MENCARI BIBIT UNGGUL MELALUI PROSES BIMBINGAN DI LEMBAGA PENDIDIKAN DAN PERKANTORAN BAIK PEMERINTAH MAUPUN SWASTA

WIB
IST

Oleh:

Thamrin B. Bachri*

PENDAHULUAN

Dalam abad ke-21 ini atau tepatnya dalam memasuki tahun 2026 ini, kita telah mampu mengendalikan banyak segi dari kegiatan kehidupan hanya dengan menekan tombol, memutar knop atau menggunakan mesin-mesin komputer dan bahkan sudah mampu menggunakan tenaga nuklir guna meningkatkan kualitas hidup dan kehidupan manusia. Akan tetapi, di balik kemajuan yang pesat ini kita masih selalu berhadapan dengan persoalan yang berkaitan dengan manusia berikut segala tingkah laku, kekurangan dan kelebihannya, persoalan yang jarang mendapatkan jawaban yang mudah serta pemecahan yang sederhana ataupun cara-cara yang sempurna dalam mengatasinya. Tidak satu penyebabnya dan tidak satu pula jawabannya.

Mengatasi persoalan yang berhubungan dengan manusia seperti yang diuraikan terdahulu bukanlah sepenuhnya dapat diserahkan kepada mesin-mesin komputer yang canggih dan modern, melainkan kematangan dalam berpikir dan ketulusan hati, terutama sekali dalam menghadapi anak didik kita di sekolah atau di rumah maupun bagi karyawan atau pegawai di kantor. Bimbingan dan pengarahan tidaklah selalu cukup, walaupun cara ini selalu dapat diterima, pengetahuan yang dalam dari sisi pembimbing dan rasa ingin tahu persoalan-persoalan yang biasa dihadapi atau yang dibimbing dalam belajar, menyesuaikan tugas-tugas yang diberikan dengan kemampuannya serta membiasakan diri untuk merasa bahagia atas keberhasilannya dan merasa sebaliknya bila mereka mengalami kegagalan.

Kesemuanya ini diperlukan agar terutama sekali mereka yang kurang mampu dalam belajar dapat berfungsi secara efektif baik di sekolah, di tengah-tengah masyarakat ataupun di tempat kelak mereka bekerja. Membimbing mereka yang kurang mampu dalam belajar merupakan tantangan bagi kita di kalangan para guru, orang tua murid, maupun para pimpinan di kantor pemerintah maupun swasta, dan kepada hal inilah kita berpaling. Ide penulisan yang sederhana ini dilatarbelakangi oleh pertimbangan-pertimbangan tersebut di atas dengan satu pegangan "lebih baik ada sesuatu yang kurang sempurna ketimbang tidak ada sama sekali".

ARTI DAN TUJUAN BIMBINGAN

Bimbingan merupakan kegiatan yang bersumber pada kehidupan manusia. Kenyataan menunjukan bahwa manusia di dalam kehidupannya sering menghadapi persoalan-persoalan yang datang silih berganti, persoalan yang satu dapat diatas, persoalan yang lain timbul demikian, ad infinitum. Pada prinsipnya bimbingan itu merupakan pemberian pertolongan, dan pertolongan inilah yang merupakan hal yang mendasar. Tetapi sekalipun bimbingan itu merupakan pertolongan namun tidak semua pertolongan itu merupakan bimbingan. Orang dapat memberikan pertolongan kepada orang yang "jatuh" untuk dibangunkan kembali tapi ini bukanlah merupakan bimbingan. Bimbingan masih memerlukan sifat-sifat lainnya.

Bimbingan merupakan suatu tuntutan atau pertolongan. Hal ini mengandung arti bahwa dalam memberikan bantuan tersebut, bila keadaan menuntut maka menjadi kewajiban bagi para pembimbing untuk memberikan bimbingan secara aktif kepada yang dibimbingnya. Di samping itu, pengertian bimbingan memang memberikan bantuan dan pertolongan sedangkan dalam menentukan arah diserahkan pada yang dimbimbingnya. Keadaan ini yang dikenal dalam dunia pendidikan yakni "Tut Wuri Handayani". Jadi di dalam memberikan bimbingan arahnya diserah kepada yang dibimbingnya, hanya dalam keadaan yang memaksa maka pembimbing harus berperan secara aktif. Pembimbing tidak pada tempatnya membiarkan individu yang dibimbingnya terlantar.

Bimbingan itu dapat diberikan kepada perorangan atau kelompok. Bimbingan dapat diberikan kepada siapa saja tanpa memandang usia, baik anak-anak, remaja ataupun orang dewasa. Tujuan diberikannya bimbingan adalah untuk menghindari kesulitan baik di sekolah, di kantor atau untuk mengatasi kesulitan yang dihadapi perorangan dalam kehidupannya, dengan demikian bimbingan diberikan untuk dapat mencegah agar kesulitan tidak jadi atau jarang terjadi. Ada anggapan yang salah bahwa bidang gerak dari bimbingan itu terbatas dalam lingkungan sekolah. Bidang gerak bimbingan dapat juga dalam masyarakat yang lebih luas, misalnya di kalangan berbagai macam industri, kantor-kantor pemerintah, hotel-hotel, biro-biro perjalanan, bidang militer dan sebagainya.

Sudah barang tentu masing-masing ruang gerak mempunyai corak yang berbeda pula baik jenis maupun macam bidangnya. Sebagai contoh, di sekolah atau lembaga pendidikan lainnya maka titik beratnya bimbingannya terkait dengan masalah pendidikan dan pengajaran. Demikian pula di kalangan industri maka bimbingan terkait dengan persoalan-persoalan yang berhubungan dengan jabatan dan proses produksi.

BIMBINGAN ANAK DIDIK

Tujuan bimbingan di lembaga-lembaga pendidikan baik swasta maupun negeri tidak terlepas dari tujuan pendidikan dan pengajaran pada khususnya dan pendidikan pada umumnya. Tujuan pendidikan dan pengajaran di Indonesia tercantum dalam Undang-Undang No.12 Tahun 1954 dalam Bab II pasal 3 yang berbunyi: "Tujuan pendidikan dan pengajaran ialah membentuk manusia susila yang cakap dan warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab tentang kesejahteraan masyarakat dan tanah air".

Dengan demikian tujuan bimbingan di sekolah lembaga pendidikannya adalah membantu tercapainya tujuan pendidikan dan pengajaran dan membantu individu untuk mencapai kesejahteraan. Tiap aspek kepribadian seseorang menentukan tingkah laku orang tersebut, sehingga usaha bimbingan adalah segala usaha untuk memajukan setiap individu dalam berbagai aspek. Dari uraian terdahulu, maka terlihat jelas bahwa semua guru dan pengajar di suatu sekolah atau lembaga pendidikan lainnya, adalah pembimbing, dan tugas bimbingan itu melekat pada mereka, karena semua anak didiknya memerlukan bimbingan, maka semua usaha pendidikan itu adalah bimbingan, sehingga alat-alat dan teknik mengajar juga harus dipandang sebagai bagian dari ekosistem proses bimbingan.

Anak didik yang mengalami prestasi belajar yang kurang memuaskan merupakan titik berat yang menyangkut masalah bimbingan belajar atau bimbingan yang menyangkut pendidikan. Agar proses bimbingan berhasil dan berjalan lancar di lembaga pendidikan banyak faktor turut menentukan, misalnya tidak jarang bahwa aparatur pendidikan menjadi faktor penghambat proses bimbingan, antara lain misalnya:

  • Sikap pengajar atau direktur yang selalu otokratis dan kurang memberi contoh yang baik;
  • Kurang memahami dan mengerti pengetahuan tentang psikologi umum dan psikologi remaja pada khususnya;
  • Belum menguasai teknik penilaian yang baik;
  • Belum menguasai masalah manajemen atau mungkin saja seseorang sudah menguasai masalah ini akan tetapi dengan maksud-maksud tertentu yang bersangkutan tidak pernah mempraktekannya.

Guna mengatasi masalah tersebut diatas, maka hendaknya sering diadakan penataran (up-grading), lokakarya (workshop), in-service training, juga menghidupkan musyawarah para pengajar dan menggunakan rapat-rapat secara efektif dan produktif serta tidak lupa memperbaiki nasib para guru/pengajar. Faktor lainnya yang dapat mempengaruhi adalah faktor masyarakat, khususnya orang tua murid/wali dari anak didik. Cara yang dapat ditempuh dengan memberikan penerangan-penerangan melalui pertemuan orang tua murid dengan para pengajar/guru. Selanjutnya, tidak boleh dilupakan bahwa berhasil atau tidaknya suatu bimbingan sebagian besar tergantung kepada anak yang dibimbing tersebut pada kesediaan, kesanggupan, kemampuan maksimum dan proses-proses yang terjadi dalam dirinya sendiri.

BIMBINGAN DI PERKANTORAN

Jarang ada orang yang bisa didorong untuk mencapai sesuatu tanpa diberi kesempatan untuk berpartisipasi dalam suatu perencanaan, atau pembuatan keputusan, sesungguhnya ini adalah dasar pelaksanaan proses bimbingan di perkantoran. Pegawai mungkin ingin mengatakan sesuatu mengenai kondisi-kondisi yang mempengaruhinya. Pegawai sebenarnya ingin ditanya bagaimana pendapatnya tentang faktor-faktor yang meliputi pekerjaannya. Dengan cara demikian pegawai merasa bahwa atasannya berkepentingan dan mempunyai perhatian pada pekerjaan yang dilakukannya.

Memberikan bimbingan dengan melakukan pembicaraan-pembicaraan periodik dengan pegawai sangat dianjurkan, dengan jalan demikian pegawai merasa diberi pengenalan, dapat mengemukakan perasaan-perasaannya mengenai aspek-aspek pekerjaanya, dengan demikian akan terjalinlah pengertian yang lebih baik dalam hubungan antara pimpinan dan bawahan. Bimbingan di perkantoran menekankan pengarahan seseorang kepada penglihatan ke dalam diri sendiri dan penggambaran diri sendiri dengan pemberian pertanyaan-pertanyaan dan usul-usul yang dipilih secara teliti. Bimbingan di kantor juga mengusahakan agar seseorang mengetahui apa yang dapat dikerjakannya untuk mengembangkan cara menyelesaikan pekerjaan dengan baik, dengan demikian bimbingan ini dapat juga dianggap sebagai teknik sugestif dan suportif untuk dapat melahirkan motivasi diri pada pegawai yang dibimbing.

Untuk melakukan bimbingan dengan baik, maka perlu dipahami secara jelas mengenai apa yang diinginkan untuk dilaksanakan oleh pegawai tersebut. Dengan demikian dapat diberikan bimbingan ke arah mana pegawai tersebut dapat dinilai kemajuannya, selanjutnya bersikaplah lebih peka terhadap pembawaan, tingkah laku, dan semacamnya yang terdapat pada pegawai. Sebagai pegawai mengandalkan kemampuan fisiknya, yang lainnya mengandalkan kekuatan mentalnya, sedangkan sebagian bersifat sangat terperinci, dan yang lainnya memahami suatu secara luas dan umum. Perbedaan-perbedaan individu inilah hendaknya dijadikan pedoman dalam proses bimbingan. Akhirnya dapat digaris bawahi bahwa suatu proses bimbingan yang baik di bidang industri, hotel, travel biro, kantor-kantor, dan instansi pemerintah dan lain sebagainya dapat memberikan prestasi secara tidak langsung terhadap tercapainya tujuan dari setiap kegiatan yang disebutkan di atas.

MENCARI BIBIT UNGGUL

Dari uraian terdahulu kita sampai pada suatu kesimpulan bahwa melalui suatu proses bimbingan yang berhasil bukannya tidak mungkin kita akan menemukan "bibit unggul" yang dapat memberikan buah yang berguna bagi kita semua. Ada banyak bibit yang tumbuh dalam diri manusia baik pada mereka yang sedang belajar pada suatu lembaga pendidikan maupun pada mereka yang sudah menjadi pegawai atau pun karyawan dan tentunya pada diri kita semua, namun dalam kenyataan dari sekian banyak mereka yang belajar atau dari sekian banyak yang sudah menjadi pegawai atau karyawan tidak semuanya dapat berprestasi, tidak semua bibit dapat kesempatan untuk tumbuh.

Tumbuh atau tidaknya bibit itu tergantung pada keadaan, apakah bibit itu ditemukan, berkesempatan atau mendapat peluang serta mendapat sokongan sepenuhnya pada lingkungan mana bibit tadi akan tumbuh. Adalah tugas kita semua untuk menemukan bibit-bibit unggul tadi, tentu saja kita harus memberi kesempatan serta mempunyai kerelaan untuk mau saling menutupi segala kekurangan. Kita harus punya perhatian yang cukup besar, dengan menemukan bibit ini berarti kita mengantarkan mereka ke arah pencapaian prestasi dan mendapatkan kesempatan untuk menumbuhkannya.

Kita harus belajar untuk ikut berbahagia atas keberhasilan orang-orang di sekitar kita. Tugas kita memang demikian, karena itu seyogyanyalah kita semua mengangguk tanda setuju bila orang mengatakan bahwa kita ini adalah harta yang paling bernilai dalam suatu wadah pendidikan.

Tentang Penulis:

Thamrin B. Bachri adalah alumni University of Wisconsin-Stout, USA (1990) dari Department of Habitational Resources, Hospitality and Tourism. Beliau merupakan Senior Advisor Indonesia Tourism Support dan mantan pejabat di Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata (Deputi Peningkatan Kapasitas & Kerjasama Luar Negeri 2001-2003 serta Dirjen Pemasaran Pariwisata 2003-2008). Beliau juga alumni Lemhannas KSA-X 2002.+3

Sebagai staf pengajar Pasca Sarjana Pariwisata STP Bandung dan penggagas buku Responsible Tourism Marketing, beliau dikenal sangat peduli terhadap pembangunan pariwisata yang berkelanjutan. Beliau memiliki prinsip bahwa kombinasi materialism dan short-termism akan menghancurkan pariwisata. Saat ini, beliau berdomisili di Jambi dan mengabdi sebagai Tenaga Ahli Gubernur (TAG) Jambi Bidang Pariwisata.

BeritaSatu Network