Sungai Penuh - Wajah pusat Kota Sungai Penuh dipastikan bakal segera bersolek. Pemerintah Kota (Pemkot) melalui Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) telah menyiapkan dana miliaran rupiah pada Tahun Anggaran 2026 untuk menyulap kawasan ikonik Lapangan Merdeka menjadi lebih modern dan ramah pejalan kaki.
Berdasarkan penelusuran dokumen pengadaan barang dan jasa, total anggaran yang disiapkan untuk megaproyek ini mencapai Rp 2.150.000.000 (Rp 2,15 Miliar). Dana dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) ini dipecah menjadi dua tahap pekerjaan utama, yakni tahap perencanaan desain dan eksekusi fisik.
Berikut adalah rincian proyek revitalisasi Lapangan Merdeka Kota Sungai Penuh yang akan segera dilelang:
1. Desain Perencanaan Sedot Rp 250 Juta
Langkah awal untuk menyulap kawasan ini sudah mulai diproses. Dinas PUPR Kota Sungai Penuh meluncurkan tender jasa konsultansi bertajuk Perencanaan Revitalisasi Kawasan Lapangan Merdeka dengan kode tender 10122776000.
Untuk sekadar membuat blueprint atau desain wajah baru kawasan ini, pagu anggaran dan Harga Perkiraan Sendiri (HPS) yang disiapkan mencapai Rp 250.000.000. Saat ini (Maret 2026), proyek berjenis Kontrak Lumsum ini sudah memasuki tahap Pengumuman Prakualifikasi guna mencari badan usaha konsultan konstruksi yang paling mumpuni.
2. Eksekusi Fisik Trotoar Tembus Rp 1,9 Miliar
Setelah desain rampung, Pemkot Sungai Penuh akan langsung tancap gas mengeksekusi pembangunan fisiknya. Fokus utama dari perombakan ini adalah pembangunan fasilitas pejalan kaki di sekeliling lapangan.
Untuk paket bernomenklatur Rehabilitasi Trotoar (Pedestrian) Kawasan Lapangan Merdeka, Dinas PUPR mengalokasikan total pagu yang sangat fantastis, yakni Rp 1.900.000.000 (Rp 1,9 Miliar).
Proyek fisik trotoar yang dikhususkan bagi Usaha Kecil/Koperasi dengan kewajiban Produk Dalam Negeri (PDN) ini dijadwalkan akan mulai ditenderkan pada bulan Juli hingga Agustus 2026.
Setelah didapat pemenangnya, alat berat dipastikan langsung turun ke Lapangan Merdeka, dengan target pelaksanaan kontrak fisik dimulai sejak Agustus 2026 dan tuntas 100 persen pada Desember 2026.
Niat Pemkot untuk mempercantik "jantung" Kota Sungai Penuh ini patut diapresiasi. Lapangan Merdeka memang tak pernah sepi. Dari arena olahraga pagi, tempat perayaan hari besar seperti HUT Pramuka, hingga pusat hiburan malam warga.
Namun, di balik alokasi dana fantastis tersebut, terdapat sejumlah masalah klasik dan kronis yang membayangi Lapangan Merdeka. Publik menuntut agar anggaran Rp 2,15 Miliar ini tidak sekadar menjadi proyek "kosmetik" pelapis semen, melainkan harus mampu menjawab rentetan keluhan berikut:
1. Kemelut PKL dan Perang Trotoar
Ini adalah masalah paling purba di pusat Kota Sungai Penuh. Proyek fisik senilai Rp 1,9 Miliar yang murni ditujukan untuk "Rehabilitasi Trotoar" harus punya konsep tata ruang yang jelas.
Selama ini, trotoar di seputaran Lapangan Merdeka kerap beralih fungsi menjadi lapak permanen para Pedagang Kaki Lima (PKL) dan lokasi parkir liar. Bahkan baru-baru ini, Satpol PP Kota Sungai Penuh harus turun tangan menggusur gerobak PKL yang membandel karena merampas hak pejalan kaki dan memicu kemacetan parah.
Jika Pemkot membangun trotoar miliaran rupiah tanpa relokasi PKL atau zonasi pedagang yang terintegrasi di dalam desain perencanaannya, maka trotoar mewah itu nantinya hanya akan kembali menjadi "lapak jualan elit" bagi para pedagang.
2. Lapangan yang Berubah Jadi 'Kolam Dadakan'
Setiap kali hujan deras mengguyur Kota Sungai Penuh selama beberapa jam, kawasan Lapangan Merdeka dan ruas jalan di sekitarnya (termasuk arah Kincai Plaza) kerap berubah menjadi 'sungai dadakan'. Sistem drainase yang buruk membuat air meluap dan menggenangi kawasan publik ini.
Oleh karena itu, konsultan perencana yang memenangkan tender senilai Rp 250 Juta wajib memasukkan masterplan perbaikan sistem drainase bawah tanah. Percuma membangun trotoar cantik jika saat hujan turun, kawasan tersebut kembali menjadi air mancur alami yang membuat warga tak bisa melintas.
3. Keamanan Wahana Bermain dan Edukasi Anak
Sebagai alun-alun kota, Lapangan Merdeka dipenuhi oleh penyedia jasa hiburan anak, seperti odong-odong hingga istana balon. Sayangnya, tata kelola keamanannya sering luput dari pengawasan. Kawasan ini butuh sentuhan revitalisasi yang menyediakan ruang terbuka ramah anak (RPTRA) yang memiliki standar keamanan yang jelas, bukan sekadar lapangan terbuka yang disesaki wahana tanpa regulasi keselamatan.
Masyarakat juga kerap mengeluhkan kurangnya fasilitas edukasi terpadu di kawasan tersebut. Ruang publik seluas ini sangat potensial jika dilengkapi dengan area pameran budaya, rumah baca, atau zona kesenian, bukan hanya hamparan rumput dan aspal.
Kucuran uang pajak rakyat senilai Rp 2,15 Miliar ini adalah pertaruhan wajah kota. Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) dituntut untuk menyajikan desain revitalisasi yang menyelesaikan masalah struktural, bukan sekadar memoles paving block.
Publik wajib mengawal lelang tender yang rencananya akan dieksekusi pada bulan Juli hingga Agustus 2026 ini. Jangan sampai proyek perbaikan Lapangan Merdeka ini mengulangi penyakit lama: dibangun mewah, diresmikan meriah, lalu kembali kumuh karena tidak ada pemeliharaan dan penertiban yang tegas dari pemerintah daerah!(*)