JAMBI – Pelaksanaan Musabaqah Tilawatil Qur’an dan Hadits (MTQH) ke-55 Tingkat Provinsi Jambi tidak hanya menjadi ruang syiar Islam. Pemerintah Kota Jambi juga memanfaatkan momentum tersebut untuk menggerakkan ekonomi masyarakat melalui bazar dan pameran produk unggulan daerah.
Sebanyak 162 tenant ambil bagian dalam kegiatan yang dipusatkan di kawasan Kantor Wali Kota Jambi. Produk dari 11 kabupaten/kota se-Provinsi Jambi ditampilkan, mulai dari kuliner, kerajinan, wastra, busana muslim hingga berbagai produk kreatif masyarakat.
Ketua Dekranasda Kota Jambi Nadiyah Maulana mengatakan penyelenggaraan event berskala besar harus memiliki dampak ekonomi yang dapat dirasakan masyarakat, terutama pelaku UMKM.
“Menjadi tuan rumah MTQH, kita terus bekerja keras untuk meningkatkan ekonomi. Setiap event harus membawa keberkahan dan peningkatan ekonomi. Para pelaku ekonomi kita bisa membangun jejaring untuk meningkatkan usaha,” ujar Nadiyah saat pembukaan bazar, Minggu (1/11/2026).
Omzet Dilaporkan Rp100 Juta per Hari
Dampak ekonomi mulai terlihat sejak bazar dibuka.
Berdasarkan laporan sementara panitia, transaksi pelaku UMKM disebut telah mencapai sekitar Rp100 juta per hari.
Angka tersebut masih bersifat laporan selama pelaksanaan kegiatan dan berpotensi berubah mengikuti jumlah pengunjung serta transaksi hingga bazar berakhir.
Nadiyah menilai capaian itu menunjukkan bahwa agenda besar dapat menjadi ruang pemasaran sekaligus memperluas jaringan usaha bagi pelaku ekonomi lokal.
“Pemerintah sudah memberikan fasilitas kepada masyarakat untuk mendapatkan multiplier effect dari penyelenggaraan MTQH. Para pelaku usaha bisa memanfaatkan momentum ini untuk meningkatkan transaksi ekonomi,” katanya.
Dua Area Bazar Disiapkan
Pameran dan bazar ditempatkan di dua lokasi.
Area parkir Kantor Wali Kota Jambi digunakan untuk pameran Dekranasda Provinsi Jambi serta Dekranasda dari kabupaten/kota.
Sementara area jalan di depan Kantor Wali Kota Jambi diisi para pelaku UMKM Kota Jambi.
Pelaksana Tugas Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kota Jambi Feriadi mengatakan pameran Dekranasda berlangsung selama tujuh hari, mulai 1 hingga 7 November 2026.
Adapun bazar UMKM telah beroperasi sejak 29 Oktober dan dijadwalkan berlangsung selama 10 hari.
“Tempatnya ada dua lokasi. Pertama untuk kabupaten dan kota di halaman parkir Kantor Wali Kota Jambi, kemudian yang kedua berada di area jalan depan Kantor Wali Kota Jambi. Semuanya kurang lebih 162 tenant,” ujar Feriadi.
Produk Lokal Didorong Perluas Pasar
Kehadiran peserta MTQH, pendamping, tamu daerah serta masyarakat dinilai membuka pasar yang lebih luas bagi UMKM.
Tidak hanya transaksi langsung.
Pelaku usaha juga memiliki kesempatan memperkenalkan produk kepada pengunjung dari daerah lain.
Bagi Dekranasda Kota Jambi, pola seperti ini penting untuk meningkatkan daya jangkau produk lokal.
Nadiyah mengajak masyarakat mendatangi bazar dan membeli berbagai produk yang ditawarkan, mulai dari wastra, kriya hingga makanan khas.
Menurutnya, Kota Jambi sebagai kota perdagangan dan jasa perlu memanfaatkan setiap kunjungan orang dari luar daerah sebagai peluang ekonomi.
Ekonomi Sempat Terdampak Kabut Asap
Feriadi mengatakan perputaran ekonomi melalui bazar juga menjadi momentum setelah aktivitas masyarakat sempat terdampak kondisi kabut asap.
“Alhamdulillah, dari hari pertama angkanya mencapai sekitar Rp100 juta per hari. Setelah kurang lebih dua bulan kita diliputi kabut asap dan kondisi ekonomi masyarakat kurang baik, Alhamdulillah dengan acara ini ekonomi masyarakat kita kembali bangkit,” ungkapnya.
Karena itu, Pemkot Jambi berharap keramaian MTQH dapat memberikan efek berantai pada sektor lain.
Bukan hanya UMKM yang berjualan di lokasi kegiatan, tetapi juga rumah makan, transportasi, perhotelan, jasa dan sektor perdagangan lainnya.
Hesnidar Ajak UMKM Berikan Pelayanan Terbaik
Ketua Dekranasda Provinsi Jambi Hesnidar yang membuka bazar mengapresiasi keterlibatan pelaku UMKM dan perajin dari seluruh kabupaten/kota.
Ia menilai MTQH menjadi kesempatan strategis untuk memperkenalkan produk daerah sekaligus meningkatkan pendapatan masyarakat.
“Para UMKM berdaganglah dengan membawa berkah. Layani pengunjung dengan ramah, berikan senyum dan harga terbaik, sehingga berkah untuk keluarga dan berkah untuk pelaksanaan MTQH Provinsi Jambi di Kota Jambi,” pesan Hesnidar.
Ia juga menekankan perlunya kolaborasi antara Dekranasda, pemerintah daerah, dinas terkait dan pelaku usaha agar pemberdayaan ekonomi tidak berhenti setelah event selesai.
Kota Jambi Masih Punya Sejumlah Agenda Besar
Nadiyah mengatakan peluang ekonomi dari penyelenggaraan event tidak berhenti pada MTQH.
Kota Jambi masih dijadwalkan menjadi tuan rumah sejumlah agenda berskala besar, di antaranya Forum Smart City Nasional, Healthy City Summit, serta Rapat Kerja Nasional Ikatan Dokter Indonesia.
Menurutnya, setiap agenda harus dirancang agar memberikan efek ekonomi bagi masyarakat.
“Setiap event harus dimanfaatkan sebaik-baiknya oleh para pelaku ekonomi sehingga menjadi multiplier effect dari event itu sendiri, termasuk dalam pelaksanaan MTQH ini,” tegasnya.
Keberhasilan Event Juga Diukur dari Dampaknya
MTQH ke-55 akhirnya tidak hanya mempertemukan para peserta dari seluruh kabupaten dan kota dalam kompetisi keagamaan.
Di sekitar lokasi kegiatan, ratusan pelaku usaha juga ikut bertarung menarik perhatian pengunjung.
Bagi Pemerintah Kota Jambi, ukuran kesuksesan event tidak hanya terletak pada kelancaran acara atau banyaknya peserta.
Dampak yang ditinggalkan kepada masyarakat juga menjadi bagian penting.
Dengan 162 tenant dan transaksi sementara yang disebut mencapai sekitar Rp100 juta per hari, MTQH ke-55 kini menjadi salah satu contoh bagaimana agenda keagamaan dapat berjalan beriringan dengan penguatan pasar dan perputaran ekonomi masyarakat. (*)