Jakarta - Eskalasi konflik di Timur Tengah tak sekadar memicu ketegangan geopolitik, namun mulai membawa ancaman nyata bagi ekonomi dunia, termasuk Asia dan Indonesia. Jika perang antara Israel-Amerika Serikat dan Iran semakin meluas, dunia terancam menghadapi global catastrophe atau bencana global kelangkaan energi.
Kondisi ini diperparah dengan pernyataan kelompok Houthi Yaman yang siap membantu Iran.
Jika Iran dan Houthi memblokir dua selat strategis sekaligus—Selat Hormuz dan Selat Bab El-Mandeb—pasokan energi global bisa anjlok hingga 35%. Hal ini tentu akan membuat rantai pasok dunia lumpuh dan melambungkan biaya ekspor-impor, termasuk bagi Indonesia.
Kepanikan soal energi bahkan sudah mulai terjadi di beberapa negara tetangga. Filipina telah mendeklarasikan darurat energi nasional, maskapai Vietnam terpaksa memangkas jadwal penerbangan demi menghemat avtur, hingga ratusan SPBU di Australia dilaporkan kehabisan stok BBM.
Lantas, bagaimana dengan Indonesia? Meski harga BBM saat ini masih tampak stabil, ada harga mahal yang harus dibayar. Beban subsidi energi APBN bisa jebol. Sebagai hitungan kasar, jika harga minyak dunia terus meroket di atas USD 100 per barel, beban subsidi APBN bisa membengkak drastis hingga ratusan triliun rupiah [10:45].
Jika pemerintah tak sanggup lagi menahan subsidi, lonjakan harga BBM dan inflasi yang tak terkendali di dalam negeri menjadi hal yang tak terhindarkan. Apalagi, pada 2026 Indonesia juga dihadapkan pada rekor utang jatuh tempo terbesar sepanjang sejarah yang mencapai lebih dari Rp 800 triliun.
Merespons ancaman krisis di depan mata, masyarakat diimbau tidak panik, melainkan melakukan persiapan layaknya sedia payung sebelum hujan lebat.
Berikut 4 langkah konkret yang bisa mulai dilakukan dari sekarang:
- Diversifikasi Aset: Jangan simpan seluruh kekayaan dalam bentuk Rupiah. Pecah aset Anda ke dalam mata uang asing (seperti USD, SGD, atau AUD) serta instrumen lain seperti saham dan obligasi untuk melindungi nilai kekayaan jika nilai tukar Rupiah anjlok.
- Siapkan Kendaraan Listrik: Untuk mengantisipasi kelangkaan BBM atau antrean panjang di SPBU, memiliki setidaknya satu motor atau mobil listrik di rumah bisa menjadi solusi mobilitas harian.
- Beralih ke Kompor Listrik atau Stok LPG Secukupnya: Isu penipisan stok LPG sudah mulai terasa. Sebagai antisipasi, siapkan stok LPG untuk kebutuhan 1-2 minggu (ingat: jangan ditimbun!) atau beralihlah menggunakan kompor listrik.
- Stok Sembako Secukupnya: Siapkan bahan kebutuhan pokok seperti beras, minyak goreng, gula, dan garam untuk cadangan 1-2 minggu ke depan. Hal ini penting agar keluarga tetap tenang jika sewaktu-waktu terjadi panic buying atau gangguan sosial.
"Sama seperti kalau hujan badai sudah datang, teman-teman di dalam rumah nggak ke mana-mana, tinggal bertahan saja. Kalau badai sudah selesai, kembali beraktivitas bisnis seperti biasa dan teman-teman akan survive," pesan kreator AG Invest dalam penutupnya.(*)