SDM LOW CAPACITY: EFEK LAMBATNYA INOVASI DAN KREATIVITAS PEMBANGUNAN DAERAH

WIB
IST

Oleh: Prof. Mukhtar Latif
(Guru besar UIN STS Jambi)

A. Pendahuluan
Transformasi besar peradaban dunia abad ke-21 telah mengubah paradigma pembangunan global dari ekonomi berbasis sumber daya alam menuju ekonomi berbasis pengetahuan (knowledge-based economy). Dalam paradigma baru tersebut, kualitas sumber daya manusia (SDM) menjadi faktor paling menentukan dalam menciptakan daya saing bangsa, keberlanjutan pembangunan, inovasi teknologi, serta kemajuan sosial ekonomi masyarakat. Negara-negara yang berhasil membangun SDM berkualitas tinggi terbukti mampu menciptakan inovasi, mempercepat pertumbuhan ekonomi, meningkatkan produktivitas nasional, serta membangun tata kelola pemerintahan yang lebih adaptif dan kompetitif.

Perubahan global tersebut menunjukkan bahwa kekuatan utama suatu negara tidak lagi hanya ditentukan oleh kekayaan minyak, gas bumi, tambang, atau luas wilayah geografis, melainkan oleh kemampuan manusia dalam menciptakan ide, pengetahuan, kreativitas, dan inovasi yang berdampak terhadap pembangunan ekonomi dan sosial dalam beragam inovasi dan kreasi industri hilirisasi. Oleh sebab itu, pembangunan manusia modern tidak lagi dipandang hanya program sosial, melainkan investasi strategis jangka panjang bagi keberlanjutan peradaban bangsa.

Dalam perspektif pembangunan kontemporer, SDM berkapasitas tinggi (high capacity human resources) dapat dianalogikan seperti sebuah bola elastis yang di dalamnya dipenuhi gas bertekanan tinggi. Bola tersebut memiliki daya pantul, elastisitas, energi, dan daya dorong yang besar. Ketika ditekan, ia tidak hancur, melainkan memantul kembali dengan energi baru. Analogi tersebut menggambarkan manusia yang memiliki kapasitas tinggi, tidak mudah menyerah terhadap tekanan hidup, memiliki ellans dan etos kerja tinggi, optimisme, daya tahan psikologis, kemampuan adaptasi, serta semangat inovasi yang terus berkembang.

SDM dengan kapasitas tinggi akan selalu mampu menciptakan peluang baru ketika peluang lama tertutup. Mereka tidak bergantung sepenuhnya pada keadaan, tetapi justru menciptakan keadaan baru yang lebih produktif. Ketika ruang gerak terbatas, mereka mencari alternatif lain untuk berkembang. Ketika berada pada kondisi sulit, mereka membangun kreativitas dan inovasi baru. Karakter inilah yang banyak ditemukan pada masyarakat negara maju yang memiliki kualitas human capital tinggi.

Sebaliknya, SDM berkapasitas rendah (low capacity human resources) cenderung mengalami stagnasi berpikir, rendah kreativitas, minim inovasi, lambat merespons perubahan, serta memiliki sensitivitas sosial yang lemah. Akibatnya, pembangunan daerah menjadi lamban, tidak progresif, dan kehilangan daya saing. Fenomena tersebut dalam tulisan ini disebut sebagai slow development, yaitu kondisi pembangunan yang melambar akibat lemahnya kualitas sumber daya manusia.

Amartya Sen menjelaskan bahwa pembangunan sejati bukanlah peningkatan pendapatan ekonomi saja, tetapi perluasan kemampuan manusia (capability expansion) agar manusia memiliki kebebasan untuk berkembang secara optimal. Sementara itu, Gary Becker menegaskan bahwa investasi terbesar suatu bangsa sesungguhnya adalah pembangunan modal manusia melalui pendidikan, kesehatan, keterampilan, dan peningkatan produktivitas masyarakat.

Indonesia mengalami perkembangan cukup signifikan dalam pembangunan manusia selama dua dekade terakhir. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik tahun 2025, Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Indonesia mencapai 75,90 dan masuk kategori High Human Development.⁵ Namun demikian, posisi Indonesia dalam pemeringkatan global pembangunan manusia masih berada pada kelompok menengah atas dan belum mampu bersaing dengan negara-negara berkapasitas SDM tinggi seperti Swiss, Singapura, Finlandia, Jepang, Norwegia, dan Korea Selatan.

Permasalahan kualitas SDM tersebut semakin terlihat kalau dikerucutkan pada level daerah provinsi, kabupaten dan kota.Tantangan serius yang yang dihadapi adalah masih rendahnya rata-rata lama sekolah, tingginya angka kemiskinan, lemahnya inovasi daerah, serta belum optimalnya kualitas kesehatan masyarakat. Berdasarkan data BPS Provinsi Jambi tahun 2025, rata-rata lama sekolah masyarakat Jambi masih berada sekitar 8–9 tahun atau setara kelas II SMP hingga awal SMA.⁷ Kondisi tersebut berdampak terhadap rendahnya produktivitas tenaga kerja, lemahnya literasi digital, dan lambatnya transformasi ekonomi berbasis inovasi seperti industri hilirisasi makro, menengah dan mikro kecil.

B. State of The Art dan Novelty Riset Capacity Building
Kajian mengenai human capital telah berkembang cukup luas dalam studi pembangunan modern. Sebagian besar penelitian banyak menekankan hubungan pendidikan terhadap produktivitas ekonomi, pertumbuhan nasional, dan peningkatan pendapatan masyarakat. World Bank dalam World Development Report 2025 menegaskan bahwa kualitas modal manusia merupakan faktor utama dalam menentukan daya saing ekonomi global.

Namun demikian, sebagian besar penelitian belum secara spesifik membahas hubungan antara rendahnya kapasitas SDM dengan fenomena lambannya inovasi pembangunan daerah. Tulisan ini secara apesifik mengungkap novelty melalui konsep Low Capacity Human Resources Theory.
Teori ini tidak hanya melihat rendahnya kualitas SDM dari sisi pendidikan formal, tetapi juga dari dimensi rendah kreativitas (low creativity), lemahnya inovasi (low innovation), rendah sensitivitas sosial (low sensitivity), dan lambatnya respons terhadap perubahan (low response). Keempat dimensi tersebut dipandang sebagai penyebab utama terjadinya slow development atau pembangunan daerah yang melambar.

C. Teori SDM Low Capacity dan Slow Development
Teori low capacity human resources berkembang dari pendekatan human capital theory yang menjelaskan bahwa kualitas manusia merupakan faktor utama dalam menentukan kualitas pembangunan ekonomi dan sosial. Menurut Becker, pembangunan ekonomi modern sangat dipengaruhi oleh pendidikan, kesehatan, kesejahteraan, keterampilan, dan produktivitas tenaga kerja.

Dalam konteks pembangunan daerah, SDM low capacity ditandai oleh rendahnya kreativitas, lemahnya inovasi, rendah sensitivitas sosial, dan lambatnya respons terhadap perubahan sosial maupun teknologi.
Rendahnya kreativitas menyebabkan masyarakat dan birokrasi hanya bekerja secara administratif tanpa menghasilkan ide baru. Florida menjelaskan bahwa kreativitas merupakan inti utama ekonomi modern karena inovasi lahir dari kemampuan berpikir kreatif. Daerah yang miskin kreativitas akan sulit bersaing dalam ekonomi digital dan ekonomi berbasis pengetahuan.

Rendahnya inovasi menyebabkan pembangunan berjalan stagnan. OECD menjelaskan bahwa inovasi lahir dari kombinasi pendidikan berkualitas, budaya riset, dan kelembagaan yang adaptif.¹¹ Daerah dengan budaya inovasi rendah cenderung lambat dalam transformasi ekonomi dan tertinggal dalam penguasaan teknologi.
Rendahnya sensitivitas sosial menyebabkan kebijakan pembangunan tidak menyentuh kebutuhan riil masyarakat. Pemerintah sering kali hanya fokus pada pembangunan fisik tanpa memperhatikan kualitas manusia. Padahal pembangunan manusia merupakan inti utama pembangunan berkelanjutan.
Sementara itu, rendahnya respons terhadap perubahan menyebabkan birokrasi lamban, pelayanan publik tidak efektif, dan daerah kehilangan daya saing. Dalam era Revolusi Industri 4.0, kecepatan respons menjadi faktor penting dalam menentukan keberhasilan pembangunan daerah.

Keempat faktor tersebut membentuk lingkaran pembangunan yang lemah: low capacity → low creativity → low innovation → low productivity → low development.
Dampak low capacity tidak hanya terjadi pada level individu, tetapi juga pada level sosial dan kelembagaan. Individu menjadi kurang produktif dan sulit bersaing, sementara masyarakat mengalami stagnasi ekonomi, rendah partisipasi sosial, lemahnya inovasi daerah, dan tingginya ketergantungan terhadap sektor primer.

D. Teori Capacity Building dan Human Development
Konsep capacity building merupakan strategi pembangunan untuk memperkuat kemampuan individu, organisasi, dan sistem agar mampu menghasilkan pembangunan berkelanjutan. Dalam perspektif pembangunan modern, capacity building tidak hanya berkaitan dengan peningkatan keterampilan teknis, tetapi juga mencakup penguatan kreativitas, inovasi, kepemimpinan, literasi digital, serta kemampuan adaptasi terhadap perubahan global.
World Bank menjelaskan bahwa capacity building adalah proses memperkuat kemampuan manusia dan institusi agar mampu menghadapi perubahan sosial, ekonomi, dan teknologi secara efektif.
Pada level individu, capacity building mencakup pendidikan berkualitas, literasi digital, keterampilan teknologi, kemampuan berpikir kritis, kreativitas, kepemimpinan, dan adaptasi sosial.
Masyarakat dengan high capacity memiliki beberapa karakter utama seperti adaptif, kreatif, inovatif, produktif, resilien, optimis, dan cepat merespons perubahan. Mereka memiliki daya lenting sosial dan psikologis yang kuat sehingga mampu bangkit dari tekanan sosial maupun ekonomi.

E. Negara-Negara dengan High Capacity SDM
Negara-negara maju menunjukkan bahwa kualitas SDM merupakan fondasi utama pembangunan modern. Swiss dikenal sebagai negara dengan inovasi teknologi dan kualitas pendidikan terbaik dunia. Finlandia berhasil membangun sistem pendidikan yang menekankan kreativitas dan berpikir kritis.
Singapura menjadi contoh negara kecil yang berhasil membangun kekuatan global melalui pembangunan SDM berbasis teknologi dan efisiensi birokrasi. Jepang dikenal dengan budaya disiplin kerja dan inovasi teknologi. Korea Selatan berhasil mentransformasikan diri dari negara miskin menjadi kekuatan industri digital dunia melalui investasi besar pada pendidikan dan teknologi.¹⁴
Kesamaan negara-negara tersebut terletak pada investasi besar pada pendidikan, budaya inovasi, penguatan riset, reformasi birokrasi, pembangunan teknologi, dan penguatan literasi digital.

F. Kapasitas SDM Indonesia dan Provinsi Jambi
Indonesia mengalami perkembangan cukup baik dalam pembangunan manusia selama beberapa tahun terakhir. Berdasarkan data BPS tahun 2025, IPM Indonesia mencapai 75,90 dan termasuk kategori High Human Development.¹⁵
Namun demikian, Indonesia masih menghadapi berbagai tantangan serius berupa ketimpangan pendidikan, lemahnya inovasi, rendahnya produktivitas tenaga kerja, serta belum optimalnya transformasi ekonomi berbasis teknologi.
Rata-rata lama sekolah Indonesia pada tahun 2025 berada sekitar 9,07 tahun.¹⁶ Kondisi tersebut menunjukkan bahwa sebagian masyarakat Indonesia masih berada pada tingkat pendidikan setara SMP hingga awal SMA.
Provinsi Jambi juga menghadapi tantangan serupa. Berdasarkan data BPS Provinsi Jambi tahun 2025, IPM Jambi mencapai 75,13.¹⁷ Walaupun termasuk kategori tinggi, angka tersebut masih berada di bawah provinsi-provinsi maju seperti DKI Jakarta, Bali, dan DI Yogyakarta.
Salah satu penyebab utama ketertinggalan SDM Jambi adalah rendahnya rata-rata lama sekolah yang masih berada sekitar 8–9 tahun atau setara kelas II SMP hingga awal SMA. Hal tersebut berdampak terhadap lemahnya literasi digital, rendahnya penguasaan teknologi, minim kreativitas ekonomi, dan lemahnya inovasi, aehingga belum membudayanya industri hilirisasi sebagai kebutuhan dan solusi kesejahteraan masyarakat.

H. SDM Berkapasitas dan SDM Berdampak
Dalam pembangunan modern, kapasitas SDM tidak cukup hanya diukur dari tingkat pendidikan formal, tetapi juga dari kemampuan menghasilkan dampak sosial dan ekonomi.
SDM berdampak memiliki karakter visioner, adaptif, kreatif, produktif, inovatif, kolaboratif, dan cepat merespons perubahan. Mereka tidak hanya menjadi pencari kerja, tetapi pencipta peluang dan penggerak perubahan sosial.
Dalam era kecerdasan buatan (artificial intelligence), kualitas SDM menjadi semakin penting. Negara yang gagal membangun SDM kreatif, inovatif dan produktif akan mengalami ketergantungan yang sangat tinggi terhadap negara lain.

I. Strategi Penguatan Capacity Building Daerah
Penguatan kapasitas SDM daerah membutuhkan reformasi pendidikan yang berorientasi pada kreativitas, inovasi, dan literasi digital. Sistem pendidikan harus mampu menghasilkan manusia kreatif yang dapat menciptakan solusi baru terhadap berbagai persoalan pembangunan.
Pemerintah daerah dalam semua tingkatan harus membangun kolaborasi dan sinergitas dengan, pakar, perguruan tinggi, sektor swasta, komunitas inovasi, dan masyarakat untuk menciptakan ekosistem pembangunan berbasis pengetahuan dan literasi teknologi tepat guna, vokasi dan industri hilirisasi yang berdampak di daerahnya masing-masing.
Selain itu, apeed transformasi ekonomi daerah harus bergerak dari ketergantungan sektor primer menuju ekonomi kreatif dan ekonomi berbasis teknologi yang dapat mempercepat masyarakat melepaskan kemiskinannya dan ketergantungan dengan orang lain, serta pemerintah.

I. Penutup
Teori SDM low capacity menjelaskan bahwa rendahnya kualitas manusia akan menghasilkan rendahnya kreativitas, inovasi, sensitivitas sosial, dan respons pembangunan. Akibatnya, pembangunan daerah berjalan lambat dan kehilangan daya saing.
Indonesia telah mencapai kategori pembangunan manusia tinggi dengan IPM 75,90 pada tahun 2025. Namun demikian, Indonesia masih menghadapi tantangan besar berupa ketimpangan kualitas pendidikan, rendahnya inovasi daerah, dan belum optimalnya transformasi ekonomi berbasis teknologi yang menggiring kepada industri hilirisasi tepat guna masyarakat.
Provinsi Jambi mengalami tantangan serius akibat rendahnya rata-rata lama sekolah, tingginya kemiskinan, masalah kesehatan masyarakat, serta lemahnya inovasi daerah. Kabupaten dan kota masih berada dalam jebakan low-medium capacity trap.
Pembangunan modern hari ini dan masa depan tidak lagi ditentukan semata-mata oleh kekayaan sumber daya alam, tetapi oleh kualitas manusia yang kreatif, inovatif, adaptif, dan berdampak terhadap perubahan sosial sehingga dapat berkreasi merubah SDA menjadi industri hilir yang terbarukan bagi kemaslahatan dan kesejahteraan masyarakat menuju Indonesia Emas 2045.(*)

Referensi Footnote:
¹ World Bank, World Development Report 2025: Human Capital and Growth (Washington DC: World Bank Publications, 2025), 17.

² OECD, Skills and Innovation for Regional Development (Paris: OECD Publishing, 2025), 44.

³ Amartya Sen, Development as Freedom (New York: Anchor Books, 2000), 87.

⁴ Gary S. Becker, Human Capital: A Theoretical and Empirical Analysis with Special Reference to Education (Chicago: University of Chicago Press, 1993), 28.

⁵ Badan Pusat Statistik, Indeks Pembangunan Manusia Indonesia 2025 (Jakarta: BPS RI, 2025), 15.

⁶ United Nations Development Programme, Human Development Report 2025 (New York: UNDP Publications, 2025), 133.

⁷ Badan Pusat Statistik Provinsi Jambi, Indeks Pembangunan Manusia Provinsi Jambi 2025 (Jambi: BPS Provinsi Jambi, 2025), 22.

⁸ World Bank, World Development Report 2025, 33.

⁹ Becker, Human Capital, 41.

¹⁰ Richard Florida, The Rise of the Creative Class (New York: Basic Books, 2014), 88.

¹¹ OECD, Skills and Innovation for Regional Development, 67.

¹² Klaus Schwab, The Fourth Industrial Revolution (Geneva: World Economic Forum, 2016), 77.

¹³ World Bank, World Development Report 2025, 66.

¹⁴ OECD, Skills and Innovation for Regional Development, 93.

¹⁵ BPS, Indeks Pembangunan Manusia Indonesia 2025, 18.
¹⁶ Ibid., 21.

¹⁷ BPS Provinsi Jambi, Indeks Pembangunan Manusia Provinsi Jambi 2025, 25.

Daftar Pustaka
Badan Pusat Statistik. Indeks Pembangunan Manusia Indonesia 2025. Jakarta: BPS RI, 2025.

Badan Pusat Statistik Provinsi Jambi. Indeks Pembangunan Manusia Provinsi Jambi 2025. Jambi:
BPS Provinsi Jambi, 2025.

Becker, Gary S. Human Capital: A Theoretical and Empirical Analysis with Special Reference to Education. Chicago: University of Chicago Press, 1993.

OECD. Skills and Innovation for Regional Development. Paris: OECD Publishing, 2025.

Sen, Amartya. Development as Freedom. New York: Anchor Books, 2000.

Todaro, Michael P., dan Stephen C. Smith. Economic Development. 14th ed. London: Pearson, 2024.

United Nations Development Programme. Human Development Report 2025. New York: UNDP Publications, 2025.

World Bank. World Development Report 2025: Human Capital and Growth. Washington DC: World Bank Publications, 2025.

BeritaSatu Network