JAMBI - Rapat Kerja Wilayah (Rakerwil) I Ikatan Sarjana Melayu Indonesia (ISMI) Provinsi Jambi yang berlangsung di Hotel BW Luxury, Kota Jambi, Rabu (19/8/2026), bukan sekadar forum menyusun daftar program kerja.
Ketua PW ISMI Provinsi Jambi Hj. Ernawati, S.Ag., M.Pd., membawa pesan lebih jauh: organisasi para sarjana Melayu itu harus bergerak keluar dari ruang-ruang seremoni dan hadir langsung menjawab persoalan masyarakat.
Pesannya cukup tegas.
ISMI jangan hanya menjadi tempat berkumpulnya para sarjana.
Dalam naskah sambutan Ketua ISMI pada Rakerwil I, Ernawati menegaskan forum tersebut harus menjadi momentum menyatukan pikiran, mengevaluasi kerja yang telah dilakukan, sekaligus menentukan arah organisasi ke depan.
“Kita ingin ISMI bukan hanya besar secara organisasi, tetapi juga besar manfaatnya bagi masyarakat,” tegas Ernawati.
Rakerwil berlangsung dalam suasana semarak. Wakil Gubernur Jambi KH Abdullah Sani, Hesti Haris, serta Wali Kota Jambi Maulana hadir langsung di lokasi dan disambut jajaran panitia serta pengurus ISMI.
Forum ini juga diikuti pengurus wilayah dan jajaran ISMI kabupaten/kota se-Provinsi Jambi.
Momentum Rakerwil terasa semakin kuat karena digelar hanya dua hari setelah peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia.
Bagi ISMI, semangat kemerdekaan itu ingin diterjemahkan menjadi kerja nyata: membangun sumber daya manusia, mengembangkan UMKM, menjaga adat Melayu, memperkuat kegiatan sosial dan menyiapkan generasi pemimpin Jambi berikutnya.
Ernawati: Jangan Hanya Jadi Tempat Berkumpul Sarjana
Salah satu bagian paling kuat dalam sambutan Ernawati menyentuh identitas organisasi.
Ia mengajak seluruh pengurus untuk membesarkan dan menjaga ISMI, tetapi bukan sekadar mengejar besarnya nama organisasi.
“Jangan sampai ISMI hanya menjadi tempat berkumpulnya para sarjana. Jadikan ISMI sebagai rumah ilmu, rumah silaturahmi, rumah kaderisasi, rumah kemanusiaan dan rumah pengabdian,” ujarnya dalam naskah sambutan.
Arah itu sekaligus menjadi tantangan bagi Rakerwil.
Sebab setelah kepengurusan terbentuk, ukuran berikutnya bukan lagi berapa banyak nama berada dalam struktur.
Tetapi apa yang dikerjakan.
Dan siapa yang mendapatkan manfaat.
Bidik Lahirnya Pemimpin Masa Depan Jambi
ISMI juga mulai menempatkan kaderisasi sebagai salah satu agenda penting organisasi.
Ernawati ingin organisasi tersebut ikut menjadi tempat tumbuhnya generasi pemimpin Jambi.
“Kita ingin ISMI menjadi tempat lahirnya kader-kader pemimpin Jambi yang berilmu, beradat, berintegritas dan memiliki kepedulian terhadap masyarakat,” katanya.
Tema Rakerwil pun dibuat sejalan:
“Berilmu, Beradat, Membangun Peradaban.”
Ernawati kemudian merumuskan makna tema itu dalam tiga kalimat.
“Ilmu harus melahirkan kebijaksanaan. Adat harus melahirkan akhlak. Dan ilmu serta adat harus melahirkan peradaban yang memberikan manfaat bagi umat, masyarakat, daerah dan bangsa,” katanya.
Pesan tersebut memiliki relevansi khusus dengan agenda Rakerwil yang juga menampilkan simulasi penyelesaian masalah atau konflik melalui adat Melayu Jambi.
Ketua Panitia Rakerwil I, Datuk Nurman Jamal, sebelumnya menjelaskan simulasi tersebut menjadi bagian dari rangkaian kegiatan sebelum forum masuk ke pembahasan program kerja.
Adat dengan demikian tidak sekadar hadir sebagai simbol.
Ia coba ditempatkan sebagai salah satu nilai yang bisa bekerja ketika masyarakat berhadapan dengan persoalan.
ISMI Mau Masuk ke Persoalan Sosial
Ernawati juga mengarahkan ISMI agar ikut membantu pemerintah dalam persoalan sosial dan kemanusiaan.
Sasarannya cukup luas.
Anak yatim.
Kaum dhuafa.
Korban bencana.
Pendidikan masyarakat.
Pemberdayaan perempuan.
Hingga persoalan sosial lainnya.
“Kita tidak ingin hanya memberikan bantuan sesaat,” tegasnya.
Menurut Ernawati, orientasi berikutnya harus bergerak ke pemberdayaan, sehingga masyarakat memiliki kemampuan untuk bangkit, mandiri dan membangun masa depan yang lebih baik.
Arah tersebut memiliki jejak dalam kegiatan ISMI selama beberapa bulan terakhir.
Sehari sebelum Rakerwil, ISMI Jambi bersama Hesti Haris dan jaringan BKMT menginisiasi nonton bareng film “Anak-Anak Bambu” bersama artis Elma Theana dan ratusan anak yatim.
ISMI juga kerap menyalurkan bantuan kepada kaum dhuafa dan fakir miskin.
Pada Ramadan lalu, kegiatan sosial dilakukan setiap hari dengan menyiapkan sekitar 700 kotak nasi dan takjil gratis untuk masyarakat.
Kini Rakerwil ingin membuat kegiatan-kegiatan tersebut tidak berjalan sendiri-sendiri, tetapi masuk ke dalam arah program organisasi.
UMKM dan SDM Ikut Masuk Agenda
Kerja sosial bukan satu-satunya target.
Ernawati secara spesifik meminta ISMI ikut mendorong pengembangan UMKM daerah, peningkatan kapasitas anggota melalui pelatihan, pengembangan sumber daya manusia serta pelestarian budaya Melayu Jambi.
Posisi ISMI yang diinginkannya juga jelas.
“ISMI harus mampu menjadi jembatan antara ilmu, masyarakat dan pemerintah,” kata Ernawati.
Ia melanjutkan:
“Apa yang bisa kita bantu, kita bantu. Apa yang bisa kita pikirkan, kita pikirkan bersama. Apa yang bisa kita kerjakan, kita kerjakan dengan sungguh-sungguh.”
Kalimat terakhir itu sekaligus menjadi ukuran yang dipasang terhadap kepengurusan ISMI sendiri.
Menurut Ernawati, organisasi pada akhirnya tidak akan dinilai dari banyaknya kegiatan, tetapi dari seberapa besar manfaat yang ditinggalkan untuk masyarakat.
“Bukan Hanya Mengejar Jabatan”
Ada pula pesan politik-kaderisasi yang menarik.
Ernawati memang ingin ISMI melahirkan calon pemimpin masa depan Jambi.
Tetapi ia memberikan batas tegas mengenai tipe pemimpin yang hendak dilahirkan.
Pemimpin itu, kata dia, tidak cukup hanya pintar secara akademik.
Mereka harus memiliki akhlak, integritas, kepedulian sosial dan kecintaan kepada daerah.
“Pemimpin yang kita harapkan bukan hanya pandai berbicara, tetapi mampu bekerja. Bukan hanya mengejar jabatan, tetapi memahami amanah,” katanya.
Pesan itu dilanjutkan pada bagian berikutnya.
Pemimpin tidak boleh hanya memikirkan dirinya sendiri atau ingin dikenang karena kedudukannya.
Ia harus dikenang karena manfaat dan kebaikan yang ditinggalkan.
Karena itu, ISMI akan mendorong pola kaderisasi lintas generasi.
Senior membimbing yang muda.
Yang muda menghormati senior.
Yang mempunyai ilmu berbagi.
Dan mereka yang memiliki kemampuan diminta membuka ruang bagi orang lain untuk berkembang.
Ernawati Ingatkan Pengurus: Jangan Berorganisasi Cari Popularitas
Pesan internal kepada pengurus pun cukup tajam.
Ernawati meminta kader ISMI meluruskan niat dalam berorganisasi.
“Kita berorganisasi bukan untuk mencari popularitas. Bukan untuk mengejar pujian. Bukan semata-mata untuk mencari jabatan,” katanya.
Ia ingin ISMI diposisikan sebagai bagian dari pengabdian kepada Allah SWT, masyarakat, daerah dan bangsa.
Ernawati juga meminta ego pribadi ditinggalkan dan persaudaraan organisasi diperkuat.
“Mari kita tinggalkan ego pribadi. Mari kita perkuat persaudaraan. Mari kita bangun ISMI dengan hati. Dan mari kita bekerja bersama-sama,” ujarnya.
Rakerwil Jadi Titik Awal
Rakerwil I akhirnya ditempatkan Ernawati bukan sebagai akhir konsolidasi.
Justru titik awal.
“Mari kita jadikan RAKERWIL ini sebagai titik awal untuk bekerja lebih sungguh-sungguh,” katanya.
Beberapa perintah kerja langsung kemudian disampaikan.
Membantu pemerintah di bidang sosial.
Peduli kepada anak yatim dan dhuafa.
Memberdayakan masyarakat.
Mengembangkan UMKM.
Meningkatkan kualitas sumber daya manusia.
Melestarikan adat dan budaya Melayu Jambi.
Serta menyiapkan kader terbaik menjadi pemimpin masa depan.
Ernawati merangkumnya dalam lima identitas:
ISMI berilmu.
ISMI beradat.
ISMI peduli.
ISMI mengabdi.
ISMI membangun peradaban.
Mesin Organisasi Mulai Digas
Rakerwil yang masih berlangsung hari ini menjadi ujian pertama bagaimana gagasan tersebut diubah menjadi keputusan organisasi.
Pengurus provinsi berkumpul.
Ketua ISMI kabupaten/kota ikut hadir.
Wakil Gubernur KH Abdullah Sani, Hesti Haris dan Wali Kota Jambi Maulana datang langsung dalam pembukaan.
Panitia menyiapkan simulasi penyelesaian konflik melalui adat Melayu.
Setelah itu, forum masuk ke pembahasan program kerja.
Ernawati berharap Rakerwil menghasilkan bukan hanya keputusan tertulis, tetapi langkah nyata bagi kemajuan ISMI dan masyarakat Provinsi Jambi.
Dua hari setelah Indonesia merayakan HUT ke-81 kemerdekaan, pesan yang dibawa dari BW Luxury cukup terang:
sarjana Melayu tidak cukup hanya berilmu.
Ilmu harus bekerja.
Adat harus hidup.
Organisasi harus memberi manfaat.
Dan dari Rakerwil I inilah mesin ISMI Jambi mulai benar-benar digas. (*)