Jambi - Ikatan Sarjana Melayu Indonesia (ISMI) Provinsi Jambi di bawah kepemimpinan Hj Ernawati, S.Ag., M.Pd. terus bergerak.
Setelah turun ke berbagai daerah, pesantren, kampus hingga kegiatan sosial, kali ini ISMI Jambi membawa agenda besar keagamaan ke tengah masyarakat.
Seorang ulama asal Mesir akan didatangkan ke Jambi oleh ISMI.
Namanya Maulana Syekh ‘Ala Muhammad Musthafa Na’imah.
Ulama asal Alexandria, Mesir itu dijadwalkan mengisi Tabligh Akbar ISMI Provinsi Jambi di Masjid Agung Al-Falah Jambi, Jumat, 4 September 2026, mulai pukul 13.00 WIB.
Acara dibuka untuk seluruh masyarakat.
Santri boleh datang.
Mahasiswa boleh hadir.
Majelis taklim, para ustaz, akademisi, ASN, pengusaha, kaum muda hingga masyarakat umum dipersilakan memenuhi Masjid Seribu Tiang tersebut.
Pesannya sederhana.
Datang, bershalawat dan menimba ilmu.
Ernawati yang Langsung Mengundang
Kehadiran Syekh Ala di Jambi mempunyai cerita tersendiri.
Syekh tersebut bukan sosok asing bagi Ketua ISMI Jambi Hj Ernawati.
Ernawati mengenal Syekh Ala bukan sekadar melalui video ceramah atau media sosial.
Ia berguru langsung kepada Syekh Ala.
Dari hubungan guru dan murid itulah muncul keinginan Ernawati membawa gurunya tersebut datang ke Jambi.
Ernawati ingin ilmu yang selama ini ia peroleh dari sang Syekh tidak berhenti untuk dirinya sendiri.
Masyarakat Jambi juga harus mendapat kesempatan duduk di majelis yang sama.
Mendengarkan nasihat langsung.
Menyerap ilmu.
Dan mendapatkan pencerahan keagamaan dari seorang ulama yang selama bertahun-tahun berkecimpung dalam tradisi keilmuan Al-Azhar.
"Saya mengenal dan berguru langsung kepada beliau. Banyak ilmu, nasihat dan pelajaran yang saya dapatkan. Karena itu saya mempunyai keinginan, kenapa masyarakat Jambi tidak ikut mendapat kesempatan yang sama untuk menimba ilmu langsung dari beliau," kata Ernawati.
Dari situlah komunikasi dibangun.
Agenda disusun.
Hingga akhirnya Syekh Ala dijadwalkan datang ke Jambi.
Bagi Ernawati, mendatangkan seorang guru bukan soal kebanggaan personal.
Ia justru ingin kehadiran Syekh Ala menjadi milik masyarakat Jambi.
"Saya mengundang beliau bukan untuk saya sendiri dan bukan hanya untuk ISMI. Ini untuk masyarakat Jambi. Kalau Allah memberikan kita jalan mendatangkan seorang alim, mari kesempatan itu kita buka seluas-luasnya agar semakin banyak masyarakat yang mendapatkan ilmu dan keberkahan majelis," ujar Ernawati.
"Beliau ini ahli salawat, Ahli hikam dan ahli tafsir wa hadist Dari Azhar Mesir,"imbuhnya.

Jumat Siang di Masjid Agung Al-Falah
Tabligh akbar tersebut dijadwalkan berlangsung:
- Hari/Tanggal: Jumat, 4 September 2026
- Waktu: Pukul 13.00 WIB
- Tempat: Masjid Agung Al-Falah Jambi
- Penceramah: Maulana Syekh ‘Ala Muhammad Musthafa Na’imah
- Penyelenggara: ISMI Provinsi Jambi
- Peserta: Terbuka untuk seluruh masyarakat
Pemilihan Masjid Agung Al-Falah bukan tanpa alasan.
Masjid yang menjadi salah satu ikon keagamaan Provinsi Jambi itu memiliki ruang yang luas dan mudah dijangkau masyarakat.
ISMI berharap jamaah dari Kota Jambi dan kabupaten sekitar ikut hadir.
Sekretaris ISMI Provinsi Jambi Dr. Fahmi Rasid, S.E., M.AP. mengatakan persiapan kegiatan mulai dimatangkan.
Menurut Fahmi, tabligh akbar menjadi bagian dari program keumatan ISMI Jambi.
"Insyaallah Jumat, 4 September 2026, kita akan menerima kedatangan Maulana Syekh Ala Muhammad Musthafa Na'imah dari Mesir. Tabligh akbar akan dilaksanakan di Masjid Agung Al-Falah mulai pukul 13.00 WIB dan terbuka untuk seluruh masyarakat," kata Fahmi.
Ia mengajak masyarakat memanfaatkan kesempatan tersebut.
Apalagi tidak setiap saat masyarakat Jambi mendapatkan kesempatan bertemu langsung dengan ulama yang tumbuh dalam tradisi keilmuan Al-Azhar Mesir.
"Kami mengajak masyarakat Jambi, para ulama, ustaz, santri, mahasiswa, majelis taklim, pemuda dan seluruh elemen masyarakat untuk hadir. Mari kita duduk bersama di majelis ilmu, bershalawat dan mendengarkan langsung tausiah beliau," ujar Fahmi.
Siapa Syekh Ala Muhammad Musthafa Na'imah?
Nama lengkapnya Maulana Syekh ‘Ala Muhammad Musthafa Na’imah.
Ia dikenal sebagai salah satu ulama dari Alexandria atau Iskandaria, kota bersejarah di Mesir.
Jejak pendidikannya lekat dengan Al-Azhar.
Sejumlah catatan biografi menyebut sejak kecil hingga pendidikan tinggi, Syekh Ala menempuh pendidikan formal dan nonformal dalam lingkungan Al-Azhar. Dalam perjalanan menuntut ilmu, ia bahkan kerap menempuh jalur Alexandria-Kairo untuk menghadiri berbagai majelis ilmu.
Ia tak hanya belajar di ruang kelas.
Syekh Ala dikenal aktif mendatangi majelis para masyaikh.
Di antara guru yang disebut dalam catatan biografinya adalah Syekh Ibrahim Abdul Ba'ist Al-Kattani dan Syekh Abdussalam Ali Syita.
Setelah menyelesaikan pendidikan sarjana, kegemarannya mendatangi majelis ilmu tidak berhenti.
Dalam catatan tersebut, Syekh Ala bahkan mengikuti beberapa majelis dalam satu hari.
Tradisi itu membentuk karakter keilmuannya.
Belajar tidak berhenti setelah ijazah diperoleh.
Justru setelah pendidikan formal selesai, perjalanan mencari ilmu terus berlanjut.
Pernah Mengajar Ribuan Santri Indonesia
Jejak Syekh Ala di Indonesia juga bukan baru kali ini.
Pada Oktober 2022, ia hadir dalam Wisuda Akbar ke-10 Indonesia Menghafal Al-Qur'an di Palembang.
PPPA Daarul Qur'an ketika itu memperkenalkannya sebagai dosen di Al-Azhar Kairo, Mesir. Ia memberikan nasihat kepada ribuan santri penghafal Al-Qur'an, orang tua dan para ustaz pendamping.
Pesannya ketika itu banyak berbicara mengenai Al-Qur'an.
Syekh Ala menekankan pentingnya belajar Al-Qur'an dengan cinta, bukan paksaan.
Ia juga mengingatkan para orang tua dan guru agar menanamkan kecintaan kepada Nabi Muhammad SAW dan Al-Qur'an kepada anak-anak.
Bukan hanya menghafalnya.
Tetapi mengamalkannya.
Pesan tersebut memperlihatkan corak dakwah Syekh Ala.
Ilmu tidak berhenti pada hafalan.
Ilmu harus hidup dalam perilaku.
Guru yang Membuat Ilmu Sulit Terasa Mudah
Salah satu kekuatan Syekh Ala disebut berada pada metode mengajarnya.
Di kalangan murid, ia dikenal mampu menjelaskan persoalan keislaman yang rumit dengan bahasa yang dapat dipahami.
Mulai dari fiqih, tafsir, hadis hingga berbagai disiplin ilmu agama.
Ia tidak sekadar menyampaikan kesimpulan.
Sang Syekh dikenal membawa murid masuk memahami alur sebuah persoalan.
Mengapa sebuah hukum lahir.
Bagaimana ulama mengambil dalil.
Mengapa terjadi perbedaan pandangan.
Hingga bagaimana memahami khazanah kitab klasik dengan metode yang terstruktur.
Karakter inilah yang membuat Ernawati berharap masyarakat Jambi benar-benar memanfaatkan kehadirannya.
Menurut Ernawati, seseorang bisa membaca banyak buku.
Bisa menonton banyak ceramah.
Tetapi duduk langsung bersama guru memiliki pengalaman berbeda.
"Ada adab yang kita lihat. Ada cara guru menyampaikan ilmu. Ada bagaimana beliau menjawab persoalan. Hal-hal seperti itu kadang tidak seluruhnya kita dapatkan hanya dengan membaca. Karena itu saya berharap masyarakat Jambi datang dan benar-benar memanfaatkan majelis ini," kata Ernawati.
Ilmu dan Akhlak Berjalan Bersamaan
Syekh Ala juga dikenal oleh murid-muridnya karena pendekatannya kepada penuntut ilmu.
Ia tidak membangun jarak berlebihan dengan murid.
Sapaan, perhatian dan cara berinteraksinya menjadi bagian dari proses pendidikan.
Catatan biografinya menggambarkan Syekh Ala sebagai sosok yang menekankan keikhlasan dalam belajar.
Murid diingatkan agar mencari ilmu untuk mendapatkan ridha Allah SWT, bukan semata-mata mengejar kedudukan atau pujian manusia. Ia juga menekankan pentingnya mengamalkan ilmu serta menjaga adab.
Ini pula yang menurut Ernawati menjadi pelajaran penting bagi masyarakat hari ini.
Ilmu semakin mudah diperoleh.
Informasi agama ada di mana-mana.
Satu sentuhan telepon genggam bisa membuka ribuan ceramah.
Tetapi kemudahan memperoleh informasi juga membawa persoalan.
Tidak semua informasi berasal dari sumber yang sama kuatnya.
Tidak setiap potongan ceramah memberi gambaran utuh.
Karena itu tradisi berguru dan duduk bersama ulama tetap penting.
"Kita hidup pada zaman informasi sangat terbuka. Tetapi justru karena semuanya terbuka, kita membutuhkan guru. Kita perlu belajar kepada orang yang memiliki sanad keilmuan, memahami disiplin ilmu dan mengajarkan agama dengan adab," ujar Ernawati.
ISMI Tak Mau Cuma Bicara Intelektual
Tabligh akbar ini juga memperlihatkan arah gerakan ISMI Provinsi Jambi di bawah kepemimpinan Ernawati.
Namanya memang Ikatan Sarjana Melayu Indonesia.
Anggotanya terdiri dari kalangan terdidik.
Namun Ernawati tidak ingin organisasi itu hanya identik dengan seminar, diskusi akademik dan pelantikan.
Ada dimensi lain yang ingin diperkuat.
Keumatan.
Keagamaan.
Pendidikan.
Sosial.
Ekonomi.
Hingga penguatan sumber daya manusia.
ISMI ingin ruang intelektual bertemu dengan nilai spiritual.
Sebab bagi Ernawati, kecerdasan tanpa fondasi moral berpotensi kehilangan arah.
"ISMI menghimpun kaum sarjana. Tetapi seorang sarjana bukan hanya membutuhkan kecerdasan intelektual. Kita juga membutuhkan kecerdasan spiritual dan akhlak. Ilmu dunia harus maju, tetapi hubungan kita dengan Allah dan kecintaan kepada Rasulullah SAW juga harus semakin kuat," kata Ernawati.
Fahmi Rasid menyebut tabligh akbar juga menjadi bagian dari semangat tersebut.
ISMI ingin membangun ruang bertemunya intelektual, ulama dan masyarakat.
"Kita ingin ISMI hadir secara utuh. Ada diskusi intelektual, ada gerakan sosial, ada pengembangan ekonomi dan ada pula majelis keagamaan. Semua ini harus berjalan beriringan karena pembangunan manusia tidak cukup hanya dari satu sisi," ujar Fahmi.
Dari Kerinci, Muaro Jambi hingga Masjid Agung Al-Falah
Gerakan ISMI Jambi beberapa waktu terakhir memang mulai menyentuh berbagai ruang.
Pengurus turun ke daerah.
Masuk ke pesantren.
Bertemu mahasiswa.
Menyalurkan bantuan sosial.
Mendukung anak yatim dan dhuafa.
Mendorong penguatan pendidikan Al-Qur'an.
Kini langkah itu bergerak menuju Masjid Agung Al-Falah.
Kali ini yang dibawa adalah majelis ilmu.
Dan tokoh yang datang bukan sembarang tamu.
Ia adalah guru yang sengaja didatangkan Ernawati agar masyarakat Jambi juga dapat belajar langsung.
Bagi Ernawati, inilah salah satu manfaat mempunyai jaringan luas.
Jaringan itu jangan hanya dipakai untuk bisnis.
Jangan hanya untuk kepentingan pribadi.
Kalau bisa mendatangkan orang berilmu, maka pintu itu harus dibuka untuk masyarakat.
"Kalau kita mengenal orang-orang baik dan mempunyai akses kepada para ulama, jangan berhenti untuk diri kita sendiri. Kita harus ajak sebanyak mungkin orang ikut mendapatkan manfaat. Itu yang saya inginkan dari kedatangan Syekh Ala ke Jambi," kata Ernawati.
Ernawati: Jangan Lewatkan Kesempatan Ini
Menjelang kedatangan gurunya, Ernawati secara khusus mengajak masyarakat Jambi hadir.
Ia tidak ingin tabligh akbar hanya dipenuhi pengurus ISMI.
Justru semakin beragam masyarakat yang datang, semakin baik.
Orang tua boleh membawa anak.
Guru mengajak murid.
Dosen mengajak mahasiswa.
Pengurus majelis taklim membawa jamaah.
Santri datang bersama teman-temannya.
"Insyaallah beliau datang jauh dari Mesir. Mari kita sambut dengan hadir di majelis ilmunya. Kita dengarkan nasihatnya, kita bershalawat bersama dan mudah-mudahan ada ilmu yang pulang bersama kita ketika meninggalkan Masjid Agung Al-Falah," kata Ernawati.
Ernawati berharap tabligh akbar tidak hanya meninggalkan keramaian.
Ada sesuatu yang lebih penting.
Ilmu.
Nasihat.
Dan perubahan.
Seseorang mungkin datang dengan persoalan keluarga.
Ada yang sedang mencari ketenangan.
Ada mahasiswa yang haus ilmu.
Ada santri yang ingin bertemu guru.
Ada pula masyarakat yang sekadar ingin duduk dalam majelis dan bershalawat.
Semua dipersilakan.
Tidak ada tiket.
Tidak ada batas kelompok.
Pintunya dibuka untuk masyarakat.
Ayo Hadiri Tabligh Akbar
Jumat, 4 September nanti, Syekh Ala Muhammad Musthafa Na'imah akan berada di Jambi.
ISMI Provinsi Jambi mengajak masyarakat menyediakan waktu selepas salat Jumat.
Tujuannya satu.
Masjid Agung Al-Falah Jambi.
Mulai pukul 13.00 WIB.
Datang.
Duduk.
Bershalawat.
Dan dengarkan ilmu dari ulama yang datang ribuan kilometer dari Mesir.
Ernawati berharap masyarakat tidak menyia-nyiakan kesempatan tersebut.
"Saya hanya mengajak, mari datang. Kita tidak tahu satu kalimat mana yang akan menyentuh hati kita. Kita tidak tahu satu nasihat mana yang mungkin mengubah kehidupan kita. Insyaallah setiap langkah menuju majelis ilmu akan membawa kebaikan," kata Ernawati.(*)