Kekeruhan Sungai Batanghari Tembus 1.500 NTU, PDAM Tirta Mayang Siapkan Solusi

WIB
Ist

Jajaran Direksi Perumda Air Minum (PDAM) Tirta Mayang Kota Jambi menggelar konferensi pers guna memaparkan kondisi terkini debit dan tingkat kekeruhan air baku Sungai Batanghari. Penjelasan resmi tersebut disampaikan langsung oleh Direktur Utama PDAM Tirta Mayang Arianto, didampingi Direktur ADM dan Keuangan Andri Susanto, serta Direktur Teknik Eri Suganda.

Manajemen menegaskan bahwa fluktuasi kondisi air baku Sungai Batanghari saat ini berada dalam posisi tidak menentu akibat dampak fenomena El Nino berdasarkan hasil pemantauan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).

Meskipun ketinggian rata-rata permukaan air sungai masih bertahan pada posisi 130 centimeter dan dikategorikan aman untuk disedot, hambatan utama yang dihadapi oleh teknisi di lapangan adalah lonjakan kekeruhan air (turbidity) yang sangat ekstrem.

"Tingkat kekeruhan air Sungai Batanghari saat ini mengalami kenaikan drastis hingga menyentuh angka 1.500 NTU (Nephelometric Turbidity Unit). Padahal dalam kondisi normal, kapasitas olah instalasi kami dirancang untuk mengolah kekeruhan pada kisaran 250 sampai 300 NTU. Lonjakan tingkat kekeruhan yang sangat tinggi inilah yang menjadi kendala utama Tirta Mayang untuk menghasilkan standar olah maksimal di tingkat 3 NTU bagi pelanggan," kata Arianto.

Guna memastikan air yang diproduksi tetap memenuhi baku mutu kesehatan, manajemen Tirta Mayang mengambil keputusan teknis dengan mengurangi debit pengolahan air yang dialirkan melalui jaringan pipa distribusi. Langkah pengurangan debit ini diambil agar proses pengendapan material lumpur dan filterisasi kimiawi di dalam instalasi dapat berjalan optimal.

Kebijakan penyesuaian debit produksi tersebut berimbas langsung pada penurunan durasi pengaliran air di sejumlah wilayah perbatasan dan kawasan elevasi tinggi. Namun, kata Arianto penuruan debit air ini tidak lebih dari 20 persen.

Beberapa kawasan pemukiman yang mengalami pengurangan jam pelayanan distribusi air antara lain kawasan Mayang Ujung, kompleks perumahan BCL, serta wilayah perbatasan jaringan teknis lainnya.

"Penurunan debit terpaksa kami lakukan agar air yang mengalir ke rumah warga tetap bersih dan aman dikonsumsi," jelas Arianto.

Sesuai dengan instruksi dan arahan khusus Wali Kota Jambi agar pelayanan publik tidak terhenti total, jajaran direksi PDAM Tirta Mayang telah menyiapkan dua skema penanganan darurat jangka pendek dan menengah.

Langkah jangka pendek pertama adalah menerbitkan Surat Keputusan (SK) Tim Kesiapsiagaan Darurat Air. Tim ini bertugas mengoperasikan armada mobil tangki untuk mendistribusikan air bersih secara gratis ke wilayah pemukiman yang terdampak penurunan debit, dengan kapasitas pengantaran mencapai 18 trip perjalanan dalam satu hari.

Sementara untuk skema teknis jangka menengah, PDAM Tirta Mayang akan segera melakukan pengadaan unit pompa fleksibel yang dirancang khusus dapat mengapung mengikuti fluktuasi permukaan air sungai selama musim kemarau.

Di samping pengadaan pompa apung, tim teknisi Tirta Mayang juga dijadwalkan melakukan perpanjangan instalasi pipa intake yang menjorok lebih jauh ke tengah alur utama Sungai Batanghari. Langkah ini diambil untuk mendapat suplai air baku yang lebih stabil dan terhindar dari endapan lumpur tebal di area pinggiran sungai. (*)

BeritaSatu Network