Jambi — Nama Hj Ernawati belakangan semakin sering muncul di ruang publik Jambi.
Aktif bersama Ikatan Sarjana Melayu Indonesia (ISMI).
Turun dalam kegiatan sosial.
Berinteraksi dengan banyak tokoh.
Hingga mulai dikait-kaitkan dengan politik.
Namun ketika isu itu dilempar langsung kepadanya, Ernawati punya jawaban tegas.
Jangan setiap kemunculannya di Jambi dimaknai sebagai langkah politik.
Pesan itu disampaikan Ketua ISMI Provinsi Jambi Hj Ernawati, S.Ag., M.Pd. saat menjadi tamu program Ngopi Pahit Jambi TV, Kamis (20/8/2026) siang.
Dalam dialog bersama host David Mursal, Ernawati berbicara cukup luas.
Mulai dari perjalanan hidupnya, bisnis, ISMI, Jambi, kegiatan sosial hingga politik.
David Mursal Lempar Guyonan soal Pilgub
Pembicaraan politik muncul ketika David Mursal melempar guyonan mengenai bagaimana pandangan Ernawati terhadap Pilgub Jambi.
Pertanyaan itu menjadi menarik karena aktivitas Ernawati di Jambi belakangan cukup intens.
Namun ia langsung menepis jika aktivitas tersebut dibaca sebagai ancang-ancang politik.
“Saya adalah orang Jambi. Lahir dan besar di Jambi,” kata Ernawati.
Ia mengatakan keberhasilannya dalam kehidupan dan bisnis justru membuatnya merasa memiliki tanggung jawab untuk kembali memberikan sesuatu kepada daerah asalnya.
“Sekarang diberi rezeki melimpah oleh Allah. Maka saya ingin menghibahkan sebagian rezeki untuk membangun Jambi. Untuk warga Jambi,” ujarnya.
Itulah, menurut Ernawati, alasan dirinya kini banyak terlibat dalam berbagai kegiatan sosial di Jambi.
Bukan karena sedang menyusun agenda elektoral.
‘ISMI Bergerak untuk Sosial, Bukan Bermotif Politik’
Ernawati kemudian membawa pembicaraan tersebut ke ISMI.
Ia menegaskan kegiatan ISMI Jambi yang belakangan semakin terlihat bukan bagian dari kendaraan politik dirinya.
“Kami di ISMI bergerak untuk sosial. Bukan bermotif politik. Tidak ada keinginan politik apa pun,” tegasnya.
Pernyataan itu sekaligus menjadi respons terhadap kemungkinan munculnya tafsir politik atas aktivitas organisasi.
Bagi Ernawati, kehadirannya di Jambi ingin diarahkan pada satu tujuan:
berbuat untuk Jambi.
Ia ingin modal sosial, jaringan dan kemampuan ekonomi yang dimilikinya digunakan untuk memberi manfaat kepada masyarakat.
Dari Masa Lalu hingga Bisnis
Dialog Ngopi Pahit tidak hanya membicarakan organisasi dan politik.
David juga mengajak Ernawati kembali melihat perjalanan hidupnya.
Ada cerita mengenai masa lalu.
Tentang proses kehidupan yang dilewati.
Kemudian bisnis yang membawanya pada kondisi ekonomi seperti sekarang.
Namun Ernawati melihat keberhasilan materi bukan sebagai titik akhir.
Baginya, semakin besar rezeki yang diperoleh, semakin besar pula bagian yang harus dikembalikan kepada masyarakat.
Dari situlah muncul satu istilah yang cukup menarik dalam perbincangan tersebut.
“Saham Rasulullah.”
50 Persen Rezeki untuk ‘Saham Rasulullah’
Ernawati mengatakan dirinya mengalokasikan 50 persen dari rezeki yang diperolehnya untuk apa yang ia sebut sebagai “saham Rasulullah”.
Istilah tersebut ia gunakan untuk menggambarkan bagian harta yang diniatkan bagi kepentingan umat dan kegiatan sosial.
Karena prinsip itu pula, Ernawati mengatakan dirinya banyak menyalurkan sedekah.
Membantu masyarakat.
Mendukung kegiatan sosial.
Hingga ikut membangun pondok dan kegiatan yang berkaitan dengan kepentingan umat.
Bagi Ernawati, rezeki yang diperoleh tidak seluruhnya harus kembali kepada kepentingan pribadi atau bisnis.
Sebagiannya harus berputar kembali kepada masyarakat.
Kenapa Jambi?
Pertanyaan itu sebenarnya menjadi benang merah dialog.
Ernawati memiliki jawaban sederhana.
Karena Jambi adalah rumahnya.
Ia lahir di Jambi.
Besar di Jambi.
Dan ketika kemudian mendapatkan kesempatan serta rezeki yang lebih baik, ia merasa perlu kembali memberi manfaat kepada daerah tersebut.
Narasi inilah yang menurutnya perlu dibedakan dari agenda politik.
Aktif di ruang publik tidak otomatis berarti ingin maju dalam kontestasi.
Dekat dengan banyak kalangan tidak otomatis berarti membangun mesin politik.
Dan kegiatan sosial tidak seharusnya langsung diterjemahkan sebagai investasi elektoral.
Setidaknya itulah posisi yang ingin ditegaskan Ernawati.
Politik Tetap Jadi Pertanyaan Menarik
Meski Ernawati sudah menyampaikan penegasan, pertanyaan politik kemungkinan tetap akan mengikuti setiap tokoh yang mulai aktif di ruang publik.
Apalagi bila kegiatannya mulai menyentuh banyak kelompok masyarakat dan memiliki jaringan organisasi.
Namun per Kamis siang itu, pernyataan Ernawati jelas.
Ia menyatakan tidak memiliki keinginan politik di balik gerakan sosial yang dilakukan bersama ISMI.
Karena itu, menghubungkan aktivitasnya dengan Pilgub atau kontestasi politik lain saat ini masih sebatas spekulasi apabila tidak disertai pernyataan langsung darinya.
David Mursal tampaknya sengaja membawa isu itu ke meja Ngopi Pahit untuk mendapatkan jawaban langsung.
Dan jawabannya justru mengembalikan pembicaraan ke persoalan sosial.
ISMI Ingin Hadir Lewat Kerja Nyata
Ernawati menempatkan ISMI sebagai salah satu ruang pengabdian.
Organisasi para sarjana Melayu itu, menurutnya, harus hadir dalam kehidupan masyarakat.
Bukan hanya menggelar rapat.
Bukan sebatas mengenakan identitas Melayu.
Tetapi ikut bergerak dalam kegiatan sosial dan memberikan manfaat.
Karena itu, arah yang ingin dibawa bukan sekadar organisasi berbasis gelar akademik.
Para sarjana diharapkan punya tanggung jawab sosial.
Ilmu harus turun ke masyarakat.
Jaringan harus menghasilkan manfaat.
Dan kemampuan ekonomi anggotanya, ketika memungkinkan, dapat membantu kelompok yang membutuhkan.
Kekayaan, Menurut Ernawati, Punya Tanggung Jawab
Ada satu pandangan yang cukup kuat muncul dari dialog tersebut.
Ernawati memandang rezeki bukan sepenuhnya milik pribadi.
Karena itulah ia menyebut sebagian besar yang diperolehnya harus kembali kepada umat.
Konsep “50 persen saham Rasulullah” menjadi bahasa personal Ernawati dalam menerjemahkan prinsip tersebut.
Bukan saham dalam pengertian instrumen investasi atau kepemilikan perusahaan.
Tetapi istilah yang digunakan untuk menggambarkan komitmen berbagi.
Dari prinsip itu kemudian lahir sedekah dan berbagai kegiatan sosial yang ia jalankan.
‘Saya Ingin Berbuat untuk Jambi’
Pada akhirnya, obrolan tentang Pilgub justru membawa Ernawati pada penegasan identitasnya.
Ia tidak ingin kepulangannya ke Jambi dibaca hanya melalui kacamata kekuasaan.
“Saya adalah orang Jambi. Lahir dan besar di Jambi,” ujarnya.
Kalimat itu kemudian disambungkan dengan keinginan menggunakan sebagian rezeki yang diperolehnya untuk masyarakat daerah asalnya.
Bagi Ernawati, ukuran dari semua aktivitas itu seharusnya dilihat dari manfaatnya.
Bukan dari spekulasi pencalonan.
Apakah kelak politik akan benar-benar datang ke dalam perjalanan Ernawati, tentu waktu yang akan menjawab.
Namun untuk saat ini, ia memilih memberi garis tegas:
“Saya ingin berbuat untuk Jambi.”
Bukan karena Pilgub.
Bukan pula karena mengejar jabatan.
Setidaknya, itulah pesan yang ingin ia tegaskan dari meja Ngopi Pahit Jambi TV, Kamis siang itu. (*)