Bungo - Wajah tata kota di Kabupaten Bungo dipastikan bakal semakin cantik dan ramah pejalan kaki pada tahun 2026 ini. Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bungo melalui Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman (Perkim) telah mengalokasikan dana miliaran rupiah khusus untuk membangun fasilitas trotoar atau pedestrian.
Berdasarkan data yang dihimpun, proyek tata kota tersebut diberi nomenklatur Pedestrian Sri Soedewi yang tercatat dengan Kode RUP 65372007.
Tidak tanggung-tanggung, demi menyulap kawasan Sri Soedewi menjadi lebih estetik dan nyaman bagi pejalan kaki, Dinas Perkim Bungo menyiapkan total pagu anggaran mencapai Rp 5.150.000.000 (Rp 5,15 Miliar).
Berikut adalah rincian fakta dan linimasa dari megaproyek pedestrian di Bungo tersebut.
Dengan pagu yang menembus angka lima miliar rupiah, proyek Pedestrian Sri Soedewi ini tidak dikerjakan melalui penunjukan langsung. Dinas Perkim mewajibkan proyek ini dieksekusi melalui metode Tender lelang terbuka.
Menariknya, dokumen tersebut mensyaratkan bahwa lelang ini terbuka bagi pelaku Usaha Kecil/Koperasi dan wajib memprioritaskan penggunaan Produk Dalam Negeri (PDN).
Berdasarkan linimasa yang dijadwalkan, proses pemilihan penyedia atau lelang tender akan mulai dibuka pada bulan April hingga Juni 2026.
Setelah pemenang lelang didapatkan, penandatanganan kontrak dan pelaksanaan pekerjaan fisik (konstruksi) di lapangan akan langsung dikebut selama lima bulan, terhitung mulai Juni hingga November 2026.
Dinas Perkim menargetkan wajah baru Pedestrian Sri Soedewi ini sudah bisa rampung dan dinikmati langsung oleh warga Bungo pada bulan November hingga Desember 2026.
Guyuran dana Rp 5,15 Miliar murni untuk membangun pedestrian tentu menjadi angin segar bagi tata kota Kabupaten Bungo. Kawasan pejalan kaki yang rapi, dilengkapi tempat duduk, pepohonan rindang, hingga penerangan yang memadai tentu akan menjadi daya tarik tersendiri.
Meski demikian, pengawasan ketat dari Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) dan masyarakat luas tetap dibutuhkan. Publik berharap kontraktor pemenang tender nanti bekerja secara profesional.
Kualitas keramik/batu alam, saluran air di bawah trotoar (drainase), hingga estetika bangunan harus benar-benar sepadan dengan nilai lima miliar rupiah, bukan sekadar proyek kejar tayang di akhir tahun!(*)