Tim Indonesia Link diajak langsung Owner PT Bintang Global Grup, Hj Ernawati, melihat dapur katering perusahaan di Makkah. Di bangunan dua lantai itu sekitar 9.000 porsi makanan diproduksi setiap hari untuk 3.000 jemaah umrah. Perusahaan kini bersiap naik kelas ke katering haji dengan kapasitas yang bisa dikembangkan untuk melayani 20-30 ribu jemaah.
MAKKAH — Dari luar, bangunan itu mungkin tak banyak bercerita. Tapi begitu masuk ke dalam, skala operasi katering PT Bintang Global Grup perlahan terlihat.
Owner PT Bintang Global Grup, Hj Ernawati, mengajak langsung tim Indonesia Link melihat dapur perusahaan di Kota Makkah, 8 Agustus 2026.
Tak sekadar menerima penjelasan di sebuah meja pertemuan, tim Indonesia Link diajak masuk dan menyaksikan bagaimana fasilitas itu bekerja.
Dapur tersebut menempati bangunan dua lantai.
Di dalamnya, aktivitas produksi makanan berlangsung dengan pembagian area yang jelas. Daging memiliki tempatnya sendiri. Sayuran dipisahkan. Beras, bumbu, dan buah-buahan juga ditempatkan pada ruang berbeda.
Tim Indonesia Link berpindah dari satu bagian ke bagian lainnya mengikuti Ernawati.
Ia menunjukkan ruangan demi ruangan yang digunakan dalam proses penyediaan makanan bagi ribuan jemaah umrah.
Di sinilah angka 9.000 porsi per hari itu bermula.
Bahan makanan masuk.
Disiapkan.
Diolah.
Dimasak.
Lalu makanan disiapkan untuk didistribusikan ke sejumlah hotel tempat jemaah menginap di Makkah.
Suasananya memberi gambaran bahwa katering ribuan orang bukan pekerjaan satu meja dapur.
Ia merupakan sebuah rantai produksi.
Satu bagian berkaitan dengan bagian lain.
Semua harus bergerak agar makanan bisa sampai kepada jemaah sesuai waktu makan.
“Alhamdulillah sekarang kita melayani makanan untuk jemaah umrah. InsyaAllah mudah-mudahan dapur ini juga bisa untuk melayani jemaah haji,” kata Ernawati sambil memperlihatkan fasilitas tersebut kepada tim Indonesia Link.
Ia kemudian menyebut angka yang jauh lebih besar.
“Dan kapasitas dapur ini bisa sampai 20.000 sampai 30.000 jemaah,” ujarnya.
Dari 3.000 Jemaah Menjadi 9.000 Porsi
Untuk operasional sekarang, Bintang Global melayani sekitar 3.000 jemaah umrah setiap hari.
Setiap jemaah mendapat tiga kali makan.
Maka setiap hari, sekitar 9.000 porsi makanan harus diproduksi dari dapur tersebut.
“Sekarang setiap hari kita 3.000, kali tiga kali makan,” kata Ernawati.
Angka itu terlihat lebih mudah ketika hanya ditulis.
Di dapur, skalanya berbeda.
Tiga ribu orang berarti ribuan paket makanan harus selesai setiap waktu makan. Produksi pagi akan diikuti kebutuhan berikutnya. Lalu siklus yang sama kembali berulang.
“Untuk konsumsi jemaah umrah kita satu hari sebanyak 3.000 jemaah. Dikalikan tiga kali makan, berarti 9.000 porsi yang kita produksi di dapur ini,” ujar penyaji dalam dokumentasi kegiatan tersebut.
Makanan kemudian didistribusikan ke sejumlah hotel tempat jemaah menginap.
Dalam penjelasan di lokasi, distribusi antara lain menuju sejumlah titik akomodasi di kawasan Wahat Aldeafah, Hotel Sunrise, Zamzam, Nada Al Deaafah, dan beberapa hotel lainnya di Kota Makkah.
Dengan pola seperti itu, pekerjaan dapur belum selesai ketika makanan matang.
Masih ada tahap pengemasan.
Pengangkutan.
Perjalanan menuju hotel.
Sampai akhirnya makanan diterima jemaah.
Setiap tahap memiliki batas waktu.
Terlambat pada satu mata rantai berarti jadwal makan ribuan orang bisa ikut bergeser.
Menyusuri Dapur Dua Lantai
Ernawati kemudian membawa tim Indonesia Link menyusuri fasilitas dapur.
Dari satu ruangan ke ruangan lain, pembagian fungsi terlihat menjadi bagian penting dari operasional.
Ada ruang untuk penyimpanan dan pengelolaan daging.
Ada bagian sayuran.
Ada bagian beras.
Ada tempat untuk bumbu.
Ada pula area buah-buahan, disertai sejumlah ruang penunjang lain yang digunakan dalam proses produksi.
Bagi dapur rumah tangga, pemisahan semacam itu mungkin tampak biasa.
Tapi ketika jumlah makanan yang keluar mencapai ribuan porsi, pemisahan ruang berubah menjadi bagian dari sistem kerja.
Bahan tidak bisa sekadar ditumpuk.
Arus bahan mentah, pengolahan, memasak, hingga makanan siap dikirim harus diatur.
Tim Indonesia Link melihat langsung bagaimana bangunan tersebut disiapkan untuk menopang proses itu.
Dapur bukan hanya tempat memasak.
Ia juga menjadi tempat penyimpanan bahan, persiapan, pengolahan dan titik awal distribusi konsumsi jemaah.
Namun ada dua data yang belum dapat diverifikasi secara rinci dari kunjungan tersebut.
Pertama, luas pasti bangunan dapur.
Data yang diterima belum mencantumkan angka luas fasilitas sehingga Indonesia Link tidak memasukkannya.
Kedua, jumlah keseluruhan tenaga kerja.
Belum diperoleh data berapa orang yang bekerja di dapur tersebut secara keseluruhan, termasuk pembagian petugas untuk persiapan bahan, memasak, pengemasan, hingga distribusi.
Dua angka itu akan menjadi penting jika perusahaan kelak benar-benar memperbesar produksi untuk pelayanan haji.
Aroma Jambi di Tengah Makkah
Ada bagian menarik ketika kunjungan bergerak ke sektor pengolahan makanan.
Jambi ternyata punya jejak di dapur tersebut.
Ernawati menyebut terdapat dua chef dari Indonesia yang berasal dari Jambi dan terlibat dalam pengolahan makanan jemaah.
Nama kedua chef tersebut belum disebutkan dalam data yang tersedia.
Bukan hanya tenaga memasaknya.
Sejumlah bahan makanan juga disebut berasal dari Indonesia, termasuk dari Jambi.
“Bahan-bahan juga kita datangkan dari Indonesia, khususnya dari Jambi. Dan tukang masaknya juga dari Jambi,” kata Ernawati kepada tim Indonesia Link.
Unsur itu menjadi penting karena katering jemaah Indonesia tidak hanya berbicara mengenai jumlah kalori atau berapa banyak kotak makanan yang berhasil dikirim.
Ada perkara selera.
Jemaah Indonesia yang berhari-hari berada di Arab Saudi tetap membawa kebiasaan makan dari rumah.
Masakan yang terlalu jauh dari cita rasa mereka dapat menjadi persoalan tersendiri.
Karena itulah keberadaan juru masak Indonesia bisa menjadi bagian penting dalam menjaga karakter menu agar tetap dekat dengan lidah jemaah.
Terlebih jika kelak dapur tersebut masuk ke pelayanan haji.
Dari Umrah Menuju Proyek Haji
Kunjungan Indonesia Link ke dapur itu juga memperlihatkan arah yang sedang dituju Bintang Global.
Perusahaan tak ingin berhenti pada katering umrah.
Fasilitas tersebut tengah dipersiapkan agar dapat memenuhi persyaratan dalam penilaian pelayanan katering jemaah haji.
Ernawati berharap dapur yang sekarang melayani jemaah umrah kelak bisa masuk dalam pelayanan haji.
Namun jalan ke sana tidak otomatis terbuka hanya karena perusahaan sudah memiliki dapur dan mampu memproduksi ribuan porsi.
Perusahaan tetap harus menjalani proses penilaian.
Sejumlah aspek akan menjadi penting: kapasitas produksi, pembagian ruang bahan baku, sarana memasak, tenaga dapur, higienitas, keamanan pangan, sistem penyimpanan hingga distribusi.
Dengan kata lain, posisi Bintang Global saat ini masih berada pada tahap persiapan menuju penilaian dan pemenuhan persyaratan.
Klaim mengenai kemampuan melayani 20-30 ribu jemaah pun masih harus dibuktikan dalam sistem operasional berskala haji.
Punya Hotel, Bus dan Katering Sendiri
Sambil menunjukkan fasilitasnya, Ernawati juga menjelaskan ekosistem bisnis yang ingin dibangun perusahaan.
Menurut dia, Bintang Global telah memiliki sejumlah sarana pendukung pelayanan jemaah.
“Kita punya hotel sendiri, kita punya katering sendiri, kita punya dapur sendiri, kita punya bus sendiri,” ujarnya.
Konsepnya adalah menghubungkan sejumlah kebutuhan utama jemaah dalam satu jaringan pelayanan.
Akomodasi.
Transportasi.
Konsumsi.
Dengan sistem tersebut, perusahaan berharap pelayanan tidak terpecah ke terlalu banyak pihak.
“InsyaAllah kita akan melayani dan memfasilitasi jemaah secara baik,” kata Ernawati.
Pernyataan mengenai kepemilikan hotel, katering, dapur, dan bus tersebut merupakan keterangan langsung pihak PT Bintang Global Grup yang disampaikan kepada Indonesia Link.
Dalam hal ini juga langsung menjadi perhatian oleh Supervisor PT Bintang Global Grup Dr. Fahmi Rasid yang langsung turun ke lokasi dapur tersebut.
Ketika 9.000 Porsi Menjadi 90 Ribu
Di sinilah tantangannya mulai terlihat.
Saat ini Bintang Global memproduksi sekitar 9.000 porsi sehari untuk sekitar 3.000 jemaah.
Jika kapasitas pelayanan meningkat menjadi 20 ribu jemaah dengan tiga kali makan per hari, dapur harus mampu menangani sekitar 60 ribu porsi makanan sehari.
Jika yang dilayani 30 ribu jemaah, angka itu melonjak menjadi sekitar 90 ribu porsi per hari.
Sepuluh kali lipat dari produksi saat ini.
Pada skala sebesar itu, persoalan dapur tak lagi sebatas berapa banyak kompor atau seberapa cepat nasi dapat matang.
Ia berubah menjadi operasi logistik besar.
Puluhan ribu porsi membutuhkan bahan baku dalam volume besar.
Penyimpanan harus terjaga.
Proses memasak harus seragam.
Makanan harus aman dikonsumsi.
Pengemasan harus cepat.
Suhu harus dikendalikan.
Armada harus tersedia.
Rute menuju hotel harus diperhitungkan.
Dan semuanya harus tiba sebelum jadwal makan jemaah.
Kesalahan kecil bisa menjadi masalah besar.
Satu gangguan pada produksi, penyimpanan atau distribusi berpotensi mempengaruhi ribuan orang sekaligus.
Karena itulah kapasitas dapur haji tidak bisa semata-mata diukur dari jumlah makanan yang dapat dimasak.
Yang lebih penting adalah apakah seluruh sistem mampu bekerja secara konsisten.
Ujian Sesungguhnya Baru Dimulai
Menjelang akhir kunjungan, satu hal terlihat jelas.
Bintang Global sudah memiliki operasi riil.
Dapur tersebut bukan bangunan kosong yang baru disiapkan untuk presentasi.
Ada pelayanan umrah yang sedang berjalan.
Sekitar 3.000 jemaah dilayani setiap hari.
Tiga kali makan.
Sekitar 9.000 porsi diproduksi.
Makanan didistribusikan ke sejumlah hotel di Makkah.
Ada dua chef dari Jambi.
Sejumlah bahan disebut didatangkan dari Indonesia, termasuk Jambi.
Dan perusahaan mengklaim memiliki hotel, bus, dapur serta katering sendiri.
Semua itu disaksikan Indonesia Link dalam kunjungan langsung yang dipandu Owner PT Bintang Global Grup, Hj Ernawati.
Tetapi untuk masuk ke pelayanan haji, skala persoalannya berbeda.
Dari 3.000 menuju 30 ribu jemaah terdapat jurang kapasitas yang sangat lebar.
Dari 9.000 menuju 90 ribu porsi per hari, tantangannya bahkan sepuluh kali lebih besar.
Karena itu, ukuran keberhasilan nanti bukan hanya apakah dapur ini besar.
Bukan pula sekadar berapa banyak ruangan yang dimiliki.
Ujian sebenarnya adalah apakah pasokan bahan, pekerja, chef, ruang produksi, kebersihan, keamanan makanan, armada dan distribusi dapat bergerak sebagai satu mesin—tanpa macet ketika puluhan ribu jemaah menunggu makan pada waktu yang hampir bersamaan.
Untuk sekarang, mesin itu sudah bergerak.
Indonesia Link melihatnya langsung di Makkah.
Sembilan ribu porsi sehari sudah keluar dari sana.
Target berikutnya jauh lebih besar: dapur haji untuk 20-30 ribu jemaah.
Di situlah ujian sesungguhnya baru akan dimulai. (*Rasid)