Hadapi El Nino, Produksi CPO PTPN IV PalmCo Tetap Tumbuh 3,55 Persen

WIB
Ist

Jakarta - Cuaca ekstrem tidak membuat produksi sawit PTPN IV PalmCo ikut melambat.

Di tengah efek El Nino dan anomali cuaca yang melanda sejumlah wilayah Indonesia, Subholding Perkebunan Nusantara itu justru mencatat pertumbuhan produksi Crude Palm Oil (CPO) sebesar 3,55 persen secara tahunan atau year on year (YoY).

Bukan hanya produksi CPO.

Produktivitas Tandan Buah Segar atau TBS juga tumbuh 2,54 persen YoY.

Sementara produktivitas rendemen CPO meningkat 1,05 persen YoY.

Capaian itu diperoleh melalui sejumlah intervensi agronomi yang diterapkan perusahaan di lapangan.

Mulai dari pengaturan tata air, pemupukan presisi hingga pemeliharaan infrastruktur panen.

Direktur Operasional PTPN IV PalmCo Rediman Silalahi mengatakan perubahan pola cuaca membuat strategi operasional perkebunan harus ikut berubah.

“Tahun lalu operasional kami berjalan di tengah kondisi cuaca yang lebih mudah diprediksi. Tahun ini tantangannya bergeser dengan hadirnya efek El Nino dan anomali cuaca,” kata Rediman.

Karena itu, perusahaan menerapkan pendekatan agronomi terpadu agar produktivitas kebun tetap terjaga.

“Pendekatan intervensi agronomi terpadu—meliputi manajemen air, penjadwalan pemupukan secara presisi, serta pemeliharaan infrastruktur panen—diambil agar proses operasional tetap dapat berjalan sesuai target,” ujarnya.

Cuaca Ekstrem Bisa Tekan Yield

El Nino dan anomali cuaca menjadi tantangan serius bagi tanaman kelapa sawit.

Ketika ketersediaan air terganggu, tanaman berpotensi mengalami stres.

Efek berikutnya dapat muncul pada produktivitas dan hasil panen.

Karena itu, PalmCo memilih memperkuat aspek fundamental tanaman melalui penerapan good agricultural practices atau GAP.

Menurut Rediman, strategi tersebut membantu perusahaan meminimalkan potensi penurunan yield akibat fluktuasi cuaca ekstrem.

Pendekatan teknis juga dilakukan secara spesifik berdasarkan kondisi masing-masing kebun.

Tidak semua wilayah menghadapi karakter tanah, curah hujan dan risiko kekeringan yang sama.

Regional III Perkuat Tata Air

Di PTPN IV Regional III, mitigasi dilakukan dengan memperkuat pelestarian tanah dan tata air.

Region Head PTPN IV Regional III Bambang Budi Santoso mengatakan perubahan cuaca menuntut penyesuaian langsung di lapangan.

“Kami memetakan bahwa anomali cuaca menuntut penyesuaian teknis secara langsung di lapangan,” kata Bambang.

Salah satu yang dilakukan adalah memperbanyak rorak atau saluran buntu penangkap air.

Rorak berfungsi membantu menahan air di sekitar tanaman sehingga kelembapan tanah dapat dipertahankan lebih lama.

Langkah tersebut menjadi penting terutama ketika curah hujan menurun dan risiko kekeringan meningkat.

Jangkos Jadi Mulsa Organik

PalmCo juga mengoptimalkan pemanfaatan tandan kosong atau jangkos kelapa sawit.

Jangkos digunakan sebagai mulsa organik.

Tujuannya membantu menjaga kelembapan tanah sekaligus mengurangi kehilangan air.

“Sebagai langkah taktis untuk mengurangi risiko kekeringan, pengerjaan rorak atau saluran buntu penangkap air diintensifkan, sembari mengoptimalkan pemanfaatan tandan kosong (jangkos) kelapa sawit sebagai mulsa organik untuk membantu menahan tingkat kelembapan tanah,” jelas Bambang.

Strategi tersebut dijalankan bersamaan dengan penerapan standar operasional mitigasi cuaca di seluruh unit kerja.

Pemupukan Tak Bisa Lagi Sekadar Mengikuti Kalender

Anomali cuaca juga membuat pola pemupukan perlu lebih presisi.

Pemupukan tidak cukup dilakukan hanya berdasarkan jadwal rutin.

Kondisi tanah, air dan cuaca menjadi pertimbangan agar pupuk dapat bekerja lebih efektif.

Jika dilakukan ketika kondisi tidak tepat, efektivitas pemupukan bisa menurun.

Karena itu, PalmCo menggabungkan pengelolaan air, pemupukan dan kesiapan infrastruktur panen dalam satu strategi.

Tujuannya agar produksi tidak terganggu dari hulu hingga proses pengangkutan hasil panen.

Tiga Indikator Sama-sama Naik

Hasil evaluasi perusahaan menunjukkan tiga indikator utama bergerak positif.

Produksi CPO tumbuh 3,55 persen.

Produktivitas TBS meningkat 2,54 persen.

Sedangkan rendemen CPO naik 1,05 persen secara tahunan.

Pertumbuhan tersebut menjadi indikator bahwa perusahaan masih mampu menjaga ritme produksi meski kondisi cuaca berubah.

Bagi PalmCo, tantangannya tidak berhenti pada mempertahankan angka produksi.

Perubahan iklim membuat strategi kebun harus semakin adaptif.

Manajemen air, kondisi tanah, ketepatan pemupukan hingga pemanfaatan limbah organik kini menjadi bagian penting untuk menjaga produktivitas sawit.

Di tengah cuaca yang semakin sulit diprediksi, kemampuan membaca kondisi lapangan menjadi sama pentingnya dengan jumlah tanaman yang dipanen. (*)

BeritaSatu Network