Kuala Tungkal - Malam di Pondok Pesantren Al Baqiyatusshalihat, Kuala Tungkal, Sabtu (5/9/2026), mendadak hidup.
Ribuan santri, guru, keluarga besar pondok dan masyarakat tumpah ruah.
Mereka sudah menunggu.
Sebagian berdiri berjejal di sepanjang jalur masuk. Sebagian memenuhi aula dan halaman pesantren. Ada yang mengangkat telepon genggam tinggi-tinggi, mencoba menangkap momen kedatangan tamu yang sejak sore dibicarakan.
Lalu rombongan itu muncul.
Maulana Syekh ‘Ala Muhammad Musthafa Na’imah tiba bersama Ketua ISMI Provinsi Jambi Hj Ernawati.
Di belakangnya ikut mengiringi Bupati Tanjung Jabung Barat Anwar Sadat bersama istri.
Pecah.
Sorak santri langsung membahana.
Nama Syekh Ala diteriakkan.
Shalawat terdengar dari berbagai sisi.
Ada santri yang melambaikan tangan. Ada yang berdiri berdesakan hanya untuk melihat lebih dekat ulama asal Alexandria, Mesir itu.

Suasana yang sebelumnya menunggu berubah menjadi gegap gempita.
Kuala Tungkal malam itu benar-benar seperti punya pesta sendiri.
Bukan pesta musik.
Bukan pula panggung hiburan.
Yang membuat ribuan orang berkumpul adalah seorang guru.
Seorang ulama yang datang membawa cerita tentang ilmu, zikir dan cinta kepada Rasulullah SAW.
Syekh Ala tersenyum melihat sambutan itu.
Ia berjalan perlahan.
Sesekali mengangkat tangan membalas salam.
Hj Ernawati berada tak jauh di sampingnya.
Anwar Sadat dan istri ikut masuk bersama rombongan.
Jarak antara ulama, kepala daerah, santri dan masyarakat seperti hilang di tengah riuhnya shalawat.
Dari Makam Guru Menuju Lautan Santri
Sebelum masuk ke aula, Syekh Ala dan rombongan lebih dulu berziarah ke makam Tuan Guru M Ali bin Abdul Wahab, pendiri Pondok Pesantren Al Baqiyatusshalihat.
Makam tersebut memiliki arti khusus bagi Hj Ernawati.
Tuan Guru M Ali merupakan salah seorang gurunya.
Syekh Ala, Ernawati, Anwar Sadat dan rombongan duduk dalam suasana khusyuk.
Doa dipanjatkan.
Tangan terangkat.
Suasana hening.
Lalu beberapa saat kemudian mereka bergerak menuju aula.
Kontrasnya terasa sekali.
Di makam, sunyi.
Begitu masuk kawasan tempat jamaah berkumpul, suara ribuan santri kembali meledak.
Dari keheningan ziarah menuju lautan manusia.
Syekh Ala Langsung Bicara Rasulullah
Ketika Syekh Ala mulai menyampaikan tausiah, ribuan jamaah perlahan tenang.

Bahasa Arab mengalir.
Kemudian diterjemahkan agar seluruh jamaah memahami.
Salah satu bagian yang paling mendapat perhatian adalah ketika Syekh Ala berbicara mengenai Baginda Nabi Muhammad SAW.
Ia mengingatkan bahwa Nabi Muhammad bukan sekadar figur sejarah yang cukup dikenang namanya.
Rasulullah harus dikenal.
Dicintai.
Diperbanyak shalawat kepadanya.
Kemudian akhlaknya diteladani.
Dalam substansi tausiahnya, Syekh Ala menyampaikan:
“سيدنا محمد صلى الله عليه وسلم هو الرحمة المهداة، ومن أحب رسول الله أكثر من الصلاة عليه، وتعلّم سيرته، واتبع أخلاقه.”
Artinya:
“Baginda Nabi Muhammad SAW adalah rahmat yang dianugerahkan Allah kepada umat manusia. Siapa yang mencintai Rasulullah, perbanyaklah shalawat kepadanya, pelajari kehidupannya dan ikutilah akhlaknya.”
Jamaah menjawab dengan shalawat.
Suara itu kembali memenuhi ruangan.
Syekh Ala lalu menjelaskan bahwa keutamaan Rasulullah tidak cukup dibicarakan dari mimbar.
Seorang Muslim, katanya, harus membuktikan cinta kepada Nabi melalui kehidupan.
Menjadi lembut kepada keluarga.
Menghormati guru.
Menyayangi anak yatim.
Memberi kepada orang miskin.
Menjaga lisan.
Dan tidak menyakiti orang lain.
“Jangan mengatakan kita mencintai Rasulullah hanya dengan lisan. Tanyakan kepada diri kita, apakah keluarga merasakan akhlak kita? Apakah tetangga merasakan kebaikan kita? Apakah orang miskin dan anak yatim mendapatkan perhatian kita?” ujar Syekh Ala melalui penerjemah.
Kalimat itu membuat suasana menjadi lebih tenang.
Ribuan orang mendengarkan.
Shalawat kembali terdengar.
Bukan Cuma Ramai, Banyak yang Datang Minta Doa
Di sela rangkaian majelis, ada pemandangan lain.
Guru-guru.
Warga.
Keluarga besar pesantren.
Bahkan jamaah yang datang dari luar pondok berusaha mendekat.

Sebagian meminta Syekh Ala mendoakan mereka.
Ada yang membawa keluarga.
Ada yang meminta didoakan kesehatan.
Ada yang menitipkan doa untuk anak.
Ada pula yang berharap keberkahan pendidikan dan kehidupan keluarganya.
Mereka datang dengan keyakinan masing-masing, meminta doa dan bertawassul melalui ulama yang mereka hormati.
Di kalangan jamaah dan sejumlah murid, Syekh Ala juga dikenal sebagai ulama yang memiliki nasab kepada keluarga Rasulullah SAW.
Salah satu publikasi lama tentang majelis Syekh Ala di kalangan mahasiswa Indonesia di Mesir juga menyebutnya sebagai keturunan Rasulullah SAW. Namun rincian klaim bahwa nasab itu bersambung melalui garis ayah dan ibu sekaligus belum saya temukan dalam dokumen silsilah primer yang dapat diverifikasi secara independen. (Al Qolam Komntb)
Karena itu, bagi banyak jamaah malam itu, mendekat kepada Syekh Ala bukan semata bertemu seorang penceramah.
Ada rasa hormat.
Ada mahabbah.
Ada keinginan meminta doa dari seorang guru.
Ada pula yang sekadar ingin bersalaman.
Beberapa bahkan tampak menunggu lama hanya agar bisa berada dekat beberapa detik.
Ernawati: Saya Bahagia Melihat Kuala Tungkal Menyambut Guru Saya
Hj Ernawati terlihat beberapa kali menyaksikan antusiasme jamaah dengan senyum.
Bagi Ketua ISMI Provinsi Jambi itu, suasana di Al Baqiyatusshalihat memiliki makna khusus.
Ia datang membawa Syekh Ala, guru yang selama ini mengajarnya di Alexandria.
Namun Kuala Tungkal menyambut sang guru seperti milik mereka sendiri.
“Saya benar-benar bahagia malam ini. Saya yang berguru kepada beliau di Alexandria, tetapi ketika melihat ribuan masyarakat Kuala Tungkal menyambut dengan shalawat dan rasa cinta seperti ini, rasanya guru saya sudah menjadi guru kita semua,” kata Ernawati.
Menurutnya, inilah alasan sejak awal ia ingin lawatan Syekh Ala tidak hanya berhenti di Kota Jambi.
Ia ingin pesantren di daerah juga mendapatkan kesempatan.
“Kalau saya mendapatkan ilmu dan merasakan manfaat dari beliau, kenapa harus saya simpan sendiri? Saya ingin santri-santri kita juga mendengar. Masyarakat juga bertemu. Mudah-mudahan ada satu kalimat dari beliau yang masuk ke hati dan kemudian mengubah kehidupan seseorang,” ujarnya.
Ernawati kemudian melihat ke arah ribuan santri.
Menurutnya, mereka adalah alasan terpenting majelis seperti itu harus diperbanyak.
“Yang membuat saya paling bahagia adalah santri. Mereka masih muda. Kalau sejak sekarang tumbuh cinta kepada Rasulullah, cinta kepada ilmu, hormat kepada guru dan rajin bershalawat, kita tidak perlu terlalu khawatir dengan masa depan umat,” katanya.
Anwar Sadat: Malam Ini Kuala Tungkal Dapat Kehormatan
Bupati Tanjung Jabung Barat Anwar Sadat juga mengaku terkesan melihat antusiasme masyarakat.
Ia sejak awal ikut mengiringi Syekh Ala dan Hj Ernawati dari rumah dinas menuju Al Baqiyatusshalihat.
Bahkan bersama istri, Anwar ikut berziarah sebelum masuk ke majelis.
Menurut Anwar, kehadiran ribuan santri dan masyarakat menunjukkan kecintaan masyarakat Tanjab Barat kepada ulama dan majelis ilmu.
“Malam ini Kuala Tungkal mendapatkan kehormatan. Ulama datang jauh dari Mesir, kemudian masyarakat dan santri menyambut dengan luar biasa. Ini menunjukkan bahwa semangat masyarakat kita terhadap ilmu, shalawat dan kecintaan kepada Rasulullah masih sangat kuat,” kata Anwar.
Ia meminta para santri tidak membiarkan pertemuan malam itu berlalu hanya sebagai kenangan.
Foto boleh disimpan.
Video boleh direkam.
Tetapi yang paling penting adalah ilmu.
“Jangan hanya ingat ramainya. Jangan hanya ingat bisa melihat Syekh Ala. Ingat pesan-pesannya. Terutama anak-anak santri, ambil semangat beliau dalam menuntut ilmu dan mencintai Rasulullah,” ujarnya.
Anwar juga mengapresiasi Hj Ernawati yang membuka akses sehingga lawatan Syekh Ala sampai ke Kuala Tungkal.
“Kita berterima kasih kepada Ibu Hj Ernawati. Beliau mempunyai hubungan guru dan murid dengan Syekh Ala, kemudian hubungan itu tidak dinikmati sendiri. Beliau bawa gurunya ke tengah masyarakat. Ini bentuk kebermanfaatan jaringan yang sangat baik,” kata Anwar.
Syekh Ala: Semua Orang Jambi Keluarga Saya
Suasana kembali riuh ketika Syekh Ala menyampaikan rasa cintanya kepada masyarakat Jambi.
Sejak lawatan di Kota Jambi, satu kalimat memang berulang kali ia ucapkan.
“Sayo cinto Jambi.”
Setiap kalimat itu keluar, jamaah hampir selalu bereaksi.
Di Kuala Tungkal pun sama.
Sorak kembali terdengar.
Syekh Ala tersenyum.
Lalu melalui penerjemah ia mengatakan:
“Semua orang Jambi adalah keluarga saya. Saya datang ke sini tidak merasa berada bersama orang asing. Saya berada bersama keluarga.”
Jamaah kembali bersorak.
Beberapa santri tertawa senang.
Kedekatan yang sebelumnya hanya terlihat antara Syekh Ala dengan muridnya, Hj Ernawati, malam itu seperti meluas.
Dari satu murid menjadi satu pesantren.
Dari pesantren menjadi ribuan masyarakat Kuala Tungkal.
Tangis, Senyum dan Tangan yang Terangkat
Semakin malam, suasananya bukan semakin sepi.
Justru banyak jamaah bertahan.
Ketika doa dipanjatkan, tangan-tangan kembali terangkat.
Beberapa ibu terlihat menunduk.
Ada yang mengusap wajah.
Ada santri yang mengikuti doa dalam diam.
Ada orang tua yang membawa anaknya mendekat.
Mungkin setiap orang datang dengan permintaan berbeda.
Ada yang meminta kesehatan.
Ada yang memikirkan ekonomi keluarga.
Ada yang mendoakan anaknya menjadi hafiz.
Ada yang ingin anaknya sukses belajar.
Ada pula yang tidak meminta apa pun selain berharap mendapatkan keberkahan majelis.
Syekh Ala mendoakan.
Jamaah mengaminkan.
Ribuan suara menjadi satu.
“Aamiin.”
Malam di Kuala Tungkal pun terasa panjang.
Tapi tidak terasa melelahkan bagi mereka yang masih bertahan.
Dari Mesir ke Kuala Tungkal
Perjalanan Syekh Ala menuju Al Baqiyatusshalihat malam itu sebenarnya merupakan ujung dari hari yang sangat padat.
Pagi berada di Kota Jambi.
Dijamu Gubernur Jambi Al Haris.
Kemudian ke PKP Al Hidayah.
Disambut pasukan berkuda dan marching band.
Sore bergerak berjam-jam ke Kuala Tungkal.
Masuk Asy-Syatibi.
Bercengkerama dengan ratusan santri.
Makan malam di Rumah Dinas Bupati Tanjab Barat.
Lalu malam kembali bergerak ke Al Baqiyatusshalihat.
Namun rasa lelah seperti tertahan begitu melihat ribuan orang menunggu.
Yang datang bukan cuma santri.
Ada guru.
Alumni.
Orang tua.
Warga.
Tokoh masyarakat.
Pemerintah daerah.
Semuanya bercampur.
Ketika Syekh Ala masuk, Kuala Tungkal pecah.
Ketika ia berbicara tentang Rasulullah, semuanya hening.
Ketika shalawat dibaca, semuanya ikut.
Dan ketika doa dipanjatkan, ribuan tangan terangkat bersama.
Ernawati: Ini yang Saya Inginkan Sejak Awal
Di tengah suasana itu, Ernawati mengatakan pemandangan tersebut persis seperti yang ia bayangkan ketika pertama kali mengundang gurunya datang ke Jambi.
Bukan sekadar kedatangan seorang ulama dari luar negeri.
Tetapi berpindahnya ilmu dari satu majelis ke majelis lain.
“Saya sejak awal tidak mengejar berapa banyak acara. Saya ingin ada hati yang tersentuh. Ada santri yang semakin rajin belajar. Ada orang yang setelah malam ini semakin banyak bershalawat. Ada keluarga yang semakin dekat kepada Allah,” kata Ernawati.
Ia menatap lawatan Syekh Ala sebagai sebuah mata rantai.
Dari Alexandria ke Jambi.
Dari guru kepada murid.
Lalu dari murid membuka jalan kepada masyarakat.
“Ilmu itu begitu. Jangan berhenti. Dari guru turun kepada murid, kemudian murid membawa kepada orang lain. Kalau terus mengalir, insyaallah manfaatnya panjang,” ujarnya.
Kuala Tungkal malam itu akhirnya bukan hanya ramai.
Ada sesuatu yang lebih dalam.
Seorang ulama dari Alexandria datang.
Seorang murid bernama Hj Ernawati membawanya.
Seorang bupati dan keluarganya mengiringi.
Dan ribuan masyarakat membuka pintu pesantren dengan shalawat.
Saat Syekh Ala menyebut keutamaan Rasulullah, semuanya mendengar.
Saat doa dibacakan, semuanya mengangkat tangan.
Dan saat ia mengatakan bahwa seluruh orang Jambi adalah keluarganya, Kuala Tungkal kembali pecah.
Malam itu, ribuan orang boleh jadi pulang dengan pengalaman berbeda.
Tetapi mereka datang dengan satu alasan yang sama:
ingin dekat dengan ilmu, guru, dan kecintaan kepada Baginda Nabi Muhammad SAW.(*)