Jambi - Lawatan ulama Mesir Syekh Maulana ‘Ala Musthafa Na’imah Al-Azhari As-Syafi’i di Jambi berlanjut ke dunia kampus.
Didampingi Ketua Ikatan Sarjana Melayu Indonesia (ISMI) Provinsi Jambi Hj Ernawati, S.Ag., M.Pd., Syekh Ala tiba di UIN Sulthan Thaha Saifuddin (STS) Jambi, Jumat (4/9/2026) sekitar pukul 11.00 WIB.
Begitu tiba, rombongan langsung disambut Rektor UIN STS Jambi Prof. Dr. H. Kasful Anwar, M.Pd., jajaran pimpinan universitas dan civitas akademika.
Tak banyak jeda.
Syekh Ala kemudian langsung memasuki ruang kegiatan dan mengikuti agenda “Silaturahmi & Dialog Pendidikan dan Peradaban Islam” bersama civitas akademika UIN STS Jambi.
Dari pantauan di lokasi, acara berlangsung di ruang pertemuan kampus. Di bagian depan terpampang baliho besar bertuliskan tema dialog dengan foto Syekh Ala dan Rektor UIN STS Jambi.
Syekh Ala duduk di meja utama sebagai narasumber. Di sampingnya tampak Rektor Prof Kasful Anwar dan Hj Ernawati yang hadir sebagai Ketua ISMI Provinsi Jambi.
Suasana forum berlangsung akademis namun tetap hangat.
Para peserta menyimak langsung pandangan ulama Al-Azhar tersebut mengenai pendidikan dan peradaban Islam.
Dari Mesir Masuk Ruang Akademik UIN
Kehadiran Syekh Ala di UIN STS Jambi menjadi salah satu bagian penting dari rangkaian lawatannya di Provinsi Jambi.
Jika pada agenda tabligh akbar Syekh Ala akan berhadapan dengan masyarakat luas, di UIN STS Jambi ruang diskusinya lebih spesifik.
Kampus.
Mahasiswa.
Dosen.
Akademisi.
Dan dunia pendidikan Islam.
Tema yang dipilih juga tidak ringan: pendidikan dan peradaban Islam.
Dua hal yang memiliki hubungan sangat erat.
Sebab peradaban Islam dalam sejarah tidak lahir hanya karena kekuatan politik atau ekonomi.
Ia tumbuh dari tradisi ilmu.
Dari masjid.
Madrasah.
Majelis para ulama.
Perpustakaan.
Hingga lahirnya para ilmuwan dan pemikir.
Itulah ruang yang kini kembali dibicarakan di UIN STS Jambi.
Ernawati Dampingi Langsung Sang Guru
Hj Ernawati tampak mendampingi Syekh Ala sejak tiba di kampus.
Kehadirannya bukan sekadar sebagai Ketua ISMI Provinsi Jambi.
Ernawati diketahui memiliki hubungan keilmuan langsung dengan Syekh Ala. Ia berguru kepada ulama asal Alexandria, Mesir tersebut.
Dari hubungan guru dan murid itulah kemudian lahir gagasan mendatangkan Syekh Ala ke Jambi.
Ernawati sebelumnya ingin masyarakat Jambi tidak hanya mengenal ulama dari Timur Tengah melalui media sosial atau rekaman ceramah.
Ia ingin masyarakat, santri dan mahasiswa memiliki kesempatan duduk langsung dalam majelis ilmu.
Kehadiran Syekh Ala di UIN menjadi salah satu bentuk dari gagasan itu.
Di ruang akademik tersebut, mahasiswa dan dosen dapat mendengarkan langsung cara seorang ulama dengan tradisi pendidikan Al-Azhar membaca persoalan pendidikan Islam.
Rektor Sambut Langsung
Rektor UIN STS Jambi Prof Kasful Anwar turun langsung menyambut kedatangan Syekh Ala dan Ernawati.
Pertemuan itu sekaligus memperlihatkan kuatnya nuansa akademik dari lawatan sang Syekh.
Syekh Ala tidak hanya datang sebagai penceramah.
Ia ditempatkan sebagai narasumber dalam forum dialog.
Format tersebut memberi ruang lebih besar untuk membicarakan gagasan.
Bagaimana pendidikan Islam menjawab tantangan zaman.
Bagaimana kampus Islam mempertahankan nilai dan tradisi keilmuan.
Bagaimana mahasiswa menghadapi perubahan teknologi.
Dan bagaimana ilmu pengetahuan dapat kembali menjadi salah satu pilar pembangunan peradaban.
Syekh Ala Dikenal Dekat dengan Dunia Pendidikan
Syekh Ala memang mempunyai rekam jejak yang sangat dekat dengan dunia pendidikan.
Sejak kecil hingga jenjang pendidikan tinggi, perjalanan intelektualnya tumbuh dalam lingkungan Al-Azhar.
Ia dikenal tidak hanya menempuh pendidikan formal.
Syekh Ala juga aktif mendatangi berbagai majelis para masyaikh.
Dalam perjalanan menuntut ilmu, ia bahkan kerap bolak-balik antara Alexandria dan Kairo untuk belajar.
Tradisi itulah yang membentuk karakter pengajarannya.
Ia dikenal mampu mengurai materi yang rumit menjadi lebih mudah dipahami.
Bagi mahasiswa, cara belajar seperti itu menjadi penting.
Sebab pendidikan tinggi bukan semata-mata menghafal materi.
Mahasiswa dituntut memahami cara berpikir.
Membaca argumentasi.
Menelusuri sumber ilmu.
Dan memiliki adab dalam proses akademik.
Pendidikan Bukan Cuma Gelar
Dialog pendidikan dan peradaban Islam tersebut juga relevan dengan tantangan perguruan tinggi hari ini.
Mahasiswa memang datang ke kampus untuk memperoleh pendidikan dan gelar.
Tetapi kampus Islam memiliki tanggung jawab yang lebih besar.
Membentuk manusia.
Bukan sekadar menghasilkan ijazah.
Kecerdasan intelektual harus bertemu dengan kecerdasan spiritual.
Ilmu harus bertemu dengan adab.
Teknologi harus berjalan bersama nilai.
Sementara pendidikan harus mampu menjawab persoalan masyarakat.
Di titik itulah tema dialog menjadi menarik.
Peradaban tidak lahir dari gelar yang panjang.
Ia lahir ketika ilmu menghasilkan perubahan.
Tradisi Berguru di Tengah Era Digital
Kehadiran Syekh Ala juga membawa pesan tersendiri di tengah zaman digital.
Hari ini seseorang bisa mengakses ribuan materi agama hanya dari telepon genggam.
Ceramah tersedia setiap saat.
Kitab bisa dibaca melalui layar.
Diskusi keagamaan bahkan berlangsung di media sosial.
Tetapi ada sesuatu yang tidak sepenuhnya dapat digantikan teknologi:
tradisi berguru.
Duduk langsung di hadapan seorang guru menghadirkan pengalaman berbeda.
Mahasiswa tidak hanya mendapatkan isi materi.
Mereka melihat cara guru menjelaskan.
Cara guru berbeda pendapat.
Cara menyampaikan argumentasi.
Hingga adab ketika menghadapi sebuah persoalan.
Dan itulah yang pagi ini berlangsung di UIN STS Jambi.
Dari Kampus Menuju Tabligh Akbar
Agenda di UIN STS Jambi merupakan bagian dari rangkaian panjang lawatan Syekh Ala pada Jumat ini.
Setelah kegiatan akademik, Syekh Ala juga dijadwalkan hadir dalam Tabligh Akbar di Masjid Agung Al-Falah Jambi.
Tabligh akbar dijadwalkan berlangsung Jumat (4/9/2026) mulai pukul 13.00 WIB dan terbuka untuk seluruh masyarakat.
Dengan demikian, dalam satu hari Syekh Ala memasuki dua ruang yang berbeda.
Pagi menjelang siang, ia duduk bersama civitas akademika.
Kemudian bergerak menuju majelis yang lebih besar bersama masyarakat Jambi.
Dari ruang kampus menuju Masjid Agung Al-Falah.
Dari dialog akademik menuju tabligh akbar.
Namun pesan yang dibawa tetap sama:
ilmu.
ISMI Buka Akses Ulama ke Kampus dan Masyarakat
Kegiatan tersebut sekaligus memperlihatkan arah yang sedang dibangun ISMI Provinsi Jambi.
Di bawah kepemimpinan Hj Ernawati, jaringan organisasi tidak hanya diarahkan untuk konsolidasi internal.
Ada aktivitas pendidikan.
Kampus.
Pesantren.
Kegiatan sosial.
Ekonomi umat.
Dan majelis keagamaan.
Kehadiran Syekh Ala mempertemukan beberapa ruang itu sekaligus.
Ulama Timur Tengah dipertemukan dengan perguruan tinggi Islam.
Kemudian dengan masyarakat umum.
Lalu dengan pesantren.
Pendekatan semacam ini membuat lawatan Syekh Ala tidak berhenti sebagai kunjungan seremonial.
Ada transfer ilmu yang diharapkan tertinggal setelah sang Syekh kembali ke Mesir.
Jumat pagi itu, Syekh Ala masuk ke UIN STS Jambi didampingi muridnya, Hj Ernawati.
Di depan mereka sudah menunggu rektor, dosen dan mahasiswa.
Tak ada waktu banyak untuk seremoni panjang.
Syekh Ala langsung duduk di meja narasumber.
Lalu pembicaraan pun dimulai.
Tentang pendidikan.
Tentang ilmu.
Dan tentang bagaimana membangun kembali peradaban Islam.