Nama : Zarkoni
Prodi : Doktoral Studi Islam Universitas Nurul Jadid, Probolinggo
Dalam era globalisasi dan media digital, narasi tentang Islam sering diproduksi, disebarkan, dan dikonsumsi dengan kecepatan yang belum pernah terjadi sebelumnya. Berita, opini, dan liputan media internasional kerap menghadirkan representasi Islam yang terbatas, simplistis, atau bahkan negatif, yang kemudian membentuk persepsi publik global.
Foto 1. Tangkapan layar trending topic di media sosial menunjukkan stereotip terhadap Muslim yang viral di platform digital
Fenomena ini melahirkan Islamophobia ketakutan atau prasangka terhadap Islam dan Muslim yang tidak hanya muncul dari pengalaman sosial, tetapi juga dari cara pengetahuan keagamaan diproduksi, dikonstruksi, dan dipresentasikan secara mediatik.
Filsafat ilmu menawarkan perspektif kritis untuk memahami bagaimana pengetahuan keagamaan diproduksi. Setiap narasi tidak lahir secara netral; ia melewati lensa epistemik yang memengaruhi kebenaran, objektivitas, dan relevansinya. Dalam konteks Islamophobia, media global sering memproduksi pengetahuan yang parsial, memilih fakta tertentu, mengabaikan konteks historis, dan menekankan perbedaan daripada kesamaan. Akibatnya, masyarakat dunia mendapatkan pemahaman yang timpang tentang Islam—pemahaman yang berbasis stereotip, bukan fakta yang diverifikasi.
Foto 2. Foto Demonstrasi anti-Islamophobia di berbagai negara sebagai respons terhadap narasi negatif media global
Tradisi ilmiah Islam sejak awal menekankan prinsip-prinsip epistemik yang ketat: verifikasi melalui sanad, penilaian kredibilitas narasumber, dan tabayyun sebelum menerima suatu informasi. Prinsip-prinsip ini secara tidak langsung menawarkan model untuk menganalisis dan menyaring narasi global tentang Islam. Jika hadis menekankan pentingnya rantai transmisi ilmu, maka dalam konteks global, rantai tersebut mencakup siapa yang melaporkan, dari mana data diperoleh, dan bagaimana proses interpretasinya dilakukan. Tanpa mekanisme semacam ini, publik dunia menjadi konsumen pasif dari stereotip yang dibentuk oleh kepentingan politik, ekonomi, atau ideologis tertentu.
Media global juga menghadirkan bias struktural melalui agenda-setting dan framing. Berita tentang ekstremisme atau konflik sering dikaitkan secara tidak proporsional dengan Islam, sementara kontribusi Muslim terhadap ilmu pengetahuan, seni, atau kemanusiaan jarang mendapatkan sorotan yang seimbang.
Foto 3. Tangkapan layar artikel berita headline media internasional yang menekankan ekstremisme, mengabaikan konteks dan kontribusi positif Muslim
Filsafat ilmu membantu kita menelusuri bagaimana asumsi, metodologi, dan perspektif dominan membentuk “kebenaran” yang dikonsumsi publik, sehingga Islamophobia bukan hanya fenomena sosial, tetapi juga produk dari praktik produksi pengetahuan yang timpang.
Kritis terhadap narasi ini tidak berarti menolak media atau globalisasi, tetapi menekankan perlunya literasi epistemik. Masyarakat global perlu memahami bahwa setiap representasi Islam harus dianalisis secara kontekstual, diverifikasi secara kritis, dan ditempatkan dalam kerangka sejarah dan sosial yang utuh. Hanya dengan pendekatan ini, distorsi dan prasangka bisa diminimalkan, dan dialog antaragama serta pemahaman lintas budaya dapat berkembang.
Pada akhirnya, menghadapi gelombang Islamophobia di media global menuntut kita tidak hanya memeriksa kontennya, tetapi juga memahami mekanisme epistemik di balik produksinya. Filsafat ilmu tidak hanya menjadi alat akademis abstrak, tetapi panduan kritis untuk menilai kebenaran, integritas, dan dampak sosial dari setiap narasi. Ketika prinsip verifikasi, kredibilitas, dan kontekstualisasi diterapkan, media global tidak lagi menjadi arena penyebaran stereotip dan ketakutan, tetapi bisa menjadi ruang refleksi, pemahaman, dan dialog yang bermakna.(*)




