JAKARTA – Hilirisasi sawit tidak bisa hanya dimulai dari pabrik.
Tidak cukup hanya bicara produk turunan.
Tidak cukup hanya bicara ekspor, biodiesel, pangan, energi, atau nilai tambah industri.
Hilirisasi sawit harus dimulai dari kebun.
Dari produktivitas.
Dari bibit.
Dari petani.
Dari peremajaan.
Dan dari tata kelola sawit rakyat yang lebih kuat.
Pesan itu mengemuka dalam Workshop AKPSI & Sawit Expo bertajuk “Sawit untuk Rakyat” di Hotel Bidakara, Jakarta, Selasa (7/7/2026).
Kementerian Pertanian Republik Indonesia menegaskan dukungannya terhadap percepatan hilirisasi industri kelapa sawit nasional.
Salah satu kuncinya adalah memperkuat peran perusahaan pelat merah, termasuk PTPN IV PalmCo.
Direktur Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian RI, Ali Jamil, melalui Direktur Tanaman Sawit dan Aneka Palma, Iim Mucharam, mengatakan pemerintah memiliki mandat untuk mengawal dan mendukung BUMN dalam mempercepat agenda hilirisasi nasional.
“Kami memiliki tugas dari Bapak Presiden untuk mengawal dan mendukung perusahaan BUMN, khususnya PalmCo dan Agrinas, dalam percepatan hilirisasi,” kata Iim Mucharam.
Menurut Iim, pengembangan industri sawit berkelanjutan harus menjadi fondasi hilirisasi.
Artinya, hilirisasi tidak boleh berdiri sendiri di ujung rantai industri.
Ia harus terhubung dengan penguatan sektor hulu.
Petani harus produktif.
Kebun harus berkelanjutan.
Rantai pasok harus tertata.
Industri hilir harus berkembang.
Dan kesejahteraan masyarakat harus ikut meningkat.
Di titik inilah peran sawit rakyat menjadi sangat penting.
Sebab sekitar 42 persen luas perkebunan kelapa sawit nasional dikelola oleh petani rakyat.
Angka itu besar.
Jika produktivitas sawit rakyat naik, industri nasional ikut kuat.
Jika sawit rakyat tertinggal, hilirisasi ikut kehilangan fondasi.
Direktur Utama PTPN IV PalmCo, Jatmiko K. Santosa, yang diwakili Kepala Divisi Peremajaan Sawit Rakyat, Abdul Muthalib, mengatakan PalmCo tengah menjalankan transformasi besar.
Transformasi itu diarahkan untuk memperkuat peran perusahaan dari sektor hulu hingga masuk ke industri hilir.
Namun menurut Abdul, transformasi PalmCo saja tidak cukup.
Industri sawit nasional juga perlu berubah.
Terutama dalam cara melihat sawit rakyat.
Petani tidak boleh hanya terpaku pada harga harian TBS.
Harga memang penting.
Tetapi produktivitas lebih menentukan nilai ekonomi jangka panjang.
“Dari sisi sawit rakyat, kami berharap petani dapat mengubah pola pikir. Dalam mengelola kelapa sawit, jangan hanya berpikir mengenai harga. Hal yang perlu diperhatikan adalah produktivitas karena peningkatan produktivitas akan menentukan nilai ekonomi yang diterima petani,” kata Abdul.
Pesan itu sederhana, tetapi tajam.
Petani sering kali terjebak pada fluktuasi harga.
Ketika harga naik, semangat meningkat.
Ketika harga turun, keresahan muncul.
Padahal, ada faktor yang bisa dikendalikan dari kebun sendiri: produktivitas.
Bibit harus unggul.
Pemupukan harus tepat.
Perawatan harus disiplin.
Tanaman tua harus diremajakan.
Kelembagaan petani harus kuat.
Dan praktik budidaya harus mengikuti standar yang baik.
PalmCo, kata Abdul, terus memperluas kontribusi untuk mendukung petani sawit rakyat.
Dukungan itu dilakukan melalui penguatan program Peremajaan Sawit Rakyat atau PSR.
Juga transfer pengetahuan.
Penyediaan bibit unggul bersertifikat.
Pendampingan teknis.
Hingga penguatan kelembagaan petani.
PalmCo juga menjalankan sejumlah program utama.
Di antaranya pola single management, avalis produksi, pemetaan geospasial, serta fasilitasi sertifikasi minyak sawit berkelanjutan bagi petani.
Sertifikasi itu mencakup Indonesian Sustainable Palm Oil atau ISPO dan Roundtable on Sustainable Palm Oil atau RSPO.
Hingga 2025, program sertifikasi tersebut telah mencakup areal seluas 9.267 hektare.
Jumlah petani yang terlibat mencapai 4.544 kepala keluarga.
Capaian Dukungan PalmCo untuk Sawit Rakyat
| Program | Capaian |
|---|---|
| Sertifikasi ISPO/RSPO | 9.267 hektare |
| Petani terlibat | 4.544 kepala keluarga |
| Bibit bersertifikat | 6,8 juta bibit |
| Areal dukungan bibit | Sekitar 47 ribu hektare |
| Petani penerima manfaat bibit | Lebih dari 23 ribu petani |
| KUD didampingi | 90 KUD |
Pada aspek penyediaan bahan tanam, PalmCo mencatat sebanyak 6,8 juta bibit siap salur bersertifikat telah diserap.
Bibit tersebut mendukung pengembangan sekitar 47 ribu hektare kebun.
Jumlah petani yang terlibat lebih dari 23 ribu orang.
Angka ini menunjukkan bahwa hilirisasi tidak hanya bergerak di pabrik.
Ia juga bergerak di persemaian.
Di kebun rakyat.
Di koperasi.
Dan di ruang-ruang pendampingan petani.
PalmCo juga memberikan bimbingan dan pelatihan teknis.
Perusahaan berperan sebagai offtaker bagi areal koperasi unit desa atau KUD dengan luas lebih dari 33 ribu hektare.
Selain itu, PalmCo mendorong penguatan kapasitas kelembagaan petani.
Targetnya, KUD tidak hanya menjadi wadah administratif.
Tetapi dapat menjadi pusat transfer pengetahuan.
Bahkan menjadi offtaker bagi koperasi lainnya.
Hingga kini, sebanyak 90 KUD di berbagai wilayah Indonesia telah menerima pendampingan administrasi, teknis, dan budidaya dari perusahaan.
Peran KUD menjadi penting.
Sebab petani sawit rakyat membutuhkan kelembagaan yang kuat.
Jika petani berjalan sendiri, posisi tawar cenderung lemah.
Jika petani terhubung dalam koperasi yang sehat, pengelolaan kebun bisa lebih tertata.
Akses bibit lebih mudah.
Pendampingan lebih efektif.
Pembiayaan lebih terarah.
Sertifikasi lebih mungkin dilakukan.
Dan hasil panen dapat masuk ke rantai pasok yang lebih jelas.
Abdul juga menekankan pentingnya percepatan peremajaan tanaman.
Banyak kebun sawit rakyat menghadapi persoalan tanaman tua.
Produktivitas menurun.
Biaya perawatan tetap tinggi.
Pendapatan petani tidak maksimal.
Karena itu, replanting menjadi jalan penting untuk mengangkat kembali produktivitas kebun.
Namun tidak sedikit petani masih ragu melakukan peremajaan.
Ada kekhawatiran kehilangan pendapatan selama tanaman belum menghasilkan.
Ada kekhawatiran biaya.
Ada kekhawatiran proses administrasi.
Ada juga keraguan terhadap hasil setelah tanam ulang.
Abdul menyebut petani tidak perlu takut melakukan replanting jika prosesnya dilakukan dengan benar.
Ia mencontohkan produktivitas tanaman menghasilkan tahun pertama atau TM I di lingkungan PTPN yang mampu mencapai sekitar 18 ton per hektare.
“Petani tidak perlu takut melakukan replanting. Dengan peremajaan yang tepat, penggunaan bibit unggul bersertifikat, dan penerapan praktik budidaya yang baik, produktivitas dapat meningkat secara signifikan,” ujarnya.
Pernyataan itu menjadi ajakan penting.
Replanting bukan sekadar menebang tanaman tua.
Replanting adalah investasi jangka panjang.
Jika menggunakan bibit unggul bersertifikat dan didampingi praktik budidaya yang baik, kebun rakyat bisa kembali produktif.
Produktivitas yang lebih tinggi akan memperkuat pendapatan petani.
Dan pada saat yang sama memperkuat pasokan bahan baku industri sawit nasional.
Di sinilah hubungan antara petani dan hilirisasi menjadi jelas.
Industri hilir membutuhkan bahan baku yang stabil.
Bahan baku yang stabil membutuhkan kebun produktif.
Kebun produktif membutuhkan petani yang kuat.
Petani yang kuat membutuhkan bibit unggul, kelembagaan, pembiayaan, pendampingan, dan pasar yang jelas.
Maka hilirisasi sawit tidak bisa hanya bicara ujung industri.
Ia harus menyentuh pangkal persoalan di kebun rakyat.
Workshop AKPSI & Sawit Expo turut dihadiri Direktur Keuangan, Umum, Kepatuhan dan Manajemen Risiko BPDP, Zaid Burhan Ibrahim.
Hadir pula Bupati Luwu Utara, Andi Abdullah Rahim.
Kemudian Anggota Dewan Energi Nasional, Satya Widya Yudha.
Serta Direktur Kemitraan dan Plasma PT Agrinas Palma Nusantara, Seger Budiarjo.
Kehadiran banyak pihak itu menunjukkan bahwa sawit tidak bisa dikelola oleh satu aktor saja.
Pemerintah pusat punya peran kebijakan.
BUMN punya peran eksekusi dan penguatan ekosistem.
Pemerintah daerah punya peran pembinaan wilayah.
BPDP punya peran pendanaan dan dukungan program.
Kelembagaan petani punya peran di tingkat akar rumput.
Industri punya peran menciptakan nilai tambah.
Dan petani menjadi fondasi utama dari rantai pasok sawit nasional.
Melalui sinergi tersebut, percepatan hilirisasi diharapkan tidak hanya meningkatkan nilai tambah industri sawit nasional.
Tetapi juga memperkuat produktivitas dan kesejahteraan jutaan petani.
Karena tanpa petani, hilirisasi akan kehilangan basis sosialnya.
Tanpa produktivitas, industri akan kehilangan kekuatan bahan baku.
Tanpa keberlanjutan, sawit akan terus menghadapi tekanan pasar.
Dan tanpa kelembagaan, petani akan sulit naik kelas.
PalmCo kini mencoba menempatkan diri di antara semua kebutuhan itu.
Menjadi penghubung antara kebun rakyat dan industri.
Antara replanting dan hilirisasi.
Antara bibit unggul dan produktivitas.
Antara sertifikasi dan pasar berkelanjutan.
Antara KUD dan rantai pasok nasional.
Pesan dari forum Sawit untuk Rakyat itu akhirnya mengarah pada satu titik.
Hilirisasi sawit bukan hanya soal membangun industri di hilir.
Hilirisasi harus membuat petani lebih kuat.
Lebih produktif.
Lebih terlindungi.
Lebih sejahtera.
Dan lebih siap menjadi bagian dari rantai nilai sawit nasional yang semakin besar.
Jika sawit rakyat naik kelas, hilirisasi punya fondasi.
Jika petani produktif, industri punya masa depan.
Dan jika BUMN seperti PalmCo mampu menjadi penggerak ekosistem, nilai tambah sawit tidak hanya berhenti di korporasi.
Tetapi ikut kembali ke kebun, ke koperasi, dan ke rumah-rumah petani. (*)