Kunjungi Pesantren Tahfidz Permata Kerinci, Hj Ernawati Peluk Anak Yatim hingga Menangis Lihat Pengabdian Guru Tahfiz

WIB
ist

Kerinci - Perjalanan Ketua Ikatan Sarjana Melayu Indonesia (ISMI) Provinsi Jambi, Hj Ernawati, S.Ag., M.Pd., ke Kabupaten Kerinci tak berhenti di ruang pelantikan organisasi.

Seusai melantik pengurus ISMI Kabupaten Kerinci dan Kota Sungai Penuh, Ernawati memilih melanjutkan perjalanan ke tempat yang jauh dari hingar-bingar seremoni.

Tujuannya adalah Pesantren Tahfidzul Quran Permata Tanjung Pauh Mudik, Kabupaten Kerinci, Ahad (23/8/2026).

Di sanalah suasana berubah.

Bukan lagi soal struktur organisasi. Bukan pula tentang jabatan.

Yang menyambut Ernawati adalah suara shalawat, tabuhan kompangan anak-anak santri, wajah para penghafal Al-Qur'an, hingga anak-anak yatim dan dhuafa yang menunggu dengan sederhana.

Sekitar 160 santri bersama 20 pengelola, ustaz dan ustazah memenuhi lokasi kegiatan. Mereka duduk berjejer dan lesehan di atas karpet permadani di dalam aula.

Di antara mereka terdapat anak-anak yang hari-harinya dihabiskan dengan belajar dan menghafal Al-Qur'an.

Begitu rombongan ISMI tiba, suara kompangan mulai terdengar.

Anak-anak santri menyambut tamu dengan penuh semangat. Lantunan shalawat kemudian menggema di dalam ruangan.

Ernawati tak sekadar duduk mendengarkan.

Ia ikut mengambil bagian.

Shalawat bahkan dikomandoi langsung oleh Ernawati. Para santri, ustaz-ustazah dan jamaah yang hadir mengikuti lantunan itu bersama-sama.

Untuk beberapa saat, aula pesantren berubah menjadi ruang penuh pujian kepada Rasulullah SAW.

Suasana yang awalnya formal pun mencair.

Ada senyum. Ada tepuk tangan. Ada pula wajah-wajah yang terlihat terharu.

Prof Jafar Ahmad Perkenalkan Ernawati: Beliau Tinggal di Makkah

Ketua ISMI Provinsi Jambi itu datang bersama sejumlah pengurus.

Hadir mendampingi Sekretaris ISMI Provinsi Jambi Dr Pahmi Rasyid, jajaran pengurus ISMI Provinsi Jambi, pengurus ISMI Kabupaten Kerinci serta Prof Dr Asafri Jaya Bakri, mantan Wali Kota Sungai Penuh.

Rektor Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Kerinci sekaligus Ketua ISMI Kabupaten Kerinci, Prof Dr Jafar Ahmad, M.Si., turut mendampingi Ernawati sepanjang kunjungan.

Di depan jamaah, Jafar kemudian memperkenalkan sosok Ernawati.

Di atas podium, ia membuka satu fakta yang rupanya belum banyak diketahui masyarakat yang hadir.

"Ibu ketua kita dari Jambi. Tapi sebenarnya, beliau tidak tinggal di Jambi. Beliau tinggal di Makkah," ujar Prof Jafar Ahmad.

Ucapan itu langsung menarik perhatian jamaah.

Sejumlah ibu-ibu pengajian dan santri terlihat saling memandang. Ada yang menunjukkan ekspresi kagum.

Jafar menjelaskan Ernawati tengah pulang ke Jambi untuk waktu sekitar satu bulan.

Namun masa kepulangannya itu tidak seluruhnya digunakan untuk beristirahat.

Menurut Jafar, Ernawati justru memilih berkeliling, bersilaturahmi dan membantu masyarakat.

"Ini kesempatan beliau bisa pulang ke Jambi selama satu bulan, diisi untuk memberikan bantuan," kata Jafar.

50 Anak Yatim dan 50 Dhuafa Jadi Perhatian

Kedatangan ISMI ke Tanjung Pauh Mudik memang bukan sekadar berkunjung.

Ada bantuan yang dibawa.

Sebanyak 50 anak yatim piatu dan 50 masyarakat dhuafa ekstrem tercatat menjadi penerima perhatian dalam kegiatan tersebut.

Secara keseluruhan, 200 paket bantuan tunai langsung diserahkan kepada masyarakat yang dinilai berhak menerima.

Satu per satu bantuan diberikan.

Di hadapan para santri, Ernawati berusaha menyapa mereka dengan dekat. Tak ada jarak yang dibuat antara ketua organisasi dengan anak-anak pesantren yang duduk di lantai.

Bagi Ernawati, membantu anak yatim dan dhuafa bukan sekadar aktivitas tambahan dalam kunjungannya ke daerah.

Ia ingin keberadaan ISMI dapat dirasakan langsung masyarakat.

Terutama mereka yang membutuhkan uluran tangan.

Kunjungan itu sekaligus menjadi pesan bahwa organisasi kaum intelektual tidak boleh hanya sibuk dengan rapat dan diskusi.

ISMI, menurut Ernawati, juga harus hadir di lapangan.

Ernawati Terharu Lihat Pengelola Tak Digaji

Ada satu hal yang paling menyentuh Ernawati dalam kunjungan tersebut.

Ia mengetahui sebagian pengelola pesantren tetap mengurus santri dan menjalankan pendidikan tahfiz meski tidak mendapatkan bayaran.

Di tengah berbagai keterbatasan, mereka tetap datang.

Tetap mengajar.

Tetap membimbing anak-anak membaca dan menghafal Al-Qur'an.

Informasi itulah yang membuat Ernawati terharu.

"Saya sangat terharu melihat para pengelola di sini yang sebagian tidak dibayar sama sekali," ujar Ernawati.

Bagi Ernawati, pengabdian seperti itu tidak bisa sekadar dinilai dengan angka.

Mereka bekerja bukan karena besarnya honor yang diterima, tetapi karena keyakinan bahwa mendidik generasi Al-Qur'an merupakan sebuah pengabdian.

Ia memandang perjuangan para ustaz dan ustazah tersebut sebagai pekerjaan besar yang kerap berlangsung dalam kesunyian.

Tidak banyak orang melihat.

Tidak selalu mendapat sorotan.

Tetapi setiap hari mereka menjaga agar anak-anak tetap belajar mengaji dan menghafal ayat demi ayat Al-Qur'an.

Ernawati pun memberikan semangat kepada para santri.

Ia meminta mereka tidak lelah belajar, tidak menyerah menghadapi kesulitan dan terus menjaga hafalan Al-Qur'an.

Para santri, menurut Ernawati, bukan hanya masa depan keluarga mereka.

Mereka juga bagian dari generasi yang kelak menjaga nilai agama dan akhlak di tengah masyarakat.

Hadrah Santri Bikin Suasana Makin Hangat

Pertemuan semakin hidup ketika para santri menampilkan hadrah.

Anak-anak duduk membawa alat musik rebana dan melantunkan shalawat dengan penuh semangat.

Suara mereka memenuhi aula.

Para tamu dan jamaah menyaksikan penampilan tersebut dari dekat.

Bagi para santri, kedatangan rombongan ISMI menjadi hari yang berbeda dari biasanya.

Mereka bukan sekadar menerima tamu.

Mereka ikut menunjukkan apa yang selama ini dipelajari di pesantren: membaca Al-Qur'an, bershalawat dan menjaga tradisi keagamaan.

Ernawati beberapa kali terlihat mengikuti lantunan tersebut.

Kedekatan dengan dunia pesantren memang menjadi salah satu bagian yang mendapat perhatian dalam perjalanannya ke Kerinci.

Apalagi pesantren tersebut tumbuh dari masyarakat.

Pesantren Milik Masyarakat

Pesantren Tahfidzul Quran Permata Tanjung Pauh Mudik memiliki cerita tersendiri.

Pesantren itu tumbuh dan dimiliki masyarakat Tanjung Pauh Mudik.

Wilayah Tanjung Pauh Mudik secara administratif kini terdiri dari lima desa hasil pemekaran.

Dari kawasan inilah masyarakat secara bersama-sama mempertahankan keberadaan tempat pendidikan Al-Qur'an tersebut.

Bagi Ernawati, model pengabdian berbasis masyarakat seperti itu perlu diperkuat.

Ia mendorong pesantren tidak hanya bertahan, tetapi tumbuh menjadi lembaga pendidikan yang semakin mandiri.

Ia berbicara mengenai penguatan pendidikan tahfiz, peningkatan kualitas sumber daya manusia, kemandirian kelembagaan hingga pemanfaatan berbagai potensi yang dimiliki pesantren.

Menurutnya, pesantren memiliki modal sosial yang besar.

Ada santri.

Ada guru.

Ada masyarakat.

Ada semangat gotong royong.

Yang diperlukan adalah penguatan jaringan dan dukungan bersama agar lembaga pendidikan seperti itu semakin berkembang.

Ernawati minta ISMI Tak Hanya Jadi Organisasi Seremonial

Kunjungan ke pesantren itu juga memperlihatkan arah yang ingin dibangun ISMI Provinsi Jambi.

Organisasi tersebut ingin bergerak pada bidang pendidikan, sosial, keagamaan dan kemanusiaan.

Bagi Ernawati, sarjana Melayu memiliki tanggung jawab lebih besar daripada sekadar berkumpul dalam organisasi.

Ilmu dan jaringan yang dimiliki harus memberi manfaat kepada masyarakat.

Karena itu, kunjungannya ke Kerinci tidak hanya diisi agenda pelantikan Prof Dr Jafar Ahmad sebagai Ketua ISMI Kabupaten Kerinci dan H Hartono sebagai Ketua ISMI Kota Sungai Penuh.

Ia ingin agenda organisasi disambung dengan kerja sosial.

Di satu tempat, ISMI berbicara mengenai pembangunan daerah dan ekonomi.

Di tempat lain, organisasi itu duduk bersama anak yatim, dhuafa dan para penghafal Al-Qur'an.

Dua dunia yang berbeda, tetapi bagi Ernawati memiliki satu titik temu: kebermanfaatan.

Dari Makkah, Pulang untuk Berbagi

Pernyataan Prof Jafar Ahmad mengenai tempat tinggal Ernawati di Makkah membuat kunjungan tersebut memiliki cerita tersendiri.

Ernawati yang sehari-hari menetap di Tanah Suci memilih menggunakan masa kepulangannya ke Jambi untuk turun langsung ke masyarakat.

Dari agenda organisasi, silaturahmi dengan tokoh daerah, hingga pesantren di pelosok Kerinci.

Tak semua kunjungannya berada di ruang ber-AC.

Hari itu, Ernawati duduk bersama anak-anak yang menghafal Al-Qur'an.

Mendengar suara kompangan mereka.

Bershalawat bersama.

Melihat ustaz dan ustazah yang tetap mengajar meski sebagian bahkan tidak mendapatkan bayaran.

Lalu bertemu anak yatim dan dhuafa yang kehidupannya jauh dari kemewahan.

Mungkin itu pula sebabnya kalimat Ernawati mengenai para pengelola pesantren terdengar begitu personal.

"Saya sangat terharu melihat para pengelola di sini yang sebagian tidak dibayar sama sekali," katanya.

Hari itu, perjalanan ISMI di Kerinci akhirnya tak hanya meninggalkan catatan tentang sebuah pelantikan.

Ada 200 paket bantuan yang berpindah tangan.

Ada 50 anak yatim piatu dan 50 dhuafa ekstrem yang mendapat perhatian.

Ada sekitar 160 santri yang mendapat motivasi.

Dan ada para guru Al-Qur'an yang pengabdiannya, meski sering tak terlihat, akhirnya mendapat penghormatan.

Dari aula sederhana di Tanjung Pauh Mudik, satu pesan seperti ingin ditegaskan Ernawati: ilmu, jabatan dan organisasi akan kehilangan makna jika tidak pernah sampai kepada orang-orang yang membutuhkan.(*)

BeritaSatu Network