Gubernur Jambi Al Haris bersama Danrem 042/Garuda Putih Brigjen TNI Nyamin memberikan edukasi mengenai pencegahan dan penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kepada mahasiswa lintas perguruan tinggi saat mengikuti pembelajaran lapangan di kawasan Hutan Lindung Gambut (HLG) Londerang, Parit Culum, Kabupaten Tanjung Jabung Timur, Rabu (16/9).
Kegiatan yang diinisiasi PT Wirakarya Sakti (PT WKS), unit usaha APP Group, bersama Asosiasi Pengusaha Hutan Indonesia (APHI) Komda Jambi tersebut melibatkan 20 mahasiswa dari Universitas Jambi (UNJA), Universitas Muhammadiyah Jambi, dan Universitas Islam Negeri (UIN) Jambi.
Dalam kesempatan tersebut, Al Haris dan Brigjen TNI Nyamin turut berdialog dan berbagi pemahaman dengan mahasiswa mengenai pentingnya pencegahan, kesiapsiagaan, serta kolaborasi berbagai pihak dalam menghadapi karhutla. Mahasiswa juga mendapat kesempatan melihat secara langsung tantangan penanganan kebakaran, khususnya pada ekosistem gambut.
Didampingi Regu Pemadam Kebakaran (RPK) PT WKS, mahasiswa mendapatkan penjelasan mengenai karakteristik kebakaran di lahan gambut serta penggunaan sejumlah peralatan pemadaman, antara lain pompa pemadam, selang, dan nozzle.
Sebagai bagian dari pembelajaran, mahasiswa juga mendapat kesempatan untuk ikut membantu proses pemadaman secara terbatas di bawah arahan dan pendampingan personel RPK. Pengalaman tersebut memberikan gambaran langsung mengenai tantangan penanganan kebakaran gambut sekaligus pentingnya upaya pencegahan sejak dini.
Fadly, mahasiswa Jurusan Kehutanan UNJA, mengatakan pengalaman di lapangan membuatnya semakin memahami kompleksitas penanganan kebakaran gambut dan dampaknya terhadap masyarakat.
“Kami sangat prihatin melihat kondisi di lapangan. Kebakaran di lahan gambut ternyata tidak mudah ditangani. Dampak asapnya juga terasa hingga ke kota, baik terhadap jarak pandang maupun pernapasan. Pengalaman ini membuat kami semakin memahami bahwa pencegahan sangat penting agar kebakaran seperti ini tidak semakin meluas,” ujar Fadly.
Senada dengan Fadly, Rahman, mahasiswa UIN Jambi, menyoroti pengalaman melihat sekaligus ikut membantu proses pemadaman sebagai pembelajaran mengenai pentingnya kesiapsiagaan.
“Bagi kami, ini pengalaman yang luar biasa karena bisa melihat langsung kondisi kebakaran di lahan gambut dan ikut membantu proses pemadaman. Dari pengalaman ini kami juga semakin memahami bahwa pencegahan dan kesiapsiagaan sangat penting,” kata Rahman.
Sementara itu, Septi, mahasiswa Universitas Muhammadiyah Jambi, menilai pengalaman di lapangan memberikan pemahaman yang melengkapi pengetahuan yang diperoleh mahasiswa selama perkuliahan.
“Kegiatan ini sangat bermanfaat bagi kami. Kami mendapatkan pengetahuan mengenai pencegahan sekaligus pengalaman melihat proses penanganan kebakaran di lahan gambut. Pengalaman seperti ini membuat kami lebih memahami pentingnya menjaga lingkungan dan mencegah terjadinya kebakaran,” kata Septi.
Kepala Humas PT WKS sekaligus Ketua APHI Komda Jambi, Taufik Qurochman, mengatakan keterlibatan mahasiswa menjadi bagian dari upaya memperluas pemahaman mengenai pencegahan dan penanganan karhutla kepada generasi muda.
“Mahasiswa adalah bagian penting dari agen perubahan. Melalui pembelajaran lapangan ini, kami ingin memberikan kesempatan kepada mereka untuk memahami secara langsung kompleksitas pencegahan dan penanganan karhutla, termasuk tantangan di lahan gambut. Harapannya, pengalaman tersebut dapat memperkaya pemahaman mereka dan diteruskan kepada lingkungan kampus maupun masyarakat,” ujar Taufik.
Menurut Taufik, pengendalian karhutla merupakan rangkaian yang saling berkaitan, mulai dari edukasi, pencegahan, pemantauan dan deteksi dini, kesiapsiagaan, hingga penanganan di lapangan. Karena itu, kolaborasi antara pemerintah, TNI, dunia usaha, masyarakat, akademisi, dan berbagai pemangku kepentingan perlu terus diperkuat.
Kegiatan ini menjadi bagian dari kolaborasi PT WKS dan APHI Komda Jambi bersama berbagai pemangku kepentingan dan perguruan tinggi untuk memperluas edukasi mengenai karhutla serta mendorong generasi muda mengambil peran dalam membangun kesadaran menjaga lingkungan dan mencegah kebakaran sejak dini. (*)