Jambi - Pengurus Ikatan Sarjana Melayu Indonesia (ISMI) Kota Jambi mulai memanaskan mesin organisasi.
Selasa (25/8/2026), jajaran ISMI Kota Jambi menggelar rapat pemantapan persiapan pelantikan pengurus. Rapat dipimpin langsung Ketua ISMI Kota Jambi Dr. H. Ardi, S.P., M.Si.
Sejumlah nama telah ditetapkan masuk dalam kepanitiaan pelantikan.
Posisi Ketua Panitia dipercayakan kepada M. Saleh Muhammad Azim, SE, yang merupakan adik kandung Wali Kota Jambi Dr. dr. H. Maulana, M.K.M.
Sementara Khairon Fauzi, S.Kom.I dipercaya sebagai sekretaris dan Rizki Malik, ST sebagai bendahara.
Untuk memastikan kebutuhan teknis pelantikan berjalan maksimal, Arvandi, S.Pd.I dipercaya menangani bidang perlengkapan. Sedangkan Ade Utami, SE masuk dalam kepanitiaan acara.
Rapat tersebut menjadi salah satu tahapan penting menjelang pelantikan resmi kepengurusan ISMI Kota Jambi.
Tak sekadar membicarakan seremoni, forum itu juga mulai memetakan bagaimana ISMI Kota Jambi akan bergerak setelah dilantik.
Ardi Pimpin Langsung Rapat
Ketua ISMI Kota Jambi Dr H Ardi turun langsung memimpin rapat pemantapan.
Satu per satu kebutuhan pelantikan dibahas.
Mulai dari pembagian tugas panitia, kesiapan acara, perlengkapan hingga koordinasi antarpengurus.
Ardi ingin pelantikan nantinya tidak hanya berjalan tertib secara seremonial, tetapi menjadi titik awal konsolidasi para sarjana Melayu yang berada di Kota Jambi.
Menurut Ardi, Kota Jambi memiliki sumber daya intelektual yang besar.
Ada akademisi.
Pengusaha.
Profesional.
Birokrat.
Tokoh agama.
Tokoh adat.
Aktivis.
Hingga generasi muda dengan berbagai latar belakang keilmuan.
Potensi tersebut, menurutnya, harus dipertemukan dalam satu ruang kolaborasi.
"Pelantikan ini bukan tujuan akhir. Justru setelah pelantikan itulah kerja kita dimulai. ISMI Kota Jambi harus mampu menjadi rumah bersama para sarjana Melayu untuk berhimpun, melahirkan gagasan dan kemudian menerjemahkannya menjadi kerja yang bermanfaat bagi masyarakat," kata Ardi.
Ardi menegaskan dirinya tidak menginginkan ISMI Kota Jambi hanya hidup ketika ada agenda seremonial.
Struktur organisasi, menurutnya, harus diikuti program nyata.
"Kalau hanya selesai dilantik kemudian organisasi tidak bergerak, tentu tidak ada artinya. Kita ingin setelah pelantikan langsung ada konsolidasi program. Setiap bidang harus tahu apa yang akan dikerjakan dan siapa masyarakat yang akan merasakan manfaatnya," ujarnya.
Saleh Muhammad Azim Pimpin Panitia
Untuk mempersiapkan agenda besar tersebut, M. Saleh Muhammad Azim dipercaya memimpin kepanitiaan.
Saleh bukan wajah yang asing dalam aktivitas organisasi dan sosial di Kota Jambi.
Dalam struktur kepanitiaan pelantikan ISMI Kota Jambi, ia akan bekerja bersama sekretaris Khairon Fauzi dan bendahara Rizki Malik.
Ketiganya menjadi motor utama untuk mengkoordinasikan seluruh bidang.
Komposisi kepanitiaan sementara yang dibahas dalam rapat yakni:
- Ketua Panitia: M. Saleh Muhammad Azim, SE
- Sekretaris: Khairon Fauzi, S.Kom.I
- Bendahara: Rizki Malik, ST
- Perlengkapan: Arvandi, S.Pd.I
- Acara: Ade Utami, SE
Pembagian tugas tersebut diharapkan membuat persiapan pelantikan dapat dikerjakan secara lebih terukur.
Masing-masing penanggung jawab diminta memastikan bidangnya siap sebelum hari pelaksanaan.

Pelantikan Jadi Pintu Masuk Konsolidasi Sarjana Melayu
Bagi Ardi, pembentukan ISMI Kota Jambi mempunyai posisi strategis karena Kota Jambi merupakan pusat pemerintahan sekaligus salah satu pusat pendidikan, perdagangan dan aktivitas ekonomi di Provinsi Jambi.
Banyak sarjana dengan latar belakang keilmuan berbeda tinggal dan beraktivitas di ibu kota provinsi tersebut.
Potensi itu dinilai terlalu besar jika berjalan sendiri-sendiri.
ISMI diharapkan menjadi ruang bertemunya berbagai disiplin ilmu dan profesi.
"Di Kota Jambi ini sangat banyak sarjana dan cendekiawan Melayu dengan kemampuan masing-masing. Ada yang bergerak di kampus, pemerintahan, dunia usaha, hukum, pendidikan, agama dan berbagai bidang lainnya. Kalau kekuatan ini bisa kita satukan, tentu akan memberikan kontribusi yang besar bagi Kota Jambi," kata Ardi.
Karena itu, Ardi ingin organisasi yang dipimpinnya kelak tidak menjadi eksklusif.
ISMI harus mampu membangun komunikasi dengan pemerintah, perguruan tinggi, dunia usaha, organisasi masyarakat, lembaga adat hingga kelompok anak muda.
Menurutnya, persoalan masyarakat semakin kompleks dan tidak mungkin diselesaikan dari satu disiplin ilmu saja.
Dibutuhkan kolaborasi.
Bukan Sekadar Gelar Sarjana
Ada pesan lain yang ingin dibangun ISMI Kota Jambi.
Identitas "sarjana" dalam nama organisasi, kata Ardi, tidak semestinya berhenti pada gelar akademik.
Seorang sarjana harus mampu menggunakan pengetahuan yang dimiliki untuk membaca persoalan masyarakat dan menawarkan jalan keluar.
"Nama kita Ikatan Sarjana Melayu Indonesia. Artinya ada tanggung jawab intelektual sekaligus tanggung jawab sosial. Gelar akademik jangan hanya berada di depan atau belakang nama. Ilmunya harus hadir untuk menjawab persoalan masyarakat," ujar Ardi.
Ia menyebut banyak isu yang bisa menjadi ruang kontribusi para sarjana.
Mulai dari pendidikan dan peningkatan kualitas sumber daya manusia, ekonomi dan UMKM, penguatan budaya Melayu, persoalan sosial, pengembangan generasi muda hingga pemanfaatan teknologi.
Program-program itu nantinya akan dibahas lebih jauh setelah kepengurusan resmi dilantik.
Selaras dengan Gerakan ISMI Provinsi Jambi
Konsolidasi ISMI Kota Jambi berlangsung setelah ISMI Provinsi Jambi di bawah kepemimpinan Hj Ernawati, S.Ag., M.Pd. mulai membangun struktur organisasi hingga tingkat kabupaten/kota.
Sebelumnya, Dr H Ardi telah menerima mandat untuk memimpin pembentukan kepengurusan ISMI di Kota Jambi.
Kini struktur tersebut mulai memasuki tahap pemantapan menuju pelantikan.
Ardi mengatakan komunikasi dengan ISMI Provinsi Jambi akan terus diperkuat agar program di tingkat kota berjalan searah dengan agenda besar organisasi.
Namun ISMI Kota Jambi juga akan merancang program berdasarkan kebutuhan masyarakat di wilayahnya sendiri.
"Koordinasi dengan ISMI Provinsi tentu menjadi bagian penting. Tetapi Kota Jambi juga mempunyai karakter dan persoalan sendiri. Kita ingin program yang dibuat benar-benar menyentuh kebutuhan masyarakat Kota Jambi," katanya.
Setelah Pelantikan, Ardi Ingin Langsung Bergerak
Ardi tak ingin energi pengurus habis hanya untuk mempersiapkan acara pelantikan.
Karena itu, sembari menyiapkan seremoni, pembicaraan mengenai agenda pascapelantikan mulai dibuka.
Ia meminta calon pengurus menyiapkan gagasan berdasarkan bidang masing-masing.
Konsepnya sederhana.
Dilantik.
Konsolidasi.
Lalu bergerak.
"Kita ingin setelah pelantikan tidak ada jeda terlalu lama. Konsolidasi segera, susun program dan kemudian bergerak. Organisasi ini harus hidup di tengah masyarakat, bukan hanya namanya ada dalam susunan kepengurusan," kata Ardi.
Rapat Selasa itu pun menjadi langkah awal.
Belum ada panggung pelantikan.
Belum ada selempang.
Belum ada seremoni.
Para pengurus masih duduk mengatur siapa mengerjakan apa.
Namun bagi Ardi, justru dari meja rapat itulah pekerjaan besar ISMI Kota Jambi dimulai.
Targetnya bukan sekadar membuat pelantikan sukses.
Lebih jauh dari itu: membangun satu rumah besar tempat sarjana Melayu Kota Jambi menyatukan ilmu, gagasan dan pengabdian untuk masyarakat.(*)