JAMBI - Medan sulit tak menyurutkan langkah Gubernur Jambi Al Haris untuk turun langsung ke lokasi kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di Kabupaten Tanjung Jabung Timur.
Bersama Danrem 042/Garuda Putih, Kapolda Jambi dan Bupati Tanjung Jabung Timur, Al Haris mendatangi lokasi kebakaran di Desa Sungai Datuk, Kecamatan Nipa Panjang, Kamis (27/8/2026).
Tak hanya melihat kondisi dari kejauhan.
Al Haris ikut berjibaku bersama petugas melakukan upaya pemadaman.
Kebakaran di kawasan tersebut dilaporkan telah menghanguskan lahan seluas lebih dari 5 hektare.
Api di Permukaan Padam, di Dalam Tanah Belum Tentu
Penanganan Karhutla di lokasi itu ternyata tidak sederhana.
Al Haris mengatakan api yang sudah tidak terlihat di permukaan belum tentu benar-benar mati.
Di bawah tanah, sumber panas masih bisa tersisa.
“Ini proses pemadamannya luar biasa panjang, karena api yang sudah padam tidak bisa kita pastikan api tersebut benar-benar padam. Karena api di dalam tanah masih ada yang menyala,” ujar Al Haris.
Kondisi tersebut membuat petugas harus bekerja ekstra.
Lokasi yang tampak aman harus terus diperiksa.
Sebab api yang masih tersimpan di bawah permukaan berpotensi kembali muncul.
Titik Api Bisa Muncul dalam Waktu Singkat
Al Haris menyaksikan sendiri kondisi tersebut selama berada di lapangan.
Beberapa titik api disebut kembali muncul dalam waktu relatif singkat.
Keadaan semakin sulit karena cuaca tengah kering.
Ditambah lagi dengan angin yang berembus cukup kencang.
Kombinasi itulah yang membuat api mudah berpindah dan menjalar ke kawasan lain.
“Kondisi cuaca yang kering dan angin yang berhembus kencang ini yang membuat api menjalar,” ungkap Al Haris.
Medan Sulit Tak Membuat Gubernur Bertahan di Posko
Akses menuju lokasi kebakaran juga tidak mudah.
Namun kondisi tersebut tidak membuat Al Haris hanya memantau penanganan dari posko.
Gubernur memilih turun langsung ke titik kebakaran.
Di lokasi, ia melihat bagaimana petugas harus menghadapi api yang dapat kembali muncul setelah sebelumnya terlihat padam.
Situasi tersebut sekaligus menunjukkan rumitnya penanganan Karhutla di kawasan yang sulit dijangkau.
Petugas tidak hanya berpacu dengan api.
Mereka juga menghadapi cuaca kering, angin, kondisi medan dan potensi munculnya kembali sumber api.
Lebih dari 5 Hektare Lahan Terbakar
Luas lahan yang terdampak dilaporkan sudah lebih dari 5 hektare.
Namun dalam informasi yang tersedia belum dijelaskan secara rinci penyebab awal kebakaran maupun siapa pemilik atau pengelola lahan yang terbakar.
Karena itu, penyebab kebakaran tidak dapat disimpulkan sebelum ada hasil pemeriksaan dari pihak berwenang.
Fokus penanganan saat ini adalah memastikan api tidak terus meluas.
Forkopimda Turun Bersama
Kehadiran Al Haris bersama Danrem 042/Garuda Putih, Kapolda Jambi dan Bupati Tanjung Jabung Timur menunjukkan penanganan Karhutla dilakukan secara lintas sektor.
Karhutla memang tidak dapat ditangani satu instansi.
Ada personel yang bertugas melakukan pemadaman.
Ada yang memantau perluasan api.
Ada pula kebutuhan koordinasi pemerintah daerah hingga aparat keamanan.
Ketika api muncul di wilayah yang sulit diakses, koordinasi menjadi semakin penting.
Salah menentukan titik penanganan dapat membuat api memperoleh waktu untuk menjalar.
Musuhnya Bukan Hanya Api yang Terlihat
Karhutla berbeda dengan kebakaran bangunan yang sumber apinya relatif mudah terlihat.
Di lokasi seperti Sungai Datuk, api dapat menghilang dari permukaan tetapi belum tentu seluruh sumber panasnya selesai.
Itulah yang ditekankan Al Haris.
Petugas tidak boleh cepat menyimpulkan kondisi sudah aman hanya karena nyala api tidak terlihat.
Pemeriksaan harus dilakukan berulang.
Terutama ketika cuaca masih kering dan angin terus bertiup.
Angin Jadi Ancaman
Hembusan angin menjadi salah satu tantangan terbesar.
Saat vegetasi kering, api dapat berpindah lebih cepat.
Percikan kecil bisa menjalar.
Api yang semula berada pada satu titik bisa berkembang ke area lain.
Karena itu, upaya pemadaman harus dilakukan secepat mungkin sebelum api memperoleh ruang untuk meluas.
Situasi inilah yang ditemui Al Haris dan rombongan ketika turun ke Desa Sungai Datuk.
Penanganan Butuh Waktu Panjang
Pernyataan Al Haris bahwa proses pemadaman “luar biasa panjang” menggambarkan bahwa keberhasilan tidak cukup diukur dari padamnya nyala api.
Yang harus dipastikan adalah tidak ada lagi sumber panas yang berpotensi menyalakan kawasan kembali.
Apalagi kebakaran sudah menjangkau lebih dari 5 hektare.
Semakin luas area terdampak, semakin banyak titik yang harus diperiksa.
Al Haris Pilih Ikut Masuk ke Lokasi
Di tengah kondisi tersebut, Al Haris memilih berada bersama petugas.
Gubernur ikut masuk ke lokasi yang aksesnya tidak mudah dan melakukan upaya pemadaman.
Bagi Al Haris, kondisi di lapangan harus dilihat langsung.
Sebab dari sana dapat diketahui betapa sulitnya memastikan Karhutla benar-benar selesai.
Api yang tampak hilang bisa muncul lagi.
Angin dapat mengubah arah penjalaran.
Dan medan sulit membuat mobilisasi personel serta peralatan menjadi tidak sederhana.
Karhutla Belum Bisa Dianggap Selesai
Kebakaran di Sungai Datuk menunjukkan satu hal.
Api yang tidak terlihat belum tentu berarti kebakaran sudah selesai.
Lebih dari 5 hektare lahan telah terdampak.
Cuaca masih kering.
Angin masih menjadi ancaman.
Dan sumber api di bawah permukaan masih harus terus diwaspadai.
Karena itulah Al Haris menyebut penanganannya membutuhkan kerja panjang.
Di tengah medan yang sulit, Gubernur Jambi bersama unsur Forkopimda dan petugas memilih tetap berada di lapangan—berjibaku memastikan api tidak memperoleh kesempatan untuk kembali membesar. (*)
Galeri Foto:







