Pekanbaru — Ada tandan buah segar kelapa sawit berukuran jumbo.
Ada drone penyemprot.
Ada drone pemetaan.
Ada sistem digital yang memantau operasional kebun.
Bahkan ada produk pandai besi binaan perusahaan.
PT Perkebunan Nusantara IV PalmCo mencoba menunjukkan bahwa bisnis sawit kini tidak lagi hanya berbicara soal kebun dan pabrik ketika tampil dalam Sawit Indonesia Expo (SIEXPO) 2026 di SKA Convention and Exhibition, Pekanbaru, 6-8 Agustus 2026.
Salah satu benda yang paling menyita perhatian pengunjung adalah tandan buah segar atau TBS varietas unggulan 540 rakitan Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS).
Bobot tandan yang dipamerkan disebut mencapai sekitar setengah kuintal atau 50 kilogram.
TBS jumbo itu kemudian menjadi salah satu objek yang banyak digunakan pengunjung sebagai latar berfoto.
Region Head PTPN IV Regional III Bambang Budi Santoso mengatakan keikutsertaan PalmCo dalam SIEXPO menjadi kesempatan menunjukkan perubahan yang sedang berlangsung di industri kelapa sawit.
Menurutnya, industri sawit saat ini tidak hanya ditopang aktivitas budidaya dan pengolahan.
Digitalisasi mulai masuk.
Mekanisasi berkembang.
Kemitraan petani diperkuat.
Usaha masyarakat sekitar juga dilibatkan.
“Alhamdulillah, kami diberikan kepercayaan oleh PalmCo untuk menyemarakkan SIEXPO 2026 di Pekanbaru dan menghadirkan semangat keberlanjutan, transformasi, dan kemitraan inklusif,” kata Bambang, Sabtu (8/8/2026).
“Masyarakat dapat melihat bahwa industri sawit saat ini berkembang jauh melampaui kebun dan pabrik,” lanjutnya.
Teknologi menjadi salah satu menu utama yang ditampilkan PalmCo.
Perusahaan memamerkan drone sprayer yang digunakan untuk mendukung pekerjaan perawatan tanaman.
Penggunaan drone memungkinkan aktivitas tertentu dilakukan dengan pendekatan yang lebih terukur dibanding pola manual.
Selain drone penyemprot, terdapat pula drone geospasial.
Perangkat tersebut digunakan untuk mendukung pemetaan dan pemantauan areal perkebunan.
Data dari udara dapat membantu perusahaan memahami kondisi kawasan secara lebih luas dan presisi.
Bambang mengatakan modernisasi menjadi bagian dari ekosistem perkebunan yang sedang dibangun.
“Ada inovasi digital, mekanisasi, kemitraan bersama petani, hingga pemberdayaan UMKM binaan yang seluruhnya menjadi satu ekosistem untuk mendukung ketahanan pangan dan energi nasional,” ujarnya.
PalmCo juga memperkenalkan sistem pemantauan operasional yang disebut PalmCo Business Cockpit.
Sistem tersebut ditampilkan sebagai bagian dari transformasi tata kelola perusahaan berbasis data.
Konsepnya adalah membawa informasi operasional ke dalam sebuah sistem pemantauan terpadu sehingga manajemen dapat melihat perkembangan kegiatan secara lebih terukur.
Digitalisasi seperti ini menjadi penting bagi perusahaan dengan wilayah perkebunan yang luas.
Keputusan tidak lagi hanya bergantung pada laporan manual dari lapangan.
Data menjadi bagian penting dalam pengawasan.
Meski teknologi digital banyak dipamerkan, benda yang justru mencuri perhatian pengunjung adalah produk paling dasar dari perkebunan sawit itu sendiri.
Tandan buah segar.
Bedanya, ukurannya tidak biasa.
PalmCo menampilkan TBS dari varietas unggulan 540 PPKS dengan bobot disebut mencapai sekitar 50 kilogram.
Tandan tersebut menjadi salah satu magnet booth.
Pengunjung berkerumun.
Sebagian mengabadikannya melalui telepon seluler.
Ukuran TBS yang besar sekaligus digunakan untuk memperkenalkan sisi pemuliaan tanaman dan penggunaan bahan tanam unggul.
PalmCo juga membawa isu produktivitas perkebunan rakyat.
Salah satunya melalui penggunaan benih kelapa sawit bersertifikat.
Bahan tanam menjadi salah satu faktor mendasar yang memengaruhi kinerja kebun untuk waktu yang panjang.
Karena itu, penyediaan benih unggul dikaitkan dengan peningkatan produktivitas serta program tanaman ulang atau replanting.
Pesannya sederhana.
Modernisasi sawit tidak hanya membutuhkan alat canggih.
Ia juga dimulai dari bibit yang ditanam.
Ada pula sisi yang berbeda dari booth PalmCo.
Perusahaan membawa produk pengrajin pandai besi yang menjadi binaan program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan atau TJSL.
Pengrajin tersebut memproduksi perkakas yang digunakan untuk mendukung pekerjaan lapangan perkebunan.
Menurut informasi perusahaan, unit usaha binaan itu bahkan telah masuk menjadi salah satu penyedia alat pertanian di lingkungan internal PTPN IV.
Model tersebut menunjukkan hubungan lain antara perusahaan besar dengan ekonomi masyarakat sekitar.
Bukan hanya bantuan sosial.
UMKM didorong masuk ke rantai pasok.
Ketika produk lokal mampu memenuhi spesifikasi dan kebutuhan perusahaan, pasar yang terbuka bisa lebih berkelanjutan dibanding bantuan sesaat.
Bambang menilai keberlanjutan industri sawit tidak cukup dibaca hanya dari satu sisi.
Isu lingkungan penting.
Tetapi efisiensi melalui teknologi, kemitraan petani dan pertumbuhan ekonomi masyarakat di sekitar perusahaan juga harus berjalan.
“Keberlanjutan tidak hanya mengenai lingkungan, tetapi juga bagaimana teknologi dimanfaatkan untuk meningkatkan efisiensi, petani memperoleh manfaat melalui kemitraan, dan masyarakat sekitar ikut tumbuh bersama perusahaan,” katanya.
“Pesan itu yang ingin kami hadirkan kepada setiap pengunjung,” lanjut Bambang.
Pameran seperti SIEXPO menjadi tempat perusahaan menunjukkan arah transformasinya.
Dulu perkebunan mungkin identik dengan tanaman, pemanen dan pabrik.
Kini ada drone di atas kebun.
Ada data geospasial.
Ada dashboard digital.
Ada benih unggul.
Ada petani mitra.
Ada UMKM yang masuk rantai pasok.
Teknologi memang tidak otomatis membuat seluruh persoalan industri sawit selesai.
Efektivitasnya tetap harus dilihat dari bagaimana teknologi itu digunakan di lapangan, berapa besar peningkatan produktivitas yang dihasilkan, dan seberapa nyata manfaat yang diterima petani serta masyarakat.
Namun satu hal terlihat dari booth PalmCo di Pekanbaru.
Sawit yang ingin ditampilkan hari ini bukan lagi sekadar cerita tentang berapa ton buah masuk ke pabrik, tetapi bagaimana satu ekosistem dari bibit, teknologi, petani sampai usaha lokal bisa tumbuh bersama. (*)