JAMBI — Diskusi Rabuan Roadshow (DRR) Tenaga Ahli Gubernur (TAG) Jambi kembali digelar. Kali ini, forum bersama Biro Kesejahteraan Rakyat (Kesra) Setda Provinsi Jambi membahas percepatan program kesejahteraan rakyat dalam rangka mewujudkan Jambi Mantap 2029.
Diskusi berlangsung dengan paparan sejumlah program strategis di bidang kesra. Mulai dari beasiswa, hibah rumah ibadah dan lembaga pendidikan keagamaan, bantuan hafiz dan hafizah, program umrah, MTQ, STQ, hingga kajian terkait embarkasi haji antara Jambi.
Hadir dalam forum tersebut Kepala Biro Kesra Setda Provinsi Jambi, Amrulsyah. Dari unsur Tenaga Ahli Gubernur, hadir jajaran TAG lengkap yang dipimpin Ketua TAG Jambi, Syahrasaddin.
Dalam paparannya, Amrulsyah membeberkan sejumlah capaian dan alokasi program prioritas Gubernur dan Wakil Gubernur Jambi di bidang kesejahteraan rakyat.
Salah satu yang menonjol adalah Program Pro Jambi Cerdas melalui bantuan beasiswa S1, S2, dan S3.
Berdasarkan data paparan Biro Kesra, alokasi Program Pro Jambi Cerdas periode 2022 hingga 2026 mencapai Rp35.338.000.000.
Program ini menyasar beasiswa S1, S2, S3 dalam negeri, dan S3 luar negeri.
Pada 2022, program ini menjangkau 150 penerima S1, 25 penerima S3 dalam negeri, dan 3 penerima S3 luar negeri dengan anggaran Rp6,8 miliar.
Pada 2023, jumlah penerima meningkat menjadi 300 penerima S1, 70 penerima S3 dalam negeri, dan 3 penerima S3 luar negeri dengan anggaran Rp7,42 miliar.
Pada 2024, terdapat 300 penerima S1, 75 penerima S3 dalam negeri, dan 1 penerima S3 luar negeri dengan anggaran Rp7,54 miliar.
Pada 2025, program ini mencakup 294 penerima S1, 51 penerima S2, dan 101 penerima S3 dalam negeri dengan anggaran Rp7,578 miliar.
Sementara pada 2026, alokasi masih dalam proses dengan target 500 penerima beasiswa S1 kurang mampu dan berprestasi senilai Rp6 miliar.
Jika ditotal, selama 2022 sampai 2026, Program Pro Jambi Cerdas mencatat 1.544 penerima S1, 51 penerima S2, 271 penerima S3 dalam negeri, dan 7 penerima S3 luar negeri.
Berikut ringkasan capaian Pro Jambi Cerdas:
| Tahun | Penerima Utama | Anggaran |
|---|---|---|
| 2022 | 178 penerima | Rp6,8 M |
| 2023 | 373 penerima | Rp7,42 M |
| 2024 | 376 penerima | Rp7,54 M |
| 2025 | 446 penerima | Rp7,578 M |
| 2026 | 500 penerima S1 | Rp6 M |
| Total | 1.873 penerima | Rp35,338 M |
Program lain yang turut dipaparkan adalah hibah rumah ibadah dan lembaga pendidikan keagamaan.
Dalam rentang 2021 sampai 2025, total penerima hibah mencapai 2.841 objek. Rinciannya, 347 objek pada 2021, naik menjadi 645 objek pada 2022, kemudian meningkat lagi menjadi 935 objek pada 2023.
Pada 2024, jumlah penerima turun menjadi 338 objek. Namun pada 2025 kembali naik menjadi 576 objek.
Untuk tahun 2026, Biro Kesra juga memaparkan alokasi program bantuan hibah yang menyangkut kepentingan masyarakat, umat, rumah ibadah, lembaga pendidikan keagamaan, serta organisasi lembaga keagamaan.
Total anggarannya mencapai Rp20.454.393.082.
Dari jumlah itu, bantuan hibah rumah ibadah dan lembaga pendidikan keagamaan dialokasikan untuk 666 objek dengan nilai Rp19.704.393.082. Sementara bantuan hibah organisasi lembaga keagamaan dialokasikan untuk 6 objek dengan nilai Rp750 juta.
Berikut ringkasan program hibah 2026:
| Program | Volume | Anggaran |
| Hibah rumah ibadah dan lembaga pendidikan keagamaan | 666 objek | Rp19,704 M |
| Hibah organisasi lembaga keagamaan | 6 objek | Rp750 juta |
| Total | 672 objek | Rp20,454 M |
Selain itu, Biro Kesra juga memaparkan program penunjang visi-misi Gubernur dan Wakil Gubernur Jambi tahun 2026.
Ada tiga program utama. Pertama, bantuan beasiswa hafiz dan hafizah dengan anggaran Rp1,5 miliar untuk 300 penerima. Kedua, program Umrah Provinsi Jambi dengan anggaran Rp1.461.075.000 untuk 35 orang. Ketiga, bantuan beasiswa S1 kurang mampu dan prestasi dengan anggaran Rp6 miliar untuk 500 penerima.
Total anggaran tiga program tersebut mencapai Rp8.961.075.000 dengan total volume 835 penerima.
Forum DRR juga membahas isu embarkasi haji antara Jambi.
Dalam diskusi, muncul kajian mengenai opsi perubahan embarkasi haji antara Jambi yang selama ini melalui Batam untuk dipertimbangkan berpindah ke Sumatera Barat. Salah satu pertimbangannya adalah potensi efisiensi anggaran dan kemudahan pelayanan bagi jemaah.
Isu ini menjadi penting karena menyangkut pelayanan langsung kepada masyarakat, khususnya calon jemaah haji asal Jambi.
Embarkasi bukan hanya urusan titik keberangkatan. Ia menyangkut biaya, jarak tempuh, waktu perjalanan, kondisi fisik jemaah, koordinasi antarinstansi, dan kenyamanan pelayanan sebelum menuju Tanah Suci.
Ketua TAG Jambi, Syahrasaddin, mengatakan forum DRR bersama Biro Kesra menjadi ruang penting untuk membaca capaian, mengevaluasi kendala, dan memperkuat arah program kesejahteraan rakyat menuju Jambi Mantap 2029.
Menurutnya, program kesra harus diukur bukan hanya dari jumlah anggaran yang terserap, tetapi dari manfaat yang benar-benar dirasakan masyarakat.
“Program kesra ini menyentuh langsung masyarakat. Beasiswa menyentuh anak-anak muda. Hibah menyentuh rumah ibadah dan lembaga pendidikan keagamaan. Bantuan hafiz, umrah, MTQ dan STQ menyentuh pembinaan keagamaan. Karena itu, pelaksanaannya harus tepat sasaran, transparan, dan berdampak,” ujar Syahrasaddin.
Syahrasaddin menilai capaian Biro Kesra sudah menunjukkan arah yang positif. Namun ia mendorong agar program-program tersebut terus diperkuat dengan basis data yang akurat, mekanisme seleksi yang terbuka, dan evaluasi manfaat yang jelas.
Ia juga menyoroti pentingnya kajian embarkasi haji antara Jambi dilakukan secara komprehensif. Menurutnya, setiap opsi perubahan harus dilihat dari banyak sisi, mulai dari efisiensi anggaran, kesiapan layanan, jarak tempuh, hingga kenyamanan jemaah.
“Kajian embarkasi haji ini harus dihitung matang. Kalau ada opsi yang lebih efisien dan lebih memudahkan jemaah, tentu perlu dibahas serius. Tapi semua harus berbasis data, bukan sekadar asumsi,” katanya.
Syahrasaddin juga menegaskan, TAG Jambi akan menyusun catatan dan rekomendasi dari hasil diskusi untuk disampaikan kepada Gubernur Jambi.
Menurutnya, DRR bukan sekadar forum mendengar paparan OPD. Forum ini harus menjadi ruang untuk menguji kebijakan, memperkaya gagasan, dan memastikan program Gubernur berjalan lebih cepat serta lebih terukur.
“DRR ini bukan seremoni. Kita ingin setiap program yang dipaparkan punya tindak lanjut. Mana yang sudah baik diperkuat. Mana yang masih lemah dibenahi. Targetnya jelas: program Gubernur dan Wakil Gubernur harus semakin terasa manfaatnya bagi masyarakat,” ujar Syahrasaddin.
Dalam konteks Jambi Mantap 2029, bidang kesra menjadi salah satu ruang paling dekat dengan kehidupan masyarakat.
Beasiswa membuka jalan bagi anak muda. Hibah rumah ibadah memperkuat fasilitas umat. Bantuan lembaga pendidikan keagamaan menjaga ruang belajar agama. Program hafiz dan hafizah menumbuhkan generasi Qurani. Program umrah memberi penghargaan spiritual. Kajian embarkasi haji menyentuh pelayanan jemaah.
Semua itu tampak administratif jika hanya dibaca sebagai tabel anggaran.
Tapi di lapangan, angka-angka itu punya wajah.
Ada mahasiswa dari keluarga kurang mampu yang bisa melanjutkan kuliah. Ada masjid dan madrasah yang terbantu. Ada hafiz muda yang diberi ruang penghargaan. Ada jemaah haji yang berharap perjalanan lebih mudah.
Karena itu, pekerjaan berikutnya bukan hanya memastikan program ada.
Tetapi memastikan program itu tepat sasaran, tepat guna, dan benar-benar sampai kepada masyarakat yang membutuhkan.(*)
Galeri Foto :


