Oleh: Thamrin B. Bachri
Pendahuluan
Kecenderungan untuk melakukan perjalanan atau propensity to travel adalah ukuran atau tingkat kemungkinan seseorang maupun sekelompok orang dalam suatu populasi untuk melakukan perjalanan wisata atau bepergian. Hal ini menggambarkan minat, kesiapan, dan motivasi orang untuk menjadi wisatawan.
Aspek utama propensity to travel adalah keinginan dan pilihan pada seberapa besar minat orang untuk menjelajahi tempat baru, berlibur, atau keluar dari rutinitas harian.
Aspek kedua adalah kemampuan. Kecenderungan ini sangat dipengaruhi oleh faktor sosio-demografis, seperti tingkat pendapatan, waktu luang, usia, dan harga.
Dalam industri pariwisata, konsep propensity to travel ini sering dihitung menggunakan data makro untuk mengukur potensi pasar. Pertama, Gross Travel Propensity, yaitu persentase dari total penduduk suatu wilayah yang melakukan paling tidak satu kali perjalanan wisata, biasanya dalam satu tahun.
Kedua, Net Travel Propensity, yaitu jumlah orang dari jumlah penduduk suatu daerah dengan mengabaikan fakta bahwa satu orang mungkin melakukan perjalanan berkali-kali.
Tingkat propensity to travel yang tinggi pada suatu daerah menunjukkan daya beli masyarakat dan kesadaran akan pentingnya rekreasi.
Harga berpengaruh signifikan serta berbanding terbalik terhadap propensity to travel. Artinya, semakin tinggi dan melambung biaya perjalanan, misalnya tiket pesawat, hotel dan restoran, sarana akomodasi lainnya, serta transportasi darat dan laut, maka semakin rendah minat atau frekuensi orang untuk melakukan perjalanan wisata.
Memang, harga akan membentuk perilaku berwisata seseorang atau sekelompok orang. Misalnya, melambungnya harga tiket pesawat atau bahan bakar secara langsung akan menurunkan minat berwisata. Wisatawan menjadi lebih selektif atau bahkan menunda perjalanan wisatanya jika terjadi kenaikan harga.
Jika harga ke destinasi premium seperti Bali, Komodo, atau Danau Toba naik, propensity to travel tidak selalu turun secara absolut, tetapi sering kali bergeser. Wisatawan cenderung mencari destinasi alternatif yang terjangkau atau budget friendly destination.
Pelemahan nilai rupiah membuat wisata ke luar negeri menjadi sangat mahal. Hal ini memicu tren staycation atau berwisata domestik yang lebih hemat, yakni perjalanan yang ramah dompet. Sebaliknya, bagi wisatawan mancanegara, kondisi ini meningkatkan kecenderungan untuk datang ke Indonesia.
Pariwisata Mikro (Micro Tourism) Pilihan Cerdas
Menghadapi situasi melambungnya biaya transportasi dan akomodasi, serta kebutuhan untuk hemat waktu dan mengurangi stres perjalanan jarak jauh, diperlukan solusi untuk mengatasi hal tersebut.
Karena itu, pariwisata mikro atau micro tourism dan hyper-local micro tourism atau pariwisata mikro super-lokal adalah solusi yang cerdas, atau sering disebut budget friendly tourism atau pariwisata ramah dompet.
Micro tourism adalah gaya berwisata dengan fokus mengeksplorasi destinasi di sekitar provinsi, di dalam provinsi, maupun kabupaten/kota.
Sedangkan hyper-local micro tourism atau wisata mikro super-lokal merujuk pada tren liburan dengan skala kecil dan jarak sangat dekat, seperti menjelajahi lingkungan di sekitar kita. Biasanya, destinasi yang dikunjungi dapat ditempuh dalam waktu singkat.
Kegiatan ini berfokus pada eksplorasi budaya, kafe tersembunyi atau hidden gem, taman kota, atau tempat wisata terdekat tanpa perlu repot mengambil cuti panjang atau naik pesawat.
Pariwisata mikro dan pariwisata mikro super-lokal sangat diperlukan karena menjadi solusi liburan yang hemat biaya dan ramah di dompet atau budget friendly tourism.
Konsep ini memangkas pengeluaran transportasi jarak jauh, mengurangi risiko di tengah ketidakpastian, serta yang cukup penting adalah memberdayakan ekonomi pelaku usaha lokal atau UMKM.
Tren wisata jarak dekat dan berjangka waktu singkat ini kian populer karena berbagai alasan. Di antaranya ramah anggaran atau budget friendly, praktis dan fleksibel, perjalanan skala kecil dan jarak dekat, lebih mengenal daerah sendiri, serta mendukung ekonomi lokal atau UMKM lewat pengelolaan homestay, kuliner, batik, dan kerajinan tangan lainnya.
Selanjutnya, dari hasil survei jajak pendapat Litbang Kompas periode 10–13 November 2025, pilihan berlibur jarak dekat atau micro tourism cukup menguat di kalangan responden jajak pendapat Kompas yang menyatakan memilih berlibur jarak dekat.
Langkah-Langkah Strategis Mendorong Pariwisata Mikro (Micro Tourism)
Dinas Pariwisata dapat meningkatkan dan mendorong pariwisata jarak dekat dan durasi singkat atau micro tourism dengan bekerja sama bersama ASITA, ASTINDO, PHRI, IHSA, dan lainnya.
Kerja sama tersebut dapat diarahkan untuk membuat paket-paket wisata tematik lokal, seperti sejarah, budaya, kuliner, agrowisata, maupun ekowisata. Selain itu, pemerintah juga dapat memberikan insentif dan pelatihan bagi UMKM maupun pemandu wisata bersama instansi terkait.
Dinas Pariwisata juga perlu mengintensifkan kampanye promosi digital melalui Kementerian Pariwisata dan mendorong pelaku usaha pariwisata untuk melakukan community to community marketing atau C2C agar dapat mengatasi biaya promosi pemerintah yang mungkin tidak memadai.
Selanjutnya, karena micro tourism atau pariwisata mikro memiliki karakteristik skala kecil dan lokal, biasanya destinasi yang dikunjungi bukan tempat wisata yang sangat terkenal dan luas. Bisa saja hanya desa kecil atau lingkungan kota yang belum banyak dieksplorasi oleh wisatawan.
Perjalanannya pun biasanya hanya sehari penuh atau day trip, atau short getaway berupa liburan singkat yang biasanya dilakukan pada akhir pekan, bukan liburan panjang berminggu-minggu.
Pariwisata mikro biasanya fokus pada pengalaman otentik. Misalnya, berinteraksi langsung dengan masyarakat lokal atau people to people contact tourism, mencoba makanan tradisional, belajar membatik, atau menjelajahi alam yang belum terjamah.
Karena jarak tempuh yang relatif pendek dan fokus pada komunitas, dampaknya terhadap lingkungan cenderung lebih kecil. Selain itu, uang yang dibelanjakan wisatawan lebih banyak berputar di komunitas lokal dan membantu usaha kecil dan menengah atau UMKM setempat.
Pariwisata mikro ini biasanya memiliki perencanaan perjalanan yang lebih mudah dan bisa dilakukan secara spontan.
Berikut beberapa contoh aktivitas yang termasuk dalam kategori micro tourism atau pariwisata mikro:
- Bersepeda, mendaki, berlari, atau berjalan santai seperti fun run dan fun walk di Taman Nasional Kerinci Seblat.
- Melakukan kegiatan wisata aktif maupun pasif di UNESCO Global Geopark Merangin, seperti arung jeram atau berjalan santai.
- Melakukan penelusuran gua-gua di Sarolangun dan Bangko, serta mengunjungi konservasi gajah.
- Bersepeda di Kota Jambi, seperti di kawasan Jembatan Gentala Arasy, serta di Muaro Jambi, terutama di sekitar kawasan Candi Muaro Jambi, dan banyak tempat lainnya.
- Mengunjungi pasar tradisional yang ada di Provinsi Jambi dan hampir semua kabupaten, atau mengunjungi sentra di desa tetangga untuk melihat langsung proses pembuatannya.
- Mencoba kuliner khas di sebuah warung legendaris yang hanya diketahui oleh penduduk lokal di pinggiran Kota Jambi atau kabupaten lainnya.
- Menginap semalam di homestay atau glamping di area pedesaan yang belum banyak dikunjungi.
- Belajar membuat batik atau anyaman langsung dari pengrajin di komunitas tertentu.
- Staycation di hotel di kota sendiri, tetapi dengan menjelajahi area sekitarnya yang belum pernah didatangi.
- Mengunjungi museum kecil atau galeri seni komunitas di lingkungan terdekat.
Tentu masih banyak lagi yang bisa dilakukan. Karena itu, Dinas Pariwisata dan instansi terkait lainnya seyogianya bersama pelaku industri pariwisata dan asosiasi pariwisata seperti ASITA, PHRI, ASTINDO, IHSA, HPI, dan lainnya secara terencana berkolaborasi mendorong serta memfasilitasi pariwisata mikro atau micro tourism. Karena itu, peran mereka menjadi penting.
Kegiatan untuk meningkatkan pengalaman wisatawan inilah yang disebut sebagai tourism down-streaming atau hilirisasi pariwisata.
Dalam rangka hilirisasi pariwisata inilah perlu dilakukan pengembangan produk dan paket-paket pariwisata terintegrasi untuk meningkatkan pengalaman dan aktivitas wisatawan sebagai output dari hilirisasi pariwisata tersebut.
Contohnya dengan mengembangkan desa wisata sebagai lokasi staycation atau healing yang ramah dompet atau budget friendly destination. Dengan demikian, pariwisata mikro menjadi solusi berwisata hemat ongkos.
Selanjutnya, pemerintah dan pelaku pariwisata dapat membuat kalender event rutin, misalnya Car Free Day tematik, pameran seni, pameran kuliner, dan kegiatan lainnya untuk memberikan alasan bagi warga lokal agar terus mengeksplorasi kotanya sendiri.
Jangan lupa pula memberikan pelatihan kepada pelaku ekonomi kreatif dan UMKM agar bisa mengemas cinderamata atau produk kuliner yang menarik untuk wisatawan domestik pariwisata mikro.
Di samping itu, penting pula untuk memperbaiki aksesibilitas, fasilitas umum, dan rambu-rambu penunjuk jalan menuju destinasi-destinasi berskala mikro yang ada di lingkungan sekitar.
Kemudian, kampanye dan promosi hendaknya dilakukan secara terfokus dengan bekerja sama bersama influencer lokal untuk mempromosikan destinasi tersembunyi atau hidden gems yang ada di dalam kota atau wilayah terdekat.
Media sosial juga perlu dimanfaatkan untuk membagikan rute perjalanan atau itinerary singkat selama akhir pekan, misalnya tur sejarah, kuliner, atau wisata di wilayah pinggiran kota.
Akhirnya, pariwisata mikro atau micro tourism adalah cara baru untuk menikmati waktu luang di destinasi yang lebih dekat dan personal, sederhana, serta ramah dompet atau budget friendly.
Pariwisata mikro mengajak masyarakat mengeksplorasi lingkungan tempat tinggal sendiri, baik provinsi, kabupaten, maupun kecamatan.
Pariwisata mikro ini juga turut mendukung ekonomi lokal dan UMKM. Karena jarak tempuh yang lebih pendek dan fokus pada komunitas, dampaknya terhadap lingkungan relatif lebih kecil.
Semoga pariwisata mikro atau micro tourism dapat menjadi pilihan yang cerdas di saat harga-harga melambung tinggi.
Tentu saja, dalam situasi apa pun, bersih, teratur, ramah, dan jujur tetap merupakan elemen dasar pariwisata.
IF YOU DO NOTHING YOU WILL GET NOTHING, THE FACT IS SO.