Bumi Gada, CV Andalas, & Graha Cipta Sabet Proyek RSUD Sarolangun Rp4,13 M, HPS Beda Rp42 Disorot!

WIB
ist

SAROLANGUN - Tiga proyek fisik RSUD Prof. Dr. H.M. Chatib Quzwain Sarolangun senilai total Rp4,132 miliar sudah memasuki masa sanggah.

Ada pembangunan dan rehabilitasi Gedung NICU.

Ada pembangunan sarana Cytotixic Drugs Safety Cabinet.

Ada pula pembangunan Gedung PICU.

Ketiganya dibuat pada tanggal yang sama, 28 Juli 2026.

Metode pemilihannya sama: tender pascakualifikasi satu file dengan harga terendah sistem gugur.

Ketiganya juga tidak menggunakan reverse auction.

Namun ada angka yang mencolok.

Total pagu tiga proyek mencapai:

Rp4.132.363.985.

Total HPS-nya:

Rp4.132.363.943.

Selisihnya cuma:

Rp42.

Bukan Rp42 juta.

Bukan Rp42 ribu.

Empat puluh dua rupiah.

Itu terjadi karena dua paket memiliki HPS persis sama dengan pagu, sedangkan satu paket lainnya hanya memiliki selisih Rp42.

Angka tersebut tidak dengan sendirinya membuktikan pelanggaran pengadaan. Namun HPS merupakan instrumen penting dalam proses pengadaan sehingga dasar penyusunannya harus dapat dipertanggungjawabkan.

Kerangka aturan pengadaan pemerintah saat ini adalah Perpres 16/2018 yang terakhir diubah melalui Perpres 46 Tahun 2025. Perpres 46/2025 berlaku sejak 30 April 2025.

Pedoman pelaksanaan pengadaan melalui penyedia juga masih mengacu pada Peraturan LKPP Nomor 12 Tahun 2021 sebagaimana telah diubah dengan Peraturan LKPP Nomor 4 Tahun 2024.

Paket NICU: Pagu Rp1.394.339.985, HPS Beda Rp42

Paket pertama bernama Fisik Pembangunan dan Rehabilitasi Gedung NICU RSUD (DAK).

Kode RUP 67363506.

Satuan kerjanya RSUD Prof. Dr. H.M. Chatib Quzwain Kabupaten Sarolangun.

Sumber dana pada data tender dicatat APBD.

Pagunya:

Rp1.394.339.985.

HPS:

Rp1.394.339.943.

Selisih antara pagu dan HPS hanya Rp42.

Tender tersebut menggunakan kontrak harga satuan dan diperuntukkan bagi usaha kecil.

Lokasi pekerjaan di Kabupaten Sarolangun.

Tender diikuti 18 peserta.

Namun dalam hasil evaluasi yang tersedia hanya dua perusahaan yang terlihat memasukkan harga.

CV Bumi Gada Konstruksi menawarkan Rp1.271.407.829,80.

CV Ariq Contraktor menawarkan Rp1.352.509.745,39.

Enam belas perusahaan lainnya tercatat sebagai peserta, namun tidak terlihat harga penawarannya.

Mereka adalah Zafran Jaya Abadi, CV Dandi Kontraktor, CV Beatrix Jaya Mandiri, CV Putra Bintang, Chanel, CV Aksara Selaras Jaya, CV Bintang Perdana, CV Rantaualai Consultant, CV Tamacho Building Construction, CV Dita Kontraktor, CV Beta Jaya, CV Langit Cakrawala Konstruksi, Buana Medika Raya, CV Andalas Jaya Putra, Rafi Putra Bungsu dan CV Wahana Mitra Abadi.

Ariq Gugur karena SKK Petugas Tata Udara

CV Ariq Contraktor tidak melanjutkan kompetisi.

Dalam hasil evaluasi Pokja, perusahaan tersebut dinyatakan tidak memenuhi persyaratan karena:

“Dokumen kelengkapan Tenaga Ahli (SKK Petugas Tata Udara) tidak sesuai dengan persyaratan teknis pada Dokumen Spesifikasi Teknis.”

Dengan demikian, CV Bumi Gada Konstruksi keluar sebagai pemenang.

Alamat perusahaan tercatat di Jalan Lingkar Barat 2 RT 014, Bagan Pete, Alam Barajo, Kota Jambi.

Harga penawaran:

Rp1.271.407.829,80.

Harga terkoreksi:

Rp1.271.407.829,80.

Harga negosiasi juga:

Rp1.271.407.829,80.

Nilai tersebut sekitar Rp122,93 juta atau 8,82 persen di bawah HPS.

Pada paket NICU ini, perusahaan dengan harga paling rendah memang menjadi pemenang.

Tetapi persaingan harga aktualnya tinggal dua perusahaan dari 18 peserta yang terdaftar.

Cytotoxic: HPS Persis Sama dengan Pagu

Paket kedua lebih menarik lagi.

Namanya dalam data tender adalah Fisik Pembangunan Sarana Cytotixic Drugs Safety Cabinet RSUD (DAK Fisik).

Kode RUP 66424280.

Pagu paket:

Rp1.672.190.000.

HPS:

Rp1.672.190.000.

Tidak ada selisih.

HPS 100 persen sama dengan pagu.

Paket ini juga menggunakan kontrak harga satuan, diperuntukkan bagi usaha kecil dan telah memasuki masa sanggah.

Pesertanya juga 18 perusahaan.

Tetapi cuma tiga harga yang terlihat.

CV Bibe Condong Lestari justru mengajukan harga paling rendah:

Rp1.535.521.723,25.

CV Andalas Jaya Putra menawarkan:

Rp1.669.000.025,05.

Sedangkan Buana Medika Raya:

Rp1.670.250.797,43.

Tetapi harga termurah tidak menjadi pemenang.

Penawar Rp1,535 Miliar Gugur

CV Bibe Condong Lestari yang menawarkan Rp1,535 miliar dinyatakan gugur.

Alasannya menurut hasil evaluasi:

“Tidak mengirimkan/upload Dokumen Penawaran Kualifikasi dan Teknis sesuai persyaratan.”

Buana Medika Raya juga digugurkan dengan alasan yang sama:

“Tidak mengirimkan/upload Dokumen Penawaran Kualifikasi dan Teknis sesuai persyaratan.”

Akhirnya CV Andalas Jaya Putra menjadi pemenang dengan harga Rp1.669.000.025,05.

Artinya, harga pemenang sekitar Rp136,67 juta lebih tinggi dibandingkan harga CV Bibe Condong Lestari yang gugur.

Tetapi selisih tersebut tidak dapat disebut kerugian negara.

Penawaran yang tidak memenuhi persyaratan tidak bisa langsung dijadikan pembanding seolah-olah perusahaan tersebut seharusnya memenangkan kontrak.

Yang perlu diuji adalah apakah alasan pengguguran benar-benar sesuai dokumen pemilihan dan diterapkan secara konsisten kepada seluruh peserta.

Pemenangnya Hanya Turun 0,19 Persen dari HPS

Yang juga menarik, harga CV Andalas Jaya Putra hanya terpaut sekitar Rp3.189.974,95 dari HPS Rp1,67219 miliar.

Turunnya cuma sekitar 0,19 persen.

Pemenang tercatat beralamat di Jalan Orang Kayo Pingai RT 022, Kelurahan Talang Banjar, Kecamatan Jambi Timur, Kota Jambi.

Sebanyak 15 perusahaan lainnya terdaftar tetapi tidak terlihat memasukkan harga.

Mereka adalah CV Beatrix Jaya Mandiri, CV Januari Mitra Sejati, CV Dandi Kontraktor, Zafran Jaya Abadi, Chanel, CV Rantaualai Consultant, CV Bintang Perdana, CV Tamacho Building Construction, CV Dita Kontraktor, CV Beta Jaya, CV Wahana Mitra Abadi, CV Ariq Contraktor, CV Karya Muda, CV Bumi Gada Konstruksi dan Rafi Putra Bungsu.

Dengan demikian, dari 18 peserta, kompetisi harga hanya terlihat dimainkan tiga perusahaan.

PICU: Lagi-lagi HPS Sama Persis dengan Pagu

Paket ketiga adalah Fisik Pembangunan Gedung PICU Sarana PICU-RSUD (DAK Fisik).

Kode RUP 66424277.

Pagunya:

Rp1.065.834.000.

HPS:

Rp1.065.834.000.

Lagi-lagi sama persis.

Paket tersebut diikuti 16 peserta.

Tetapi hanya tiga perusahaan yang tercatat memasukkan harga.

Rafi Putra Bungsu menjadi yang paling rendah:

Rp992.382.775,55.

CV Bumi Gada Konstruksi berada di urutan berikutnya:

Rp1.035.037.114,91.

Sedangkan Graha Cipta Karya menawarkan:

Rp1.044.514.193,59.

Kalau hanya melihat angka, Rafi berada di depan.

Tetapi tender menggunakan harga terendah sistem gugur.

Dan dua harga di bawah Graha sama-sama tersingkir.

Dua Penawar Lebih Murah Gugur Gara-gara Dump Truck

Alasan penggugurannya bahkan sama.

Pokja menyatakan Rafi Putra Bungsu tidak memenuhi syarat karena:

“Kelengkapan Bukti Dokumen Peralatan untuk Dump Truk Tidak sesuai dengan Persyaratan Teknis.”

CV Bumi Gada Konstruksi juga digugurkan dengan alasan:

“Kelengkapan Bukti Dokumen Peralatan untuk Dump Truk Tidak sesuai dengan Persyaratan Teknis.”

Maka Graha Cipta Karya menjadi pemenang.

Harga penawarannya:

Rp1.044.514.193,59.

Harga terkoreksinya sama.

Harga negosiasi tercatat:

Rp1.044.514.193,58.

Berbeda satu sen dari harga penawaran.

Perusahaan tersebut beralamat di Jalan Sunan Giri RT 05, Kota Jambi.

Pemenang Rp52 Juta Lebih Tinggi dari Penawar Termurah yang Gugur

Jika dibandingkan secara nominal, harga akhir Graha Cipta Karya sekitar Rp52,13 juta lebih tinggi dibandingkan penawaran Rafi Putra Bungsu.

Dibandingkan CV Bumi Gada Konstruksi, selisihnya sekitar Rp9,48 juta.

Sekali lagi, selisih itu bukan kerugian negara.

Rafi maupun Bumi Gada dinyatakan gugur sehingga harga mereka tidak dapat begitu saja diposisikan sebagai harga kontrak alternatif yang sah.

Namun alasan pengguguran terkait bukti dokumen dump truck menjadi bagian yang penting untuk diperiksa pada masa sanggah.

Apakah dokumen yang diberikan benar-benar tidak memenuhi persyaratan?

Apa dokumen dump truck yang diminta?

Apakah berupa bukti kepemilikan?

Surat sewa?

STNK?

Komitmen penyediaan?

Dan apakah standar pemeriksaan yang sama diterapkan kepada Graha Cipta Karya?

Jawabannya terdapat dalam Dokumen Pemilihan dan Berita Acara Evaluasi yang lebih lengkap, yang tidak terdapat dalam bahan yang diberikan.

13 Peserta PICU Lainnya Tak Terlihat Memasang Harga

Selain ketiga penawar tersebut, masih ada 13 nama dalam tender PICU.

Mereka adalah CV Dandi Kontraktor, Zafran Jaya Abadi, Chanel, CV Ariq Contraktor, CV Bintang Perdana, CV Tamacho Building Construction, CV Dita Kontraktor, CV Beta Jaya, CV Langit Cakrawala Konstruksi, CV Wahana Mitra Abadi, CV Aksara Selaras Jaya, CV Women Independent Construction dan CV Beatrix Jaya Mandiri.

Tidak terlihat harga penawaran dari perusahaan-perusahaan tersebut dalam data yang disampaikan.

Total 52 Entri Peserta, Cuma 8 Harga

Jika tiga tender digabung, terdapat 52 entri kepesertaan.

NICU: 18.

Cytotoxic: 18.

PICU: 16.

Namun jumlah penawaran harga yang terlihat hanya delapan.

NICU dua penawaran.

Cytotoxic tiga.

PICU tiga.

Artinya hanya sekitar 15,38 persen dari keseluruhan entri kepesertaan yang berujung pada harga penawaran.

Angka 52 tersebut bukan berarti terdapat 52 perusahaan berbeda.

Sejumlah nama muncul berulang di dua bahkan tiga paket.

Nama yang Sama Berputar di Tiga Tender

Pola peserta tiga tender memang beririsan.

CV Bumi Gada Konstruksi, misalnya, muncul di tiga paket.

Pada NICU, Bumi Gada menawar dan akhirnya menjadi pemenang.

Pada Cytotoxic, namanya tercatat sebagai peserta tetapi tidak terlihat harga.

Pada PICU, Bumi Gada kembali memasukkan harga, bahkan berada di bawah pemenang, tetapi gugur akibat kelengkapan bukti dokumen dump truck.

CV Ariq Contraktor juga muncul di ketiga tender.

Pada NICU, Ariq memasukkan harga tetapi gugur karena SKK Petugas Tata Udara.

Pada paket Cytotoxic dan PICU, namanya tercatat tetapi tidak terlihat penawaran harga.

CV Andalas Jaya Putra muncul pada NICU dan Cytotoxic.

Di Cytotoxic perusahaan tersebut akhirnya menjadi pemenang.

Nama-nama seperti Zafran Jaya Abadi, CV Dandi Kontraktor, Chanel, CV Bintang Perdana, CV Tamacho Building Construction, CV Dita Kontraktor, CV Beta Jaya dan CV Wahana Mitra Abadi juga berulang dalam daftar paket.

Kemunculan perusahaan dalam beberapa tender bukan pelanggaran.

Penyedia dapat mengikuti lebih dari satu paket sepanjang memenuhi persyaratan dan Sisa Kemampuan Paket.

Ada Satu Pola yang Sulit Dilewatkan: Pagu Rp4,132 M, HPS Rp4,132 M

Dari semua data, angka HPS tetap menjadi salah satu bagian paling mencolok.

NICU:

Pagu Rp1.394.339.985.

HPS Rp1.394.339.943.

Selisih Rp42.

Cytotoxic:

Pagu Rp1.672.190.000.

HPS Rp1.672.190.000.

Selisih Rp0.

PICU:

Pagu Rp1.065.834.000.

HPS Rp1.065.834.000.

Selisih Rp0.

Total pagu:

Rp4.132.363.985.

Total HPS:

Rp4.132.363.943.

Selisih total:

Rp42.

Kedekatan HPS dengan pagu tidak membuktikan adanya mark-up ataupun kebocoran harga.

Tidak ada dasar dari data ini untuk menyebut demikian.

Tetapi angka tersebut membuat dokumen penyusunan HPS menjadi penting untuk dibuka apabila hendak menguji kewajaran anggarannya.

Material apa yang dihitung?

Berapa volumenya?

Berapa upah?

Berapa biaya alat?

Apa sumber harga pembanding?

Kapan survei harga dilakukan?

Dan bagaimana HPS dua proyek berbeda akhirnya berhenti tepat pada angka pagunya?

Tiga Paket Pakai Syarat Dasar yang Hampir Sama

Ketiga tender ditujukan untuk kualifikasi usaha kecil.

Persyaratan dasarnya juga hampir sama.

Perusahaan harus memiliki SBU dan NIB sesuai dokumen pemilihan, mempunyai status wajib pajak valid serta secara hukum memiliki kapasitas untuk mengikatkan diri dalam kontrak.

Kapasitas hukum tersebut antara lain dibuktikan melalui akta pendirian perusahaan dan perubahannya, surat kuasa apabila dikuasakan, bukti penerima kuasa merupakan pegawai tetap, serta KTP.

Peserta juga harus menyetujui Pakta Integritas dan Surat Pernyataan Peserta.

Untuk usaha kecil, dokumen mensyaratkan paling banyak satu SBU.

Persyaratan teknis mencantumkan pengalaman pekerjaan konstruksi dalam kurun empat tahun terakhir serta perhitungan Sisa Kemampuan Paket atau SKP.

Untuk perusahaan kecil yang baru berdiri kurang dari tiga tahun, terdapat pengecualian pengalaman untuk paket sampai Rp2,5 miliar sebagaimana dicantumkan dalam dokumen tender.

Semua paket dalam data ini memang berada di bawah Rp2,5 miliar.

Pekerjaan Rumah Sakit, Syarat Teknis Jadi Sangat Penting

Objek ketiga tender juga tidak bisa dilepaskan dari fungsinya.

NICU berkaitan dengan fasilitas perawatan intensif neonatal.

PICU dengan fasilitas perawatan intensif anak.

Sedangkan paket lainnya menyebut sarana Cytotixic Drugs Safety Cabinet.

Karena itu, syarat teknis memang dapat menjadi faktor penting dalam evaluasi.

Pada NICU, misalnya, Ariq gugur karena dokumen SKK Petugas Tata Udara.

Pada PICU, Rafi Putra Bungsu dan Bumi Gada gugur karena dokumen peralatan dump truck.

Data yang diberikan belum cukup untuk menyatakan persyaratan tersebut terlalu berat ataupun diskriminatif.

Untuk menilainya harus dilihat Dokumen Spesifikasi Teknis, LDP/LDK, serta kebutuhan alat dan personel yang ditetapkan sebelum penawaran.

Pedoman pengadaan melalui penyedia tetap diatur dalam PerLKPP 12/2021 yang telah diubah PerLKPP 4/2024 dan berstatus berlaku.

Harga Tiga Pemenang Rp3,984 Miliar

Jika nilai tiga pemenang dijumlahkan, angkanya sekitar:

Rp3.984.922.048,43.

Rinciannya:

Bumi Gada Konstruksi, NICU: Rp1.271.407.829,80.

Andalas Jaya Putra, Cytotoxic: Rp1.669.000.025,05.

Graha Cipta Karya, PICU: Rp1.044.514.193,58.

Dari ketiganya, penurunan terhadap HPS terbesar terjadi pada NICU, sekitar 8,82 persen.

PICU turun sekitar 2 persen.

Sedangkan proyek Cytotoxic hanya turun sekitar 0,19 persen dari HPS.

Masa Sanggah Jadi Titik Penentuan

Saat data dihimpun, ketiga paket berada pada masa sanggah.

Artinya, peserta yang merasa proses evaluasi tidak sesuai dokumen pemilihan masih berada pada tahapan untuk menggunakan mekanisme yang tersedia dalam proses pengadaan.

Khusus Cytotoxic, perhatian dapat tertuju pada gugurnya CV Bibe Condong Lestari yang menawar Rp1,535 miliar tetapi tidak mengunggah dokumen kualifikasi dan teknis sesuai persyaratan.

Pada PICU, perhatian berada pada pengguguran dua penawar yang lebih rendah karena dokumen dump truck.

Sementara pada NICU, Bumi Gada menjadi penawar termurah sekaligus pemenang setelah Ariq dinyatakan tidak memenuhi ketentuan SKK Petugas Tata Udara.

Tidak ada fakta dari data yang diberikan yang membuktikan adanya pengaturan pemenang, korupsi atau pelanggaran hukum.

Namun ada tiga rangkaian fakta yang dapat diperiksa lebih jauh:

total HPS tiga proyek hanya Rp42 di bawah total pagu; dari 52 entri peserta hanya delapan harga yang terlihat; dan pada dua paket terdapat penawar lebih murah yang tersingkir karena persoalan dokumen teknis.

Tiga tender kini telah sampai masa sanggah.

Artinya, sebelum kontrak benar-benar berjalan, Pokja masih harus dapat mempertanggungjawabkan setiap keputusan evaluasinya.

Terutama karena yang dibangun bukan gedung biasa.

Ini fasilitas pelayanan rumah sakit.

Dan total anggaran yang dipertaruhkan mencapai Rp4,13 miliar. (*)

BeritaSatu Network