masyarakat yang nanti ditemukan di lapangan," kata Arif.
Menurut Arif, kondisi kabut asap membutuhkan partisipasi banyak pihak.
Pemerintah dan Satgas Karhutla telah bekerja menangani kebakaran di lapangan.
Karang Taruna memilih mengambil bagian pada ruang yang dapat dijangkau organisasi kepemudaan.
"Kita tidak datang mengambil alih tugas siapa pun. Pemerintah, TNI, Polri, BPBD, Manggala Agni dan seluruh unsur Satgas sudah bekerja keras. Karang Taruna hadir untuk memperkuat. Kalau pemerintah menangani sumber apinya, kita membantu masyarakat menghadapi dampaknya," ujarnya.

Sore Hari, Posko Mulai 'Pecah Pasukan'
Menjelang sore, suasana berubah.
Relawan yang sejak siang berada di dalam posko mulai bergerak keluar.
Masker dimasukkan ke kantong-kantong distribusi.
Vitamin dibawa.
Kardus logistik dibuka.
Lalu satu per satu relawan menyebar.
Mereka menuju persimpangan dan sejumlah ruas jalan dengan lalu lintas cukup padat.
Di sanalah aksi sesungguhnya dimulai.
Relawan menghampiri pengendara sepeda motor.
Masker dibagikan.
Pengemudi ojek online ikut mendapatkannya.
Begitu pula sejumlah pengemudi kendaraan umum dan warga yang beraktivitas di jalan.
Tak semuanya berhenti lama.
Ada yang hanya mengulurkan tangan dari atas motor.
Masker diterima.
Lalu kembali melanjutkan perjalanan.
Sederhana.
Tapi di tengah udara yang masih diselimuti kabut asap, bantuan kecil itu menjadi penting.

Yoppy: Jangan Cuma Duduk di Posko
Komandan Satgas GEBRAK Karhutla Karang Taruna Provinsi Jambi Yoppy Setyantoro mengatakan sejak awal relawan memang diarahkan tidak hanya menunggu masyarakat datang.
Mereka harus menjemput kebutuhan di lapangan.
"Karang Taruna tidak hanya hadir di posko, tetapi juga turun langsung ke masyarakat. Ini merupakan bentuk kepedulian dan tanggung jawab sosial pemuda untuk ikut memberikan manfaat di tengah kondisi karhutla," kata Yoppy.
Menurut Yoppy, pembagian masker menjadi salah satu langkah paling cepat yang dapat dilakukan karena masyarakat, terutama mereka yang beraktivitas di luar ruangan, bersentuhan langsung dengan dampak kabut asap.
Bukan hanya pengendara.
Pekerja lapangan juga menjadi perhatian.
"Yang setiap hari berada di jalan ini kan banyak. Pengemudi, ojek online, pedagang, pekerja lapangan. Mereka lebih lama terpapar udara di luar. Karena itu kita mencoba masuk dari kebutuhan yang paling sederhana dulu," ujarnya.
Satgas juga membagikan vitamin sebagai bagian dari bantuan kesehatan kepada warga.

Posko Bukan Tempat Nongkrong
Arif Hermanto menegaskan keberadaan posko akan terus dioptimalkan.
Ia tidak ingin setelah tenda berdiri, aktivitas kemudian berhenti.
Posko harus menjadi pusat koordinasi gerakan.
"Jangan sampai kita bangga karena punya tenda besar tetapi masyarakat tidak merasakan manfaatnya. Ukuran posko bukan seberapa bagus tendanya, tetapi seberapa banyak pelayanan yang bisa bergerak dari dalamnya," kata Arif.
Karena itu, evaluasi kebutuhan masyarakat akan dilakukan secara berkala.
Jika kebutuhan masker meningkat, distribusi diperluas.
Jika terdapat kebutuhan kesehatan lainnya yang masih mungkin dibantu Karang Taruna, akan dikoordinasikan.
"Karang Taruna punya jaringan sampai kabupaten, kecamatan, desa dan kelurahan. Kekuatan itu nanti yang kita konsolidasikan. Karhutla bukan hanya persoalan di Kota Jambi. Dampaknya juga dirasakan masyarakat di daerah," katanya.
Satgas GEBRAK Jadi Mesin Gerak
Gerakan tersebut dijalankan melalui Satgas GEBRAK Karang Taruna Provinsi Jambi.
Satgas menjadi unit respons cepat yang disiapkan untuk menjalankan aksi sosial dan kemanusiaan.
Karhutla menjadi salah satu ujian awalnya.
Seluruh gerakan lapangan tetap diarahkan untuk berkoordinasi dengan pemerintah serta Satgas resmi.
Karang Taruna tidak ingin relawannya masuk ke kawasan kebakaran tanpa prosedur dan kemampuan teknis.
Fokus utama mereka saat ini adalah penanganan dampak sosial.
Masker.
Vitamin.
Edukasi.
Logistik.
Dan membantu masyarakat yang membutuhkan.

Rocky Candra: Pemuda Harus Ikut Memikul Beban
Ketua Karang Taruna Provinsi Jambi Rocky Candra mengatakan gerakan tersebut lahir dari kesadaran bahwa persoalan karhutla tidak mungkin hanya dibebankan kepada pemerintah.
Menurut Rocky, ketika petugas berjibaku melakukan pemadaman dan pendinginan di lapangan, organisasi sosial dan kepemudaan juga mempunyai ruang untuk membantu.
"Ketika Jambi menghadapi persoalan seperti karhutla, pemuda tidak boleh hanya berdiri menjadi penonton. Pemerintah sudah bekerja, petugas ada di lapangan. Karang Taruna harus ikut memikul beban sesuai kemampuan yang kita punya," kata Rocky.
Anggota DPR RI Komisi XII itu mengatakan keterlibatan Karang Taruna bukan dimaksudkan untuk menggantikan struktur penanganan bencana yang sudah ada.
Justru sebaliknya.
Kolaborasi diperkuat.
"Yang punya kewenangan teknis pemadaman tetap Satgas dan instansi terkait. Kita berada pada jalur sosial dan kemanusiaan. Membantu warga, menggerakkan relawan, mengedukasi masyarakat dan membantu apa yang bisa dibantu," ujarnya.
Rocky juga meminta seluruh kader Karang Taruna tidak menjadikan karhutla sebagai bahan polemik semata.
Menurutnya, kritik dan masukan tetap diperlukan.
Namun pada saat bersamaan harus ada orang yang bekerja.
"Silakan orang berdiskusi dan memberi masukan. Tetapi kita memilih ikut bekerja. Kalau ada masker, kita bagikan. Ada tenaga, kita gerakkan. Ada jaringan, kita gunakan untuk membantu masyarakat," katanya.
Belum Dilantik, Sudah Buka Posko
Gerakan ini menjadi menarik karena dilakukan ketika kepengurusan Karang Taruna Provinsi Jambi di bawah Rocky masih dalam tahap konsolidasi dan persiapan pelantikan.
Biasanya organisasi baru bergerak setelah struktur dikukuhkan.
Karang Taruna Jambi membalik urutannya.
Kerja dulu.
Pelantikan menyusul.
Arif mengatakan hal tersebut memang menjadi semangat kepengurusan ke depan.
"Pelantikan merupakan proses organisasi dan tentu akan kita siapkan dengan baik. Tetapi kebutuhan masyarakat tidak mengenal jadwal pelantikan. Kalau hari ini masyarakat membutuhkan, ya hari ini kita bergerak," ujarnya.
Menurutnya, semangat tersebut yang ingin dibangun dalam tubuh Karang Taruna.
Organisasi tidak cukup hanya mempunyai kepengurusan lengkap.
Harus mempunyai kemampuan bergerak.

Dari Tenda, Turun ke Jalan
Menjelang petang, aktivitas di sekitar posko belum selesai.
Sebagian relawan kembali membawa laporan hasil pembagian.
Yang lain masih berada di titik distribusi.
Kardus masker berkurang.
Lalu lintas di depan posko tetap ramai.
Tenda Satgas Karhutla Karang Taruna berdiri di pinggir jalan.
Ia mungkin hanya sebuah tenda.
Tetapi hari itu fungsinya lebih dari sekadar tempat berlindung dari panas.
Ia menjadi dapur koordinasi.
Tempat masker disiapkan.
Tempat relawan menerima instruksi.
Lalu dari sana anak-anak muda itu keluar.
Masuk ke persimpangan.
Menyapa warga.
Membagikan masker.
Membawa vitamin.
Tak ada seremoni besar.
Tak ada panggung.
Kepengurusannya bahkan belum dilantik.
Tetapi Rabu siang itu, Karang Taruna Provinsi Jambi sudah mulai menunjukkan bentuknya.
Tendanya berdiri.
Relawannya bergerak.
Dan di tengah kabut asap yang belum sepenuhnya pergi, mereka memilih tidak hanya bicara.
Mereka turun ke jalan. (Anggi)