Jemaah umrah LAM Jambi menengok dapur katering Hj Ernawati di Makkah. Di tangan peracik bumbu asal Jambi dan pekerja Bangladesh, masakan kampung disiapkan untuk ribuan porsi sehari.
PERACIK bumbunya orang Jambi. Yang memasaknya pekerja Bangladesh. Dapurnya berada di Makkah. Dari pertemuan itu, lahirlah hidangan yang akrab bagi lidah para tamu dari Jambi, gulai asam padeh ikan patin.
Hidangan itu menjadi bagian dari jamuan Hj Ernawati untuk rombongan jemaah umrah Lembaga Adat Melayu atau LAM Jambi yang mengunjungi dapur kateringnya. Rombongan itu dikomandoi Syahrasaddin, mantan Sekda Provinsi Jambi.
Namun, sebelum duduk mencicipi masakan, para tamu diajak melihat tempat makanan itu disiapkan. Mereka masuk ke ruang penyimpanan sayuran, menengok bagian pengolahan telur dan ikan, lalu mengikuti penjelasan sang pemilik tentang pekerjaan yang setiap hari menghasilkan ribuan porsi.
Di Makkah, Ernawati akrab disapa Madam Hur. Perempuan asal Sarolangun Jambi ini menggeluti usaha perhotelan, katering, tiket pesawat, serta penanganan jemaah umrah. Siang itu, ia sendiri yang memperkenalkan dapurnya kepada orang-orang sekampung yang datang sebagai tamu.
Perjalanan rombongan dimulai seusai salat zuhur, Selasa 19 September 2026. Dua mobil Hiace membawa mereka dari Hotel Al Safwah, tempat menginap selama di Makkah. Tim Jambi Link ikut dalam kunjungan tersebut.
Jalanan mulus terbentang di sepanjang perjalanan. Dari dalam kendaraan, rombongan melihat bukit-bukit batu di kiri dan kanan, bersisian dengan bangunan yang menjulang. Makkah tampak terus membangun. Bentang batu dan gedung-gedung tinggi bergantian mengisi pandangan hingga kendaraan tiba di kawasan dapur katering.
Lokasinya sekitar 15 menit berkendara dari Masjidil Haram. Di Makkah, saha dapur katering ditempatkan dalam kawasan tertentu mengikuti penataan wilayah kota. Dapur Ernawati berada di kawasan itu.
Bangunannya berbentuk segi empat, terdiri atas empat lantai. Dari sinilah sebagian kegiatan usaha katering Madam Hur dijalankan. Untuk memahami skala pekerjaannya, rombongan perlu masuk dan melihat sendiri bagian-bagian di dalamnya.
Ernawati mendampingi para tamu berkeliling. Salah satu tempat yang mereka masuki adalah rumah pendingin penyimpanan sayuran. Ukurannya memungkinkan orang masuk ke dalam. Di tempat ini, bahan makanan menunggu giliran untuk dibawa ke bagian pengolahan.

Kunjungan ke ruang itu memperlihatkan tahap yang biasanya luput dari perhatian orang ketika menerima seporsi makanan. Sebelum menjadi lauk dan sayur, bahan-bahan itu harus disimpan. Sebelum hidangan sampai kepada jemaah, ada pekerjaan menyiapkan persediaan dan mengolahnya dalam jumlah besar.
Dari ruang pendingin, rombongan beralih melihat kegiatan memasak. Ada bagian pengolahan telur, ikan, dan gulai. Tim Jambi Link bersama jemaah LAM menyaksikan langsung pekerjaan dapur yang sedang berlangsung, sementara Ernawati menjelaskan apa yang mereka lihat.
“Dulu, saat memulai usaha katering ini, saya sendiri turun langsung belanja ke pasar,” celetuk Hj Ernawati.
Semua orang tampak mengangguk. Beberapa terlihat mengernyitkan dahi mendengar penjelasan Hj Ernawati.
“Saya mulai ini betul-betul dari nol. Alhamdulillah tabarakallah usaha ini sudah berkembang. Jadi saya tidak perlu ke pasar lagi. Sudah ada tim yang khusus belanja,” selorohnya.
Di antara penjelasan itu, asal-usul bumbu menjadi bagian yang paling dekat dengan para tamu. Bumbu dapur tersebut didatangkan dari Jambi. Orang yang meraciknya pun berasal dari daerah yang sama. Adapun pekerjaan memasak ditangani pekerja Bangladesh.

Dengan pembagian kerja itu, resep dari kampung halaman dikerjakan oleh orang-orang dari dua negeri. Para jemaah dari Jambi dapat menelusuri hubungan tersebut sejak bahan disimpan hingga masakan tersaji. Nama daerah mereka hadir di tengah pekerjaan sehari-hari sebuah dapur di Tanah Suci.
“Bumbunya kami datangkan dari Jambi. Yang meracik juga orang Jambi, sedangkan yang memasak orang Bangladesh,” katanya.
Asal bumbu itu memberi arti tersendiri pada kunjungan rombongan LAM. Mereka datang dari daerah yang sama dengan pemilik dapur dan peracik masakannya. Di tempat yang jauh dari rumah, hubungan tersebut bisa terasa sesederhana mengenali lauk yang biasa ditemukan di meja makan sendiri.
Skala pekerjaan di dapur itu melampaui kebutuhan jamuan siang tersebut. Menurut keterangan Ernawati, setiap hari dapurnya mengolah sekitar 2.000–3.000 porsi. Pada masa ramai, seperti Desember, jumlahnya dapat mencapai 5.000 porsi.
“Sehari kami mengolah sekitar dua sampai tiga ribu porsi. Kalau sedang padat, seperti Desember, bisa sampai lima ribu porsi.”
Angka itu membuat ruang penyimpanan bahan dan bagian-bagian pengolahan yang baru saja dilihat rombongan menjadi lebih mudah dipahami. Telur, ikan, sayuran, dan bumbu harus tersedia dalam jumlah yang mengikuti kebutuhan produksi. Setiap hidangan merupakan bagian dari pekerjaan yang berulang dari hari ke hari.

Ernawati juga menjelaskan pengembangan dapur dengan kapasitas yang jauh lebih besar: 30.000 porsi sehari. Angka tersebut masih merupakan target pengembangan. Dibandingkan produksi harian yang ia sebutkan, kapasitas yang dituju mencapai sepuluh hingga lima belas kali lipat.
“Kami sedang mengembangkan dapur yang lebih besar, dengan target kapasitas tiga puluh ribu porsi sehari,” ujar Hj Ernawati.
Dapur itu merupakan salah satu bagian dari usaha Ernawati di Arab Saudi. Ia menyebut mengelola 20 hotel di Makkah dan Madinah, selain menjalankan katering, usaha tiket pesawat, serta layanan penanganan jemaah umrah. Pengelolaan hotel dan penyediaan makanan mempertemukannya dengan kebutuhan sehari-hari orang yang datang untuk beribadah.
Sejumlah datuk LAM sampai menggelengkan kepala mendengar dan menyaksikan usaha yang dijalankan perempuan asal daerah mereka itu. Kekaguman tersebut menemukan wujud yang konkret dalam kunjungan ini, sebuah dapur yang bekerja, para pekerja yang memasak, dan ribuan porsi yang disiapkan setiap hari.
Ada kebanggaan melihat orang sekampung membangun usaha sejauh itu. Terlebih, jejak Jambi masih mudah ditemukan di dalamnya. Peracik bumbunya berasal dari Jambi. Bumbunya dikirim dari Jambi. Pada hari kunjungan tersebut, para tamu dari Jambi mendapat kesempatan mencicipi hasilnya bersama-sama.

Seusai berkeliling, rombongan masuk ke sebuah ruangan berpendingin udara. Ruangan itu juga digunakan untuk salat. Setelahnya, mereka menikmati jamuan yang telah disiapkan.
Gulai asam padeh ikan patin hadir di antara hidangan. Tersedia pula Kopi Paman. Sesudah melihat ruang penyimpanan dan kegiatan memasak, para tamu kini berhadapan dengan hasil akhir pekerjaan dapur Ernawati, makanan yang bisa langsung mereka cicipi.
Pada jamuan itu, gulai patin membawa hubungan yang lebih dekat daripada angka-angka kapasitas usaha. Bagi orang yang sedang jauh dari kampung halaman, masakan yang dikenali dapat menjadi pengingat rumah. Terlebih ketika dinikmati bersama orang-orang sekampung, di tempat usaha seorang perantau dari daerah yang sama.
“Mekkah ini memang diberkati. Tanah yang tandus, tapi semuanya ada. Bahkan ikan patin khas jambi juga ada,” kata Syahrasaddin disambut muka serius Datuk LAM lainnya.
Perjalanan dari Al Safwah membawa rombongan melewati jalan mulus, bukit batu, dan bangunan-bangunan tinggi. Di dapur Madam Hur, perjalanan tersebut berakhir pada sesuatu yang akrab, masakan ala Jambi.
Jambi terasa dekat melalui seporsi gulai patin di Makkah.(*)