Oleh :
H. Zarkoni Hasbi Suid
JAMBI — Polemik mengenai peran dan kapasitas mutawwif dalam penyelenggaraan bimbingan ibadah haji dan umrah menjadi perhatian di tengah meningkatnya kebutuhan jamaah terhadap pendampingan ibadah yang berkualitas.
Mutawwif memiliki posisi penting dalam mendampingi jamaah, terutama dalam memberikan penjelasan mengenai tata cara ibadah, sejarah tempat-tempat yang diziarahi, adab selama berada di Tanah Suci, serta membantu jamaah memahami rangkaian perjalanan ibadah secara tertib dan sesuai tuntunan.
Namun demikian, pembahasan mengenai siapa yang layak menjadi mutawwif atau pembimbing ibadah hendaknya tidak berkembang menjadi polemik yang mengarah pada saling merendahkan. Yang perlu dikedepankan adalah kompetensi, kapasitas keilmuan, pengalaman, integritas, dan kemampuan melayani jamaah.
Mutawwif Bukan Sekadar Pendamping Perjalanan
Seorang mutawwif tidak hanya bertugas menunjukkan arah atau mendampingi perjalanan jamaah. Ia juga menjadi salah satu rujukan jamaah ketika menghadapi persoalan ibadah di lapangan.
Karena itu, seorang mutawwif idealnya memiliki pemahaman yang memadai mengenai fikih haji dan umrah, manasik, sejarah perjalanan Rasulullah SAW, adab ziarah, serta kemampuan komunikasi yang baik.
Lebih dari itu, mutawwif dituntut memiliki sikap sabar, amanah, ramah, dan mampu menghadapi berbagai karakter jamaah.
“Mutawwif bukan hanya soal bisa membawa jamaah ke tempat-tempat ziarah, tetapi juga bagaimana memastikan jamaah mendapatkan pendampingan ibadah yang benar, mudah dipahami, dan menenangkan,” demikian prinsip yang perlu dikedepankan dalam pembinaan mutawwif.
Polemik Harus Dijawab dengan Peningkatan Kompetensi
Perbedaan pandangan mengenai mutawwif sebaiknya menjadi momentum untuk memperkuat pembinaan dan standardisasi kompetensi.
Lembaga penyelenggara perjalanan haji dan umrah dapat memberikan pelatihan secara berkelanjutan, baik dalam bidang manasik, pelayanan jamaah, komunikasi, sejarah, maupun penanganan kondisi darurat selama perjalanan.
Dengan demikian, keberadaan mutawwif tidak hanya dinilai dari pengalaman mendampingi jamaah, tetapi juga dari kemampuan memberikan pelayanan yang profesional dan bertanggung jawab.
Jamaah Berhak Mendapatkan Pembimbing Berkualitas
Pada akhirnya, kepentingan utama dalam persoalan ini adalah jamaah. Mereka datang ke Tanah Suci dengan harapan dapat melaksanakan ibadah dengan tenang, aman, dan memperoleh bimbingan yang dapat dipertanggungjawabkan.
Karena itu, setiap pihak yang terlibat dalam pelayanan haji dan umrah perlu menempatkan kepentingan dan kemaslahatan jamaah sebagai prioritas.
Perbedaan latar belakang pendidikan, pengalaman, maupun pendekatan dalam membimbing jamaah seharusnya menjadi ruang untuk saling melengkapi, bukan menjadi alasan untuk mempertajam perpecahan.
Saatnya Membangun Mutawwif yang Profesional
Polemik mengenai mutawwif hendaknya menjadi bahan evaluasi bersama. Yang diperlukan bukan sekadar memperdebatkan siapa yang paling berhak disebut mutawwif, tetapi bagaimana menghadirkan mutawwif yang berilmu, berakhlak, profesional, amanah, dan memiliki orientasi pelayanan kepada jamaah.
Dengan pembinaan yang baik, sertifikasi atau mekanisme pengakuan kompetensi yang jelas, serta evaluasi secara berkala, kualitas pelayanan jamaah haji dan umrah dapat terus ditingkatkan.
Sebab, menjadi pembimbing tamu-tamu Allah bukan hanya sebuah pekerjaan, tetapi juga amanah besar yang menuntut ilmu, akhlak, kesabaran, dan tanggung jawab.