Dari Makkah, Hj Ernawati Komandoi ISMI Jambi: Oktober Program Yatim, Rumah Tahfiz hingga UMKM Harus Jalan

WIB
ist

Jarak ribuan kilometer tak membuat Ketua Ikatan Sarjana Melayu Indonesia (ISMI) Provinsi Jambi Hj Ernawati berhenti menggerakkan organisasi.

Jumat (11/9/2026) malam, Ernawati memimpin langsung rapat konsolidasi ISMI Provinsi Jambi melalui Zoom dari Makkah, Arab Saudi.

Rapat dimulai sekitar pukul 19.30 WIB dan diikuti jajaran pengurus ISMI Provinsi Jambi serta pengurus kabupaten/kota yang sudah terbentuk.

Di layar Zoom, Ernawati tampil sebagai pimpinan rapat. Sementara sejumlah pengurus dari berbagai daerah bergabung dari tempat masing-masing.

Pembicaraan malam ini langsung diarahkan pada program.

Bukan lagi soal struktur.

Bukan lagi soal pelantikan.

Ernawati meminta kepengurusan daerah yang sudah dilantik segera masuk ke tahap kerja.

Setidaknya ada lima poin utama yang menjadi fokus hasil rapat ISMI 11 September 2026.

Anak yatim.

Rumah tahfiz.

Pembinaan masjid.

Data UMKM.

Dan revitalisasi pantun.

Lima agenda tersebut kemudian diperkuat dengan rencana pemberdayaan ekonomi organisasi, mulai dari penjajakan usaha SPBU, pengembangan air minum berbasis potensi Kerinci, perdagangan beras hingga berbagai komoditas unggulan daerah.

Pesan Ernawati cukup tegas.

September digunakan untuk pendataan dan persiapan.

Oktober 2026, program harus mulai dieksekusi.

"Saya minta daerah yang sudah dilantik jangan terlalu lama berada di tahap rapat. September ini datanya harus selesai. Oktober kita mulai bergerak. Masyarakat harus mulai merasakan keberadaan ISMI," kata Ernawati.

Poin pertama adalah anak yatim.

Ernawati meminta masing-masing pengurus kabupaten/kota mulai melakukan pendataan secara serius.

Bukan hanya menghitung jumlah.

Data harus jelas.

Nama anak.

Usia.

Tempat tinggal.

Sekolah.

Kondisi keluarga.

Hingga kebutuhan pendidikannya.

Ernawati tidak ingin program anak yatim berhenti pada pembagian amplop atau santunan sesaat.

Ia ingin ada pola pembinaan yang lebih panjang.

"Santunan itu baik, tetapi jangan selesai setelah satu kali pemberian. Kita harus berpikir bagaimana pendidikan anak ini, bagaimana masa depannya. ISMI harus masuk sampai ke sana," kata Ernawati.

Salah satu gagasan yang kembali ditegaskannya adalah membantu anak yatim mendapatkan pendidikan di pondok pesantren.

ISMI daerah diminta memetakan pesantren yang bisa menjadi mitra.

"Jangan karena anak kehilangan orang tua, cita-citanya juga ikut hilang. Kita harus bantu mereka tetap sekolah, tetap punya harapan dan punya masa depan," ujarnya.

Poin kedua adalah rumah tahfiz.

Ernawati meminta setiap daerah memetakan keberadaan rumah tahfiz yang sudah berjalan maupun daerah yang membutuhkan pusat pendidikan Al-Qur'an.

Ia mengingatkan tidak semua program harus dimulai dengan membangun gedung.

Ada rumah tahfiz yang mungkin sudah memiliki tempat, tetapi kekurangan Al-Qur'an.

Ada yang butuh guru.

Ada yang membutuhkan perlengkapan.

Ada pula yang memang perlu fasilitas baru.

"Datanya dulu. Jangan langsung bicara bangun gedung. Kita lihat kebutuhan sebenarnya. Yang penting kegiatan mengaji hidup, gurunya ada, anak-anaknya belajar," kata Ernawati.

Menurutnya, kualitas dan keberlanjutan jauh lebih penting daripada sekadar simbol.

"Jangan sampai papan nama besar, tetapi aktivitasnya tidak ada. Yang ingin kita hidupkan adalah pendidikan Al-Qur'annya," ujarnya.

Poin ketiga adalah pembinaan masjid.

Dalam catatan rapat, istilah yang digunakan adalah "pembinaan masjid".

Ernawati ingin masjid kembali menjadi pusat aktivitas masyarakat.

Tidak hanya salat.

Tetapi juga pendidikan.

Pembinaan remaja.

Kegiatan sosial.

Kajian.

Hingga pemberdayaan ekonomi.

"Memakmurkan masjid bukan hanya memperindah bangunan. Masjid harus hidup. Jamaahnya hidup, remaja masjidnya hidup, pengajiannya hidup dan kegiatan sosialnya juga hidup," kata Ernawati.

Ia meminta setiap daerah mulai memilih masjid yang bisa dijadikan titik awal program.

Tidak perlu terlalu banyak.

Yang penting terukur dan berkelanjutan.

"Mulai satu dulu tidak apa-apa. Tetapi benar-benar dibina. Ada remaja masjid, ada kegiatan, ada pengajian, ada program sosial," ujarnya.

Poin keempat adalah data UMKM.

Ernawati tidak ingin program pemberdayaan ekonomi dibuat berdasarkan asumsi.

Setiap kabupaten/kota diminta mulai mendata pelaku usaha.

Produknya apa.

Produksinya berapa.

Masalahnya di mana.

Butuh modal atau bukan.

Butuh pasar.

Butuh kemasan.

Butuh legalitas.

Atau butuh pendampingan digital.

"Jangan semua UMKM dianggap masalahnya modal. Kadang modal ada, tapi packaging-nya tidak menarik. Produknya bagus, tapi tidak punya pasar. Ada juga yang tidak punya pembukuan. Jadi kita harus tahu masalah masing-masing," kata Ernawati.

Ia menilai kekuatan ISMI justru berada pada sumber daya manusianya.

Ada sarjana ekonomi.

Manajemen.

Teknologi.

Hukum.

Komunikasi.

Pertanian.

Dan bidang lain.

Semua bisa dilibatkan.

"Kalau orang ISMI punya ilmu tapi UMKM di sekeliling kita masih bingung dengan pemasaran atau manajemen, berarti ilmu kita belum turun ke masyarakat," ujarnya.

Ada satu poin lain yang cukup menarik dari hasil rapat malam itu.

Revitalisasi pantun.

Program ini menunjukkan ISMI tidak hanya bergerak pada kegiatan sosial, pendidikan dan ekonomi.

Identitas Melayu juga mulai diarahkan menjadi program nyata.

Ernawati ingin pantun tidak sekadar hadir saat seremoni adat.

Pantun harus kembali hidup di tengah generasi muda.

Diajarkan.

Dilombakan.

Didokumentasikan.

Dan digunakan sebagai salah satu medium menjaga bahasa serta nilai budaya Melayu.

"Kita membawa nama Sarjana Melayu. Jangan sampai kata Melayunya hanya ada di nama organisasi. Pantun adalah salah satu warisan kita. Harus kita hidupkan kembali, terutama di kalangan anak muda," kata Ernawati.

Menurutnya, revitalisasi pantun bisa melibatkan sekolah, kampus, sanggar seni, lembaga adat hingga komunitas pemuda.

Programnya bisa dibuat kreatif.

Tidak harus selalu formal.

Bisa melalui lomba.

Konten digital.

Festival.

Pelatihan.

Hingga dokumentasi pantun-pantun lokal dari setiap kabupaten/kota.

"Kalau anak-anak muda bisa membuat konten pantun di media sosial, justru bagus. Tradisi harus masuk ke ruang mereka. Jangan kita paksa anak muda datang ke masa lalu, tetapi kita bawa nilai masa lalu masuk ke zaman mereka," ujarnya.

Lima Poin Rapat Mulai Dikerjakan September

Lima agenda yang tergambar dalam poin rapat ISMI 11 September 2026 adalah:

  1. Anak yatim
  2. Rumah tahfiz
  3. Pembinaan masjid
  4. Revitalisasi pantun
  5. Data UMKM

Ernawati meminta seluruh pengurus daerah membagi tanggung jawab sesuai bidang.

Bidang sosial mengurus data yatim.

Bidang pendidikan dan agama bisa bergerak pada rumah tahfiz dan masjid.

Bidang ekonomi melakukan pemetaan UMKM.

Bidang seni budaya mulai merancang revitalisasi pantun.

"Jangan semuanya menunggu ketua. Sudah ada bidang-bidang. Silakan bekerja. Ketua mengkoordinasikan, tetapi mesin organisasi itu ada di semua pengurus," katanya.

Selain lima program prioritas, rapat juga membahas kemandirian ekonomi organisasi.

Ernawati mengatakan ISMI tidak boleh selamanya bergantung pada sumbangan ketika ingin menjalankan kegiatan.

Organisasi perlu membangun unit ekonomi yang profesional.

"Kalau organisasi ingin kuat, ekonominya juga harus kuat. Jangan setiap ada program kemudian kita sibuk mencari sumbangan. Kita perlu punya usaha yang sehat dan profesional," kata Ernawati.

Kerinci menjadi salah satu daerah yang disorot dalam rencana pengembangan ekonomi.

Potensi air menjadi perhatian.

Ernawati melihat citra Kerinci sebagai daerah pegunungan dapat menjadi modal untuk mengembangkan produk air minum.

Namun sekali lagi, kajian harus didahulukan.

Sumber air harus diuji.

Legalitas harus lengkap.

Model produksi harus jelas.

Distribusi juga harus dihitung.

"Kerinci punya alam yang luar biasa. Air juga bisa menjadi potensi ekonomi. Kita kaji apakah bisa menjadi produk air minum yang memiliki brand kuat," kata Ernawati.

Beras juga menjadi salah satu sektor yang akan dijajaki.

Pasarnya besar.

Kebutuhannya rutin.

Namun Ernawati ingin model usaha yang tidak hanya menguntungkan organisasi.

Petani juga harus mendapat manfaat.

"Kalau kita masuk ke beras, jangan hanya bicara jual beli. Bagaimana petaninya ikut untung, bagaimana distribusinya efisien, bagaimana kualitasnya dijaga. Harus dibangun ekosistem," katanya.

Ia membuka peluang komoditas lain ikut dikembangkan sesuai karakter daerah.

Kerinci bisa berbeda dengan Bungo.

Bungo berbeda dengan Sarolangun.

Tanjab Barat juga punya kekuatan sendiri.

"Jangan semua daerah dipaksa punya bisnis yang sama. Lihat keunggulan lokal," ujarnya.

Bagian paling tegas dari rapat adalah target waktu.

Ernawati meminta September menjadi bulan pendataan.

Oktober mulai pelaksanaan.

"Anak yatim sudah harus ada datanya. Rumah tahfiz sudah diketahui lokasinya. Masjid yang mau dibina sudah ditentukan. UMKM sudah dipetakan. Revitalisasi pantun juga sudah punya konsep. Oktober mulai jalan," kata Ernawati.

Ia mengatakan tidak masalah jika program dimulai kecil.

Yang penting nyata.

"Satu kabupaten satu program yang benar-benar berjalan lebih baik daripada sepuluh program tetapi semuanya belum mulai," ujarnya.

Menariknya, semua instruksi itu datang dari Makkah.

Hj Ernawati memimpin rapat dari Arab Saudi.

Pengurus berada di Jambi.

Ada yang dari Bungo.

Kerinci.

Kota Jambi.

Dan daerah lainnya.

Teknologi memangkas jarak.

"Kalau menunggu saya pulang baru rapat, kita kehilangan waktu. Sekarang ada Zoom. Saya di Makkah, kawan-kawan di Jambi, tetapi pekerjaan tetap bisa diputuskan," kata Ernawati.

Menurutnya, pola seperti itu juga harus menjadi budaya baru ISMI.

Efisien.

Cepat.

Adaptif.

Tidak semua urusan harus menunggu rapat tatap muka.

"Yang penting bukan berapa lama rapatnya. Yang penting apa keputusan dan kapan dikerjakan," ujarnya.

Rapat Jumat malam itu akhirnya menghasilkan peta kerja yang cukup jelas.

Anak yatim menyentuh sisi sosial.

Rumah tahfiz menyentuh pendidikan Al-Qur'an.

Pembinaan masjid menguatkan kehidupan keagamaan.

UMKM membangun ekonomi masyarakat.

Revitalisasi pantun menjaga budaya Melayu.

Lalu semuanya diperkuat dengan agenda kemandirian ekonomi organisasi.

SPBU.

Air minum.

Beras.

Dan komoditas daerah lainnya.

Ernawati ingin semuanya bergerak dalam satu arah.

"ISMI harus punya ilmu, punya hati, punya budaya dan punya kemandirian ekonomi. Jangan hanya kuat di satu sisi," katanya.

September tinggal beberapa pekan.

Oktober sudah di depan mata.

Instruksi sudah turun dari Makkah.

Kini tinggal pengurus kabupaten/kota membuktikan satu hal:

apakah lima poin rapat itu akan berhenti menjadi tulisan di layar, atau benar-benar turun menjadi gerakan di tengah masyarakat.(*)

BeritaSatu Network