Sarolangun - Nama CV Lathisa Teknik berkali-kali muncul dalam daftar pengadaan Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kabupaten Sarolangun tahun anggaran 2026.
Bukan dua kali.
Bukan tiga kali.
Perusahaan konsultan ini tercatat mendapatkan lima paket sekaligus dengan total nilai Rp534.775.800.
Dari lima paket tersebut, empat diperoleh melalui pengadaan langsung. Satu lagi melalui seleksi.
Jumlah itu menjadikan Lathisa sebagai badan usaha konsultansi yang paling sering muncul sebagai penyedia dalam 50 paket pengadaan PUPR Sarolangun yang ditelusuri.
Data tersebut memuat total 50 paket senilai Rp38.378.138.233. Dari jumlah itu, 34 paket merupakan jasa konsultansi dengan total nilai Rp4.160.630.296.
Dari 34 paket konsultansi itulah Lathisa meraih lima.
Secara jumlah, porsinya sekitar 14,7 persen dari seluruh paket jasa konsultansi dalam dataset.
Dari sisi nilai, Rp534,77 juta yang diperoleh Lathisa setara sekitar 12,85 persen dari total Rp4,16 miliar belanja jasa konsultansi.
Namun pola Lathisa semakin menarik jika yang dilihat khusus pengadaan langsung.
Dari 19 paket jasa konsultansi yang diproses melalui pengadaan langsung senilai sekitar Rp1,126 miliar, empat paket jatuh kepada Lathisa.
Artinya, perusahaan ini memperoleh sekitar 21 persen dari jumlah paket jasa konsultansi pengadaan langsung yang terdapat dalam data.
Nilainya mencapai Rp244.843.800, atau sekitar 21,74 persen dari nilai seluruh jasa konsultansi pengadaan langsung tersebut.
Satu perusahaan. Empat paket langsung.
Ditambah satu paket seleksi.
Total lima.
Paket Jumbo Lathisa Ada di Pasar Singkut
Paket terbesar yang diperoleh Lathisa adalah Perencanaan Teknis Pengaspalan Jalan Pasar Singkut-Pesantren Desa Pasar Singkut Kecamatan Singkut.
Nilainya mencapai Rp289.932.000.
Paket ini memiliki kode 10123222000 dan kode RUP 64333921.
Sumber dananya APBD.
Berbeda dengan empat pekerjaan Lathisa lainnya, paket ini tidak menggunakan pengadaan langsung. Metodenya adalah seleksi.
Dalam data, status paket tercatat SELESAI dan tahapan pengadaan telah berada pada Kontrak. Jenis pengadaannya dicatat sebagai Jasa Konsultansi Badan Usaha Konstruksi.
Nilai Rp289,932 juta tersebut sendiri sudah mengambil sekitar 54,22 persen dari seluruh Rp534,775 juta pekerjaan Lathisa dalam dataset.
Tetapi Lathisa tidak berhenti di sana.
Dari Seleksi Pindah ke Pengadaan Langsung
Empat pekerjaan berikutnya seluruhnya diperoleh dengan metode pengadaan langsung.
Totalnya Rp244.843.800.
Yang terbesar adalah Pengawasan Teknis Pengaspalan Jalan Lingkungan Desa Tanjung Kecamatan Bathin VIII.
Nilainya Rp99.844.500.
Kode paket 10932196000, kode RUP 67385274.
Sumber dana APBD.
Dalam dataset, jenis pekerjaan tercatat sebagai Jasa Konsultansi Badan Usaha Konstruksi. Status paket SELESAI dan tahapan pengadaan Pemilihan Selesai.
Angkanya menarik.
Rp99.844.500.
Hanya Rp155.500 di bawah Rp100 juta.
Perpres Nomor 46 Tahun 2025 yang saat ini berlaku menetapkan Pengadaan Langsung Jasa Konsultansi untuk nilai paling banyak Rp100 juta. Untuk jasa konsultansi di atas Rp100 juta, metode Seleksi berlaku sesuai ketentuan.
Dengan demikian, berdasarkan nominalnya saja, paket Lathisa Rp99,844 juta itu masih berada dalam batas yang diperbolehkan untuk pengadaan langsung.
Namun selisihnya dengan plafon cuma Rp155.500.
Karena itu, pertanyaan menarik bergeser kepada bagaimana PPK menyusun kebutuhan, KAK dan HPS pekerjaan tersebut.
Paket Jalan Rp67,82 Juta
Pengadaan langsung kedua yang diperoleh Lathisa adalah Perencanaan Teknis Pembangunan Jalan Paket 1.
Nilainya Rp67.821.000.
Kode paket 10825503000.
Kode RUP 64521329.
Sumber dana APBD.
Statusnya SELESAI dan tahapan tercatat Pemilihan Selesai.
Ada satu hal menarik pada pencatatan jenis pengadaan paket ini.
Meski nama pekerjaannya adalah Perencanaan Teknis Pembangunan Jalan Paket 1, dalam dataset paket tersebut dicatat sebagai Jasa Konsultansi Badan Usaha Non Konstruksi.
Data yang tersedia tidak menjelaskan lebih jauh alasan klasifikasi tersebut.
Paket Jembatan Rp59,82 Juta
Lathisa berikutnya mendapat paket Perencanaan Teknis Pembangunan Jembatan Paket 1.
Metodenya lagi-lagi pengadaan langsung.
Nilainya Rp59.829.000.
Kode paket 10807393000 dan kode RUP 65801243.
Sumber dananya APBD.
Paket berstatus SELESAI dengan tahapan pengadaan Pemilihan Selesai.
Seperti paket Perencanaan Pembangunan Jalan Paket 1, pekerjaan perencanaan jembatan ini juga tercatat dalam dataset sebagai Jasa Konsultansi Badan Usaha Non Konstruksi.
Dengan demikian, dua dari lima pekerjaan Lathisa dalam data diklasifikasikan sebagai jasa konsultansi badan usaha nonkonstruksi.
Sementara tiga lainnya dicatat sebagai jasa konsultansi badan usaha konstruksi.
Lathisa Ikut Mengawasi Gudang Senjata Polres
Paket keempat melalui pengadaan langsung sekaligus paket kelima secara keseluruhan adalah Pengawasan Pembangunan Gedung Logistik (Gudang Senjata) Polres Sarolangun.
Nilainya Rp17.349.300.
Kode paket 11003127000.
Kode RUP 65808175.
Sumber dana APBD.
Jenis pengadaannya tercatat Jasa Konsultansi Badan Usaha Konstruksi, status SELESAI dan tahapan Pemilihan Selesai.
Nilainya memang paling kecil dari lima paket Lathisa.
Tetapi paket ini menarik karena pekerjaan pengawasan tersebut merupakan bagian dari satu rangkaian pembangunan Gedung Logistik atau Gudang Senjata Polres Sarolangun.
Satu Gudang, Tiga Kontrak
Data menunjukkan pembangunan Gudang Senjata Polres Sarolangun tidak hanya menghasilkan satu paket.
Ada tiga.
Pertama, Perencanaan Pembangunan Gedung Logistik (Gudang Senjata) Polres Sarolangun.
Konsultannya adalah CV Irama Teknik Konsultan.
Nilainya Rp19.758.000.
Metodenya pengadaan langsung.
Kedua, pekerjaan fisik Pembangunan Gedung Logistik (Gudang Senjata) Polres Sarolangun.
Penyedianya CV Dandi Kontraktor.
Nilainya Rp262.208.115.
Pekerjaan ini juga menggunakan metode pengadaan langsung.
Ketiga, pekerjaan pengawasan.
Di sinilah Lathisa masuk.
Nilainya Rp17.349.300.
Jika ketiga pekerjaan itu dijumlahkan, total rangkaian proyek Gedung Logistik/Gudang Senjata Polres Sarolangun mencapai Rp299.315.415.
Susunannya:
Perencanaan oleh CV Irama Teknik Konsultan Rp19,758 juta.
Konstruksi oleh CV Dandi Kontraktor Rp262,208 juta.
Pengawasan oleh CV Lathisa Teknik Rp17,349 juta.
Ketiga-tiganya tercatat menggunakan pengadaan langsung.
Lathisa Masuk Rangkaian Proyek Desa Tanjung Rp3,21 Miliar
Bukan hanya Gudang Senjata Polres.
Lathisa juga muncul dalam rangkaian pekerjaan Pengaspalan Jalan Lingkungan Desa Tanjung Kecamatan Bathin VIII.
Untuk perencanaan, penyedianya bukan Lathisa.
Paket Perencanaan Teknis Pengaspalan Jalan Lingkungan Desa Tanjung dikerjakan CV Aisoise Consultant senilai Rp128.993.100 melalui seleksi.
Kemudian pekerjaan fisiknya dikerjakan Nirwana Tirta Abadi.
Nilai kontraknya jauh lebih besar, yakni Rp2.984.102.210.
Metodenya tender.
Setelah itu muncul Lathisa sebagai pengawas.
Pengawasan Teknis Pengaspalan Jalan Lingkungan Desa Tanjung dipercayakan kepada CV Lathisa Teknik melalui pengadaan langsung senilai Rp99.844.500.
Jika ketiga paket itu digabung, rangkaian proyek Jalan Lingkungan Desa Tanjung bernilai Rp3.212.939.810 atau sekitar Rp3,21 miliar.
Perencana: CV Aisoise Consultant.
Kontraktor: Nirwana Tirta Abadi.
Pengawas: CV Lathisa Teknik.
Di Pasar Singkut, Lathisa Jadi Perencana
Posisi Lathisa berbeda pada proyek Pengaspalan Jalan Pasar Singkut-Pesantren Desa Pasar Singkut Kecamatan Singkut.
Di proyek ini, Lathisa bukan pengawas.
Lathisa menjadi perencana.
Nilai paket perencanaannya Rp289.932.000.
Pekerjaan fisiknya kemudian dikerjakan CV Aksara Selaras Jaya dengan nilai Rp4.765.525.475 melalui tender.
Sedangkan paket pengawasan dipercayakan kepada Dinamika Teknik senilai Rp246.473.280 melalui seleksi.
Total tiga paket yang berkaitan langsung dengan ruas Pasar Singkut-Pesantren tersebut mencapai Rp5.301.930.755 atau sekitar Rp5,30 miliar.
Polanya:
Lathisa merencanakan.
Aksara Selaras Jaya membangun.
Dinamika Teknik mengawasi.
Tiga Rangkaian Proyek Tembus Rp8,81 Miliar
Jika dicermati dari lima pekerjaan yang diperoleh Lathisa, sedikitnya tiga paket dapat secara langsung dipasangkan dengan pekerjaan perencanaan, konstruksi atau pengawasan lain berdasarkan kesamaan nama proyek dalam dataset.
Yakni Jalan Pasar Singkut-Pesantren.
Jalan Lingkungan Desa Tanjung.
Dan Gedung Logistik/Gudang Senjata Polres Sarolangun.
Total seluruh rangkaian paket pada tiga proyek tersebut mencapai sekitar Rp8.814.185.980 atau Rp8,81 miliar.
Namun nilai Rp8,81 miliar itu bukan nilai kontrak Lathisa.
Kontrak yang diterima Lathisa dari tiga rangkaian tersebut hanya terdiri dari perencanaan Pasar Singkut Rp289,932 juta, pengawasan Jalan Lingkungan Desa Tanjung Rp99,844 juta dan pengawasan Gudang Senjata Polres Rp17,349 juta.
Totalnya Rp407.125.800.
Dua pekerjaan Lathisa lainnya—Perencanaan Teknis Pembangunan Jalan Paket 1 dan Perencanaan Teknis Pembangunan Jembatan Paket 1—tidak dapat dicocokkan secara pasti dengan paket konstruksi tertentu hanya berdasarkan nama yang terdapat dalam dataset.
Lathisa Paling Sering, Tapi Bukan Paling Jumbo
Ada hal yang perlu dibedakan.
Lathisa memang paling sering muncul berdasarkan jumlah paket.
Tapi bukan berarti Lathisa menjadi konsultan dengan nilai kontrak terbesar.
Total lima paket Lathisa adalah Rp534.775.800.
Di atasnya ada Dinamika Teknik, yang hanya memperoleh tiga paket tetapi total nilainya mencapai Rp703.850.380.
PT Archipta Consultindo tercatat memperoleh dua paket dengan total Rp686.535.000.
Setindo Karya Konsultan memperoleh empat paket senilai Rp576.797.070.
Baru kemudian Lathisa dengan lima paket Rp534,775 juta.
Artinya, Lathisa adalah yang paling sering berdasarkan frekuensi, tetapi bukan yang terbesar berdasarkan nilai.
Setindo 4 Kali, Dinamika dan Irama 3 Kali
Jika penyedia jasa konsultansi diurutkan berdasarkan jumlah kemunculan, Lathisa berada di posisi pertama dengan lima paket.
Di belakangnya ada Setindo Karya Konsultan dengan empat paket.
Setindo mengantongi total sekitar Rp576,797 juta. Paketnya terdiri atas dua seleksi dan dua pengadaan langsung.
Kemudian Dinamika Teknik muncul tiga kali dengan nilai sekitar Rp703,850 juta. Seluruhnya melalui seleksi.
CV Irama Teknik Konsultan juga muncul tiga kali. Seluruhnya justru melalui pengadaan langsung, dengan total Rp141.552.750.
Dalam data juga terdapat tiga paket konsultansi seleksi yang kolom nama penyedianya hanya tertulis “-1”, sehingga tidak dapat dipastikan dari dataset apakah ketiganya merupakan penyedia yang sama atau sekadar kode/kesalahan penyajian data.
Karena itu, posisi Lathisa sebagai penyedia dengan frekuensi terbanyak didasarkan pada nama badan usaha yang secara jelas tercantum dalam data.
Empat dari Lima Lewat Pengadaan Langsung
Pola paling kentara dari lima pekerjaan Lathisa adalah metode pengadaannya.
Hanya satu menggunakan seleksi.
Empat menggunakan pengadaan langsung.
Secara jumlah berarti 80 persen paket Lathisa diperoleh melalui pengadaan langsung.
Secara nilai, komposisinya berbeda.
Paket seleksi menyumbang Rp289.932.000, atau sekitar 54,22 persen dari seluruh nilai paket Lathisa.
Empat pengadaan langsung menyumbang Rp244.843.800, sekitar 45,78 persen.
Di antara empat paket langsung itu, nilainya bervariasi:
Pengawasan Jalan Lingkungan Desa Tanjung Rp99.844.500.
Perencanaan Pembangunan Jalan Paket 1 Rp67.821.000.
Perencanaan Pembangunan Jembatan Paket 1 Rp59.829.000.
Pengawasan Gudang Senjata Polres Sarolangun Rp17.349.300.
Totalnya tepat Rp244.843.800.
Paket Rp99,84 Juta Paling Menarik Ditelusuri
Dari empat pengadaan langsung tersebut, perhatian tentu tertuju kepada paket Rp99.844.500.
Kenapa?
Karena batas pengadaan langsung jasa konsultansi saat ini adalah Rp100 juta. Perpres 46 Tahun 2025 yang mengatur perubahan pengadaan barang/jasa pemerintah masih berstatus berlaku.
Nilai paket pengawasan Desa Tanjung hanya berselisih Rp155.500 dari batas tersebut.
Secara matematis, nilainya mencapai sekitar 99,84 persen dari plafon Rp100 juta.
Sekali lagi, posisi angka di bawah Rp100 juta bukan bukti pelanggaran.
Justru untuk mengetahui kewajarannya dibutuhkan dokumen yang tidak tersedia di dataset ini.
Misalnya berapa pagu paket.
Berapa HPS-nya.
Bagaimana rincian kebutuhan tenaga ahli.
Berapa biaya personel dan nonpersonel.
Bagaimana negosiasinya.
Serta bagaimana proses Lathisa dipilih sebagai penyedia.
Belum Bisa Disebut Ada Pelanggaran
Frekuensi Lathisa memperoleh lima pekerjaan juga tidak dapat dengan sendirinya diartikan sebagai pelanggaran.
Perusahaan dapat memperoleh lebih dari satu paket sepanjang memenuhi persyaratan dan proses pengadaannya sesuai aturan.
Data yang tersedia juga tidak memperlihatkan adanya larangan bagi Lathisa memperoleh paket-paket tersebut.
Namun dari sudut pandang transparansi pengadaan, frekuensi satu perusahaan memperoleh lima paket tetap menarik untuk diketahui publik.
Terlebih, empat di antaranya menggunakan mekanisme pengadaan langsung.
Dataset yang dianalisis belum memuat HPS, KAK, daftar penyedia yang diperbandingkan, undangan kepada pelaku usaha, berita acara evaluasi, klarifikasi, negosiasi harga, rincian personel tenaga ahli maupun alasan Pejabat Pengadaan menetapkan Lathisa.
Untuk paket seleksi Pasar Singkut, data juga belum menampilkan daftar peserta, nilai teknis masing-masing peserta ataupun hasil evaluasi secara lengkap.
Dokumen-dokumen itulah yang selanjutnya perlu dibuka.
Ada Pertanyaan yang Perlu Dijawab
Sedikitnya ada sejumlah pertanyaan yang layak dikonfirmasi kepada PUPR Sarolangun dan pejabat pengadaan.
Bagaimana Lathisa bisa memperoleh lima paket dalam satu tahun anggaran?
Siapa yang menetapkan perusahaan tersebut pada empat paket pengadaan langsung?
Bagaimana mekanisme pemilihan calon penyedia?
Apakah terdapat penyedia lain yang dibandingkan atau dinegosiasikan?
Bagaimana penetapan HPS paket pengawasan Desa Tanjung hingga menjadi Rp99.844.500—hanya Rp155.500 di bawah plafon pengadaan langsung Rp100 juta?
Bagaimana pula kapasitas personel Lathisa untuk menjalankan lima pekerjaan dalam tahun anggaran yang sama?
Apakah jadwal kelima pekerjaan tersebut saling beririsan?
Dan siapa tenaga ahli yang ditempatkan pada setiap pekerjaan?
Jawaban atas pertanyaan itu tidak terdapat dalam data realisasi yang dianalisis.
Ini Rekap Lima Paket Lathisa
Jika ditumpuk, lima pekerjaan CV Lathisa Teknik pada PUPR Sarolangun 2026 adalah sebagai berikut.
Perencanaan Teknis Pengaspalan Jalan Pasar Singkut-Pesantren Desa Pasar Singkut Kecamatan Singkut — Seleksi — Rp289.932.000 — kode paket 10123222000 — kode RUP 64333921.
Pengawasan Teknis Pengaspalan Jalan Lingkungan Desa Tanjung Kecamatan Bathin VIII — Pengadaan Langsung — Rp99.844.500 — kode paket 10932196000 — kode RUP 67385274.
Perencanaan Teknis Pembangunan Jalan Paket 1 — Pengadaan Langsung — Rp67.821.000 — kode paket 10825503000 — kode RUP 64521329.
Perencanaan Teknis Pembangunan Jembatan Paket 1 — Pengadaan Langsung — Rp59.829.000 — kode paket 10807393000 — kode RUP 65801243.
Pengawasan Pembangunan Gedung Logistik/Gudang Senjata Polres Sarolangun — Pengadaan Langsung — Rp17.349.300 — kode paket 11003127000 — kode RUP 65808175.
Total: Rp534.775.800.
Lima paket.
Dua metode pengadaan.
Empat di antaranya tanpa seleksi.
Satu paket bahkan berhenti di angka Rp99.844.500.
Dalam urusan nilai, Lathisa memang bukan yang paling besar.
Tapi dalam urusan seberapa sering namanya muncul di daftar konsultan PUPR Sarolangun 2026, Lathisa yang paling rajin.
Seperti namanya yang berulang kali nongol.
Lima kali. (*)