JAMBI – Di tengah derasnya arus globalisasi yang kian mengikis identitas budaya, Ikatan Sarjana Melayu Indonesia (ISMI) Provinsi Jambi hadir membawa semangat baru. Tidak sekadar menjadi wadah berhimpunnya para sarjana Melayu, organisasi ini bertekad menjadi motor penggerak kebangkitan peradaban Melayu yang berakar pada ilmu pengetahuan, nilai-nilai Islam, budaya, dan pengabdian sosial.
Komitmen tersebut ditegaskan dalam pelantikan Pengurus Wilayah ISMI Provinsi Jambi yang mengusung tema "Berilmu, Beradab, Membangun Peradaban: Sarjana Melayu Hadir dengan Ilmu dan Adat untuk Kemajuan Bangsa."
Pelantikan itu bukan hanya seremoni pergantian kepengurusan. Lebih dari itu, menjadi penanda dimulainya gerakan intelektual Melayu yang ingin mengembalikan peran sarjana sebagai penjaga nilai, penggerak perubahan, sekaligus perekat masyarakat.
Hj. Ernawati, S.Ag., M.Pd. Ketua ISMI Provinsi Jambi menyampaikan rasa syukur dan terima kasih atas amanah yang diberikan untuk memimpin organisasi tersebut.
"Kepercayaan ini bukan kehormatan semata, tetapi tanggung jawab besar yang harus kami tunaikan dengan keikhlasan dan semangat pengabdian. Kami ingin memastikan ISMI hadir bukan hanya untuk para sarjana, tetapi juga untuk masyarakat luas," ujarnya.
Ia juga menyampaikan apresiasi kepada Pemerintah Provinsi Jambi serta seluruh elemen masyarakat yang selama ini turut mendukung perkembangan ISMI di Bumi Sepucuk Jambi Sembilan Lurah.
Menjaga Warisan, Menyiapkan Masa Depan. Tantangan terbesar masyarakat Melayu saat ini bukan hanya persoalan ekonomi atau pembangunan fisik, tetapi bagaimana menjaga jati diri di tengah perubahan zaman yang begitu cepat.
Karena itu, ISMI menjadikan falsafah Melayu "Adat Bersendi Syarak, Syarak Bersendi Kitabullah" sebagai fondasi utama dalam setiap langkah organisasi. Falsafah tersebut bukan sekadar warisan leluhur yang dihafal dalam pidato-pidato adat, melainkan pedoman hidup yang harus diterapkan dalam kehidupan nyata.
"Ilmu tanpa akhlak akan kehilangan arah. Kemajuan tanpa nilai akan kehilangan makna. Karena itu, kami ingin melahirkan generasi Melayu yang cerdas, berkarakter, religius, dan mampu bersaing di tingkat global," tegasnya.
ISMI meyakini bahwa kekuatan Melayu tidak hanya terletak pada sejarah dan tradisinya, tetapi juga pada kemampuannya beradaptasi dengan perkembangan zaman tanpa kehilangan identitas.
Budaya Melayu Jangan Hanya Hidup di Panggung Seremonial
Ketua ISMI juga menyoroti fenomena semakin jauhnya generasi muda dari akar budaya mereka sendiri. Budaya Melayu tidak boleh hanya muncul saat festival, peringatan adat, atau saat mengenakan pakaian tradisional.
"Budaya harus hidup dalam keseharian. Dalam cara kita berbicara, bermusyawarah, menghormati orang tua, mendidik anak-anak, hingga dalam membangun kehidupan bermasyarakat," katanya.
Untuk itu, ISMI berkomitmen melakukan berbagai langkah konkret, mulai dari pendokumentasian warisan budaya, digitalisasi naskah dan sejarah Melayu, hingga memperkenalkan kembali nilai-nilai adat kepada generasi muda melalui pendekatan yang sesuai dengan perkembangan teknologi.
Langkah tersebut dinilai penting agar budaya Melayu tidak sekadar dikenang, tetapi terus hidup dan berkembang mengikuti zaman.
"Bangsa yang kehilangan budayanya akan kehilangan arah. Masyarakat yang lupa jati dirinya akan mudah kehilangan identitas," ujarnya.
Tidak hanya fokus pada aspek budaya, ISMI juga menaruh perhatian besar terhadap penguatan ekonomi berbasis identitas Melayu.
Ketua ISMI menilai berbagai potensi yang dimiliki Jambi masih sangat besar untuk dikembangkan dan diperkenalkan ke tingkat nasional maupun internasional.
Mulai dari Batik Jambi, produk UMKM, kuliner tradisional, hingga seni budaya Melayu memiliki nilai ekonomi yang dapat mendorong kesejahteraan masyarakat.
"Kita ingin masyarakat bangga menjadi Melayu. Tetapi kebanggaan itu harus diwujudkan melalui karya, inovasi, dan prestasi yang mampu bersaing di tingkat dunia," katanya.
Menurutnya, budaya bukan hanya aset sejarah, melainkan modal masa depan yang mampu membuka peluang ekonomi kreatif sekaligus memperkuat identitas daerah.
Di sisi lain, ISMI juga menegaskan bahwa organisasi intelektual tidak boleh hanya sibuk berdiskusi di ruang seminar atau forum akademik.
Karena itu, sejak awal keberadaannya di Jambi, ISMI telah menjalankan berbagai program sosial sebagai bentuk nyata pengabdian kepada masyarakat.
Salah satu yang paling menonjol adalah program berbagi makanan berbuka puasa selama bulan Ramadan. Selama satu bulan penuh, ISMI menyalurkan sekitar 700 porsi makanan setiap hari kepada masyarakat yang membutuhkan.
Selain itu, organisasi tersebut juga aktif mengunjungi panti asuhan, menyalurkan bantuan kebutuhan pokok, serta melaksanakan berbagai kegiatan kemanusiaan lainnya.
"Bagi kami, ilmu harus melahirkan manfaat. Kehadiran organisasi ini harus dapat dirasakan masyarakat. Pengabdian tidak diukur dari besarnya bantuan yang diberikan, tetapi dari ketulusan untuk hadir dan membantu," ungkapnya.
Walau di Perantauan, Komitmen untuk Jambi Tak Pernah Pudar
Menariknya, di penghujung sambutannya, Ketua ISMI menyampaikan sebuah pernyataan yang mendapat perhatian para hadirin. Ia mengakui saat ini tidak berdomisili di Indonesia maupun di Jambi. Namun kondisi tersebut tidak akan mengurangi komitmennya dalam menjalankan amanah organisasi.
"Walaupun saya tidak berdomisili di Indonesia dan Jambi, yakinlah roda organisasi ini akan terus berlayar. Kami akan terus bekerja, berkolaborasi, dan memastikan ISMI menjadi organisasi yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat Melayu dan Provinsi Jambi," tegasnya.
Pernyataan itu disambut tepuk tangan hadirin yang hadir dalam pelantikan tersebut.
Dengan semangat baru yang diusung, ISMI Provinsi Jambi diharapkan mampu menjadi jembatan antara tradisi dan modernitas, antara warisan budaya dan kemajuan zaman. Bukan hanya menjaga marwah Melayu, tetapi juga menjadikan nilai-nilai Melayu sebagai kekuatan untuk membangun peradaban yang lebih maju, beradab, dan berdaya saing di tingkat global.