Tampil Anggun Ber “Abaya” Hitam, Hj Ernawati Cerita Sosok Syekh Ala hingga Program 100 Anak Yatim per Kabupaten

WIB
Ist

Muaro Jambi - Ketua Ikatan Sarjana Melayu Indonesia (ISMI) Provinsi Jambi Hj Ernawati mendapat kesempatan menyampaikan pidato di tengah lawatan ulama Mesir Maulana Syekh ‘Ala Muhammad Musthafa Na’imah di Pondok Pesantren Daaru Attauhid, Kumpeh, Kabupaten Muaro Jambi, Jumat (4/9/2026) malam.

Ernawati tampil anggun.

Ia mengenakan abaya serba hitam.

Namun pidatonya malam itu tidak banyak berbicara tentang dirinya.

Ernawati justru membuka dengan menceritakan sosok yang duduk tidak jauh darinya.

Gurunya.

Syekh Ala.

Di hadapan pengasuh pesantren, santri, jamaah dan sejumlah tokoh Jambi, Ernawati bercerita bagaimana ia mengenal langsung karakter Syekh Ala selama belajar di Alexandria, Mesir.

Ia menyebut satu kata berulang kali:

Ikhlas.

"Beliau mengajar saya di Alexandria. Yang saya rasakan, beliau mengajar dengan penuh keikhlasan. Tidak pernah menggurui. Beliau membuat murid mencintai ilmu dan yang paling terasa adalah bagaimana beliau membangun kecintaan kita kepada Rasulullah SAW," kata Ernawati.

"Beliau Tidak Pernah Meminta Bayaran"

Ernawati lalu menceritakan sisi lain sang guru.

Menurutnya, Syekh Ala tidak pernah menjadikan aktivitas mengajar sebagai ruang mencari imbalan dari murid.

Bahkan, kata Ernawati, dalam banyak kesempatan justru sang guru yang mengeluarkan hartanya.

"Beliau tidak pernah meminta bayaran kepada kami untuk mengajar. Tidak pernah. Bahkan beliau banyak bersedekah dalam perjalanan mengajarnya. Itu yang membuat kami sebagai murid belajar bahwa ilmu bukan hanya soal apa yang disampaikan, tetapi bagaimana keikhlasan orang yang menyampaikannya," ujar Ernawati.

Bagi Ernawati, keteladanan semacam itu sulit diperoleh hanya dari membaca buku.

Murid melihat sendiri bagaimana gurunya hidup.

Bagaimana berbicara.

Bagaimana memperlakukan orang lain.

Dan bagaimana menjaga ilmu agar tidak berubah menjadi kesombongan.

"Beliau punya ilmu yang sangat luas, tetapi kita tidak merasa sedang digurui. Itu kelebihan beliau. Semakin dekat, justru semakin terasa kasih sayangnya kepada murid," katanya.

Membumikan Shalawat

Salah satu hal yang paling membekas bagi Ernawati adalah cara Syekh Ala membangun kecintaan kepada Rasulullah SAW.

Bukan melalui teori yang rumit.

Tetapi dengan kebiasaan.

Shalawat.

Ziarah.

Majelis ilmu.

Dan mengenal kehidupan orang-orang saleh.

Menurut Ernawati, Syekh Ala selalu membawa muridnya kembali kepada mahabbah Rasulullah.

"Beliau membumikan shalawat. Kita diajak bershalawat bukan hanya ketika ada acara, tetapi menjadikannya bagian dari kehidupan. Dari beliau saya semakin memahami bahwa cinta kepada Rasulullah harus terus dirawat," kata Ernawati.

Pesan itu nyambung dengan rangkaian agenda Syekh Ala sejak siang di Jambi.

Di Masjid Agung Al-Falah, ulama asal Alexandria itu juga banyak menguraikan shalawat dan kecintaan kepada Nabi Muhammad SAW.

Ribuan jamaah mengikuti.

Shalawat menggema.

Kini ketika tiba di Daaru Attauhid, Ernawati menceritakan bagaimana ajaran itu sebelumnya ia terima langsung sebagai seorang murid.

Dulu Tak Paham Ziarah, Sekarang Sering Ziarah Wali

Ada pengakuan personal yang disampaikan Ernawati.

Dulu, katanya, ia belum memahami betul manfaat ziarah.

Syekh Ala-lah yang secara perlahan mengenalkannya pada tradisi tersebut.

"Syekh selalu mengajarkan kami ziarah. Dulu saya tidak tahu apa manfaatnya. Setelah mengikuti, belajar dan memahami hikmahnya, sekarang saya justru sering berziarah kepada para wali dan orang-orang saleh," kata Ernawati.

Menurutnya, ziarah bukan sekadar datang ke makam.

Ada pelajaran tentang kehidupan.

Ada pengingat kematian.

Ada sejarah.

Ada kisah perjuangan orang-orang yang menghabiskan hidupnya untuk ilmu dan dakwah.

"Di situ kita belajar bahwa sebesar apa pun manusia, akhirnya kembali kepada Allah. Kita juga belajar dari jejak hidup para ulama: apa yang mereka tinggalkan sehingga namanya masih dikenang dan diziarahi sampai hari ini," ujarnya.

Bagi Ernawati, dari situlah muncul refleksi sederhana.

Yang membuat seseorang panjang umur bukan hanya usia biologis.

Tetapi manfaat yang ditinggalkan.

Daaru Attauhid Diajak Dauroh ke Mesir

Hubungan Syekh Ala dengan Daaru Attauhid ternyata juga ingin dibawa lebih jauh.

Di hadapan keluarga besar pesantren, Ernawati membuka peluang agar para santri dan pengasuh Daaru Attauhid suatu hari bisa mengikuti dauroh atau perjalanan belajar ke Mesir, termasuk Alexandria.

Ia mengatakan akses itu bisa dibangun melalui jaringan yang telah dimiliki.

"Kalau Daaru Attauhid mau buat dauroh ke sana, insyaallah kita bisa bantu. Belajar ke Mesir sekarang bisa kita permudah aksesnya. Santri-santri kita nanti bisa melihat langsung tradisi keilmuan di sana, bertemu ulama dan belajar," ujar Ernawati.

Gagasan tersebut mendapat makna tersendiri.

Sebab Syekh Ala bukan hanya datang dari Mesir ke Jambi.

Ernawati ingin hubungan itu berjalan dua arah.

Hari ini guru dari Alexandria datang ke Kumpeh.

Suatu hari, santri Kumpeh bisa pula datang belajar ke Alexandria.

Sejumlah Catatan Sebut Syekh Ala Ahlul Bait

Ernawati juga menyinggung kemuliaan nasab sang guru.

Ia menyebut mendapatkan informasi dari sejumlah sumber mengenai hubungan garis keluarga Syekh Ala dengan keluarga Rasulullah SAW.

Sejumlah catatan biografis yang beredar memang menyebut Syekh Ala sebagai ahlul bait. Namun klaim lebih spesifik mengenai jalur nasab yang bersambung sekaligus melalui Sayyidina Hasan dan Sayyidina Husain membutuhkan dokumen silsilah yang lebih otoritatif untuk diverifikasi secara jurnalistik.

Bagi Ernawati, terlepas dari kemuliaan nasab, sesuatu yang paling mudah dilihat langsung dari sang guru adalah akhlaknya.

"Yang saya rasakan sebagai murid adalah akhlaknya. Cara beliau memperlakukan murid, keikhlasannya mengajar, kecintaannya kepada Rasulullah dan semangatnya membagikan ilmu. Itu yang bisa kita saksikan langsung," kata Ernawati.

Pidato Beralih ke ISMI

Setelah cukup panjang menceritakan sang guru, Ernawati kemudian mengalihkan pembicaraan kepada organisasi yang dipimpinnya.

ISMI Provinsi Jambi.

Ia menjelaskan kepengurusan ISMI Jambi memang relatif baru dilantik.

Namun ISMI sendiri bukan organisasi yang baru lahir di Indonesia.

"ISMI ini kepengurusan kami memang baru dilantik. Tetapi keberadaan ISMI di Indonesia sudah lama. Setelah dilantik, kami tidak ingin berhenti di struktur. Kami sudah menyusun rencana kerja," kata Ernawati.

Yang menarik, salah satu fokus program yang disebutnya bukan seminar atau seremoni.

Anak yatim.

Target 100 Anak Yatim Setiap Kabupaten

Di hadapan jamaah Daaru Attauhid, Ernawati membuka salah satu program besar ISMI Provinsi Jambi.

Targetnya, 100 anak yatim dari setiap kabupaten/kota.

Anak-anak tersebut akan dipetakan untuk mendapatkan dukungan pendidikan.

"Kami punya program untuk anak yatim. Insyaallah targetnya 100 anak di setiap kabupaten. Kita ingin membantu pendidikan mereka, supaya keadaan keluarga tidak memutus cita-cita anak-anak ini," kata Ernawati.

Jika skema itu dikembangkan ke seluruh 11 kabupaten/kota di Provinsi Jambi, maka cakupannya berpotensi menyentuh lebih dari seribu anak.

Namun Ernawati menekankan program tersebut harus dijalankan secara terukur.

Bukan sekadar membagikan bantuan sekali.

ISMI ingin melihat pendidikan anak sampai lebih jauh.

Daaru Attauhid Bisa Jadi Salah Satu Tujuan

Dalam pidatonya, Ernawati secara khusus menyebut pesantren sebagai bagian dari skema pendidikan tersebut.

Salah satu yang ia sebut adalah Pondok Pesantren Daaru Attauhid.

"Kita akan bantu anak-anak yatim ini sekolah. Salah satu yang bisa menjadi tempat pendidikan mereka adalah pesantren, termasuk Daaru Attauhid ini. Kita ingin bukan hanya membantu biaya, tetapi memastikan anak mendapat lingkungan pendidikan dan pembinaan yang baik," ujar Ernawati.

Program tersebut sejalan dengan rangkaian kegiatan sosial yang belakangan dijalankan Ernawati dan ISMI Jambi.

Dalam lawatannya ke sejumlah daerah, anak yatim dan dhuafa menjadi kelompok yang sering disambangi.

Namun kali ini konsepnya ingin dinaikkan.

Dari bantuan sesaat menjadi pendampingan pendidikan.

Remaja Masjid Jadi Fokus Berikutnya

Anak yatim bukan satu-satunya agenda.

Ernawati juga menyebut pengembangan remaja masjid sebagai salah satu fokus ISMI.

Menurutnya, masjid harus kembali menjadi pusat pembentukan generasi muda.

Tidak hanya tempat salat.

Masjid bisa menjadi tempat belajar.

Diskusi.

Mengaji.

Pelatihan keterampilan.

Kewirausahaan.

Hingga pengembangan kepemimpinan anak muda.

"Kita juga ingin mengembangkan remaja masjid. Masjid jangan kehilangan anak mudanya. Justru generasi muda harus kita dekatkan dengan masjid, diberi ruang berkegiatan, belajar dan mengembangkan diri," kata Ernawati.

Ia melihat tantangan generasi sekarang jauh berbeda.

Anak-anak hidup berdampingan dengan media sosial dan teknologi.

Karena itu pendekatannya juga tidak bisa hanya menggunakan pola lama.

Remaja masjid, katanya, harus dibuat aktif dan relevan.

"Agamanya kuat, tetapi kemampuan teknologi juga bagus. Dekat dengan masjid, tetapi tetap kreatif. Itu generasi yang ingin kita bangun," ujarnya.

Dari Cerita Seorang Guru ke Program Anak Yatim

Pidato Ernawati malam itu akhirnya bergerak cukup jauh.

Awalnya ia hanya mengenalkan gurunya.

Sang ulama yang mengajarnya di Alexandria.

Guru yang menurutnya tidak pernah meminta bayaran.

Guru yang justru banyak bersedekah.

Guru yang membuat ilmu terasa dekat.

Guru yang mengajarkan shalawat.

Dan guru yang mengenalkannya pada hikmah ziarah.

Lalu pembicaraan bergerak ke depan.

Ke ISMI.

Ke anak yatim.

Ke pesantren.

Ke remaja masjid.

Seolah Ernawati ingin menarik satu garis lurus:

ilmu yang diterima dari guru harus berubah menjadi manfaat bagi orang lain.

"Kalau kita mendapat ilmu, jangan berhenti di kita. Kalau kita mendapat rezeki, jangan berhenti di keluarga kita. Ada anak yatim, ada santri, ada generasi muda yang harus kita bantu. Saya banyak belajar itu dari guru-guru saya," kata Ernawati.

Abaya Hitam dan Pesan yang Panjang

Di depan jamaah Daaru Attauhid malam itu, Ernawati masih berdiri dengan abaya hitamnya.

Penampilannya sederhana.

Tetapi cerita yang dibawa melintasi ribuan kilometer.

Dari Kumpeh menuju Alexandria.

Dari majelis Syekh Ala di Mesir kembali ke pesantren di Jambi.

Dari pengalaman seorang murid menuju rencana besar sebuah organisasi sarjana.

Syekh Ala duduk mendengarkan.

Santri menyimak.

Para tokoh berada di antara jamaah.

Dan dari podium itu Ernawati menitipkan satu gagasan:

berguru jangan hanya membuat seseorang semakin banyak tahu. Berguru harus membuat seseorang semakin ingin memberi.(*)

BeritaSatu Network