BELAJAR TENANG DI TENGAH RIUHNYA ZAMAN : "Menimba Hikmah Imam Junayd al-Baghdadi untuk Kehidupan Modern"

WIB
IST

Oleh : Fahmi Rasid
Warga Kota Jambi .

"Imam Junayd menegaskan bahwa ilmu tanpa adab adalah kesia-siaan, dan spiritualitas tanpa syariat adalah kesesatan"

Di tengah zaman yang bising oleh opini, penuh klaim kebenaran, dan riuh oleh pamer kesalehan di ruang publik, manusia modern justru menghadapi krisis paling mendasar: ketenangan batin dan kedalaman makna hidup. Banyak yang fasih berbicara tentang Tuhan, moral, dan nilai, tetapi goyah ketika ujian datang mengetuk kehidupan. Dalam konteks inilah, pemikiran Imam Junayd al-Baghdadi kembali menemukan relevansinya.

Imam Junayd al-Baghdadi (w. 298 H) bukan sekadar tokoh tasawuf klasik . Ia adalah simbol keseimbangan antara syariat, akal, dan spiritualitas. Di tengah peradaban Baghdad yang menjadi pusat ilmu pengetahuan dunia, Imam Junayd justru tampil sebagai figur yang tenang, hati-hati dalam ucapan, dan kukuh dalam adab. Ia menolak spiritualitas yang gaduh, apalagi yang kehilangan pijakan akal dan hukum.
Salah satu pesan penting Imam Junayd adalah bahwa kedekatan kepada Tuhan tidak diukur dari banyaknya kata, melainkan dari ketenangan jiwa saat diuji. Pesan ini terasa menohok realitas hari ini. Media sosial, mimbar, dan ruang publik dipenuhi narasi keagamaan yang lantang, tetapi sering kali minim empati, adab, dan kebijaksanaan. Spirit agama seolah kehilangan ruhnya, berubah menjadi alat pembenaran ego dan kepentingan.

Imam Junayd mengajarkan bahwa tasawuf sejati bukanlah pelarian dari dunia, melainkan penyucian niat dalam menjalani dunia. Ia menempatkan akhlak sebagai inti spiritualitas. Seseorang tidak disebut dekat dengan Allah hanya karena simbol lahiriah atau kefasihan retorika, tetapi karena kemampuannya menjaga amanah, mengendalikan hawa nafsu, dan berlaku adil dalam relasi sosial.

Dalam kehidupan berbangsa hari ini, pesan tersebut menemukan relevansinya yang luas. Kita membutuhkan pemimpin yang tidak hanya pandai berbicara, tetapi tenang dalam mengambil keputusan . Kita merindukan birokrat, pendidik, dan tokoh masyarakat yang tidak reaktif, tetapi jernih dan beradab. Ketenangan, sebagaimana diajarkan Imam Junayd, adalah buah dari kedalaman ilmu dan kemurnian niat.

Lebih jauh, Imam Junayd menegaskan bahwa ilmu tanpa adab adalah kesia-siaan, dan spiritualitas tanpa syariat adalah kesesatan. Pandangan ini penting di tengah kecenderungan ekstrem hari ini: satu sisi mengagungkan rasionalitas kering tanpa nilai, sisi lain memuja spiritualitas emosional tanpa disiplin ilmu. Junayd menawarkan jalan tengah: iman yang berpijak, akal yang tunduk, dan hati yang bersih.

Ziarah ke makam Imam Junayd di Baghdad bukan sekadar napak tilas sejarah. Ia adalah pengingat bahwa peradaban besar dibangun bukan hanya oleh kecanggihan teknologi, tetapi oleh kejernihan batin para manusianya. Baghdad pernah menjadi pusat dunia karena ilmu dan adab berjalan seiring. Ketika adab runtuh, peradaban pun ikut rapuh.

Tajuk rencana ini hendak mengajak pembaca untuk sejenak berhenti dari hiruk-pikuk dunia, lalu bertanya pada diri sendiri: sudahkah kita tenang dalam kebenaran, atau hanya lantang dalam pembelaan diri? Imam Junayd mengajarkan bahwa diam yang penuh hikmah sering kali lebih bernilai daripada seribu kata tanpa makna.

Pada akhirnya, pesan Imam Junayd al-Baghdadi melampaui batas zaman. Ia relevan bagi individu, lembaga, bahkan negara. Bahwa keagungan bukan pada kebisingan, tetapi pada keteguhan akhlak. Bahwa Tuhan tidak membutuhkan pembelaan kita, melainkan ketaatan dan kejujuran hidup.
Di tengah dunia yang semakin gaduh, barangkali yang paling kita butuhkan hari ini bukan suara yang lebih keras, melainkan hati yang lebih tenang.

Referensi :

  1. Al-Qushayri, Abu al-Qasim. Al-Risalah al-Qushayriyyah. Kairo: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah.
  2. Hujwiri, Ali ibn Utsman. Kashf al-Mahjub. Terj. Reynold A. Nicholson. London: Luzac & Co.
  3. Al-Ghazali, Abu Hamid. Ihya’ Ulum al-Din. Beirut: Dar al-Ma’rifah.
  4. Schimmel, Annemarie. Mystical Dimensions of Islam. Chapel Hill: University of North Carolina Press, 1975.
  5. Nasr, Seyyed Hossein. Islamic Spirituality: Foundations. London: Routledge, 1987.
  6. Nicholson, Reynold A. The Mystics of Islam. London: Routledge, 1914.

Add new comment

Restricted HTML

  • Allowed HTML tags: <a href hreflang> <em> <strong> <cite> <blockquote cite> <code> <ul type> <ol start type> <li> <dl> <dt> <dd> <h2 id> <h3 id> <h4 id> <h5 id> <h6 id>
  • Lines and paragraphs break automatically.
  • Web page addresses and email addresses turn into links automatically.

BeritaSatu Network