Jambi - Ikatan Sarjana Melayu Indonesia (ISMI) Provinsi Jambi mulai membangun model baru untuk menopang kegiatan organisasinya.
Bukan hanya mengandalkan iuran atau sumbangan.
Satu Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) mulai dimanfaatkan sebagai salah satu sumber pendukung operasional organisasi sekaligus gerakan sosial dan filantropi yang sedang dikembangkan ISMI Jambi.
Langkah tersebut disampaikan Ketua ISMI Provinsi Jambi Hj Ernawati, S.Ag., M.Pd. dalam rangkaian pelantikan Ketua dan Pengurus ISMI Kabupaten Kerinci serta ISMI Kota Sungai Penuh.
“ISMI harus mempunyai sumber daya sendiri untuk menggerakkan kegiatan sosial. Karena itu, kita manfaatkan satu SPBU untuk mendukung operasional ISMI Provinsi Jambi,” kata Ernawati.
Dari Organisasi Intelektual ke Gerakan Filantropi
Ernawati ingin ISMI tidak berhenti sebagai wadah para sarjana Melayu yang hanya berkutat pada diskusi, intelektualitas dan kebudayaan.
Ia ingin organisasi tersebut bergerak lebih jauh.
Masuk ke masyarakat.
Menyentuh kelompok yang membutuhkan.
Dan mempunyai program sosial yang dapat berlangsung terus-menerus.
Salah satu arah yang dikembangkan adalah gerakan filantropi.
Anak yatim dan kaum dhuafa menjadi kelompok yang mendapat perhatian.
ISMI juga ingin ikut mengambil peran dalam persoalan sosial yang berkembang di masyarakat, termasuk warga yang terdampak judi online dan persoalan pinjaman online serta pembinaan terhadap generasi muda yang berhadapan dengan berbagai bentuk kenakalan remaja.
Masalahnya Ada pada Biaya
Program bisa disusun.
Pengurus bisa dibentuk.
Target penerima manfaat bisa dipetakan.
Namun semuanya membutuhkan biaya.
Di titik inilah Ernawati ingin ISMI mempunyai fondasi ekonomi sendiri.
Menurutnya, organisasi dengan agenda sosial yang besar tidak ideal apabila seluruh kegiatannya bergantung pada sumbangan yang sifatnya insidental.
Hari ini ada donatur, program berjalan.
Besok tidak ada bantuan, kegiatan berhenti.
Pola seperti itu yang ingin perlahan diubah.
Karena itu, satu SPBU mulai diarahkan sebagai salah satu penopang kebutuhan operasional dan program sosial ISMI Jambi.
SPBU Bukan Sekadar Tempat Jual BBM
Konsep yang dibawa Ernawati adalah membuat kegiatan ekonomi menghasilkan sumber daya bagi gerakan sosial.
SPBU tetap harus beroperasi sebagai unit usaha.
Namun manfaat ekonominya diharapkan memiliki efek yang lebih luas.
Sebagian dapat menopang kegiatan organisasi.
Sebagian lagi diarahkan untuk memperkuat program kemanusiaan yang dijalankan ISMI.
Dengan pola tersebut, organisasi mencoba membangun hubungan antara usaha dan pengabdian.
Usaha menghasilkan.
Organisasi mempunyai daya dukung.
Program sosial bisa berjalan lebih berkelanjutan.
Masyarakat kemudian menjadi penerima manfaatnya.
Prof Jafar: Ini Tanda Keseriusan Ketua ISMI
Langkah itu mendapat respons positif dari Ketua ISMI Kabupaten Kerinci Prof Jafar.
Ia menilai keberadaan sumber ekonomi yang menopang organisasi menunjukkan keseriusan Hj Ernawati dalam mengawal agenda ISMI.
“Ini tanda bahwa Ketua ISMI Provinsi Jambi sangat serius mengawal program ISMI ke depan. Kalau organisasi memiliki sumber ekonomi yang kuat, maka gerakan sosialnya juga akan lebih berkelanjutan,” kata Prof Jafar.
Menurutnya, organisasi sosial membutuhkan lebih dari sekadar program bagus.
Ada persoalan keberlanjutan yang harus dipikirkan sejak awal.
Tanpa sumber pendanaan yang memadai, program besar berpotensi berhenti di tengah jalan.
Yatim dan Dhuafa Akan Dipetakan
Salah satu program yang terus ditekankan ISMI adalah perhatian terhadap anak yatim.
Pendekatannya tidak hanya berupa pemberian bantuan sesaat.
ISMI ingin melakukan pemetaan.
Dengan pemetaan tersebut, kondisi anak yatim dan keluarga dhuafa dapat diketahui lebih jauh, termasuk kebutuhan pendidikan, kesehatan maupun persoalan sosial yang mereka hadapi.
Dari data tersebut, program bantuan diharapkan bisa disusun lebih tepat.
Artinya, gerakan filantropi yang ingin dikembangkan tidak hanya berbentuk kegiatan pembagian bantuan pada momentum tertentu.
Ada upaya membangun pendampingan yang lebih terstruktur.
Judol dan Pinjol Ikut Jadi Perhatian
ISMI Jambi juga ingin masuk ke persoalan yang belakangan berkembang di tengah masyarakat.
Salah satunya judi online.
Persoalan pinjaman online juga mendapat perhatian.
Kedua masalah tersebut dapat menimbulkan dampak lebih luas terhadap keluarga, ekonomi rumah tangga hingga kondisi sosial masyarakat.
ISMI ingin menempatkan organisasi sebagai salah satu elemen yang ikut membantu masyarakat terdampak.
Namun bentuk teknis pendampingan maupun program rehabilitasi sosial yang akan dijalankan masih perlu dirinci lebih lanjut.
Generasi Muda Tak Luput dari Perhatian
Persoalan kenakalan remaja juga masuk agenda.
Ernawati dalam sejumlah kesempatan menekankan pentingnya membentengi generasi muda melalui pendidikan, agama, keluarga dan kegiatan sosial yang positif.
Karena itu, arah filantropi ISMI tidak hanya berbicara tentang pemberian uang.
Pembinaan generasi muda juga menjadi bagian dari gerakan yang ingin dibangun.
Target akhirnya adalah membentuk masyarakat yang memiliki ketahanan sosial lebih kuat.
Dari Kerinci, Model Itu Mulai Diperkenalkan
Penyampaian mengenai pemanfaatan SPBU tersebut dilakukan di tengah momentum penguatan struktur ISMI di daerah.
ISMI Kabupaten Kerinci dan ISMI Kota Sungai Penuh menjadi bagian dari jaringan organisasi yang sedang diperkuat.
Dengan struktur daerah yang aktif, program ISMI nantinya diharapkan tidak hanya bergerak dari tingkat provinsi.
Kabupaten dan kota dapat menjadi ujung tombak.
Mereka yang lebih dekat dengan masyarakat.
Mereka pula yang dapat mengetahui anak yatim, dhuafa, keluarga bermasalah maupun kelompok yang membutuhkan pendampingan.
Karena itu, penguatan organisasi dan kemandirian pendanaan dipandang harus berjalan bersamaan.
Bukan Sekadar Organisasi Seremonial
Arah yang hendak dibangun Ernawati cukup jelas.
ISMI tidak ingin hanya terlihat ketika pelantikan.
Tidak hanya berkumpul saat seminar.
Tidak berhenti pada kegiatan adat atau diskusi kebudayaan.
Organisasi ingin mempunyai kegiatan ekonomi dan sosial yang dapat diukur manfaatnya.
Menurut konsep yang disampaikan dalam pelantikan tersebut, intelektualitas harus mampu diterjemahkan menjadi solusi.
Kebudayaan harus hidup bersama masyarakat.
Dan organisasi membutuhkan kemampuan ekonomi agar program tidak bergantung sepenuhnya kepada pihak lain.
Struktur SPBU Perlu Diperjelas
Dalam penjelasan yang disampaikan, Ernawati menyebut satu SPBU dimanfaatkan untuk mendukung operasional ISMI Provinsi Jambi.
Namun bahan yang tersedia belum merinci status kepemilikan badan usaha, pola pengelolaan, maupun mekanisme berapa bagian keuntungan SPBU yang nantinya dialokasikan kepada organisasi dan program filantropi.
Detail tersebut menjadi penting apabila model ini dikembangkan dalam jangka panjang.
Transparansi sumber dan penggunaan dana akan menjadi bagian penting dalam menjaga kepercayaan terhadap gerakan sosial yang membawa nama organisasi.
Dari Usaha Menuju Kemanusiaan
Meski mekanisme teknis masih perlu diperjelas, gagasan yang ingin dibangun sudah terlihat.
ISMI Jambi ingin mempunyai mesin ekonomi.
Bukan untuk menjadikan organisasi sekadar entitas bisnis.
Tetapi agar agenda sosial memiliki napas panjang.
Prof Jafar melihat langkah tersebut sebagai fondasi bagi gerakan yang lebih berkelanjutan.
Ernawati sendiri ingin sumber daya ekonomi itu pada akhirnya bermuara kepada masyarakat yang membutuhkan.
Anak yatim.
Dhuafa.
Masyarakat terdampak persoalan sosial.
Generasi muda.
Dan berbagai program kemanusiaan lainnya.
Dari intelektualitas menuju pengabdian. Dari kebudayaan menuju filantropi. Dan dari kegiatan usaha, ISMI Jambi ingin membangun sumber daya agar kerja sosial tidak berhenti hanya karena donasi sedang tidak ada. (*)