Jambi — Ikatan Sarjana Melayu Indonesia (ISMI) Provinsi Jambi menyiapkan program pendataan dan pendampingan anak yatim dari keluarga miskin. Pada tahap awal, organisasi ini menargetkan sedikitnya 500 anak dari lima kabupaten.
Masing-masing pengurus ISMI di lima kabupaten yang kepengurusannya telah terbentuk diminta menyerahkan data 100 anak yatim. Namun, anak yang didata bukan sekadar mereka yang kehilangan ayah.
Ketua PW ISMI Provinsi Jambi Hj Ernawati mengatakan program tersebut diprioritaskan untuk anak-anak yang kehilangan pelindung, hidup dalam kemiskinan berat dan tidak memperoleh pengasuhan secara memadai.
Kelompok itu disebut Ernawati sebagai “yatim ekstrem”.
“Anak yatim memang menjadi fokus utama. Lima kabupaten yang kepengurusan ISMI-nya telah selesai diminta menyerahkan data masing-masing 100 anak yatim,” kata Ernawati dalam wawancara di program Ngopi Pahit.
Dengan target 100 anak dari setiap kabupaten, jumlah calon penerima program pada tahap awal mencapai 500 orang. Data tersebut selanjutnya akan diperiksa untuk memastikan bantuan diberikan kepada anak yang benar-benar membutuhkan.
“Bukan sekadar anak yang telah kehilangan ayah. Kami mencari anak yang benar-benar membutuhkan bantuan. Kami menyebutnya sebagai yatim ekstrem,” ujarnya.
Bukan Semua Anak Yatim Otomatis Masuk
Ernawati menjelaskan status yatim tidak otomatis membuat seorang anak masuk dalam daftar prioritas. Kondisi ekonomi, lingkungan pengasuhan, keberadaan keluarga pendamping serta akses terhadap pendidikan dan kesehatan akan menjadi pertimbangan.
Salah satu contoh yang ia sampaikan adalah anak yang ayahnya meninggal dunia, sedangkan ibunya harus meninggalkan rumah untuk bekerja. Anak tersebut akhirnya tinggal bersama nenek yang sudah lanjut usia dan tidak lagi mampu memberikan pengasuhan secara maksimal.
Anak dengan kondisi seperti itu akan diprioritaskan karena bukan hanya kehilangan ayah, tetapi juga menghadapi persoalan ekonomi, pengasuhan dan perlindungan.
“Contohnya, ada anak yang ayahnya meninggal, sementara ibunya harus pergi bekerja. Anak itu akhirnya tinggal bersama nenek yang juga sudah tua dan tidak mampu memberikan pemeliharaan secara maksimal. Anak seperti itulah yang menjadi prioritas,” jelas Ernawati.
Sementara itu, anak yatim yang masih berada dalam keluarga berkecukupan dan memperoleh perlindungan serta pendidikan yang layak tidak menjadi prioritas utama program ini.
Menurut Ernawati, pembatasan tersebut diperlukan karena kemampuan organisasi tetap terbatas. Bantuan harus lebih dahulu diarahkan kepada anak yang menghadapi tingkat kerentanan paling tinggi.
“Anak yatim yang keluarganya masih mampu memenuhi kebutuhan hidup dan pendidikan, biarlah tetap ditangani keluarganya. Bantuan harus diberikan kepada mereka yang benar-benar membutuhkan,” katanya.
Data Akan Dicocokkan dengan Baznas
ISMI tidak ingin program tersebut tumpang tindih dengan bantuan yang telah diberikan lembaga lain. Karena itu, data calon penerima akan dicocokkan dengan data Badan Amil Zakat Nasional atau Baznas.
Pencocokan diperlukan untuk mengetahui apakah seorang anak sudah menerima bantuan rutin dari lembaga lain. ISMI ingin mencegah satu anak memperoleh bantuan dari banyak pihak, sementara anak lain yang kondisinya lebih berat justru belum tersentuh.
“Jangan sampai anak yang telah dibantu Baznas kembali menerima bantuan dari ISMI, sementara anak lain tidak tersentuh. Kami harus berbagi data agar program tidak tumpang tindih,” ujar Ernawati.
Selain Baznas, proses verifikasi direncanakan melibatkan pengurus ISMI di kabupaten dan kota serta bagian sosial organisasi. Mereka akan memeriksa kondisi anak dan keluarganya sebelum ditetapkan sebagai penerima program.
Masyarakat juga diberi ruang untuk melaporkan keberadaan anak yatim yang hidup dalam kondisi sulit. Laporan dapat berasal dari masyarakat desa, tokoh agama, pengurus masjid, pemerintah setempat maupun keluarga yang mengetahui langsung keadaan anak tersebut.
“Masyarakat juga dapat melaporkan anak yatim yang hidup dalam kondisi sulit, baik yang berada di desa, daerah hulu maupun kawasan hilir. Laporan itu akan diperiksa oleh bagian sosial ISMI,” katanya.
Langkah verifikasi dinilai penting karena data yang masuk belum dapat langsung dijadikan dasar pemberian bantuan. ISMI harus memastikan identitas, keadaan ekonomi, pola pengasuhan dan kebutuhan setiap anak.
Anak Usia SMP-SMA Akan Dititipkan ke Pesantren
Program yang disiapkan tidak berhenti pada penyerahan bantuan tunai atau kebutuhan pokok. ISMI merancang skema pendampingan pendidikan jangka panjang.
Anak yatim usia Madrasah Tsanawiyah, SMP dan SMA direncanakan dititipkan ke sejumlah pesantren. Mereka akan memperoleh pendidikan formal, pendidikan agama, tempat tinggal dan pendampingan selama menjalani pendidikan.
ISMI berencana menjajaki kerja sama dengan Pesantren Darul Tauhid, Darul Arifin, PKP Al-Hidayah serta pesantren lain yang berada di kabupaten dan kota di Provinsi Jambi.
“Anak yatim usia MTs, SMP atau SMA dapat dititipkan ke pesantren. Kami dapat bekerja sama dengan Pesantren Darul Tauhid, Darul Arifin, PKP Al-Hidayah atau pesantren lain di kabupaten masing-masing,” jelas Ernawati.
Menurutnya, biaya pendidikan anak-anak tersebut akan ditanggung melalui program yang disiapkan ISMI. Namun, rincian besaran biaya, sumber pembiayaan per anak dan jangka waktu pendampingan belum dijelaskan secara terperinci.
“Biaya pendidikannya akan ditanggung melalui program yang disiapkan,” katanya.
Penempatan di pesantren diharapkan tidak hanya menjamin kelangsungan pendidikan. Anak-anak juga diharapkan memperoleh lingkungan pengasuhan, pembinaan karakter dan perlindungan yang lebih teratur.
Pertimbangkan Mendirikan Panti Khusus
Skema berbeda disiapkan untuk anak-anak yang masih kecil. ISMI mempertimbangkan mendirikan tempat pengasuhan atau panti khusus.
Tempat tersebut dirancang untuk menampung anak yang kehilangan pelindung dan tidak lagi memiliki keluarga yang mampu memberikan pengasuhan secara layak.
Anak-anak akan disekolahkan serta diperhatikan kebutuhan makanan, kesehatan dan pertumbuhannya. Mereka juga akan memperoleh pendampingan sampai dinilai mampu menjalani kehidupan secara lebih mandiri.
“Untuk anak-anak yang masih kecil, kami mempertimbangkan mendirikan panti khusus ISMI. Mereka akan ditampung, disekolahkan serta diperhatikan kesehatan dan pertumbuhannya,” kata Ernawati.
Rencana tersebut masih membutuhkan persiapan panjang. Selain bangunan, pengelolaan panti membutuhkan izin, tenaga pengasuh, pekerja sosial, tenaga kesehatan, biaya operasional serta sistem perlindungan anak.
ISMI juga perlu memastikan pola pengasuhan tidak memutus hubungan anak dengan keluarga yang masih ada. Panti seharusnya menjadi pilihan terakhir ketika pengasuhan berbasis keluarga tidak lagi memungkinkan.
Berangkat dari Pengalaman Pribadi
Besarnya perhatian Ernawati terhadap anak yatim tidak terlepas dari perjalanan hidupnya. Ia pernah kehilangan suami ketika anak-anaknya masih berusia sangat muda.
Anak bungsunya ketika itu baru berusia sekitar dua setengah tahun. Anak-anak lainnya berusia sekitar lima tahun, enam setengah tahun dan sembilan tahun.
Belum genap dua tahun setelah suaminya meninggal, adik Ernawati beserta pasangannya juga meninggal dunia. Anak adiknya yang kala itu berusia sekitar tiga tahun kemudian ikut tinggal bersamanya.
Rumah Ernawati pun dipenuhi anak-anak yang tumbuh tanpa sosok ayah.
“Ketika saya berbicara tentang anak yatim, sebenarnya saya sedang berbicara tentang bagian dari kehidupan saya sendiri,” tuturnya.
Ernawati mengakui keluarganya masih memiliki makanan dan kemampuan untuk memenuhi kebutuhan hidup. Namun, kecukupan materi tidak serta-merta menghilangkan rasa kehilangan.
Menurutnya, anak yatim dari keluarga mampu sekalipun tetap merasakan kehampaan. Kondisinya menjadi jauh lebih berat bagi anak yang kehilangan ayah sekaligus hidup dalam kemiskinan dan tidak memperoleh perhatian dari keluarga.
“Walaupun secara ekonomi kami masih mempunyai makanan dan kebutuhan hidup yang cukup, tetap ada kehampaan di dalam hati. Ada ruang perlindungan yang hilang. Kami menjalani kehidupan dalam kesedihan dan kesepian,” katanya.
Salah seorang anaknya bahkan pernah mengingatkan saudara-saudaranya agar tidak membuat masalah karena merasa tidak mempunyai siapa pun yang akan membela mereka.
Pernyataan itu membekas dalam ingatan Ernawati. Ia tidak ingin anak-anaknya tumbuh dalam ketakutan hanya karena kehilangan ayah.
“Saya tidak ingin anak-anak tumbuh menjadi penakut. Karena itu, saya harus menjalankan dua peran. Pada saat tertentu saya menjadi ibu yang lembut, tetapi pada waktu lain saya harus berdiri sebagai seorang ayah yang kuat dan berani,” ujarnya.
Pengalaman tersebut juga membuat Ernawati memahami beban perempuan yang harus mengasuh anak seorang diri. Mereka bukan hanya dituntut memenuhi kebutuhan ekonomi, tetapi juga memberikan perlindungan dan dukungan psikologis kepada anak.
“Di luar sana banyak perempuan menjalankan dua peran seperti itu. Saya ingin berbagi pengalaman dan membantu mengambil sebagian beban mereka,” katanya.
Tak Ingin Anak Lain Mengalami Kesedihan yang Sama
Ernawati mengatakan program anak yatim bukan sekadar agenda organisasi atau implementasi ajaran agama. Program itu disebut sebagai bagian dari tujuan hidup yang ingin diselesaikannya.
Ia ingin menggunakan sumber daya, jaringan dan kemampuan ekonomi yang dimiliki untuk membantu sebanyak mungkin anak sebelum hidupnya berakhir.
“Sebelum hidup saya berakhir, saya ingin membantu sebanyak mungkin anak yatim. Jangan sampai anak-anak dan ibu mereka menjalani kesedihan yang sama seperti yang pernah saya alami,” kata Ernawati.
Secara keagamaan, lanjutnya, Islam menempatkan orang yang memelihara anak yatim pada kedudukan mulia. Namun, baginya persoalan tersebut bukan hanya teori yang disampaikan dalam ceramah.
“Persoalan anak yatim bukan sekadar teori agama. Saya pernah hidup, tumbuh dan berjuang di tengah keadaan tersebut,” ujarnya.
Dibiayai dari Pembagian Hasil Usaha
Seluruh program itu membutuhkan dana besar. Pembiayaannya direncanakan berasal dari hasil usaha Ernawati, kegiatan ekonomi ISMI serta dukungan pengusaha dan masyarakat.
Ernawati mengatakan perusahaan yang dibangunnya di Makkah telah lama mengalokasikan sebagian hasil usaha untuk kegiatan sosial. Dana tersebut digunakan untuk membantu anak yatim, pesantren, pembangunan masjid dan penyediaan makanan bagi masyarakat.
Pada awalnya, hasil usaha dibagi menjadi tiga bagian. Sebanyak 20 persen dialokasikan untuk bagian yang ia sebut “saham Allah”, 10 persen “saham Rasulullah”, sedangkan 70 persen digunakan untuk perusahaan dan keluarga.
Seiring perkembangan usaha, porsi sosial itu terus ditingkatkan. Pada 2025, menurut Ernawati, pembagiannya menjadi 50 persen untuk umat dan 50 persen untuk perusahaan serta keluarga.
“Dana yang telah dialokasikan untuk umat tidak lagi saya anggap sebagai uang pribadi. Saya hanya mempunyai tugas menyalurkannya kepada orang yang berhak,” katanya.
Ernawati sempat memberikan contoh apabila perusahaan memperoleh hasil Rp30 miliar, maka Rp15 miliar dialokasikan untuk umat. Ia menegaskan angka tersebut hanya contoh penghitungan, bukan pengumuman laba perusahaan.
Setelah dirinya menjabat Ketua PW ISMI Provinsi Jambi, penyaluran dana sosial itu diharapkan menjadi lebih terorganisasi. Pengurus di daerah dapat membantu mencari sekaligus memverifikasi calon penerima.
SPBU untuk Menopang Program
ISMI juga disebut telah memiliki sumber ekonomi yang akan menopang kegiatan organisasi. Salah satunya adalah SPBU atau pom bensin yang baru dibeli.
Hasil usaha SPBU tersebut direncanakan digunakan untuk menghidupkan organisasi sekaligus membiayai kebutuhan anak yatim.
“Salah satunya adalah SPBU atau pom bensin yang baru dibeli. Hasilnya akan digunakan untuk menghidupkan organisasi dan membantu anak yatim,” ujar Ernawati.
Selain SPBU, ISMI menjajaki pengembangan produk air minum dari Kerinci dan madu asal Muaro Jambi. Keuntungan kegiatan ekonomi itu juga direncanakan masuk ke program sosial.
Meski demikian, Ernawati belum memerinci lokasi SPBU, status kepemilikan, nilai pembelian maupun proyeksi keuntungan yang dapat dialokasikan untuk program anak yatim.
Rincian skema anggaran per anak, sistem pelaporan keuangan, jadwal penyaluran bantuan dan mekanisme pengawasan juga belum diuraikan dalam wawancara tersebut.
Ajak Pengusaha Ikut Menanggung
Ernawati menyadari pembinaan ratusan anak tidak dapat hanya mengandalkan dana pribadi. Karena itu, ia berencana mengumpulkan pengusaha serta orang-orang kaya asal Jambi yang berada di dalam maupun luar daerah.
Mereka akan ditawarkan sejumlah program yang dapat dibiayai. Ada pengusaha yang dapat mengambil tanggung jawab terhadap anak yatim, rumah tahfiz, masjid, kesehatan atau pemberdayaan ekonomi masyarakat.
Menurut Ernawati, membangun Jambi membutuhkan sinergi antara pemerintah, pengusaha, ulama, tokoh adat, organisasi dan masyarakat.
“Pemerintah tidak dapat bekerja sendiri. Pengusaha juga tidak dapat berjalan sendiri. Pemerintah, pengusaha, ulama dan masyarakat harus bersinergi,” katanya.
Ia berharap para pengusaha tidak hanya menyalurkan bantuan sesaat, tetapi mengambil tanggung jawab terhadap program yang berkelanjutan.
Dengan pola tersebut, seorang pengusaha dapat membiayai pendidikan beberapa anak sampai selesai. Pengusaha lain dapat membantu kebutuhan kesehatan, pengasuhan atau operasional tempat tinggal.(*)