Muaro Jambi - Daftar pesertanya panjang. Ada 14 perusahaan. Namun ketika tiba waktunya memasukkan harga, hanya dua kontraktor yang benar-benar maju bertanding.
Dua belas perusahaan lainnya nihil penawaran.
Pemandangan itu terjadi dalam tender proyek Preservasi Jalan Simpang SMAN 2 Kelurahan Sengeti-SLB-Simpang Sungai Melintang, Kabupaten Muaro Jambi.
Proyek yang dibiayai dari Dana Bagi Hasil atau DBH Sawit tersebut memiliki pagu Rp3.549.776.800. Sedangkan harga perkiraan sendiri atau HPS ditetapkan Rp3.547.524.400.
Tender dilaksanakan Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang Kabupaten Muaro Jambi melalui metode pascakualifikasi satu file, harga terendah sistem gugur.
Di atas kertas, 14 perusahaan tercatat sebagai peserta. Seolah ramai. Namun setelah daftar penawaran dibuka, pertandingannya berubah menjadi duel dua kontraktor.
CV Putri Icha Lestari memasukkan penawaran terendah senilai Rp3.318.973.362,24.
Sedangkan CV Eksi Citra Lestari mengajukan penawaran Rp3.464.037.407,32.
Selisih penawaran kedua perusahaan tersebut mencapai sekitar Rp145,06 juta.
Sementara itu, tawaran CV Putri Icha Lestari berada sekitar Rp228,55 juta atau 6,44 persen di bawah HPS. Adapun penawaran CV Eksi Citra Lestari hanya terpaut sekitar Rp83,49 juta atau 2,35 persen di bawah HPS.
Lalu ke mana 12 peserta lainnya?
Nama mereka tercatat dalam daftar tender. Ada CV Paal Limo, CV Remaja Gemilang Konstruksi, CV Segara Mandala Konstruksi, CV Mafaza Malikul Mulk, CV Mitra Prima Utama dan CV Pratama Karya Sejoli.
Kemudian CV Sukses Bersama, Agra Pana Konstruksi, CV Gurun Sahara, CV Gajah Muda Sriwijaya, CV Dita Kontraktor dan Hasil Jasa Nusantara.
Namun kolom harga penawaran mereka kosong.
Mereka masuk gelanggang, tetapi tidak memukul gong pertandingan. Nama ada. Harga tidak ada.

Harga Terendah Belum Tentu Menang
Hingga data tender ini diakses, proses pengadaan masih berada pada tahap evaluasi administrasi, kualifikasi, teknis dan harga.
Karena menggunakan sistem gugur, perusahaan dengan harga terendah belum otomatis menjadi pemenang.
Pokja masih harus memeriksa kelengkapan dokumen administrasi, kemampuan teknis, kualifikasi badan usaha hingga kewajaran harga penawaran.
Bila peserta dengan penawaran terendah tidak memenuhi persyaratan, evaluasi dapat dilanjutkan kepada perusahaan dengan harga berikutnya.
Namun minimnya peserta yang memasukkan harga tetap menyisakan pertanyaan.
Mengapa dari 14 perusahaan yang mendaftar, hanya dua yang mengajukan penawaran?
Apakah persyaratan tender terlalu berat? Apakah waktu penyusunan dokumen terlalu sempit? Atau sejak awal sebagian perusahaan memang hanya datang untuk meramaikan daftar peserta?
Tender proyek jalan itu dibuat pada 2 Juli 2026. Lokasi pekerjaan berada di Kecamatan Sekernan, Kabupaten Muaro Jambi. Paket tersebut diperuntukkan bagi perusahaan berkualifikasi usaha kecil dengan jenis kontrak gabungan lumsum dan harga satuan.
Jalan Simpang SMAN 2 Kelurahan Sengeti-SLB-Simpang Sungai Melintang merupakan jalur yang berkaitan langsung dengan mobilitas masyarakat dan akses menuju fasilitas pendidikan.
Karena itu, perhatian publik seharusnya tidak berhenti pada siapa yang menawarkan harga paling rendah. Kualitas pekerjaan, ketebalan material, volume, spesifikasi teknis dan kemampuan kontraktor menyelesaikan proyek juga harus diperiksa secara ketat.
Jangan sampai tender terlihat hemat saat penetapan pemenang, tetapi berubah menjadi mahal ketika jalan cepat rusak setelah dikerjakan.
"Kami tidak terlalu peduli perusahaan mana yang menang. Yang penting tendernya terbuka dan jalannya dikerjakan sesuai spesifikasi. Jangan baru beberapa bulan selesai, aspalnya sudah retak dan berlubang. Uang proyek itu uang masyarakat,” kata Rian, warga Sengeti. (*)