JAMBI — Tiga hari menjelang pelantikan Pengurus Wilayah Ikatan Sarjana Melayu Indonesia (ISMI) Perwakilan Provinsi Jambi, nama ISMI mulai diperkenalkan lebih luas kepada publik Jambi.
Organisasi ini tidak ingin hadir sekadar sebagai tempat berkumpul para sarjana.
ISMI Jambi membawa pesan lebih besar: menjadikan nilai Melayu sebagai sumber ilmu, adab, gagasan, dan kontribusi nyata untuk pembangunan daerah.
Pelantikan Pengurus Wilayah ISMI Perwakilan Provinsi Jambi periode 2026–2030 dijadwalkan berlangsung pada Jumat, 19 Juni 2026, di Rumah Dinas Gubernur Jambi.
Momentum ini menjadi penting.
Sebab selama ini, sebagian masyarakat mengenal Melayu dari sisi simbol. Dari pakaian adat. Dari pantun. Dari upacara. Dari gelar. Dari prosesi adat.
Semua itu penting.
Tetapi bagi ISMI Jambi, Melayu tidak boleh berhenti di simbol. Melayu harus masuk ke ruang ilmu, kampus, kebijakan publik, ekonomi, literasi, pendidikan, kebudayaan digital, dan pembangunan daerah.
Apa Itu ISMI?
Ikatan Sarjana Melayu Indonesia atau ISMI merupakan organisasi yang menghimpun cendekiawan, akademisi, profesional, birokrat, pengusaha, dan tokoh masyarakat Melayu dari berbagai disiplin ilmu.
Organisasi ini lahir dari semangat untuk memperkuat peran kaum intelektual Melayu dalam pembangunan bangsa.
ISMI didirikan pada 10 Januari 1986 di Medan, Sumatera Utara.
Sejak berdiri, ISMI menjadi wadah berhimpunnya para sarjana Melayu lintas profesi. Ada akademisi. Ada birokrat. Ada pengusaha. Ada tokoh adat. Ada aktivis sosial. Ada profesional. Ada generasi muda terdidik.
Mereka dipertemukan oleh satu semangat: ilmu pengetahuan harus bergerak menjadi manfaat.
Melayu, dalam cara pandang ISMI, bukan hanya identitas masa lalu.
Melayu adalah modal sosial masa depan.
Di dalamnya ada adab, musyawarah, kesantunan, nilai keislaman, gotong royong, kemampuan berdagang, tradisi literasi, dan kecakapan membangun hubungan sosial.
Nilai-nilai itu, jika digerakkan dengan ilmu, bisa menjadi kekuatan besar untuk menjawab tantangan zaman.
Ernawati dan Kepemimpinan Perempuan Melayu
Pada pelantikan 19 Juni mendatang, Hj. Ernawati, S.Ag., M.Pd., akan resmi dilantik sebagai Ketua Umum Pengurus Wilayah ISMI Perwakilan Provinsi Jambi periode 2026–2030.
Ernawati dikenal sebagai tokoh perempuan Melayu yang aktif di berbagai bidang.
Ia memiliki latar pengalaman sebagai birokrat. Ia juga dikenal sebagai pengusaha, termasuk di bidang travel umrah. Jejak aktivitasnya tidak hanya di Jambi, tetapi juga merambah hingga luar negeri, termasuk Arab Saudi.
Dalam waktu dekat, Ernawati juga tengah menyiapkan ikhtiar sosial-keagamaan melalui rencana pembangunan pondok pesantren di kawasan Pinang Merah.
Bagi ISMI Jambi, kehadiran Ernawati menjadi simbol penting.
Bahwa perempuan Melayu tidak hanya hadir di ruang domestik.
Perempuan Melayu juga bisa memimpin, menggerakkan organisasi, membangun usaha, memperkuat pendidikan, dan menghidupkan gerakan sosial.
Ernawati menyebut ISMI Jambi ingin menjadi rumah besar bagi sarjana Melayu yang punya kepedulian terhadap daerah.
“ISMI Jambi ingin hadir sebagai ruang pengabdian. Kita ingin sarjana Melayu tidak hanya dikenal dari gelarnya, tetapi dari gagasan, karya, dan manfaatnya untuk masyarakat,” ujar Ernawati.
Menurutnya, Melayu harus ditempatkan sebagai kekuatan yang hidup. Bukan sekadar dikenang dalam sejarah.
“Adat dan ilmu harus berjalan bersama. Kalau hanya adat tanpa ilmu, kita bisa tertinggal. Kalau hanya ilmu tanpa adab, kita bisa kehilangan arah. ISMI ingin mempertemukan keduanya,” katanya.
Ruang Ilmu, Adab, dan Pembangunan
Sekretaris ISMI Jambi, Dr. Fahmi Rasid, S.E., M.AP., mengatakan pelantikan 19 Juni nanti bukan garis akhir, melainkan pintu masuk untuk menggerakkan organisasi.
Menurut Fahmi, ISMI Jambi ingin mengambil peran dalam isu-isu strategis daerah. Mulai dari pendidikan, literasi, penguatan sumber daya manusia, kebijakan publik, ekonomi masyarakat, hingga pelestarian budaya Melayu.
“ISMI harus menjadi ruang gagasan. Sarjana Melayu harus berani masuk ke isu-isu publik. Pendidikan, ekonomi, budaya, digitalisasi, kebijakan daerah, semua membutuhkan kontribusi pemikiran,” ujar Fahmi.
Fahmi menilai Jambi memiliki kekayaan adat dan sejarah Melayu yang besar. Namun kekayaan itu perlu diterjemahkan dalam kerja nyata yang relevan dengan kebutuhan masyarakat hari ini.
Menurutnya, tantangan zaman sudah berubah.
Anak muda hidup di dunia digital. Ekonomi bergerak cepat. Pendidikan membutuhkan inovasi. Kebijakan publik membutuhkan masukan akademik. Budaya menghadapi tantangan komersialisasi dan pelupaan.
Di situlah ISMI ingin hadir.
“Kalau Melayu hanya dibicarakan di panggung adat, ruangnya akan sempit. Tapi kalau Melayu dibawa ke kampus, riset, UMKM, teknologi, media, dan kebijakan publik, maka Melayu akan hidup dalam peradaban modern,” kata Fahmi.
Pelantikan Bukan Sekadar Seremoni
Ketua Pelaksana Pelantikan ISMI Jambi, Prof. Dr. H. Syamsir, S.H., M.H., menegaskan pelantikan Pengurus Wilayah ISMI Jambi disiapkan bukan hanya sebagai seremoni organisasi.
Ia menyebut pelantikan ini sebagai momentum konsolidasi intelektual Melayu di Jambi.
Menurut Prof. Syamsir, tema pelantikan “Berilmu, Beradat, Membangun Peradaban” dipilih untuk menegaskan arah gerak ISMI.
Ilmu menjadi dasar berpikir.
Adat menjadi dasar bersikap.
Peradaban menjadi tujuan pengabdian.
“ISMI Jambi ingin menegaskan bahwa sarjana Melayu harus hadir dengan ilmu dan adab. Ilmu tanpa adab bisa kehilangan marwah. Adab tanpa ilmu bisa tertinggal dari perubahan. Keduanya harus dipertemukan untuk membangun peradaban,” ujar Prof. Syamsir.
Ia mengatakan, Jambi membutuhkan lebih banyak ruang yang mempertemukan akademisi, pemerintah, tokoh adat, dunia usaha, dan masyarakat.
Ruang itu penting agar gagasan tidak berhenti di ruang kuliah atau ruang rapat.
Gagasan harus turun menjadi program.
Program harus turun menjadi manfaat.
“Pelantikan ini pintu masuk. Setelah itu, ISMI harus bekerja. Harus ada kajian. Harus ada rekomendasi. Harus ada kolaborasi. Harus ada kontribusi nyata,” katanya.
Melayu Tidak Boleh Tertinggal di Era Digital
Humas ISMI Jambi sekaligus Tenaga Ahli Gubernur Jambi, Muawwin, S.Pd., M.M., mengatakan publik Jambi perlu mengenal ISMI karena organisasi ini membawa pendekatan yang berbeda dalam melihat Melayu.
Menurutnya, Melayu selama ini sering dipahami hanya sebagai warisan budaya. Padahal, Melayu juga memiliki kekuatan intelektual, ekonomi, bahasa, diplomasi, dan tata nilai sosial yang sangat kuat.
“ISMI ingin mengajak publik melihat Melayu bukan hanya sebagai masa lalu, tetapi sebagai modal masa depan. Melayu punya adab. Punya sejarah ilmu. Punya tradisi musyawarah. Punya kekuatan bahasa. Tinggal bagaimana nilai itu dikemas menjadi gerakan yang relevan dengan zaman,” ujar Muawwin.
Ia menilai, tantangan terbesar masyarakat Melayu hari ini adalah bagaimana menjaga identitas di tengah arus digital.
Budaya tidak boleh hanya disimpan di museum.
Adat tidak boleh hanya muncul saat acara resmi.
Nilai Melayu harus masuk ke konten digital, pendidikan anak muda, literasi publik, ekonomi kreatif, UMKM, pariwisata budaya, dan kebijakan pembangunan.
“Kalau anak muda hanya mengenal Melayu dari pakaian adat, itu belum cukup. Mereka juga harus mengenal pemikiran Melayu, tokoh-tokohnya, nilai adabnya, sejarah dagangnya, tradisi ilmunya, dan kontribusinya untuk bangsa,” katanya.
Menurut Muawwin, ISMI Jambi memiliki peluang menjadi jembatan antara adat dan modernitas.
Antara generasi tua dan generasi muda.
Antara kampus dan masyarakat.
Antara pemerintah dan ruang gagasan publik.
“ISMI bisa menjadi rumah gagasan. Rumah kolaborasi. Rumah para sarjana Melayu yang ingin ikut memikirkan daerah,” ujarnya.
Profil Singkat PB ISMI
Di tingkat pusat, Pengurus Besar ISMI periode 2025–2030 dipimpin oleh Nizhamul, S.E., M.M., sebagai Ketua Umum.
Nizhamul dikenal sebagai figur organisasi yang membawa semangat konsolidasi sarjana Melayu lintas daerah. Di bawah kepemimpinannya, ISMI diarahkan untuk memperkuat jaringan cendekiawan Melayu dan memperluas kontribusi organisasi dalam pembangunan bangsa.
Sementara posisi Sekretaris Jenderal dijabat oleh Assoc. Prof. Dr. H. Yanhar Jamaluddin, M.AP.
Yanhar dikenal sebagai akademisi dan birokrat pemerintahan yang memiliki perhatian pada tata kelola, kebijakan publik, dan penguatan sumber daya manusia.
Kehadiran jajaran PB ISMI dalam pelantikan ISMI Jambi nantinya diharapkan menjadi penguat semangat organisasi di daerah.
Jambi tidak berdiri sendiri.
Jambi menjadi bagian dari jaringan besar sarjana Melayu Indonesia.
Publik Jambi perlu mengenal ISMI karena organisasi ini ingin mengambil peran di ruang yang selama ini sering kosong.
Ruang antara adat dan kebijakan.
Ruang antara ilmu dan pengabdian.
Ruang antara kampus dan masyarakat.
Ruang antara budaya dan ekonomi.
Selama ini, banyak gagasan bagus berhenti di forum. Banyak sarjana bekerja sendiri-sendiri. Banyak tokoh adat berbicara di ruang adat. Banyak akademisi berbicara di ruang kampus. Banyak birokrat bergerak di ruang pemerintahan.
ISMI ingin mempertemukan ruang-ruang itu.
Di bawah kepemimpinan Hj. Ernawati, ISMI Jambi ingin membuka pintu kolaborasi lebih luas.
Dengan pemerintah daerah.
Dengan lembaga adat.
Dengan kampus.
Dengan dunia usaha.
Dengan media.
Dengan komunitas pemuda.
Dengan pelaku UMKM.
Dengan pesantren dan lembaga pendidikan.
Sebab membangun daerah tidak cukup hanya dengan anggaran.
Jambi juga membutuhkan gagasan.
Membutuhkan adab.
Membutuhkan ilmu.
Membutuhkan orang-orang yang mau duduk bersama dan bekerja untuk kepentingan publik.
Pelantikan ISMI Jambi pada 19 Juni 2026 di Rumah Dinas Gubernur Jambi menjadi awal dari pesan itu.
Bahwa sarjana Melayu tidak cukup hanya bangga pada identitas.
Mereka harus hadir.
Berpikir.
Berkarya.
Dan memberi manfaat.
Pelantikan bukan garis akhir.
Ia baru pintu masuk.
Dari sana, ISMI Jambi ingin mengetuk ruang publik dengan pesan sederhana, Melayu bukan hanya untuk dikenang. Melayu harus bergerak.(*)