Jambi - Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) melahirkan nakhoda baru.
Pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang, KH Abdul Hakim Mahfudz atau Gus Kikin terpilih menjadi Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) masa khidmat 2026–2031.
Kemenangan Gus Kikin mendapat respons dari Jambi.
Ketua Ikatan Sarjana Melayu Indonesia (ISMI) Provinsi Jambi sekaligus Owner Bintang Global Grup, Hj Ernawati, S.Ag., M.Pd., menyampaikan selamat kepada Gus Kikin atas amanah barunya memimpin salah satu organisasi Islam terbesar di Indonesia.
Ernawati melihat sosok Gus Kikin menarik karena memiliki perpaduan pengalaman yang tidak biasa.
Pesantren.
Organisasi.
Dan dunia usaha.
Menurut Ernawati, kombinasi tersebut menjadi modal besar untuk membawa NU menghadapi tantangan lima tahun ke depan.
"Saya mengucapkan selamat dan tahniah kepada KH Abdul Hakim Mahfudz atau Gus Kikin atas amanah sebagai Ketua Umum PBNU. Ini amanah yang sangat besar. Kita mendoakan beliau diberikan kesehatan, kekuatan dan kemudahan oleh Allah SWT dalam memimpin serta mengabdi kepada Nahdlatul Ulama dan umat," kata Ernawati.
Ia berharap kepemimpinan baru PBNU mampu menjaga tradisi besar NU sekaligus membawa organisasi semakin adaptif terhadap perubahan zaman.
"NU mempunyai akar pesantren yang sangat kuat, jaringan sampai ke desa-desa dan sumber daya manusia yang luar biasa. Saya berharap di bawah kepemimpinan Gus Kikin, seluruh kekuatan ini semakin terkonsolidasi untuk pendidikan, dakwah, ekonomi dan kesejahteraan umat," ujarnya.
Gus Kikin Dipilih Sembilan Kiai AHWA
Gus Kikin tidak terpilih melalui pertarungan suara langsung pada tahap akhir.
Muktamar ke-35 NU di Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Tambakberas, Jombang, sebelumnya memutuskan perubahan mekanisme pemilihan Ketua Umum PBNU menjadi melalui Ahlul Halli wal Aqdi atau AHWA.
Dalam voting mengenai perubahan mekanisme tersebut, 401 suara menyetujui pemilihan Ketua Umum melalui AHWA, sementara 150 suara memilih mempertahankan sistem sebelumnya.
Sebelum masuk musyawarah AHWA, dilakukan penjaringan calon.
Nama Gus Kikin melesat jauh.
Ia memperoleh 472 suara, tertinggi dibandingkan kandidat lainnya.
Setelah melalui tahapan tersebut, sembilan kiai anggota AHWA bermusyawarah.
Forum berlangsung Senin pagi.
Hasilnya bulat.
Gus Kikin dipilih secara mufakat menjadi Ketua Umum PBNU periode 2026–2031. Hasil musyawarah tersebut dibacakan KH Anwar Iskandar.
Dengan hasil itu, duet kepemimpinan tertinggi PBNU lima tahun ke depan diisi KH Miftachul Akhyar sebagai Rais Aam dan Gus Kikin sebagai Ketua Umum.
Ernawati: Kemenangan Ini Amanah, Bukan Mahkota
Ernawati mengatakan posisi Ketua Umum PBNU bukan jabatan ringan.
NU memiliki jaringan pengurus, pesantren, lembaga pendidikan dan warga dalam skala sangat besar.
Karena itu, menurutnya, kemenangan dalam Muktamar semestinya tidak dilihat sebagai mahkota.
Tetapi amanah.
"Menjadi Ketua Umum PBNU tentu bukan soal menang atau kalah. Yang jauh lebih besar adalah bagaimana menjaga amanah para ulama, pesantren dan jutaan warga Nahdliyin. Saya percaya Gus Kikin memahami betul beratnya tanggung jawab itu," kata Ernawati.
Ia juga mengapresiasi pesan yang sebelumnya berkali-kali disampaikan Gus Kikin bahwa siapa pun yang terpilih, NU harus tetap menjaga kebersamaan.
Menjelang penentuan Ketua Umum, Gus Kikin memang menegaskan bahwa hal terpenting dari Muktamar adalah menjaga kerukunan dan kebersamaan warga NU.
Menurut Ernawati, sikap semacam itu penting setelah kompetisi organisasi selesai.
Siapa Gus Kikin?
Gus Kikin bukan wajah baru di lingkungan Nahdlatul Ulama.
Nama lengkapnya KH Abdul Hakim Mahfudz.
Ia lahir di Jombang pada 17 Agustus 1958 dari pasangan KH Mahfudz Anwar dan Nyai Hj Abidah Ma'shum. Dari garis ibunya, Gus Kikin terhubung dengan keluarga besar Hadratussyaikh KH Hasyim Asy'ari, pendiri Nahdlatul Ulama.
Darah pesantren mengalir kuat.
Namun jalan hidup Gus Kikin tidak hanya berkutat di lingkungan pondok.
Setelah menempuh pendidikan dasar dan menengah di Jombang, ia melanjutkan pendidikan di Sekolah Tinggi Ilmu Pelayaran (STIP) Jakarta.
Dari sana ia sempat menjalani dunia profesional.
Gus Kikin pernah bekerja di PT Djakarta Lloyd, bahkan pernah menjadi kepala cabang wilayah Cilegon. Setelah itu perjalanan hidup membawanya masuk lebih jauh ke dunia usaha.
Kiai yang Juga Pengusaha
Inilah salah satu sisi Gus Kikin yang menarik perhatian Ernawati.
Gus Kikin mempunyai pengalaman nyata di dunia bisnis.
Ia pernah berkecimpung dalam perdagangan komoditas seperti pinang dan minyak atsiri, ikut mendirikan perusahaan di sektor energi serta bergerak dalam usaha media penyiaran. Ia juga pernah terlibat dalam kepengurusan Kamar Dagang dan Industri atau Kadin.
Karakter tersebut membuat Gus Kikin bukan hanya memahami terminologi ekonomi dari podium.
Ia pernah berada di dalam dunia usaha.
Mengelola bisnis.
Membangun jaringan.
Berhadapan dengan pasar.
Hal itulah yang menurut Ernawati bisa menjadi modal penting untuk membaca persoalan ekonomi umat.
"Saya tentu tertarik dengan sisi ini karena beliau bukan hanya seorang kiai dan pengasuh pesantren. Beliau juga mempunyai pengalaman sebagai pengusaha. Artinya beliau memahami bahwa ekonomi umat membutuhkan manajemen, pasar, jaringan dan keberanian membangun usaha," ujar Ernawati.
Sebagai Owner Bintang Global Grup, Ernawati mengatakan ia merasakan sendiri bahwa kekuatan ekonomi tidak bisa dibangun hanya dengan slogan.
Dibutuhkan ekosistem.
Ada pasar.
Ada sumber daya manusia.
Ada manajemen.
Ada jaringan.
Dan ada kepercayaan.
"Umat kita jumlahnya besar. Tapi jumlah besar harus diubah menjadi kekuatan ekonomi yang produktif. Bukan sekadar menjadi pasar bagi orang lain. Saya melihat pemikiran Gus Kikin tentang ekonomi umat sangat menarik untuk dikembangkan," katanya.
Gus Kikin Memang Bidik Ekonomi Nahdliyin
Pandangan Ernawati memiliki titik temu dengan gagasan yang disampaikan Gus Kikin menjelang pemilihan.
Gus Kikin secara terbuka berbicara mengenai besarnya potensi ekonomi warga NU.
Menurutnya, jumlah warga NU yang sangat besar pada dasarnya merupakan kekuatan pasar yang dapat dikembangkan bila ditata dengan baik.
Ia juga melihat ekonomi digital dapat menjadi bagian dari strategi untuk memperkuat kemandirian ekonomi warga Nahdliyin.
Ini menjadi salah satu agenda yang dianggap strategis oleh Ernawati.
Sebab NU mempunyai aset sosial yang luar biasa.
Ada pesantren.
Ada santri.
Ada alumni.
Ada pengusaha.
Ada petani.
Ada pedagang.
Ada UMKM.
Ada profesional.
Ada perguruan tinggi.
Dan semuanya tersebar di berbagai daerah.
"Bayangkan kalau jaringan sebesar NU dipertemukan secara ekonomi. Produk pesantren masuk pasar nasional. UMKM Nahdliyin mendapat akses distribusi. Santri diajari entrepreneurship. Pengusaha besar membina pengusaha kecil. Ini bisa menjadi kekuatan luar biasa," kata Ernawati.
Ernawati: Santri Jangan Hanya Jadi Konsumen
Ernawati secara khusus berharap kepemimpinan Gus Kikin memperkuat kewirausahaan di lingkungan pesantren.
Menurut dia, pendidikan agama dan penguatan ekonomi tidak perlu dipertentangkan.
Santri harus kuat agamanya.
Tetapi santri juga bisa menjadi pengusaha.
Menguasai teknologi.
Menciptakan lapangan kerja.
Dan membangun bisnis yang mampu bersaing.
"Pesantren jangan hanya melahirkan orang yang kuat ilmu agamanya, tetapi juga bisa melahirkan entrepreneur, profesional dan pemimpin ekonomi. Santri jangan hanya menjadi konsumen. Mereka harus mampu menjadi produsen dan pencipta lapangan pekerjaan," katanya.
Ia menilai posisi Gus Kikin sebagai Pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng sekaligus figur yang memiliki pengalaman dunia usaha memberi ruang besar untuk mengembangkan model tersebut.
Pengasuh Tebuireng Kedelapan
Gus Kikin saat ini merupakan Pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng ke-8.
Ia sebelumnya mendampingi KH Salahuddin Wahid atau Gus Sholah sebagai wakil pengasuh.
Setelah Gus Sholah wafat pada 2020, amanah kepengasuhan Tebuireng diteruskan kepada Gus Kikin.
Tebuireng bukan pesantren biasa.
Pesantren ini memiliki posisi historis sangat kuat dalam perjalanan NU dan Indonesia.
Dari lingkungan inilah KH Hasyim Asy'ari membangun basis keilmuan dan perjuangan yang kemudian melahirkan Nahdlatul Ulama.
Karena itu ketika Gus Kikin kini memimpin PBNU, sejarah seperti berputar kembali ke lingkungan keluarga dan pesantren pendiri NU.
Namun Ernawati menilai nasab bukan satu-satunya modal.
"Nasab beliau tentu sangat mulia karena terhubung dengan pendiri NU. Tetapi yang lebih penting adalah bagaimana amanah itu dijawab dengan kapasitas, kerja dan manfaat bagi umat. Kita mendoakan Gus Kikin mampu menjaganya," katanya.
Dari PWNU Jawa Timur Naik ke PBNU
Sebelum terpilih menjadi Ketua Umum PBNU, Gus Kikin memimpin PWNU Jawa Timur.
Ia terpilih secara aklamasi sebagai Ketua PWNU Jatim periode 2024–2029 pada Konferensi Wilayah NU Jawa Timur di Tebuireng pada Agustus 2024.
Sebelumnya ia juga mempunyai pengalaman panjang di struktur NU, termasuk pernah menduduki posisi di tingkat PBNU.
Dengan demikian, kepemimpinannya kali ini bukan dimulai dari nol.
Ia sudah mengenal struktur.
Mengerti dinamika organisasi.
Mempunyai pengalaman mengelola pesantren.
Dan pernah berada di dunia profesional serta usaha.
Kembali ke Qanun Asasi
Salah satu gagasan yang sejak sebelum Muktamar sering digaungkan Gus Kikin adalah membawa NU kembali kepada Qanun Asasi.
Menurut Gus Kikin, NU merupakan gerakan yang sejak awal dibangun dengan semangat ukhuwah, persatuan dan keteladanan para muassis.
Ia sebelumnya mengatakan NU perlu kembali mengikuti aturan dasar serta semangat yang diwariskan para pendiri.
Ernawati menilai gagasan tersebut penting.
Modernisasi organisasi, katanya, tidak boleh membuat organisasi kehilangan akar.
"Organisasi harus maju. Manajemennya modern, teknologinya maju, ekonominya kuat. Tetapi nilai dasarnya jangan hilang. Justru kita maju karena mempunyai fondasi yang kuat," ujar Ernawati.
Menurutnya, prinsip itu tidak hanya berlaku bagi NU.
ISMI pun menghadapi tantangan yang sama.
Menjadi organisasi modern tanpa kehilangan nilai agama, budaya dan identitas Melayu.
Ernawati Berharap ISMI-NU Bisa Bersinergi
Sebagai Ketua ISMI Provinsi Jambi, Ernawati juga membuka ruang kolaborasi dengan berbagai elemen keumatan, termasuk keluarga besar Nahdlatul Ulama.
Ia menegaskan ISMI tidak dibangun untuk berdiri sendirian.
Ada banyak persoalan umat yang hanya bisa diselesaikan melalui kolaborasi.
Pendidikan.
Ekonomi.
UMKM.
Pesantren.
Kewirausahaan.
Sosial.
Hingga penguatan generasi muda.
"ISMI Jambi membuka pintu selebar-lebarnya untuk sinergi dengan NU dan seluruh organisasi yang mempunyai niat sama dalam membangun umat. Kita tidak perlu sibuk berjalan sendiri-sendiri kalau tujuan kita sama-sama menghadirkan manfaat," kata Ernawati.
Ia berharap di Jambi kolaborasi kaum sarjana, pesantren dan pelaku ekonomi dapat semakin diperkuat.
Dari Hotel Makkah hingga Ekonomi Umat
Pernyataan Ernawati mengenai ekonomi bukan tanpa pengalaman.
Melalui Bintang Global Grup, bisnis yang ia kembangkan antara lain bergerak pada ekosistem perjalanan haji dan umrah, termasuk layanan tiket penerbangan, akomodasi hotel di Makkah dan Madinah serta katering bagi jemaah.
Karena itu ia mengatakan memahami betul arti membangun rantai usaha.
Satu bisnis bisa menggerakkan banyak sektor.
Transportasi membutuhkan tiket.
Jemaah membutuhkan hotel.
Hotel membutuhkan makanan.
Katering membutuhkan bahan pangan.
Semua membutuhkan tenaga kerja.
Menurut Ernawati, pola ekosistem semacam itu bisa diterjemahkan dalam skala yang jauh lebih besar untuk ekonomi warga NU.
"Kalau satu kegiatan ekonomi dikelola sebagai ekosistem, manfaatnya tidak berhenti pada satu perusahaan. Ada tenaga kerja, supplier, UMKM dan banyak keluarga yang ikut hidup. Saya berharap kekuatan ekonomi warga NU juga dibangun dengan cara seperti ini—saling menghidupkan," katanya.
Tantangan Gus Kikin Tak Ringan
Ernawati menyadari pekerjaan Gus Kikin tidak ringan.
PBNU adalah organisasi besar dengan spektrum persoalan luas.
Ada kebutuhan menjaga persatuan internal.
Ada transformasi organisasi.
Pendidikan pesantren.
Kaderisasi.
Ekonomi umat.
Digitalisasi.
Hingga hubungan NU dengan negara dan dinamika global.
Karena itu ia berharap Gus Kikin mampu menggabungkan dua kekuatan.
Tradisi dan inovasi.
"NU sudah punya akar yang sangat dalam. Tugas kepemimpinan sekarang bagaimana akar itu membuat pohonnya semakin kuat dan buahnya semakin banyak dirasakan umat," ujar Ernawati.
"Semoga NU Semakin Teduh"
Ernawati akhirnya menitipkan satu harapan.
NU harus tetap menjadi rumah besar yang teduh.
Kompetisi Muktamar telah selesai.
Sekarang waktunya merangkul.
"Selamat kepada Gus Kikin. Rangkul semuanya. Yang mendukung maupun yang sebelumnya mempunyai pilihan berbeda, semuanya warga NU. Kebesaran seorang pemimpin bukan hanya terlihat ketika memenangkan proses, tetapi bagaimana setelah menang ia mampu membuat semua orang kembali merasa memiliki rumah yang sama," katanya.
Ia juga mendoakan Rais Aam PBNU KH Miftachul Akhyar dan Gus Kikin mampu membangun duet kepemimpinan yang kuat.
"Semoga KH Miftachul Akhyar sebagai Rais Aam dan Gus Kikin sebagai Ketua Umum dapat membawa NU semakin teduh, kuat dalam menjaga tradisi, maju dalam pendidikan dan mandiri secara ekonomi," kata Ernawati.
Senin pagi itu, Muktamar ke-35 NU akhirnya melahirkan nakhoda baru.
Gus Kikin datang dari Tebuireng.
Membawa darah keluarga pendiri NU.
Membawa pengalaman pesantren.
Membawa pengalaman organisasi.
Dan juga pengalaman sebagai pengusaha.
Bagi Hj Ernawati, kombinasi itu melahirkan satu harapan besar:
NU tidak hanya semakin kuat menjaga umat secara spiritual, tetapi juga mampu membuat umat semakin kuat secara ekonomi.(*)