SAROLANGUN — Namanya panjang.
Rekonstruksi/Peningkatan Struktur Jalan Lubuk Kepayang–Kasang Melintang 000118] Kecamatan Pauh (Lanjutan), Sisa DBH Sawit 2024 dan DBH Sawit 2026.
Anggarannya Rp3.574.790.038.
HPS-nya Rp3.561.553.000.
Pesertanya 11 kontraktor.
Namun harga yang terlihat baru dua.
Sembilan lainnya belum tampak memasukkan angka penawaran dalam data yang dihimpun.
Yang sementara paling rendah adalah CV MRU atau Musi Rawas Utara.
Perusahaan itu menawar Rp3.523.962.938,80.
Harga terkoreksinya sama.
Penawar kedua adalah Nirwana Tirta Abadi dengan harga Rp3.539.541.049,20.
Selisih keduanya hanya Rp15.578.110,40.
Tender kini berada pada tahap Evaluasi Administrasi, Kualifikasi, Teknis, dan Harga.
Pemenang belum ditetapkan.
Namun sebelum nama pemenang diumumkan, proyek ini sudah membawa sejumlah tanda tanya.
Mengapa paket disebut memakai sisa DBH Sawit 2024 dan DBH Sawit 2026, tetapi tidak terlihat pembagian nilai masing-masing sumber dana?
Apa yang tersisa dari DBH Sawit 2024?
Mengapa baru digunakan bersama DBH Sawit 2026?
Pekerjaan tahap sebelumnya sudah sampai mana?
Siapa kontraktor pada tahap sebelumnya?
Mengapa dokumen uraian singkat bertanggal 25 Juni 2026, sedangkan paket tender dibuat pada 12 Juni 2026?
Dan mengapa dari 11 peserta, harga yang tampak hanya dua?
Tidak satu pun pertanyaan itu otomatis membuktikan pelanggaran.
Namun semuanya layak dijelaskan sebelum uang miliaran rupiah bergerak ke lapangan.
Data Utama Tender
| Uraian | Keterangan | Nilai |
|---|---|---|
| Kode RUP | 64333908 | - |
| Tanggal paket | 12 Juni 2026 | - |
| Tahap | Evaluasi penawaran | - |
| Satuan kerja | Dinas PUPR Sarolangun | - |
| Pagu | - | Rp3.574.790.038 |
| HPS | - | Rp3.561.553.000 |
| Kontrak | Harga satuan | - |
| Lokasi | Kecamatan Pauh | - |
| Peserta | 11 kontraktor | - |
Sumber dana pada data tender tercatat APBD.
Tahun anggarannya APBD 2026.
Namun nama paket secara khusus menyebut Sisa DBH Sawit 2024 dan DBH Sawit 2026.
Dalam dokumen uraian singkat, pembiayaan disebut dibebankan pada DPA Dinas PUPR APBD Kabupaten Sarolangun Tahun Anggaran 2026.
DBH Sawit memang dapat dicatat dalam APBD.
Namun pemerintah tetap perlu membuka komposisinya.
Berapa nilai sisa DBH Sawit 2024?
Berapa nilai DBH Sawit 2026?
Apakah seluruh sisa 2024 telah dialokasikan?
Mengapa anggaran dua tahun digabungkan dalam satu paket?
Transparansi sumber dana penting agar publik bisa mengikuti jejak uangnya.
Pagu dan HPS Berjarak Rp13,23 Juta
Selisih pagu dan HPS mencapai Rp13.237.038.
HPS berada sekitar 99,63 persen dari pagu.
| Komponen | Nilai | Persentase |
|---|---|---|
| Pagu | Rp3.574.790.038 | 100% |
| HPS | Rp3.561.553.000 | 99,63% |
| Selisih | Rp13.237.038 | 0,37% |
Angkanya tidak sama persis.
Namun jaraknya tetap tipis.
Untuk proyek konstruksi jalan senilai Rp3,57 miliar, pemerintah perlu menjelaskan dasar pembentukan HPS.
Berapa volume timbunan?
Berapa panjang selokan?
Berapa jumlah gorong-gorong?
Berapa volume agregat kelas A?
Berapa ton campuran aspal panas?
Berapa volume beton?
Berapa kilogram baja tulangan?
Berapa meter kubik pasangan batu?
Dokumen uraian singkat hanya menyebut kelompok pekerjaan.
Rincian kuantitas belum terlihat dalam dokumen yang diberikan.
Tanpa volume, publik belum dapat menguji apakah Rp3,56 miliar itu wajar, terlalu tinggi, atau justru terlalu rendah.
Harga Terendah Hanya Turun 1,06 Persen
CV MRU menawar Rp3.523.962.938,80.
Selisihnya terhadap HPS hanya Rp37.590.061,20.
Atau sekitar 1,06 persen.
Nirwana Tirta Abadi menawar Rp3.539.541.049,20.
Selisihnya dari HPS Rp22.011.950,80.
Atau sekitar 0,62 persen.
| Peserta | Penawaran | Di bawah HPS |
|---|---|---|
| CV MRU | Rp3.523.962.938,80 | Rp37.590.061,20 |
| Nirwana Tirta Abadi | Rp3.539.541.049,20 | Rp22.011.950,80 |
Dari pagu, harga CV MRU hanya lebih rendah Rp50.827.099,20.
Persentasenya sekitar 1,42 persen.
Penawaran rendah tidak otomatis baik.
Penawaran dekat HPS juga tidak otomatis bermasalah.
Yang harus diuji adalah kewajarannya.
Apakah harga tersebut cukup untuk pekerjaan drainase, tanah, geosintetik, agregat, aspal, beton, baja tulangan, dan pasangan batu?
Apakah penyedia masih dapat memenuhi mutu?
Apakah tidak ada item yang akan dikurangi?
Apakah arus kas perusahaan cukup?
Apakah alat tersedia?
Apakah pekerjaan bisa selesai dalam 120 hari?
Tender harga terendah bukan perlombaan mengecilkan angka.
Ia adalah pencarian harga terendah yang tetap memenuhi seluruh syarat dan mampu menghasilkan jalan yang kuat.
Pesertanya 11, Harga Baru Dua
| Status | Jumlah | Persentase |
|---|---|---|
| Total peserta | 11 | 100% |
| Harga terlihat | 2 | 18,18% |
| Belum tampak harga | 9 | 81,82% |
Sebanyak 81,82 persen peserta belum tampak harga penawarannya.
Belum terlihatnya harga tidak otomatis berarti mereka gugur.
Bisa saja hanya mendaftar.
Bisa saja belum mengunggah penawaran.
Bisa saja tidak melanjutkan.
Bisa juga datanya belum ditampilkan penuh.
Namun setelah proses selesai, Pokja perlu membuka status masing-masing peserta.
Siapa yang tidak memasukkan penawaran?
Siapa yang gugur administrasi?
Siapa yang gugur kualifikasi?
Siapa yang gugur teknis?
Apa alasannya?
Tender jangan hanya ramai nama di awal, lalu sepi kompetisi pada saat harga dibuka.
Daftar Lengkap Peserta
| No | Peserta | Harga/Status |
|---|---|---|
| 1 | CV MRU (Musi Rawas Utara) | Rp3.523.962.938,80 |
| 2 | Nirwana Tirta Abadi | Rp3.539.541.049,20 |
| 3 | CV Pesona Rizky | Belum tampak |
| 4 | Zafran Jaya Abadi | Belum tampak |
| 5 | CV Rasya Mandiri | Belum tampak |
| 6 | CV GENNiYO Technik | Belum tampak |
| 7 | CV Tata Karya Pratama | Belum tampak |
| 8 | CV Sucinda Megah Perkasa | Belum tampak |
| 9 | CV Intan Bangun Persada | Belum tampak |
| 10 | CV Dita Kontraktor | Belum tampak |
| 11 | CV Yanmar Pratama | Belum tampak |
NPWP Peserta
| Peserta | NPWP tersamar | Harga |
|---|---|---|
| CV MRU | 07*1**6****03**0 | Rp3.523.962.938,80 |
| Nirwana Tirta Abadi | 09*5**7****31**0 | Rp3.539.541.049,20 |
| CV Pesona Rizky | 06*5**3****01**0 | Belum tampak |
| Zafran Jaya Abadi | 04*1**2****33**0 | Belum tampak |
| CV Rasya Mandiri | 06*1**9****33**0 | Belum tampak |
| CV GENNiYO Technik | 00*6**8****03**0 | Belum tampak |
| CV Tata Karya Pratama | 08*1**3****01**0 | Belum tampak |
| CV Sucinda Megah Perkasa | 00*2**6****33**0 | Belum tampak |
| CV Intan Bangun Persada | 07*9**4****31**0 | Belum tampak |
| CV Dita Kontraktor | 00*0**9****31**0 | Belum tampak |
| CV Yanmar Pratama | 09*7**8****09**0 | Belum tampak |
Paket “Lanjutan”, Tahap Lama Belum Terang
Kata lanjutan muncul jelas dalam nama paket.
Itu berarti sebelumnya sudah ada pekerjaan pada ruas Lubuk Kepayang–Kasang Melintang.
Namun data yang diberikan belum menunjukkan:
| Informasi | Ketersediaan | Sorotan |
|---|---|---|
| Nilai tahap sebelumnya | Belum terlihat | Perlu dibuka |
| Kontraktor terdahulu | Belum terlihat | Perlu dibuka |
| Progres fisik lama | Belum terlihat | Perlu diuji |
| Temuan tahap lama | Belum terlihat | Perlu ditelusuri |
| Panjang yang selesai | Belum terlihat | Perlu dijelaskan |
| Sisa ruas 2026 | Belum terlihat | Perlu dirinci |
Publik perlu tahu apa yang sedang dilanjutkan.
Apakah lapis pondasi?
Drainase?
Pengaspalan?
Struktur?
Atau bagian ruas yang belum tersambung?
Jika proyek sebelumnya belum selesai, apa penyebabnya?
Apakah karena keterbatasan anggaran?
Apakah karena desain bertahap?
Apakah ada masalah pada pelaksanaan lama?
Kata “lanjutan” tidak boleh menjadi selimut yang menutup sejarah proyek.
Sisa DBH Sawit 2024 Baru Dipakai 2026?
Nama paket secara terang menyebut Sisa DBH Sawit 2024 dan DBH Sawit 2026.
Ini adalah bagian paling menarik.
Uang tahun 2024 bertemu uang tahun 2026 dalam satu proyek.
Bisa saja sepenuhnya sah.
Bisa saja sisa anggaran telah dibawa sesuai mekanisme yang berlaku.
Namun pemerintah tetap harus menjelaskan.
Mengapa sisa dana 2024 belum digunakan sampai 2026?
Berapa nilainya?
Apakah ada kegiatan yang tertunda?
Apakah sisa itu berasal dari tender sebelumnya?
Apakah berasal dari efisiensi?
Apakah sudah tercatat sebagai SiLPA yang ditentukan penggunaannya?
Apakah penggunaannya telah sesuai peruntukan DBH Sawit?
Publik tidak cukup diberi nama paket.
Publik perlu diberi komposisi uangnya.
Tanggal Dokumen Lebih Muda daripada Tender
Paket tender dibuat pada 12 Juni 2026.
Namun dokumen uraian singkat ditandatangani PPK pada 25 Juni 2026.
Selisihnya 13 hari.
| Dokumen | Tanggal | Catatan |
|---|---|---|
| Pembuatan tender | 12 Juni 2026 | Data sistem |
| Uraian singkat | 25 Juni 2026 | Ditandatangani PPK |
| Selisih | 13 hari | Perlu klarifikasi |
Perbedaan tanggal ini belum tentu bermasalah.
Paket bisa dibuat lebih dulu lalu dokumen diperbarui.
Namun pemerintah perlu menjelaskan versi dokumen mana yang dipakai saat tender diumumkan.
Apakah uraian singkat baru disahkan setelah paket dibuat?
Apakah ada revisi dokumen?
Apa yang berubah?
Kapan dokumen terakhir diunggah?
Tender konstruksi harus berjalan berdasarkan dokumen yang sudah lengkap.
Bukan dokumen yang disusun sambil proses berjalan.
Dokumen membagi pekerjaan dalam tujuh kelompok divisi.
Lingkup Utama
| Divisi | Pekerjaan | Fungsi |
|---|---|---|
| Umum | Mobilisasi | Persiapan |
| Drainase | Selokan dan gorong-gorong | Kendali air |
| Tanah | Galian, timbunan, badan jalan | Fondasi |
| Perkerasan | Agregat kelas A | Lapis dasar |
| Aspal | Perekat dan aspal panas | Permukaan |
| Struktur | Beton, baja, batu | Penguatan |
| Lain-lain | Pekerjaan harian | Pendukung |
Divisi 1: Umum
Pekerjaannya mencakup mobilisasi.
Artinya, kontraktor harus menyiapkan personel, alat, material, fasilitas lapangan, dan dukungan awal proyek.
Divisi 2: Drainase
Pekerjaan meliputi selokan dan saluran air.
Ada pula gorong-gorong dan selokan beton berbentuk U.
Drainase bukan pekerjaan tambahan.
Ia menentukan umur jalan.
Aspal sebaik apa pun bisa rusak jika air tidak dialirkan.
Divisi 3: Tanah dan Geosintetik
Pekerjaan mencakup galian, timbunan, dan penyiapan badan jalan.
Ini bagian dasar.
Kesalahan pemadatan bisa membuat jalan turun.
Timbunan yang tidak memenuhi spesifikasi bisa mengakibatkan retak dan amblas.
Divisi 5: Perkerasan
Paket mencantumkan lapis pondasi agregat kelas A.
Ketebalan dan kepadatannya harus diperiksa.
Bukan hanya terlihat di dokumen.
Harus diuji di lapangan.
Divisi 6: Aspal
Pekerjaan mencakup lapis resap pengikat, lapis perekat, dan campuran beraspal panas.
Kualitas aspal dipengaruhi suhu, komposisi campuran, ketebalan, kepadatan, dan proses penghamparan.
Kesalahan kecil bisa menjadi lubang besar beberapa bulan kemudian.
Divisi 7: Struktur
Pekerjaan meliputi beton dan beton kinerja tinggi, baja tulangan, serta pasangan batu.
Ini menunjukkan paket tidak hanya menghampar aspal.
Ada pekerjaan struktur yang memerlukan kontrol mutu lebih ketat.
Divisi 9: Pekerjaan Lain-lain
Dokumen hanya menyebut pekerjaan lain-lain.
Rinciannya tidak terlihat pada uraian singkat.
Untuk transparansi, item lain-lain sebaiknya tetap dibuka agar tidak menjadi keranjang pekerjaan yang terlalu umum.
Masa Kerja Hanya 120 Hari
Masa pelaksanaan ditetapkan 120 hari kalender.
Masa pemeliharaan 180 hari kalender.
| Tahapan | Durasi | Catatan |
|---|---|---|
| Pelaksanaan | 120 hari | Sejak SPMK |
| Pemeliharaan | 180 hari | Setelah serah terima |
| Total pengawasan | 300 hari | Pelaksanaan dan pemeliharaan |
Empat bulan untuk mengerjakan mobilisasi, drainase, tanah, agregat, aspal, beton, baja, dan pasangan batu bukan waktu panjang.
Apalagi jika cuaca mengganggu.
Apalagi jika material harus didatangkan dari lokasi jauh.
Apalagi jika jalan tetap digunakan warga selama pengerjaan.
Kontraktor harus memiliki jadwal kerja yang realistis.
Pemerintah juga harus memastikan keterlambatan tidak berujung pada pekerjaan terburu-buru menjelang akhir tahun.
Kriteria Kinerja: Jalan Harus Tahan
Dokumen menyebut keluaran proyek adalah terlaksananya rekonstruksi atau peningkatan struktur jalan sesuai persyaratan teknis.
Kriteria kinerjanya:
- berfungsi dengan baik;
- sesuai spesifikasi teknis;
- memiliki daya tahan;
- memberi kenyamanan;
- memberi keamanan bagi pengguna jalan.
Kalimatnya bagus.
Ujiannya ada di lapangan.
Apakah drainasenya mengalir?
Apakah badan jalan padat?
Apakah aspal cukup tebal?
Apakah struktur kuat?
Apakah jalan tetap baik setelah musim hujan?
Ukuran keberhasilan bukan saat pita dipotong.
Ukuran keberhasilan adalah ketika jalan masih baik setelah dilewati warga dan kendaraan selama bertahun-tahun.
Syarat Usaha Kecil, Nilai di Atas Rp2,5 Miliar
Paket ini dikhususkan bagi kualifikasi usaha kecil.
Namun nilai pagunya mencapai Rp3,57 miliar.
Karena berada di atas Rp2,5 miliar, usaha kecil yang baru berdiri kurang dari tiga tahun harus mempunyai setidaknya satu pengalaman pada bidang yang sama.
| Persyaratan | Ketentuan | Dampak |
|---|---|---|
| Pengalaman | Empat tahun terakhir | Harus dibuktikan |
| SKP | Wajib dihitung | Cegah kelebihan paket |
| Usaha baru | Pengalaman sejenis | Karena >Rp2,5 M |
| SBU | SI003/BS001 | Perlu kejelasan |
| NIB | KBLI 42101 | Harus aktif |
Peserta juga harus memperhitungkan Sisa Kemampuan Paket.
Ini penting.
Penyedia yang sudah mengerjakan banyak proyek tidak boleh diberi beban melebihi kemampuannya.
Pokja harus memeriksa paket lain yang sedang dikerjakan peserta, bukan hanya melihat satu tender ini.
SBU Memuat Dua Nomenklatur
Syarat SBU dalam data tender menyebut:
- SI003, jasa pelaksana konstruksi jalan raya selain jalan layang, rel kereta api, dan landasan pacu; atau
- BS001, konstruksi bangunan sipil jalan yang terbaru.
Satu menggunakan nomenklatur lama.
Satu lagi menggunakan nomenklatur baru.
Penggunaan dua istilah itu perlu dijelaskan.
SBU mana yang menjadi acuan utama?
Apakah peserta cukup memiliki salah satu?
Bagaimana perlakuan terhadap sertifikat transisi?
Jangan sampai persyaratan kabur menghasilkan tafsir berbeda antar peserta.
NIB dengan Redaksi Berantakan
NIB yang diminta menggunakan KBLI 42101.
Lingkupnya disebut mencakup pembangunan, pemeliharaan, atau pembangunan kembali jalan raya, jalan sedang dan kecil, landasan pacu, landasan taksi, parkir, jalan bebas hambatan, jalan tol, serta jalan pada lapangan penyimpanan peti kemas.
Namun redaksi dalam ringkasan tender dipenuhi kata yang berhimpitan dan salah tulis, termasuk frasa seperti “jalan Landasan Terbang pacu,taksi dan parker” dan “containers yerd”.
Kesalahan redaksi belum tentu memengaruhi substansi.
Tetapi dokumen pengadaan adalah dokumen hukum dan teknis.
Bahasanya seharusnya presisi.
Jangan sampai peserta membaca syarat dengan tafsir berbeda karena ringkasan yang tidak rapi.
Warga Kecamatan Pauh, Herman Saputra meminta pemerintah membuka riwayat proyek sebelumnya.
“Kalau namanya lanjutan, warga perlu tahu pekerjaan lama sudah sampai mana, siapa kontraktornya, dan mengapa masih harus dilanjutkan lagi,” ujarnya.
Warga Lubuk Kepayang, Siti Aminah menyoroti sumber dana dua tahun.
“Di nama paket disebut sisa DBH Sawit 2024 dan DBH Sawit 2026. Pemerintah harus menjelaskan berapa uang 2024 dan mengapa baru dipakai sekarang,” katanya.
Warga Kasang Melintang, Ardiansyah Putra meminta pekerjaan drainase tidak diabaikan.
“Kalau hanya aspal yang dilihat, jalan cepat rusak. Selokan, gorong-gorong, timbunan dan pemadatan harus benar-benar diawasi,” ujarnya.
Warga Sarolangun, Nurhayati mempertanyakan minimnya harga yang terlihat.
“Pesertanya sebelas, tetapi harga baru dua. Setelah evaluasi selesai, masyarakat perlu tahu sembilan perusahaan lain itu tidak menawar atau gugur karena apa,” katanya.(*)