Dari Bidan Kit hingga Meeting Luar Kota, Intip Deretan Proyek Rp 60 Miliar di Dinkes Batang Hari

WIB
IST

Batanghari – Rencana Umum Pengadaan atau RUP Dinas Kesehatan Kabupaten Batanghari tahun anggaran 2026 memperlihatkan belanja besar.

Jumlahnya mencapai 231 paket.

Total nilainya Rp60.256.915.163.

Seluruh paket berada pada Kabupaten Batanghari, satuan kerja Dinas Kesehatan - 1.02.0.00.0.00.02.0000.

Seluruhnya bersumber dari APBD 2026.

Seluruh paket juga tercatat Produk Dalam Negeri: Ya.

Sekilas, ini terlihat rapi.

Semuanya PDN.

Semuanya masuk RUP.

Namun begitu dibaca pelan, ada beberapa titik yang patut disorot.

Pertama, metode Dikecualikan mendominasi nilai belanja. Jumlahnya 42 paket dengan total Rp35.901.063.316.

Itu sekitar 59,58 persen dari total RUP Dinkes Batanghari.

Kedua, paket terbesar bernama sangat umum: Belanja Barang dan Jasa BLUD.

Nilainya Rp17.588.005.222.

Ketiga, ada dua paket terkait iuran jaminan kesehatan bagi peserta PBPU dan BP Kelas 3 dengan total Rp15.644.160.000.

Keempat, belanja obat, vaksin, BMHP, cartridge TCM, dan reagen mencapai Rp7.645.942.624.

Kelima, ada belanja PLTS Puskesmas dan Pustu senilai Rp3.496.283.945.

Keenam, ada belanja kendaraan, pemeliharaan kendaraan, sopir, dan sewa kendaraan yang jika dikelompokkan mencapai Rp1.441.040.000.

Ketujuh, ada belanja perjalanan dinas, pelatihan, paket meeting, dan pertemuan yang mencapai Rp720.382.000.

Ini bukan berarti belanja itu salah.

Tetapi untuk sektor kesehatan, publik berhak bertanya: dari Rp60,25 miliar itu, berapa yang benar-benar terasa di ruang pelayanan? Berapa yang berubah menjadi obat, alat kesehatan, listrik puskesmas, layanan BPJS warga miskin, dan fasilitas kesehatan yang lebih baik?

Rekap Utama

UraianJumlahNilai
Total paket231-
Total nilai-Rp60.256.915.163
InstansiKab. Batanghari-
SatkerDinas Kesehatan-
Tahun anggaran2026-
Sumber danaAPBD231 paket
Produk Dalam NegeriYa231 paket

Seluruh paket tercatat PDN.

Ini berbeda dari sejumlah data belanja daerah lain yang masih menyisakan Non-PDN.

Namun status PDN tidak otomatis menjawab semua pertanyaan.

Yang perlu diuji tetap sama: barangnya apa, jasanya apa, siapa penerimanya, di mana lokasinya, dan apakah manfaatnya sampai ke masyarakat.

Metode Dikecualikan Dominan

Dari sisi metode pengadaan, nilai terbesar bukan E-Purchasing.

Yang paling besar justru Dikecualikan.

MetodePaketNilai
Dikecualikan42Rp35.901.063.316
E-Purchasing167Rp23.822.701.778
Pengadaan Langsung22Rp533.150.069
Total231Rp60.256.915.163

Metode dikecualikan menyerap hampir 60 persen anggaran.

Ini perlu dijelaskan secara rinci.

Dikecualikan bisa saja sesuai aturan untuk jenis belanja tertentu.

Tetapi karena nilainya sangat besar, publik tetap perlu tahu detailnya.

Apalagi paket terbesar menggunakan nama sangat umum: Belanja Barang dan Jasa BLUD.

Nilainya Rp17,58 miliar.

Nama paket seperti ini tidak memberi gambaran jelas kepada masyarakat: barang apa, jasa apa, untuk rumah sakit atau puskesmas mana, dan outputnya apa.

Jenis Pengadaan

JenisPaketNilai
Barang63Rp33.237.923.238
Jasa Lainnya163Rp26.582.407.980
Jasa Konsultansi5Rp436.583.945
Total231Rp60.256.915.163

Belanja barang menjadi yang terbesar.

Namun jasa lainnya juga tidak kecil: Rp26,58 miliar.

Di dalamnya ada iuran jaminan kesehatan, tenaga kesehatan, laboratorium, pengujian sampel pangan, perjalanan dinas, pelatihan, pemeliharaan kendaraan, sopir, dan BOK Puskesmas.

Paket Terbesar

NoPaketNilai
1Belanja Barang dan Jasa BLUDRp17.588.005.222
2Iuran Jaminan Kesehatan PBPU/BP Kelas 3Rp14.112.000.000
3Obat, Vaksin dan BMHP DAURp4.384.750.000
4PLTS Puskesmas 14 KVARp3.059.700.000
5Bidan KitRp1.816.425.000
6Bantuan Iuran PBPU/BP Kelas 3Rp1.532.160.000
7Pustu SetRp1.516.459.110
8Obat-obatan lainnyaRp1.514.500.000
9Cartridge TCMRp802.950.000
10Reagen Sanitarian KitRp771.480.000

Dari sepuluh paket terbesar, terlihat tiga wajah belanja Dinkes Batanghari.

Ada belanja layanan sosial kesehatan, seperti iuran BPJS kelas 3.

Ada belanja medis, seperti obat, vaksin, BMHP, TCM, reagen, Bidan Kit, dan Pustu Set.

Ada juga belanja infrastruktur pendukung, seperti PLTS Puskesmas.

Yang paling perlu dibuka adalah paket Belanja Barang dan Jasa BLUD Rp17,58 miliar.

Karena nilainya terbesar, tetapi namanya paling generik.

BLUD dan Jaminan Kesehatan Menyedot Rp34 Miliar

Dua kelompok besar langsung terlihat dalam data ini.

Pertama, belanja BLUD.

Kedua, iuran jaminan kesehatan PBPU dan BP Kelas 3.

KelompokPaketNilai
Belanja BLUD2Rp18.358.065.105
Jaminan Kesehatan PBPU/BP2Rp15.644.160.000
Total4Rp34.002.225.105

Empat paket ini saja sudah mencapai lebih dari separuh total RUP Dinas Kesehatan Batanghari.

Belanja BLUD terdiri dari Belanja Barang dan Jasa BLUD Rp17.588.005.222 dan Belanja Modal Peralatan dan Mesin BLUD Rp770.059.883.

Sedangkan jaminan kesehatan terdiri dari Belanja Iuran Jaminan Kesehatan bagi Peserta PBPU dan BP Kelas 3 Rp14.112.000.000 serta Belanja Bantuan Iuran Jaminan Kesehatan bagi Peserta PBPU dan BP Kelas 3 Rp1.532.160.000.

Belanja jaminan kesehatan jelas penting jika benar menyasar warga yang membutuhkan.

Namun publik perlu tahu: berapa peserta yang ditanggung, siapa penerimanya, bagaimana validasi data, apakah ada peserta ganda, dan apakah warga miskin benar-benar aktif status jaminannya.

Obat, TCM, Reagen, dan BMHP

Belanja obat dan bahan medis juga besar.

PaketKode RUPNilai
Obat, vaksin dan BMHP DAU65298952Rp4.384.750.000
Obat-obatan lainnya65351725Rp1.514.500.000
Cartridge TCM65309716Rp802.950.000
Reagen Sanitarian Kit65311630Rp771.480.000
RDT HIV/Sifilis65303026Rp97.623.350
RDT Kombo Malaria65359780Rp72.631.274
Obat-obatan lainnya65306910Rp1.008.000
Obat-obatan lainnya65308647Rp1.000.000
Total-Rp7.645.942.624

Belanja obat besar tentu bisa dipahami.

Namun indikatornya sederhana: apakah obat tersedia di puskesmas?

Jangan sampai RUP mencatat miliaran rupiah, tetapi pasien masih diminta membeli obat sendiri di luar.

Cartridge TCM dan reagen sanitarian juga perlu dijelaskan distribusinya.

Untuk fasilitas mana?

Berapa jumlahnya?

Apakah benar dipakai untuk pemeriksaan layanan publik?

PLTS Puskesmas dan Pustu Rp3,49 Miliar

Belanja energi juga menonjol.

Ada dua paket PLTS.

PaketKode RUPNilai
PLTS Puskesmas 14 KVA65357171Rp3.059.700.000
PLTS Pustu 5 KVA65356720Rp436.583.945
Total-Rp3.496.283.945

PLTS bisa menjadi belanja strategis.

Puskesmas dan Pustu membutuhkan listrik stabil.

Vaksin, alat kesehatan, pelayanan malam, administrasi digital, dan pemeriksaan tertentu sangat bergantung pada listrik.

Namun belanja hampir Rp3,5 miliar tetap perlu dijelaskan: puskesmas mana saja yang menerima, berapa unit, bagaimana kapasitasnya, siapa penyedianya, siapa yang merawat, dan apakah lokasi penerima memang selama ini bermasalah listrik.

Jangan sampai PLTS menjadi proyek alat, bukan solusi layanan.

Alat Kesehatan: Bidan Kit dan Pustu Set

Belanja alat kesehatan juga cukup besar.

PaketKode RUPNilai
Bidan Kit65297758Rp1.816.425.000
Pustu Set65296769Rp1.516.459.110
Total-Rp3.332.884.110

Bidan Kit dan Pustu Set bisa berdampak langsung ke layanan dasar.

Terutama untuk ibu hamil, persalinan, layanan desa, dan fasilitas kesehatan tingkat bawah.

Tetapi publik perlu tahu sebarannya.

Bidan mana menerima?

Pustu mana menerima?

Apakah barang sesuai standar?

Apakah benar dipakai, atau hanya tersimpan dalam gudang?

BOK Puskesmas Menyebar ke 18 Puskesmas

BOK Puskesmas muncul sangat banyak.

Ada 129 paket dengan total Rp4.285.342.600.

Paket ini tersebar ke 18 Puskesmas.

BOK per Puskesmas

PuskesmasPaketNilai
Muara Bulian7Rp427.975.000
Penerokan9Rp368.573.000
Durian Luncuk8Rp353.768.000
Pasar Muara Tembesi7Rp294.447.000
Jembatan Mas8Rp288.138.000
Sungai Puar7Rp287.036.000
Maro Sebo Ilir8Rp271.883.000
Sungai Rengas8Rp270.670.000
Muara Tembesi7Rp270.563.000
Tenam8Rp239.532.600

Puskesmas lain juga tercatat: Teluk Leban, Jangga Baru, Aro, Tidar Kuranji, Pasar Terusan, Batin, Selat, dan Mersam.

BOK adalah belanja yang dekat dengan masyarakat.

Namun justru karena dekat, rincian outputnya harus dibuka.

Kegiatan apa saja yang dilakukan?

Berapa sasaran?

Berapa ibu hamil?

Berapa balita?

Berapa pasien ODGJ?

Berapa kegiatan promosi kesehatan?

Berapa kunjungan lapangan?

BOK Menurut Program

ProgramPaketNilai
Gizi masyarakat55Rp2.848.248.000
Promosi kesehatan/PHBS19Rp580.478.000
Kesehatan ibu hamil18Rp385.650.000
ODGJ berat18Rp244.790.000
Operasional puskesmas17Rp224.400.000
Penyakit menular/tidak menular2Rp1.776.600

Program gizi masyarakat menjadi yang terbesar dalam BOK.

Nilainya Rp2,84 miliar.

Ini penting, terutama jika dikaitkan dengan stunting, gizi ibu hamil, balita, dan pelayanan kesehatan dasar.

Namun indikator keberhasilannya harus jelas.

Bukan hanya paket selesai.

Tetapi apakah angka sasaran membaik?

Kendaraan, Sopir, dan Sewa

Belanja terkait kendaraan juga menonjol.

Paket/KelompokPaketNilai
Pemeliharaan kendaraan dinas3Rp1.079.040.000
Jasa tenaga sopir1Rp360.000.000
Sewa kendaraan1Rp2.000.000
Total5Rp1.441.040.000

Dua paket pemeliharaan kendaraan dinas bermotor perorangan terbesar masing-masing Rp661.240.000 dan Rp374.800.000.

Ada juga paket pemeliharaan kendaraan Rp43.000.000 melalui pengadaan langsung.

Belanja kendaraan bisa dibutuhkan untuk layanan kesehatan, ambulans, mobil operasional, distribusi obat, dan kunjungan lapangan.

Namun angka Rp1,44 miliar tetap harus dijelaskan: kendaraan apa saja, berapa unit, untuk siapa, dan bagaimana kaitannya dengan pelayanan warga.

Tagihan Listrik dan Air

Tagihan layanan dasar juga besar.

PaketKode RUPNilai
Tagihan listrik66800323Rp722.919.032
Tagihan air66800312Rp108.688.479
Total-Rp831.607.511

Untuk fasilitas kesehatan, listrik dan air memang kebutuhan utama.

Namun angka ini tetap perlu dibaca: apakah mencakup seluruh jaringan puskesmas, RSUD/BLUD, kantor dinas, atau fasilitas lain?

Apakah sudah ada pengendalian efisiensi?

Apalagi di saat bersamaan ada belanja PLTS hampir Rp3,5 miliar.

Publik wajar bertanya: apakah PLTS nanti benar-benar menekan beban listrik atau hanya menjadi tambahan proyek tanpa menurunkan tagihan?

Laboratorium dan Pengujian Sampel

Belanja laboratorium dan pengujian sampel juga muncul cukup besar.

PaketJumlahNilai
Jasa tenaga laboratorium3Rp531.840.200
Pengujian sampel pangan2Rp487.000.500
Total5Rp1.018.840.700

Pengujian sampel pangan penting untuk keamanan pangan.

Tenaga laboratorium penting untuk layanan kesehatan.

Namun publik perlu tahu: sampel pangan apa yang diuji, berapa jumlah sampel, laboratorium mana, dan apa tindak lanjut hasilnya.

Pelatihan, Meeting, dan Perjalanan Dinas

Belanja perjalanan, pelatihan, dan paket meeting mencapai Rp720.382.000.

Paket/KelompokJumlahNilai
Kursus singkat/pelatihan1Rp387.405.000
Meeting luar kota1Rp166.970.000
Meeting dalam kota2Rp127.102.000
Pertemuan sarpras/alkes1Rp61.998.000
Sewa tempat pertemuan1Rp5.500.000

Belanja peningkatan kapasitas memang bisa penting.

Tetapi dalam sektor kesehatan, publik akan selalu membandingkan: apakah uang lebih banyak dipakai untuk layanan pasien atau kegiatan rapat dan pelatihan?

Pelatihan Rp387 juta harus jelas pesertanya.

Meeting luar kota Rp166,97 juta harus jelas urgensinya.

Jangan sampai belanja kegiatan lebih cepat cair daripada peningkatan layanan.

Konsultansi Bangunan Puskesmas

Ada lima paket jasa konsultansi perencanaan bangunan kesehatan.

Masing-masing senilai Rp87.316.789.

Totalnya Rp436.583.945.

Paket KonsultansiKode RUPNilai
Puskesmas Simpang Karmeo65293552Rp87.316.789
Puskesmas Sungai Puar65295088Rp87.316.789
Puskesmas Maro Sebo Ilir65294761Rp87.316.789
Relokasi Puskesmas Batin65295499Rp87.316.789
Puskesmas Jangga Baru65293971Rp87.316.789
Total-Rp436.583.945

Konsultansi perencanaan menjadi penting jika pembangunan fisiknya benar-benar berlanjut.

Publik perlu tahu: apakah ini untuk pembangunan baru, pengembangan, atau relokasi?

Kapan fisiknya ditender?

Apakah dokumen perencanaan akan dibuka?

Makan Minum Rapat dan Aktivitas Lapangan

Belanja makanan dan minuman juga muncul dalam 17 paket dengan total Rp235.959.309.

Sebagian besar nilainya kecil.

Namun tetap perlu dicermati karena muncul berulang.

Belanja makanan-minuman bisa wajar untuk kegiatan kedinasan.

Tetapi harus proporsional.

Dalam sektor kesehatan, publik lebih mudah menerima belanja gizi masyarakat daripada jamuan rapat.

Ada beberapa titik yang patut disorot.

Pertama, total RUP Dinkes Batanghari mencapai Rp60.256.915.163 dari 231 paket.

Kedua, metode Dikecualikan menyerap Rp35.901.063.316 atau sekitar 59,58 persen.

Ketiga, paket terbesar bernama Belanja Barang dan Jasa BLUD senilai Rp17.588.005.222, tetapi nama paketnya sangat umum.

Keempat, iuran dan bantuan iuran jaminan kesehatan PBPU/BP Kelas 3 mencapai Rp15.644.160.000.

Kelima, obat, vaksin, BMHP, TCM, dan reagen mencapai Rp7.645.942.624.

Keenam, PLTS Puskesmas dan Pustu mencapai Rp3.496.283.945.

Ketujuh, Bidan Kit dan Pustu Set mencapai Rp3.332.884.110.

Kedelapan, pemeliharaan kendaraan, sopir, dan sewa kendaraan mencapai Rp1.441.040.000.

Kesembilan, tagihan listrik dan air mencapai Rp831.607.511, di saat ada juga pengadaan PLTS miliaran rupiah.

Kesepuluh, pelatihan, perjalanan, paket meeting, dan pertemuan mencapai Rp720.382.000.

Kesebelas, BOK Puskesmas menyebar dalam 129 paket senilai Rp4.285.342.600.

Keduabelas, seluruh paket tercatat PDN Ya, tetapi rincian manfaat tetap harus dibuka.

Seorang warga Batanghari, yang dalam draf ini diberi inisial Ali, meminta Dinas Kesehatan membuka detail paket BLUD yang nilainya sangat besar.

“Kalau namanya Belanja Barang dan Jasa BLUD sampai Rp17 miliar, masyarakat perlu tahu isinya apa saja. Jangan terlalu umum. Ini uang publik,” ujarnya.

Warga lainnya, Raden, menyoroti belanja PLTS dan listrik.

“Kalau sudah ada PLTS puskesmas miliaran, nanti harus kelihatan manfaatnya. Apakah listrik lebih stabil? Apakah tagihan bisa turun? Jangan cuma jadi proyek alat,” katanya.

Seorang warga lain, Suharlan, berharap belanja obat benar-benar terasa.

“Kalau obat dan BMHP sampai miliaran, jangan ada lagi pasien puskesmas disuruh beli obat sendiri. Yang penting itu dirasakan langsung oleh warga,” ujarnya.(*)

BeritaSatu Network