Jakarta – Hilangnya KM Arupadatu I di perairan Selat Sunda menyisakan penantian panjang bagi keluarga korban.
Lima jurnalis dan tiga awak kapal dilaporkan hilang kontak saat menjalankan peliputan aktivitas Gunung Anak Krakatau.
Di tengah ketidakpastian itu, PT Perkebunan Nusantara IV atau PTPN IV PalmCo bersama sembilan Badan Usaha Milik Negara lainnya memberikan bantuan tali kasih kepada keluarga korban.
Penyerahan bantuan yang dikoordinasikan Badan Pengaturan BUMN atau BP BUMN itu berlangsung di Gedung BP BUMN, Jakarta, Kamis (24/9/2026).
PTPN IV PalmCo diwakili Direktur Keuangan & Manajemen Risiko Hilda Savitri.
Kehadiran tersebut menjadi bagian dari dukungan moril keluarga besar BUMN kepada keluarga korban yang masih menunggu kepastian mengenai nasib anggota keluarga mereka.
Direktur Utama PTPN IV PalmCo Jatmiko K. Santosa menyampaikan simpati kepada keluarga jurnalis dan awak kapal.
Menurut Jatmiko, bantuan tersebut bukan hanya bentuk tanggung jawab sosial perusahaan, tetapi juga penghargaan terhadap kerja para jurnalis yang kerap menghadapi risiko saat menjalankan tugas.
“Kami di PTPN IV PalmCo menyampaikan simpati dan duka cita terdalam kepada keluarga para jurnalis dan kru kapal. Jurnalis adalah mitra strategis perusahaan yang selalu berada di garis depan untuk memberikan informasi yang akurat kepada masyarakat, tak jarang dengan mempertaruhkan keselamatan mereka,” ujar Jatmiko.
“Bantuan ini adalah wujud solidaritas kami, sebuah pelukan hangat dari keluarga besar BUMN untuk menguatkan keluarga yang sedang menanti kepastian,” lanjutnya.
Risiko Jurnalis Jadi Sorotan
Insiden KM Arupadatu I tidak hanya memunculkan solidaritas.
Peristiwa tersebut juga kembali membuka pembicaraan mengenai perlindungan terhadap jurnalis yang bertugas di wilayah berisiko.
Wakil Kepala BP BUMN Tedi Bharata mengatakan produk jurnalistik yang dikonsumsi masyarakat setiap hari lahir dari proses yang tidak selalu mudah.
Ada perjalanan, pengorbanan hingga risiko keselamatan yang harus dihadapi pewarta.
“Artikel yang kita baca, foto jurnalis yang kita lihat, yang kadang kita asal swipe, itu ternyata membuatnya tidak mudah. Penuh pengorbanan, ada perjalanan, ada risiko yang menjadi pengingat bahwa apa yang dilakukan oleh jurnalis bukan sesuatu yang mudah,” kata Tedi.
Ia juga meminta perhatian terhadap perlindungan jurnalis terus ditingkatkan.
“Saya minta tolong tentunya untuk ANTARA, sebagai salah satu dari BUMN kami, tentunya perhatian kepada jurnalis ini minta tolong untuk terus ditingkatkan lagi, ya. Karena jurnalis ini adalah darah, darah dari ANTARA. Itu adalah bisnisnya ANTARA,” lanjutnya.
Hal senada disampaikan Deputi Bidang Fasilitasi dan Sinergi Pembangunan BP BUMN Hambra.
Menurut Hambra, pekerjaan jurnalistik di wilayah dengan tingkat risiko tinggi membutuhkan standar keselamatan yang lebih kuat.
“Kejadian seperti ini menunjukkan bahwa risiko pewarta dalam meliput berita-berita yang tingkat risikonya tinggi, harus mendapat perhatian dari sisi perlindungan yang lebih baik,” ujar Hambra.
Keluarga Masih Menunggu
Di tengah bantuan yang terus mengalir, keluarga korban belum kehilangan harapan.
Yanti, istri jurnalis Merdeka.com Arie Basuki atau Arbas, mengatakan bantuan yang diterima akan digunakan untuk kepentingan anak-anak.
“Insyaallah, bantuan ini semuanya akan saya gunakan sebaik-baiknya untuk kepentingan anak-anak,” tutur Yanti.
Namun bagi Yanti, bantuan bukan akhir dari penantian.
Ia berharap operasi pencarian terhadap para korban terus dilanjutkan.
Harapan tersebut tetap dijaga setelah satu jenazah awak kapal atas nama Surakman ditemukan di Pulau Enggano, Bengkulu.
Menurut Yanti, belum ada kepastian mengenai nasib korban lainnya.
“Belum tentu mereka semua kan sudah tidak ada, mungkin saja mereka masih ada yang survive, dan itu kita berpacu dengan waktu. Harapan saya sih pencarian bisa dilanjutkan,” katanya.
“Jadi, doa, ikhtiar kami tidak pernah henti, sampai Arbas bisa ditemukan,” tegas Yanti.
Solidaritas yang ditunjukkan PTPN IV PalmCo bersama BUMN lainnya diharapkan dapat meringankan beban keluarga korban.
Namun musibah KM Arupadatu I juga menyisakan satu pesan yang lebih besar.
Di balik setiap foto, video dan berita dari lokasi berisiko, ada jurnalis yang menghadapi bahaya di lapangan.
Karena itu, mitigasi risiko, perlengkapan keselamatan dan standar perlindungan bagi pewarta menjadi bagian yang tak bisa dipisahkan dari tugas jurnalistik di daerah rawan. (*)