Kabut asap mulai menyelimuti sejumlah wilayah Kota Jambi dan Kabupaten Muaro Jambi seiring memburuknya kualitas udara akibat dugaan dampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Meski demikian, kondisi tersebut belum berdampak terhadap operasional penerbangan di Bandara Sultan Thaha Jambi. Jarak pandang untuk penerbangan masih berada dalam kondisi aman.
General Manager Bandara Sultan Thaha Jambi, Ardon Marbun, mengatakan jarak pandang penerbangan saat ini masih berada di atas 5.000 meter.
"Masih aman, jarak pandang penerbangan saat ini masih di atas 5.000 meter, rata-rata ya," kata Ardon, Selasa (11/8/2026).
Menurut Ardon, Bandara Sultan Thaha Jambi juga memiliki instrumen landing system yang dapat membantu pilot melakukan proses take-off maupun landing dalam kondisi jarak pandang tertentu.
"Instrumen kita bisa membantu pilot untuk take-off atau landing sampai minimal jarak pandang 1.300 meter," jelasnya.
Hingga saat ini, kata Ardon, belum terdapat penerbangan yang mengalami dampak akibat kabut asap yang menyelimuti Kota Jambi dan Muaro Jambi.
"Sejauh ini belum ada penerbangan yang berdampak. Kita doakan bersama semoga tidak semakin buruk, agar tidak mengganggu operasional penerbangan," ujarnya.
Kualitas Udara Jambi Masuk Kategori Tidak Sehat
Sementara itu, kualitas udara di Kota Jambi menunjukkan kondisi yang perlu diwaspadai.
Berdasarkan pemantauan melalui aplikasi ISPUnet pada Selasa (11/8/2026) sekitar pukul 09.30 WIB, Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) Kota Jambi berada di angka 105.
Angka tersebut menempatkan kualitas udara Kota Jambi dalam kategori tidak sehat.
Kondisi serupa terjadi di Kabupaten Muaro Jambi. ISPU di wilayah tersebut tercatat mencapai 157, yang juga masuk dalam kategori tidak sehat.
Kabut asap terlihat menyelimuti sejumlah kawasan di Kota Jambi, termasuk kawasan perkantoran Wali Kota Jambi. Namun, kabut asap yang terlihat belum terlalu signifikan.
Munculnya kabut asap tersebut diduga berkaitan dengan kebakaran hutan dan lahan yang terjadi di sejumlah wilayah Provinsi Jambi.
Kondisi kualitas udara yang memburuk dapat berdampak terhadap kesehatan, terutama gangguan pada saluran pernapasan. Selain itu, kabut asap dengan jarak pandang yang menurun juga berpotensi mengganggu aktivitas penerbangan apabila kondisinya semakin memburuk. (*)