TAG Jambi-BPS Perkuat Sinergi Pengambilan Kebijakan

WIB
ist

Jambi - Tim Tenaga Ahli Gubernur (TAG) Jambi menggelar Focus Group Discussion (FGD) bersama Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Jambi, Selasa siang. Pertemuan strategis ini menekankan pentingnya akurasi data sebagai dasar pengambilan kebijakan pemerintah daerah.

Ketua TAG Jambi, Syahrasaddin, menegaskan bahwa dalam menghadapi dinamika perubahan yang cepat dan sulit diprediksi, data menjadi instrumen paling vital.

Ia menyebut data adalah "jantung" bagi setiap langkah intelektual pemerintah.

"Data adalah jantung intelektual. Pengambilan keputusan harus by data. Apalagi kita menghadapi perubahan yang begitu cepat, tidak dapat diprediksi, dan sangat dinamis," ujar Syahrasaddin dalam FGD tersebut, Selasa (14/4/2026).

Mantan Sekda Provinsi Jambi itu menambahkan, sinergi dengan BPS merupakan langkah krusial bagi TAG dalam menjalankan fungsi sebagai tim penasihat gubernur. Hal ini dilakukan demi percepatan visi dan misi pembangunan Provinsi Jambi.

Dalam kesempatan yang sama, Kepala BPS Provinsi Jambi Aidil Adha memaparkan kondisi terkini Jambi melalui indikator makro. Beberapa poin utama yang menjadi sorotan meliputi Pertumbuhan Ekonomi.

Ia menjelaskan Tren pertumbuhan ekonomi Jambi yang terus dipantau di tengah fluktuasi harga komoditas global.

Kepala BPS juga paparkan Kinerja Ekspor-Impor. Analisis mendalam mengenai komoditas unggulan Jambi seperti sawit dan karet yang masih menjadi penopang neraca perdagangan.

Kemudian Paparan mengenai angka inflasi, tingkat pengangguran, hingga indeks kedalaman kemiskinan yang memerlukan intervensi kebijakan tepat sasaran.

Dalam paparan yang disampaikan Kepala BPS Provinsi Jambi, Aidil Adha, terungkap sejumlah indikator makro mulai dari pertumbuhan ekonomi hingga kinerja ekspor-impor. Namun, FGD ini menghasilkan catatan kritis mengenai arah pembangunan Jambi ke depan.

Salah satu poin krusial yang mengemuka adalah diagnosis bahwa Jambi sebenarnya belum gagal tumbuh. Masalah utamanya adalah Jambi tumbuh tanpa transformasi struktural. Ekonomi Jambi dinilai masih terjebak dalam kondisi “growth without industrial deepening”.

Hal ini disebabkan rantai nilai ekonomi Jambi yang selama ini berhenti di sektor primer (bahan mentah). Persoalannya bukan karena minimnya potensi industri, melainkan karena belum maksimalnya pengolahan nilai tambah di dalam daerah.

Pertemuan tersebut menyepakati sebuah closing statement strategis untuk arah kebijakan Gubernur ke depan. Jambi harus mampu menggeser struktur ekonominya dari sekadar “producer of raw commodities” (produsen komoditas mentah) menjadi “processor of value-added products” (pengolah produk bernilai tambah).

Jika transformasi dari hulu ke hilir ini berhasil dilakukan, kontribusi ekonomi Jambi di level regional Sumatera diprediksi akan meningkat signifikan dalam kurun waktu 10 hingga 15 tahun ke depan.

FGD ini dihadiri oleh jajaran elit Tenaga Ahli Gubernur Jambi, di antaranya Ketua TAG Syahrasaddin. Ketua Harian Dr. Ridwansyah.

Anggota Prof Haryadi, Prof. Suandi, Prof. Sukendro, Dr. Agus, Thamrin Bahri MBA, Arpani MSi, Yulfi Al Fikri MAP dan Muawwin MM.

Hadir pula Koordinator Sekretariat TAG Jambi, Dr. Fahmi Rasid dan tim Bappeda Jambi.

Pertemuan ini diharapkan menjadi jembatan bagi Pemerintah Provinsi Jambi untuk menghasilkan kebijakan yang lebih presisi, transparan, dan berdampak langsung pada kesejahteraan masyarakat berdasarkan basis data yang valid dari BPS.(*)

Galeri foto :

BeritaSatu Network