Muaro Jambi - Suasana Pondok Pesantren Daaru Attauhid, Kumpeh, Kabupaten Muaro Jambi, Jumat (4/9/2026) malam, mendadak pecah.
Ulama asal Mesir, Maulana Syekh ‘Ala Muhammad Musthafa Na’imah, baru saja berdiri di hadapan ratusan santri ketika kalimat pertama yang keluar justru bukan bahasa Arab.
Dengan logat yang terdengar cukup fasih, Syekh Ala berkata:
“Sayo cinto Jambi.”
Ratusan santri langsung bersorak.
Suasana yang sebelumnya khidmat berubah cair. Ada yang tertawa, ada yang bertepuk tangan, sebagian santri bahkan terlihat saling menoleh karena tak menyangka ulama asal Alexandria itu membuka ceramah dengan bahasa Jambi.
Syekh Ala tersenyum.
Ia kemudian menambahkan satu kalimat lagi yang membuat suasana semakin hangat.
“Semua orang Jambi adalah keluarga saya.”
Santri kembali riuh.
Malam itu, Syekh Ala seperti sengaja meruntuhkan jarak antara seorang ulama tamu dari Timur Tengah dengan ratusan santri yang duduk di hadapannya.
Ia tidak ingin berdiri jauh di atas mimbar.
Ia justru turun.
Berjalan.
Menyapa.
Lalu masuk di antara barisan santri.
Santri pun makin heboh.
Syekh Ala Ingat Pernah Bertemu HBA di Madinah
Di antara tokoh yang hadir malam itu terdapat mantan Gubernur Jambi Hasan Basri Agus atau HBA.
Syekh Ala rupanya mengenali sosok tersebut.
Ia menyebut pernah bertemu HBA di Madinah.
Momen itu kembali mencairkan suasana.
HBA yang berada di antara jamaah menjadi bagian dari percakapan Syekh Ala dengan masyarakat Jambi malam itu.
Syekh Ala tidak sekadar datang sebagai penceramah.
Ia membawa cerita.
Membawa hubungan personal.
Dan mencoba membuat jamaah merasa dekat.
Kalimat “semua orang Jambi adalah keluarga saya” bukan hanya basa-basi.
Cara Syekh Ala bergerak di tengah santri malam itu seolah menunjukkan pesan tersebut.
Ia tidak menjaga jarak.
Ia berjalan dari satu sisi ke sisi lain.
Memandang wajah santri.
Sesekali berhenti.
Kemudian mengajak mereka berbicara.
Tidak Hanya Ceramah dari Depan
Gaya Syekh Ala malam itu berbeda.
Ia tidak hanya berdiri dan berbicara satu arah.
Syekh Ala justru turun mengelilingi santri.
Ratusan santri mengikuti setiap geraknya.
Ketika Syekh Ala mendekati satu sisi ruangan, kepala santri ikut menoleh.
Ketika ia berhenti di depan seorang santri, perhatian jamaah tertuju ke sana.
Ada interaksi langsung.
Ada dialog.
Ada pertanyaan.
Dan ada tawa yang beberapa kali pecah.
Bagi para santri, suasana seperti itu membuat ceramah terasa lebih dekat.
Syekh Ala tidak tampil sebagai ulama yang hanya menyampaikan materi.
Ia tampil seperti seorang guru yang sedang berada di tengah murid-muridnya.
Bicara Ilmu dan Zikir
Di antara materi yang disampaikan, Syekh Ala berbicara tentang dua hal yang terus ia tekankan:
ilmu dan zikir.
Menurutnya, seorang santri tidak cukup hanya rajin melakukan ibadah tanpa bersungguh-sungguh menuntut ilmu.
Sebaliknya, ilmu juga tidak boleh membuat seseorang jauh dari Allah.
Keduanya harus berjalan bersama.
Ilmu menerangi pikiran.
Zikir menjaga hati.
Syekh Ala mengingatkan para santri bahwa jalan menuntut ilmu bukan jalan yang pendek.
Butuh kesungguhan.
Butuh disiplin.
Butuh waktu.
Dan butuh kesabaran.
“Santri harus punya kesungguhan. Kalian berada di pesantren bukan hanya untuk tinggal, tetapi untuk belajar. Gunakan waktu ini. Jangan disia-siakan,” kata Syekh Ala melalui penerjemah.
Ceramah Syekh Ala disampaikan dalam bahasa Arab, kemudian diterjemahkan agar seluruh santri memahami pesan yang disampaikan.
Namun beberapa kali Syekh Ala sengaja menggunakan bahasa Indonesia dan bahasa Jambi.
Setiap itu pula santri kembali bersorak.
Panggil Salah Satu Santri
Di tengah ceramah, Syekh Ala kemudian menghampiri salah seorang santri.
Ia mengajaknya berdialog.
Santri itu tampak sedikit gugup.
Teman-temannya langsung memberi perhatian.
Syekh Ala bertanya mengenai usia dan pelajaran.
Dari dialog sederhana itulah pembicaraan bergerak kepada salah satu tokoh besar dalam sejarah keilmuan Islam.
Imam Syafi’i.
Syekh Ala ingin santri memahami satu hal:
usia muda bukan alasan untuk menunda kesungguhan dalam belajar.
Ia kemudian menceritakan bagaimana Imam Syafi’i sejak usia sangat muda telah menekuni Al-Qur’an dan ilmu agama dengan luar biasa.
“Di umur seperti kalian, Imam Syafi’i sudah bersungguh-sungguh dalam ilmu. Beliau telah menghafal Al-Qur’an ketika masih sangat muda,” kata Syekh Ala.
Ia kemudian menyinggung fase usia sekitar 10 tahun dalam perjalanan keilmuan Imam Syafi’i.
Pesan yang hendak disampaikan bukan semata-mata soal angka usia.
Tetapi tentang apa yang dilakukan seseorang ketika masih muda.
“Umur 15 Tahun Sudah Diizinkan Berfatwa”
Syekh Ala melanjutkan.
Ia menggambarkan betapa kuatnya kesungguhan Imam Syafi’i dalam menuntut ilmu hingga pada usia muda telah mencapai tingkat keilmuan yang luar biasa.
“Pada umur sekitar 15 tahun, beliau sudah mendapat izin untuk memberikan fatwa. Kenapa? Karena ilmu,” kata Syekh Ala.
Santri menyimak.
Kalimat itu seperti sengaja dilempar sebagai tantangan.
Jika seorang ulama besar pada usia belasan tahun sudah menghabiskan waktunya untuk Al-Qur’an, hadis, fiqih dan bahasa, lalu bagaimana generasi hari ini menggunakan umur yang sama?
Untuk bermain?
Untuk media sosial?
Atau untuk membangun ilmu?
Syekh Ala tidak meminta semua santri menjadi Imam Syafi’i.
Tetapi ia ingin mereka belajar dari kesungguhan Imam Syafi’i.
“Yang kita lihat bukan hanya hasil akhirnya. Kita lihat kesungguhannya. Ilmu itu tidak datang kepada orang yang malas,” ujarnya.
Santri Diminta Jangan Meremehkan Masa Muda
Syekh Ala mengingatkan bahwa masa muda merupakan modal terbesar seorang penuntut ilmu.
Ingatan masih kuat.
Energi besar.
Waktu masih panjang.
Karena itu, masa muda jangan habis tanpa bekas.
Menurut Syekh Ala, ilmu yang ditanam ketika muda akan menjadi bekal sepanjang kehidupan.
Ia mengajak para santri memanfaatkan pesantren sebagai tempat membentuk diri.
Bukan sekadar mengejar nilai.
Bukan hanya menghafal untuk ujian.
Tetapi benar-benar membangun kapasitas keilmuan.
“Jangan berkata, ‘Saya masih muda, nanti saja belajar serius.’ Justru masa muda adalah waktu kalian untuk bersungguh-sungguh. Ilmu yang kalian tanam hari ini akan kalian bawa sampai tua,” kata Syekh Ala.
Ilmu Bukan untuk Sombong
Syekh Ala juga mengingatkan bahwa semakin tinggi ilmu seseorang, seharusnya semakin rendah hatinya.
Ia mencontohkan para ulama besar.
Mereka belajar bertahun-tahun.
Menguasai banyak disiplin.
Namun tidak menjadikan ilmu sebagai alasan merendahkan orang lain.
Ini pula yang sebelumnya disampaikan Hj Ernawati ketika mengenalkan gurunya.
Menurut Ernawati, Syekh Ala mempunyai karakter yang kuat dalam mengajar.
Ilmunya luas.
Tetapi tidak pernah membuat murid merasa sedang digurui.
Ia mengajar dengan kasih sayang.
Tidak meminta bayaran.
Bahkan dalam banyak kesempatan justru banyak bersedekah kepada murid.
Malam itu karakter tersebut terlihat langsung.
Syekh Ala tidak bertahan di kursi utama.
Ia justru masuk ke tengah santri.
Zikir Harus Menjaga Hati Penuntut Ilmu
Setelah bicara panjang mengenai ilmu, Syekh Ala kembali membawa santri pada zikir.
Menurutnya, penuntut ilmu harus menjaga hubungan dengan Allah.
Belajar tidak hanya memakai otak.
Hati juga harus dijaga.
Zikir menjadi salah satu caranya.
Syekh Ala mengajarkan bahwa kecerdasan tanpa kebersihan hati bisa melahirkan kesombongan.
Sedangkan zikir tanpa ilmu dapat membuat seseorang kehilangan kedalaman pemahaman.
Karena itu, santri harus menggabungkan keduanya.
Belajar.
Mengaji.
Membaca.
Menghafal.
Lalu berzikir.
Berdoa.
Dan menjaga adab.
“Ilmu dan zikir jangan dipisahkan. Ilmu memberi kalian pemahaman. Zikir menjaga hati kalian bersama Allah,” ujar Syekh Ala.
“Semua Orang Jambi Keluarga Saya”
Di sela-sela materi yang cukup serius, Syekh Ala beberapa kali kembali membuat suasana cair.
Ia kembali menyapa santri.
Berjalan di antara mereka.
Sesekali bercanda.
Setiap muncul bahasa Jambi dari mulutnya, santri kembali bersorak.
Kalimat “Sayo cinto Jambi” menjadi salah satu yang paling mengundang respons.
Begitu pula ketika Syekh Ala mengatakan:
“Semua orang Jambi adalah keluarga saya.”
Ada sesuatu yang sederhana dari kalimat itu.
Seorang ulama Mesir datang ribuan kilometer.
Masuk ke sebuah pesantren di Kumpeh.
Lalu menyebut masyarakat Jambi sebagai keluarganya.
Bagi santri, kalimat itu membuat figur yang sebelumnya terasa jauh menjadi dekat.
Ernawati Melihat Sang Guru Kembali Mengajar
Hj Ernawati yang duduk di antara jamaah menyaksikan pola mengajar yang sudah sangat dikenalnya.
Ia pernah menjadi murid Syekh Ala di Alexandria.
Malam itu, Ernawati melihat gurunya melakukan hal yang sama di Jambi.
Berjalan mendekati murid.
Mengajak dialog.
Bercanda.
Lalu tiba-tiba masuk ke pembahasan ilmu yang dalam.
“Ini yang selalu saya ceritakan tentang beliau. Beliau tidak membuat orang takut untuk belajar. Murid merasa dekat. Tetapi dari kedekatan itu tiba-tiba kita mendapatkan ilmu yang sangat banyak,” kata Ernawati.
Menurutnya, Syekh Ala memang mempunyai cara tersendiri membangun hubungan dengan murid.
“Tidak menggurui. Tidak menjaga jarak. Tetapi kita justru malu sendiri kalau tidak belajar sungguh-sungguh karena melihat bagaimana beliau begitu ikhlas mengajar,” ujarnya.
Dari Alexandria ke Kumpeh
Malam itu seperti mempertemukan dua tempat yang sangat jauh.
Alexandria.
Dan Kumpeh.
Di Alexandria, Ernawati pernah duduk sebagai murid.
Mendengarkan Syekh Ala.
Mempelajari ilmu.
Mengikuti ziarah.
Belajar tentang shalawat.
Kini guru yang sama berada di tengah santri Daaru Attauhid.
Bukan lagi Ernawati yang duduk paling dekat dengan sang guru.
Ada ratusan anak muda.
Ada santri yang mungkin baru berumur belasan tahun.
Ada yang masih membangun hafalan Al-Qur’an.
Ada yang baru mulai mengenal kitab.
Kepada mereka Syekh Ala membawa satu nama besar:
Imam Syafi’i.
Bukan untuk membuat santri merasa kecil.
Tetapi untuk menunjukkan betapa besar sesuatu yang bisa dilakukan manusia ketika masa mudanya digunakan untuk ilmu.
Malam yang Membekas bagi Santri
Ceramah Syekh Ala akhirnya bukan sekadar forum satu arah.
Ada bahasa Arab.
Ada terjemahan.
Ada bahasa Jambi.
Ada tawa.
Ada sorakan.
Ada dialog.
Ada Imam Syafi’i.
Ada zikir.
Dan ada pesan tentang kesungguhan.
Syekh Ala berjalan mengelilingi santri hingga suasana terasa seperti ruang belajar besar.
Malam itu ia tidak hanya berkata, “Sayo cinto Jambi.”
Ia seperti mencoba menunjukkan kecintaan itu dengan cara yang paling ia kuasai:
mengajar.
Dan kepada ratusan santri Daaru Attauhid, ia meninggalkan satu tantangan sederhana:
jika Imam Syafi’i menggunakan masa mudanya untuk ilmu, apa yang akan kalian lakukan dengan umur kalian hari ini?(*)