PTPN IV PalmCo Siapkan Proyek Kedelai di Sumut, Lahan hingga Sumber Air Mulai Dikaji

WIB
IST

MEDAN — PTPN IV PalmCo mulai mematangkan proyek percontohan pengembangan kedelai di Sumatera Utara.

Perusahaan perkebunan pelat merah tersebut tengah mengkaji sejumlah areal yang dinilai potensial untuk digunakan sebagai lokasi budidaya.

Kajian meliputi karakteristik tanah, ketersediaan sumber air, topografi, hingga kesesuaian kondisi agroklimat.

Proyek itu menjadi bagian dari diversifikasi usaha PalmCo sekaligus dukungan terhadap upaya peningkatan produksi pangan dalam negeri.

Direktur Utama PTPN IV PalmCo Jatmiko K. Santosa mengatakan pengembangan kedelai masih berada pada tahap percontohan dan membutuhkan persiapan teknis yang matang.

“Kedelai merupakan komoditas yang memiliki peran penting dalam memenuhi kebutuhan pangan masyarakat,” ujar Jatmiko.

“Karena itu, PalmCo terus mematangkan pilot project pengembangannya agar dapat memberikan kontribusi nyata terhadap peningkatan produksi kedelai nasional,” lanjutnya.

Pengembangan awal kedelai dipusatkan di Desa Sarang Giting, Kecamatan Dolok Masihul, Sumatera Utara.

Di lokasi tersebut, PalmCo menjalankan Gerakan Tanam Kedelai dengan menggandeng Balai Penerapan Modernisasi Pertanian Sumatera Utara.

Kolaborasi tersebut mencakup pendampingan teknis dan penerapan metode budidaya yang disesuaikan dengan kondisi lahan.

Varietas yang disiapkan dalam tahap awal adalah kedelai Grobogan.

Varietas itu dipilih sebagai bagian dari uji budidaya untuk melihat kemampuan pertumbuhan, hasil panen, dan kecocokannya dengan karakter lahan yang digunakan.

Hasil proyek percontohan nantinya akan menjadi dasar sebelum program diperluas ke areal lain.

Rencana pengembangan tersebut merupakan tindak lanjut kunjungan PalmCo ke sentra kedelai di Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur, pada Mei 2026.

Kunjungan dilakukan bersama Menteri Pertanian, Panglima TNI, dan Ketua Komisi IV DPR RI.

Salah satu wilayah yang dipelajari adalah Desa Ngudikan.

Menurut data yang disampaikan PalmCo, produktivitas kedelai di desa tersebut dapat mencapai sekitar 1,7 hingga 2,1 ton per hektare.

Produktivitas itu disebut didukung pola tanam terpadu serta penerapan teknologi budidaya organik.

PalmCo ingin melihat apakah pola serupa dapat disesuaikan dengan kondisi lahan di Sumatera Utara.

Namun hasil di Nganjuk tidak dapat langsung disamakan dengan wilayah lain.

Jenis tanah, curah hujan, sumber air, benih, pola pemupukan, serangan hama, dan kemampuan petani menjadi faktor yang dapat memengaruhi produksi.

Karena itu, perusahaan memilih memulai dengan proyek dalam skala terbatas.

Jatmiko mengatakan perusahaan belum ingin terburu-buru memperluas areal sebelum seluruh kajian teknis selesai.

“Kami ingin memastikan pilot project ini dibangun di lokasi yang benar-benar memiliki tingkat keberhasilan tinggi,” katanya.

“Karena itu seluruh aspek teknis terus kami kaji sebelum implementasi dilakukan,” lanjut Jatmiko.

Pemeriksaan tanah diperlukan untuk mengetahui tingkat kesuburan, keasaman, dan kebutuhan unsur hara.

Ketersediaan air juga diperhitungkan karena tanaman membutuhkan pasokan yang cukup pada fase pertumbuhan tertentu.

Sementara topografi dan pola hujan akan menentukan cara penyiapan lahan serta pengendalian genangan.

Kajian tersebut juga dibutuhkan agar penanaman tidak hanya berhasil pada musim pertama, tetapi dapat dikembangkan secara berkelanjutan.

PalmCo menyebut konsumsi kedelai Indonesia diperkirakan berada pada kisaran 2,6 juta hingga 2,7 juta ton per tahun.

Sementara produksi domestik dinilai belum mampu memenuhi seluruh kebutuhan tersebut.

Kesenjangan antara konsumsi dan produksi membuat pemenuhan kebutuhan dalam negeri masih bergantung pada pasokan dari luar negeri.

Kedelai banyak digunakan sebagai bahan baku tahu, tempe, kecap, dan berbagai produk pangan lainnya.

Karena itu, gangguan pasokan dan kenaikan harga dapat berdampak langsung kepada produsen pangan skala kecil serta konsumen.

Proyek PalmCo diarahkan untuk menambah produksi domestik.

Namun karena masih berupa proyek percontohan, kontribusinya terhadap kebutuhan nasional baru dapat dihitung setelah luas tanam, produktivitas, dan keberlanjutan panen diketahui.

Pengembangan kedelai tidak cukup hanya dengan menyediakan lahan dan benih.

Proyek tersebut juga membutuhkan kepastian mengenai biaya produksi, tenaga kerja, pengendalian hama, mekanisasi, penyimpanan, dan pembeli hasil panen.

Pasar menjadi salah satu faktor penting.

Produksi dapat tumbuh jika petani atau pengelola lahan memperoleh harga yang layak dan memiliki kepastian penyerapan.

Tanpa tata niaga yang jelas, peningkatan produksi berisiko tidak diikuti peningkatan pendapatan.

PalmCo karena itu merancang program dengan melibatkan BUMN, pemerintah, lembaga teknis, petani, dan pemangku kepentingan lain.

Kolaborasi tersebut diharapkan dapat menghubungkan proses budidaya dengan pengolahan dan pemasaran.

Selama ini PalmCo dikenal mengelola perkebunan kelapa sawit.

Masuknya kedelai dalam proyek percontohan menunjukkan upaya perusahaan melakukan diversifikasi komoditas.

Pengembangan tanaman pangan dapat dilakukan pada lahan yang dinilai sesuai tanpa mengganggu produktivitas komoditas utama.

Namun pemanfaatan lahan tetap harus mempertimbangkan status, fungsi, kesuburan, dan rencana jangka panjang perusahaan.

Kedelai juga memiliki karakter budidaya berbeda dengan tanaman perkebunan.

Masa tanamnya lebih pendek, tetapi memerlukan ketepatan waktu dalam penyiapan lahan, penanaman, pemupukan, dan panen.

Kesalahan pada satu tahap dapat memengaruhi hasil secara keseluruhan.

PalmCo berharap proyek tersebut tidak hanya meningkatkan produktivitas lahan.

Program juga diarahkan untuk membuka aktivitas ekonomi bagi masyarakat di sekitar wilayah operasional.

Peluang dapat muncul dari penyiapan lahan, penyediaan benih, tenaga kerja budidaya, pengangkutan, hingga pengolahan hasil.

Namun manfaat ekonomi itu bergantung pada pola kemitraan yang diterapkan.

Pembagian peran, biaya produksi, kepemilikan hasil, harga pembelian, serta risiko gagal panen perlu disusun secara jelas sejak awal.

Transparansi skema kemitraan penting agar proyek tidak hanya menghasilkan angka produksi, tetapi juga memberi manfaat kepada petani dan masyarakat sekitar.

Proyek percontohan di Sumatera Utara akan menjadi ujian pertama.

Dari sana perusahaan dapat melihat berapa produktivitas riil yang diperoleh.

Berapa biaya yang dibutuhkan untuk setiap hektare.

Bagaimana serangan hama dikendalikan.

Apakah hasilnya dapat diserap pasar.

Dan apakah budidaya layak diperluas.

PalmCo menyebut proyek tersebut sebagai bagian dari dukungan terhadap swasembada pangan.

Namun tujuan besar itu masih membutuhkan proses panjang.

Tahap pertamanya sederhana, tetapi menentukan.

Memilih lahan yang tepat.

Menanam dengan metode yang sesuai.

Mengukur hasil secara terbuka.

Lalu memutuskan apakah kedelai dapat tumbuh menjadi komoditas baru di lingkungan perkebunan negara.(*)

BeritaSatu Network