Jambi Tidak Tertinggal, Ia Sedang Bertransformasi

WIB
IST

Haryadi Prof. Dr. H. Haryadi, S.E., M.M.S.

Pakar Ekonomi Jambi 

Perekonomian Provinsi Jambi merupakan topik yang menarik untuk didiskusikan, terutama dalam konteks dinamika pertumbuhan ekonomi daerah dan keterkaitannya dengan pertumbuhan nasional. Beragam pandangan yang berkembang menunjukkan pentingnya melihat kondisi ekonomi Jambi secara lebih utuh dan berimbang.

Pandangan yang melihat perekonomian Jambi sulit mengejar pertumbuhan ekonomi nasional boleh-boleh saja, dan dalam batas tertentu memiliki dasar jika dilihat secara parsial. Namun, untuk memperoleh pemahaman yang lebih utuh, kondisi tersebut perlu dilihat secara berimbang dan berkeadilan, dengan mempertimbangkan struktur ekonomi, dinamika sektoral, serta arah pembangunan yang sedang berlangsung.

Data menunjukkan bahwa pada tahun 2025 ekonomi Jambi tumbuh sebesar 4,93 persen, sedikit di bawah rata-rata nasional. Namun demikian, perbedaan ini relatif tipis dan tetap menunjukkan bahwa perekonomian daerah berada dalam kondisi stabil dan bertumbuh. Dalam konteks ekonomi regional, variasi pertumbuhan antar wilayah merupakan hal yang lazim, terutama bagi daerah dengan karakteristik berbasis sumber daya alam.

Jika ditelaah lebih dalam, kinerja ekonomi Jambi justru memperlihatkan dinamika yang cukup positif. Sektor pertanian tumbuh sekitar 5,49 persen, pertambangan 5,98 persen, perdagangan 7,76 persen, dan sektor transportasi serta pergudangan mencapai 8,88 persen. Perkembangan ini mengindikasikan bahwa ekonomi Jambi tidak stagnan, melainkan berkembang secara dinamis lintas sektor.

Di sisi lain, indikator kesejahteraan masyarakat juga menunjukkan arah yang membaik. Tingkat kemiskinan menurun hingga 6,89 persen pada September 2025, diikuti dengan tren penurunan pengangguran dan ketimpangan yang relatif terjaga. Fakta ini menegaskan bahwa pertumbuhan ekonomi Jambi tidak hanya terjadi secara agregat, tetapi juga berdampak nyata pada kesejahteraan masyarakat.

Memang tidak dapat dipungkiri bahwa ekonomi Jambi masih memiliki ketergantungan yang cukup besar pada sektor primer. Namun dalam kerangka teori pembangunan ekonomi, kondisi tersebut bukanlah sesuatu yang sepenuhnya negatif. Banyak daerah berkembang memulai transformasi ekonominya dari sektor berbasis sumber daya sebelum secara bertahap bergerak menuju industri pengolahan dan sektor jasa modern. Dengan demikian, tantangan utama bukan sekadar mengurangi peran sektor primer, melainkan meningkatkan nilai tambah melalui hilirisasi secara bertahap dan berkelanjutan.

Dalam konteks regional, posisi Jambi justru menunjukkan kinerja yang kompetitif dan tidak dapat dikategorikan sebagai daerah tertinggal. Data menunjukkan bahwa Jambi menempati peringkat keempat pertumbuhan ekonomi di Pulau Sumatera serta memberikan kontribusi sekitar 6,66 persen terhadap perekonomian Sumatera. Posisi ini menegaskan bahwa Jambi berada dalam kelompok daerah dengan kinerja ekonomi yang relatif baik di kawasan regional, bukan berada di lapisan bawah.

Lebih jauh, optimisme terhadap masa depan ekonomi Jambi memiliki dasar yang kuat. Mulai beroperasinya jalan tol akan meningkatkan konektivitas dan efisiensi logistik. Pembangunan pelabuhan yang terus menunjukkan progres, termasuk rencana pengembangan Pelabuhan Ujung Jabung, akan memperkuat akses perdagangan dan membuka peluang terbentuknya pusat pertumbuhan baru. Di saat yang sama, rencana realisasi investasi pada sektor hilirisasi, terutama pada komoditas unggulan daerah, menunjukkan arah transformasi menuju ekonomi berbasis nilai tambah.

Dalam perspektif ekonomi regional, kombinasi antara penguatan infrastruktur, konektivitas, dan investasi produktif merupakan fondasi penting bagi percepatan pertumbuhan. Oleh karena itu, dinamika yang saat ini terjadi di Jambi dapat dipahami sebagai fase awal dari akselerasi ekonomi yang lebih kuat di masa mendatang.

Tentu saja, seluruh potensi tersebut tidak akan terwujud secara otomatis. Diperlukan komitmen dan kolaborasi yang kuat, terutama dari pemerintah daerah, untuk memastikan arah pembangunan berjalan secara konsisten. Pendekatan pentahelix—yang melibatkan pemerintah, dunia usaha, akademisi, masyarakat, dan media—menjadi kunci dalam mempercepat transformasi ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan.

Pada akhirnya, ekonomi bukanlah potret statis, melainkan proses yang terus bergerak. Jambi hari ini bukanlah daerah yang tertinggal, melainkan daerah yang sedang menapaki fase penting transformasi ekonominya. Fondasi telah terbentuk, arah telah jelas, dan momentum sedang berlangsung.

Karena itu, pertanyaan yang lebih relevan bukan lagi apakah Jambi mampu mengejar pertumbuhan nasional, melainkan seberapa cepat Jambi akan melampauinya.

BeritaSatu Network