Wali Kota Jambi Maulana Lepas Rombongan LAM ke Pulau Jawa, 46 Kelompok Belajar Adat Jadi Modal Pelestarian Melayu Jambi

WIB
Ist


JAMBI – Menjaga adat istiadat di tengah arus modernisasi bukan perkara mudah. Tradisi tidak cukup hanya diwariskan melalui cerita, tetapi harus dipelajari, dipraktikkan, dan dikenalkan kepada generasi muda agar tetap hidup di tengah perubahan zaman.

Upaya itulah yang terus didorong Pemerintah Kota Jambi bersama Lembaga Adat Melayu (LAM) Kota Jambi. Salah satunya melalui studi tiru ke sejumlah daerah di Pulau Jawa untuk menggali pengalaman pengelolaan adat dan kebudayaan, sekaligus memperkuat pelestarian tradisi Melayu Jambi.

Wali Kota Jambi, Dr. dr. H. Maulana, M.K.M., secara resmi melepas rombongan LAM Kota Jambi untuk melaksanakan kunjungan tersebut, Senin (12/10/2026). Cirebon, Yogyakarta, dan Semarang menjadi daerah tujuan, termasuk kunjungan ke Keraton Kanoman Cirebon.

Maulana menilai, pengembangan adat dan budaya harus berjalan seiring dengan pembangunan daerah. Sebab, identitas budaya merupakan bagian penting dalam membangun masyarakat yang tidak hanya maju, tetapi juga mengenal sejarah dan nilai-nilai tradisinya.

“Pagi ini saya melihat langsung perkembangan Lembaga Adat Melayu Kota Jambi dalam mendukung visi Kota Jambi Bahagia Berbudaya. Perkembangannya cukup pesat. Lomba Kampung Adat telah dilaksanakan di 11 kecamatan, sementara kelompok belajar adat yang awalnya hanya tiga kelompok kini berkembang menjadi 46 kelompok,” ujar Maulana.

Perkembangan kelompok belajar adat Melayu Jambi menjadi salah satu perhatian dalam upaya pelestarian budaya di Kota Jambi. Dari semula hanya tiga kelompok, kini jumlahnya telah berkembang menjadi 46 kelompok belajar adat.

Bagi Maulana, pertumbuhan tersebut perlu terus didorong agar pembinaan adat tidak berhenti pada kegiatan seremonial, tetapi menjadi bagian dari kehidupan masyarakat, khususnya di tingkat kelurahan.

Ia berharap seluruh kelurahan di Kota Jambi nantinya memiliki kelompok belajar adat sebagai wadah untuk mengenalkan sejarah, tradisi, tata nilai, dan hukum adat Melayu Jambi kepada generasi penerus.

Keterlibatan anak-anak muda dalam kegiatan adat juga mendapat perhatian khusus. Menurut Maulana, regenerasi menjadi faktor penting agar tradisi Melayu tetap terjaga dan tidak terputus oleh perubahan zaman.

“Ini menjadi kebanggaan bagi kita karena proses regenerasi dan pengembangan adat berjalan dengan baik. Saya mengapresiasi peran Datuk Aswan Hidayat beserta seluruh pengurus LAM yang terus berkontribusi dalam menjaga dan mengembangkan adat Melayu di Kota Jambi,” ungkapnya.

Maulana menegaskan, pelestarian adat membutuhkan keterlibatan banyak pihak. Pemerintah daerah, lembaga adat, tokoh masyarakat, serta generasi muda perlu berjalan bersama untuk memastikan warisan budaya tetap dipelajari dan diterapkan.

Studi tiru tersebut diarahkan untuk membuka ruang pertukaran pengalaman dengan daerah yang memiliki sejarah panjang dalam menjaga tradisi dan kelembagaan adat.

Di Cirebon, rombongan dijadwalkan mengunjungi sejumlah situs bersejarah, termasuk Keraton Kanoman, Keraton Kasepuhan, dan kawasan makam Sunan Gunung Jati. Rombongan juga akan menyambangi Yogyakarta dan Semarang untuk memperluas wawasan kebudayaan.

Maulana berharap kunjungan tersebut tidak hanya menjadi perjalanan untuk melihat warisan budaya daerah lain, tetapi juga kesempatan menggali praktik baik yang bisa disesuaikan dengan kebutuhan Kota Jambi.

Menurutnya, pengalaman daerah lain dalam menjaga tradisi kesultanan, merawat situs bersejarah, dan melibatkan masyarakat dapat menjadi referensi untuk memperkuat pengembangan adat Melayu Jambi, termasuk menggali kembali jejak sejarah Kesultanan Jambi.

“Melalui studi tiru ini, kita berharap mendapatkan wawasan baru tentang bagaimana daerah lain menjaga dan mengembangkan kebudayaannya. Pengalaman dan gagasan yang diperoleh nantinya dapat menjadi bahan untuk memperkuat pelestarian adat Melayu di Kota Jambi,” katanya.

Ia juga berpesan agar seluruh rombongan menjaga nama baik Kota Jambi selama perjalanan. Kunjungan tersebut diharapkan menjadi sarana mempererat silaturahmi dengan para tokoh adat, ulama, dan pemangku kebudayaan di daerah tujuan.

Maulana turut mendoakan agar rombongan diberikan kesehatan, keselamatan, dan kelancaran hingga kembali ke Kota Jambi. Ia juga mengajak rombongan mendoakan agar hujan segera turun sehingga masyarakat dapat terbebas dari dampak kabut asap.

“Atas nama Pemerintah Kota Jambi, saya mengucapkan selamat menjalankan studi tiru. Semoga perjalanan ini membawa manfaat, menambah wawasan, dan menghasilkan gagasan yang dapat diterapkan untuk kemajuan adat Melayu di Kota Jambi,” tuturnya.

Sementara itu, Ketua LAM Kota Jambi, Datuk Aswan Hidayat, menyampaikan bahwa studi tiru tersebut juga menjadi bentuk apresiasi kepada pengurus dan tokoh adat tingkat kecamatan yang telah berpartisipasi dalam Lomba Kampung Adat tingkat Kota Jambi.

Menurut Aswan, kegiatan tersebut diharapkan memperluas wawasan para pengurus adat sekaligus memperkuat sinergi antara lembaga adat dan pemerintah daerah dalam menjaga tradisi Melayu Jambi.

Ia mengungkapkan, LAM Kota Jambi menargetkan seluruh 68 kelurahan memiliki kelompok belajar adat hingga akhir 2026.

“Kami berharap hingga akhir tahun ini seluruh 68 kelurahan di Kota Jambi telah memiliki kelompok belajar adat. Kami juga melihat semakin banyak generasi muda yang terlibat dalam kegiatan pembelajaran adat Melayu Jambi,” ujar Aswan.

Rombongan juga membawa profil Kota Jambi dan program pengembangan budaya untuk diperkenalkan kepada pihak kesultanan, keraton, serta tokoh budaya di daerah yang dikunjungi.

“Kami ingin membawa nama baik Kota Jambi, khususnya budaya Melayu, ke Pulau Jawa. Kami juga akan mempelajari berbagai pengalaman pengembangan adat dan kebudayaan di daerah yang dikunjungi. Insyaallah, hal-hal positif yang diperoleh akan kami bawa pulang untuk dipelajari dan diterapkan bersama para datuk di tingkat kecamatan dan kelurahan,” katanya.

Studi tiru tersebut diharapkan menghasilkan gagasan yang dapat ditindaklanjuti, bukan hanya menambah pengetahuan peserta. Pengalaman yang diperoleh akan menjadi bahan pembelajaran bagi pengurus adat dalam memperkuat pembinaan dan pewarisan tradisi di lingkungan masyarakat.

Melalui kolaborasi pemerintah daerah dan LAM, pelestarian adat Melayu Jambi diharapkan semakin berkembang, dengan generasi muda sebagai bagian penting dari keberlanjutannya. Dengan demikian, identitas budaya Kota Jambi tetap terjaga sekaligus mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman.(*)

BeritaSatu Network