Tebo - Puluhan tenaga kerja outsourcing yang bertugas di Rumah Sakit (RS) Hanafie Bungo menggelar aksi unjuk rasa dan mogok kerja pada Senin (6/4/2026). Massa mendatangi Kantor Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) Tebo untuk menuntut perbaikan kesejahteraan.
Pantauan di lokasi, para pekerja menyuarakan keluhan terkait upah yang dinilai jauh di bawah standar. Salah satu koordinator aksi, Ersa, mengungkapkan bahwa gaji yang mereka terima saat ini hanya sebesar Rp 1,3 juta per bulan.
"Gaji Rp 1,3 juta itu sudah tidak mampu memenuhi kebutuhan sehari-hari. Itu pun tidak bisa ditarik semua karena ada potongan," ujar Ersa di lokasi aksi.
Ersa menambahkan, ketidakadilan semakin terasa karena sistem kerja yang dinilai memberatkan. Ia mengklaim waktu lembur pekerja sering tidak dibayar, namun jika pekerja terlambat, gaji mereka langsung dipotong.
Para pekerja yang telah mengabdi selama bertahun-tahun—bahkan ada yang mencapai belasan tahun—ini mengajukan dua tuntutan utama kepada pihak manajemen dan pemerintah:
- Kenaikan Gaji: Mengingat upah saat ini masih jauh di bawah Upah Minimum Regional (UMR).
- Pengangkatan Status: Jika kenaikan gaji tidak dipenuhi, mereka meminta agar diakomodir sebagai tenaga honorer resmi di rumah sakit.
"Saya sudah 4 tahun, yang lain banyak yang belasan tahun tapi gaji tidak naik-naik. Kami minta dijadikan honorer Rumah Sakit Umum," tegas Ersa.
Menanggapi aksi tersebut, Pelaksana Harian (Plh) Kadis Tenaga Kerja dan Transmigrasi Tebo, Armi, menyatakan telah menampung seluruh aspirasi pekerja. Pihaknya berjanji akan segera memanggil pihak-pihak terkait yang memiliki wewenang untuk menyelesaikan sengketa ini.
"Apa yang disampaikan hari ini sudah kami ambil kesimpulan. Besok kami akan panggil pihak-pihak yang menjadi tuntutan para pekerja untuk mencari solusi," kata Armi.
Aksi berjalan dengan tertib, namun para pekerja mengancam akan terus memperjuangkan hak mereka jika tidak ada perubahan signifikan terkait kebijakan pengupahan di RS Hanafie Bungo.(*)