Kuala Tungkal - Lawatan Maulana Syekh ‘Ala Muhammad Musthafa Na’imah di Kabupaten Tanjung Jabung Barat terus berlanjut, Sabtu (5/9/2026) malam.
Usai makan malam bersama Bupati Tanjab Barat Anwar Sadat dan keluarga di rumah dinas, Syekh Ala yang didampingi Ketua ISMI Provinsi Jambi Hj Ernawati langsung bergerak menuju Pondok Pesantren Al Baqiyatussolihat, Kuala Tungkal.
Rombongan tidak datang sendiri.
Bupati Tanjab Barat Anwar Sadat bersama istri ikut mengiringi perjalanan menuju pesantren.
Begitu tiba di kompleks Al Baqiyatussolihat, rombongan tidak langsung menuju aula.
Ada satu tempat yang lebih dulu dituju.
Makam Tuan Guru M Ali bin Abdul Wahab.
Pendiri Pondok Pesantren Al Baqiyatussolihat itu memiliki kedekatan tersendiri dengan Hj Ernawati. Tuan Guru M Ali juga merupakan salah seorang guru Ernawati.
Karena itu, ziarah malam tersebut terasa sangat personal.
Syekh Ala, Ernawati, Anwar Sadat beserta rombongan berjalan menuju makam.
Suasana yang sebelumnya ramai perlahan berubah khidmat.
Percakapan mereda.
Langkah diperlambat.
Di depan makam sang tuan guru, rombongan kemudian duduk dan memanjatkan doa secara khusus.
Malam di Kuala Tungkal terasa lebih hening.
Tidak ada seremoni berlebihan.
Tidak ada panggung.
Yang ada hanya makam seorang guru, murid-murid yang datang mengenang, dan doa yang dipanjatkan.
Doa Dipimpin Khusyuk
Di makam Tuan Guru M Ali bin Abdul Wahab, Syekh Ala ikut larut dalam suasana ziarah.
Doa dibacakan.
Tangan terangkat.
Jamaah mengaminkan.
Hj Ernawati tampak mengikuti prosesi dengan khusyuk.
Bagi Ernawati, ziarah itu seperti mempertemukan dua bagian penting dalam perjalanan hidupnya.
Di satu sisi ada Syekh Ala, guru yang membimbingnya selama berada di Mesir.
Di sisi lain ada makam Tuan Guru M Ali bin Abdul Wahab, sosok yang juga pernah menjadi gurunya di tanah Jambi.
Dua guru.
Dua tempat.
Dua perjalanan keilmuan.
Kini dipertemukan dalam satu malam di Kuala Tungkal.
Suasananya pun terasa emosional.
Ernawati sebelumnya berkali-kali menceritakan bahwa tradisi ziarah adalah salah satu hal yang banyak ia pelajari dari Syekh Ala.
Dulu ia mengaku belum memahami secara mendalam hikmah ziarah.

Namun seiring perjalanan belajar, ziarah justru menjadi bagian yang sangat dekat dalam kehidupannya.
Malam ini, pelajaran itu seperti kembali hadir secara utuh.
Ia datang bersama gurunya dari Alexandria untuk berziarah ke makam gurunya di Kuala Tungkal.
Dari Guru Menuju Guru
Ada benang merah yang kuat dalam lawatan malam itu.
Syekh Ala sebelumnya kerap mengajarkan murid untuk menghormati guru.
Tidak hanya ketika guru masih hidup.
Tetapi juga mendoakan mereka setelah wafat.
Bagi tradisi pesantren, hubungan guru dan murid memang tidak berhenti ketika proses belajar selesai.
Ilmu terus hidup.
Nasihat terus diingat.
Dan doa menjadi salah satu cara menjaga hubungan tersebut.
Itulah yang tergambar di makam Tuan Guru M Ali bin Abdul Wahab.
Syekh Ala datang sebagai guru Ernawati.
Ernawati datang sebagai murid Tuan Guru M Ali.
Bupati Anwar Sadat ikut berdiri dalam lingkaran silaturahmi tersebut.
Tidak ada jarak jabatan.
Yang ada adalah penghormatan kepada ilmu dan orang yang pernah mengajarkannya.
Ernawati Terlihat Khusyuk
Hj Ernawati terlihat mengikuti ziarah dengan penuh perhatian.
Bagi dirinya, Al Baqiyatussolihat bukan sekadar salah satu titik lawatan Syekh Ala di Tanjab Barat.
Ada hubungan pribadi.
Ada sejarah belajar.
Ada kenangan kepada guru.
Malam itu, suasana seperti membawa Ernawati kembali pada masa ketika dirinya masih belajar kepada Tuan Guru M Ali bin Abdul Wahab.
Bedanya, kini ia datang sebagai Ketua ISMI Provinsi Jambi.
Ia membawa gurunya dari Mesir.
Ditemani bupati.
Dan disambut keluarga besar pesantren.
Namun di depan makam guru, semua atribut itu seperti kehilangan arti.
Ia kembali menjadi murid.
Berdoa.
Mengenang.
Dan mengambil hikmah dari perjalanan seorang ulama yang telah meninggalkan jejak pendidikan di Kuala Tungkal.
Anwar Sadat Ikut Berziarah
Bupati Tanjab Barat Anwar Sadat ikut berada dalam rombongan hingga prosesi ziarah selesai.
Istrinya juga turut mendampingi.
Kehadiran kepala daerah memberi warna tersendiri.
Beberapa jam sebelumnya, Anwar Sadat menjadi tuan rumah saat Syekh Ala dan rombongan dijamu makan malam di rumah dinas.
Kini peran itu bergeser.
Ia ikut masuk ke lingkungan pesantren.
Berziarah bersama.
Berdoa bersama.
Lalu melanjutkan kegiatan ke aula pesantren.
Rangkaian itu membuat lawatan Syekh Ala di Kuala Tungkal tidak hanya mempertemukan ulama dan santri.
Pemerintah daerah ikut berada dalam satu ruang.
Dari rumah dinas ke makam ulama.
Dari jamuan makan malam ke majelis pesantren.
Dari percakapan santai ke doa yang khusyuk.
Masuk Aula, Santri Sudah Menanti
Usai ziarah, rombongan bergerak menuju aula Pondok Pesantren Al Baqiyatussolihat.
Suasana kembali berubah.
Jika di makam suasananya hening, di aula para santri dan jamaah sudah menunggu.
Syekh Ala masuk bersama Hj Ernawati.
Anwar Sadat dan istri ikut mendampingi.
Keluarga besar pesantren menyambut.
Majelis pun dimulai.
Hingga berita ini ditulis, kegiatan di aula Pondok Pesantren Al Baqiyatussolihat masih berlangsung.
Para santri mengikuti rangkaian acara.
Syekh Ala kembali berada di tengah jamaah.
Setelah seharian berpindah dari satu tempat ke tempat lain, ulama asal Alexandria itu masih melanjutkan lawatan ilmunya.
Hari yang Sangat Panjang
Hari Syekh Ala memang berlangsung sangat panjang.
Pagi ia berada di Kota Jambi.
Dari rumah dinas gubernur, ia bergerak ke PKP Al Hidayah.
Dari sana perjalanan dilanjutkan ke Kuala Tungkal.
Sore hari ia berada di Pondok Pesantren Asy-Syatibi.
Ceramah.
Bercanda dengan santri.
Berbicara tentang penuntut ilmu, hafiz muda dan perjuangan para sahabat.
Menjelang malam, Syekh Ala berada di rumah dinas Bupati Tanjab Barat.
Salat.
Silaturahmi.
Makan malam.
Lalu perjalanan belum selesai.
Rombongan kembali bergerak.
Kali ini ke Al Baqiyatussolihat.
Namun sebelum majelis dimulai, ada satu tempat yang harus didatangi lebih dulu.
Makam guru.
Di sanalah perjalanan malam itu seolah menemukan maknanya.
Ilmu selalu punya mata rantai.
Ada guru.
Ada murid.
Ada guru dari Mesir.
Ada guru dari Kuala Tungkal.
Dan ada seorang murid bernama Hj Ernawati yang malam itu berada di antara keduanya.
Dari Alexandria ke Makam Guru di Kuala Tungkal
Ada pemandangan yang cukup kuat malam itu.
Syekh Ala datang jauh dari Alexandria.
Bersamanya ada Ernawati, murid yang selama beberapa hari mendampinginya berkeliling Jambi.
Namun di makam Tuan Guru M Ali bin Abdul Wahab, giliran Ernawati yang membawa gurunya berziarah kepada gurunya sendiri.
Seperti sebuah mata rantai.
Guru.
Murid.
Lalu guru berikutnya.
Syekh Ala berdoa.
Ernawati mengaminkan.
Anwar Sadat ikut berada di sana.
Dan di tengah gelapnya malam Kuala Tungkal, satu pesan terasa begitu kuat:
ilmu boleh membawa seseorang melangkah sangat jauh.
Tetapi seorang murid tidak pernah benar-benar selesai menghormati gurunya.
Hingga malam ini, rangkaian kegiatan di aula Pondok Pesantren Al Baqiyatussolihat masih berlangsung.
Lawatan Syekh Ala belum berakhir.
Namun sebelum ceramah kembali dimulai, ia dan Hj Ernawati sudah lebih dulu meninggalkan satu jejak penting di Kuala Tungkal:
doa di makam seorang guru.(*)